7+ Alasan Banyak Orang Tionghoa Jadi Pengusaha dan Kaya!

Pernahkah terlintas di pikiran Anda, kenapa banyak orang Tionghoa menjadi pengusaha dan kaya? Dan tidak sedikit dari mereka yang kini menjadi jajaran pengusaha konglomerat dan terkaya di negeri ini.

Anda pasti tahu perusahaan-perusahaan berikut!

Indofood, BCA, Maspion, Alfamart, MNC, Ciputra, Bogasari, Avian, Sinarmas, Djarum, Lippo, Astra, Kalbe Farma dan masih banyak lagi. Para pemilik perusahan tersebut sebagian besarnya adalah orang-orang keturan Tionghoa yang tidak berasal dari keluarga kaya. Bahkan mungkin sebagian di antaranya memulai usaha dari toko kelontong kecil.

Hmm… sebenarnya ini fenomena yang menarik sekali.

Namun sebelum melanjutkan pembahasan, kita perlu menyadari bahwa tidak semua orang Tionghia itu kaya ya. Ada juga orang Tionghoa yang tidak kaya, namun memang benar banyak dari mereka memilih menjadi entrepeuner/ wirausaha.

Mengapa demikian?

Alasan Banyak Orang Tionghoa Jadi Pengusaha dan Kaya

Alasan Banyak Orang Tionghoa Di Indonesia Jadi Pengusaha Dan Kaya
gambar : pexels.com/ mentatdgt

1. Terpaksa Menjadi Pengusaha

Betul, mereka menjadi pengusaha karena terpaksa. Karena pada jaman dulu menjadi satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk mencari nafkah. Sangat kecil kemungkinan untuk bekerja di sebuah perusahaan.

Pada saat itu, orang-orang Tionghoa tidak memperoleh pendidikan formal. Tapi tidak memiliki pendidikan formal bukan berarti tidak pendidikan loh!

Dulu, orang-orang Tionghoa tidak bisa mengakses pendidikan formal karena sekolahnya di tutup, literaturnya di bakar, bahkan namanya juga di larang (harus di ganti).

Sehingga menjadi PNS bagi orang PNS itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Apalagi jadi aparatur negara. Mau jadi karyawan? Tidak punya ijazah.

Oleh karena itu, satu-satunya jalan bertahan hidup adalah dengan membuka usaha sendiri atau, jika belum memiliki cukup modal ya menjadi kuli kasar dulu.

Meskipun menjadi kuli kasar, namun bagi orang-orang Tionghoa hal ini akan bisa menjadi sebuah keuntungan. Karena kerja keras dan semangat belajarnya yang tinggi untuk maju, mereka yang dulunya hanya sekedar pekerja kasar bisa terus berkembang.

Misalnya mereka yang dulunya sekedar supir bus. Beberapa tahun kemudian malah bisa membeli bus sendiri, kemudian berkembang menjadi 2 bus, 3 bus dan akhirnya punya ratusan bus serta membuat perusahaan transportasi.

Cerita lainnya, seorang warga keturunan Tionghoa yang dulunya menjadi kuli di pabrik cart. Lalu melakukan percobaan kompipisi catnya sendiri, Awalnya ia memasrkannya secara kecil-kecilan, tapi kemudian ia mengamati bagaiaman manajemen pabrik dnan akhirnya kini catnya di pakai oleh hampir semua orang Indonesia.

Banyak sekali cerita-cerita semacam ini yang tidak bisa di sebutkan sartu persatu.

2. Suka Sekali Menabung

Pada zaman dulu, orang-orang Tionghoa di kenal sebagai orang yang pelit. Bahkan uang 1 sen pun tidak luput dari perhitungan.

Hal ini mungkin bisa terpahami, sebab dulu mecari uang itu sangat sulit sekali bagi mereka. Anda bisa membayangkan jika Anda berada di negeri orang, tidak memiliki saudara bahkan akses terhadap ekonomipun sangat di batasi. Kemungkinan Anda pun akan menggunakan survival mode.

Kemudian hal ini berkembang menjadi kebiasaan. Orang-orang Tionghoa pada jaman dulu, ketika mendapat uang mereka tidak akan menghabiskannya. Melainkan mereka tabung dalam bentuk emas batang. Bahkan sampai saat ini masih ada milenial keturunan Tionghoa yang memiliki prinsip yang sama.

Baca juga,

3. Orang Tionghoa Cenderung Mudah Beradaptasi

Alasan selanjutnya kenapa banyak orang Tionghoa di Indonesia menjadi pengusaha adalah karena mereka cenderung mudah beradaptasi.

Anda pasti tahu China Town?

Dimana-mana, hampir di seluruh dunia pasti ada yang namanya China Town. Apalagi di Indonesia, China Town ada di setiap kota. Jadi meskipun sekolah mereka di tutup, literasi mereka di bakar dan nama mereka dilarang, mereka mudah beradaptasi.

Tidak bisa menggunakan bahasa Cina, maka mereka menggunakan bahasa jawa, sunda, batak dan bahasa orang pribumi lainnya. Tidak bisa mendapat ijazah untuk bekerja, mereka buka toko sendiri atau jadi kuli sambil belajar. Mereka cepat move on.

4. Ikatan Persaudaraan

Alasan lainnya kenapa banyak orang Tionghoa menjadi pengusaha adalah persaudaraan yang kuat. Orang-orang Tionghoa jaman dulu banyak sekali yang merantau menggunakan kapal laut. Mereka meninggalkan keluarga dan harta yang dimiliki.

Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mereka terombang-ambing di lautan. Mereka tidak tahu kapalnya berakhir dimana. Ada yang di Singapura, Malaysia, Indonesia, Flores.

Saat berada di dalam kapal, tidak ada lagi yang bisa di mintai tolong dan di andalkan. Oleh karena itu tidak jarang mereka mengangkat sesama perantau yang tidak memiliki ikatan darah apapun menjadi saudara sehidup semati. Hal ini terus berlanjut sampai di tanah rantau.

Pada saat berada di tanah rantau yang sama, mereka akan saling membantu dalam keadaan sulit sekalipun. Begitupun saat dalam kondisi senang, akan dinikmati bersama. Ketika ada 1 orang yang berhasil, maka derajat hidup orang sekitarnya pun ikut meningkat.

5. Kultur Masa Lalu yang Tidak Terbiasa Menjadi Karyawan

Tahukah Anda bahwa banyak orang-orang Tionghoa yang memiliki self pride begini :

“Lebih baik menjadi bos kecil daripada karyawan”.

Apalagi ketiga masuk usia 30an, akan menjadi tamparan luar biasa jika mereka belum membuka usaha sendiri. Meski masih berstatus sebagai karyawan, tapi membuka usaha sendiri tetap menjadi hal yang wajib.

Hal ini mungkin juga berhubungan dengan kultur masa lalu orang-orang Tionghoa yang dulunya tidak terbiasa menjadi karyawan. Rata-rata orang Tionghoa yang merantau bukanlah berasal dari golongan orang-orang berada. Mereka bukan berasal dari jajaran pejabat, PNS, atau karyawan swasta. Apalagi pada saat itu belum muncul era korporasi di Cina.

Oleh karena itu, kebanyakan dari mereka yang bermigrasi berprofesi sebagai pedagang kecil, petani dan sebagainya.

6. Doktrin Kewirausahaan yang di Ajarkan Sejak Kecil

Meskipun anak-anak Tionghoa di perbolehkan untuk belajar apapun yang mereka mau, namun pada akhirnya mereka akan suruh pulang untuk meneruskan bisni keluarga.

Selain itu mereka juga di ajarkan tentang kewirausahaan sejka kecil. Misalnya seperti menjadi pemilik maskapai penerbangan lebih enak dibanding menjad pilot. Menjadi pemilik rumah sakit lebih enak dibanding menjadi dokter. Dan menjadi pemilik usaha sendiri lebih enak dibanding membesarkan usaha orang lain.

Dalam parenting, orang-orang Tionghoa juga dari dulu membiasakan anak-anak mereka untuk membantu orangtua di toko dibanding nongkrong-nongkrong.

Jika tidak membnatu orang tua maka mereka di arahkan untuk mengambil les. Oleh karena itu jaman dulu mungkin Anda akan jarang menemukan anak-anak keturunan Tionghoa nongkrong-nongkrong dijalan setelah pulang sekolah.

Hal ini semakin memperlihatkan dengan jelas alasan kenapa banyak orang Tionghoa di Indonesia pengusaha dan kaya-kaya.

7. Kebiasaan Membantu Keluarga

Terakhir, alasan banyak orang Tionghoa di Indonesia menjadi pengusaha dan kaya adalah karena mereka di biasakan untuk saling membantu keluarga.

Anda bisa melihat, ketika orang Tionghoa memiliki suatu perusahaan, maka jajaran direksinya banyak di isi oleh keluarga mereka sendiri. Pada saat punya perusahaan sendiri artinya mereka punya power, mereka memilih membantu keluarga yang belum berhasil.

Hal ini akan berbeda jika mereka menjadi karyawan. Setinggi-tingginya posisi mereka, tidak mungkin menggantis eluruh direksinya dengan keluarga mereka.

Orang-orang Tionghoa juga memiliki prinsip family first. Dimana posisi-posisi pekerjaan yang kosong akan di isi oleh sanak saudara terlebih dahulu. Kultur yang sama juga bisa kita lihat di peruahaan-perusahaan Asia yang lain, Korea misalnya dengan Samsung, Hyundai dan lain-lain.

Baca juga, 5 Tips Mempekerjakan Anggota Keluarga Pada Bisnis Anda

Prinsip Sukses Orang Tionghoa

Prinsip Sukses Orang Tionghoa Di Indonesia
gambar : pexels.com/ pixabay

Selain alasan mengapa banyak orang Tionghoa menjadi pengusaha, berikut adalah prinsip sukses orang Tionghoa yang sudah di ajarkan turun temurun. Penasaran apa sajakah itu? Yuk langsung kita bahas satu persatu!

1. Kerja Keras Tidak Akan Mengecewakan

Seperti yang kita ketahui, kebanyakan orang Tionghoa menerapkan prinsip kerja keras. Seperti misalnya sang pendiri Maspion yakni Pak Alim Markus. Sebelum sukses seperti saat ini, beliau mengaku bahwa ia dan keluarga terbiasa untuk bekerja hampir seharian.

Hampir seluruh waktunya digunakan untuk bekerja dan mengembangkan bisnisnya. Dan hal ini terbukti, dari kesuksesannya saat ini.

2. Jadikan Buku Sebagai Teman Baik

Para orangtua Tionghoa biasanya menomor satukan edukasi. Pendidikan bagi anak-anaknya adalah suatu hal yang sangat penting. Tidak jarang mereka memiliki koleksi buku yang bisa di pelajari oleh anak-anak mereka sampai mirip seperti perpustakaan pribadi.

Bagi orangtua Tionghoa, buku adalah jendela dunia. Pengetahuan bisa membuat kita mampu memahami dan menghadapi tantangan apapun di masa depan. Selain itu, pengetahuan juga membuat kita lebih bijak dalam menyikapi berbagai hal.

3. Harus Terus Bertumbuh Meskipun Lambat

Prinsip selanjutnya yang dimiliki banyak orang Tionghoa di Indonesia adalah terus bertumbuh meskipun dalam progress yang sedang lambat. Jadi, bertumbuh sedikit dalam kondisi sulit itu lebih baik di banding stagnant.

Hal ini menunjukan bahwa orang Tionghoa menyukai inovasi.

Orang Tionghoa menerapkan prinsip ini hampir pada seluruh aspek hidupnya. Mulai dari pendidikan hingga investasi. Banyak dari mereka yang berinvestasi agar bisa memiliki 5 aset berharga di bawah ini :

  • Bisnis
  • Real estate
  • Paper Aset
  • Digital Aset
  • Practical Intelligence

Baca juga, 5 Aset yang Wajib Dimiliki Agar Bisa Survive

4. Tiga Tukang Sol Sepatu Lebih Baik dari Satu Zhuge Liang

Zhuge Liang adalah seorang ahli strategi zaman kerajaan Su Han yang terkenal sekali. Pada saat itu 3 pengikut di perintahkan untuk melaksanakan sebuha strategi perang. Namun ketiga pengikut tersebut menyarankan hal lain dan ternyata terbukti berhasil.

Sejak saat itu, pepatah “3 Tukang Sol Sepatu Lebih Baik dari 1 Zhuge Liang” pun tersebar luas.

Inti dari prinsip ini adalah tentang keterbukaan untuk memperoleh kebijaksanaan. Jika sebuah solusi nyatanya lebih baik, meski berasal dari orang yang tidak punya kedudukan, kenapa tidak untuk di pertimbangkan?

Penutup

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kesuksesan putra putri Indonesia keturunan Tionghoa yang kini menjadi pemilik BCA, MNC, Maspion, Alfamart dll. Semoga artikel ini bisa menuntaskan rasa penasaran Anda untuk menjawab :

“Mengapa banyak orang Tionghoa di Indonesia menjadi pengusaha dan kaya? Dan apa prinsip-prinsip yang bisa kita pelajari?”

Tetap semangat untuk belajar menjadi seorang entrepreneur yang sukses bahkan bisa mempertahankan kultur baik seperti halnya orang-orang Tionghoa yang sukses mulai dari nol.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar