Apa itu Reksadana? Berikut Penjelasan Lengkapnya!

apa itu reksadana

Memiliki uang yang serba kecukupan baik ketika masih muda dan produktif hingga saat tua dan tak bekerja adalah keinginan banyak orang. Tentu dibutuhkan usaha yang lebih jika Anda ingin hidup sejahtera finansial di usia tua nanti. Apa yang harus dilakukan? Benar, melakukan investasi sedini mungkin. Ada banyak sekali contoh orang yang masuk daftar individu terkaya di dunia, tentu memiliki manajemen finansial yang baik sejak muda.

Tenang saja, tak harus menjadi lulusan ekonomi sukses supaya bisa sejahtera di usia tua. Yang penting Anda paham pentingnya investasi.apa itu reksadanaMemiliki uang yang serba kecukupan baik ketika masih muda dan produktif hingga saat tua dan tak bekerja adalah keinginan banyak orang.

Tentu dibutuhkan usaha yang lebih jika Anda ingin hidup sejahtera finansial di usia tua nanti. Apa yang harus dilakukan? Benar, melakukan investasi sedini mungkin. Ada banyak sekali contoh orang yang masuk daftar individu terkaya di dunia, tentu memiliki manajemen finansial yang baik sejak muda. Tenang saja, tak harus menjadi lulusan ekonomi sukses supaya bisa sejahtera di usia tua. Yang penting Anda paham pentingnya investasi.

Yap, investasi adalah salah satu cara paling tepat untuk bisa hidup sejahtera di usia tua nanti. Dengan berinvestasi bahkan ketika masih muda, Anda membuka peluang untuk menikmati kekayaan dan aset bergerak saat sudah tak produktif.

Tunggu, bukankah investasi itu harus mengeluarkan banyak uang? Nggak bisa nongkrong dan travelling, dong? Nah, di sinilah letak kebijakan Anda. Mau memilih menghabiskan uang di masa muda tapi menjadi miskin saat tua atau hidup apa adanya di masa muda tapi bisa sejahtera finansial ketika tua? Tentunya mayoritas dari Anda pasti bakal memilih yang kedua.

Baca juga: Pilihan Investasi Terbaik Saat Masih Kuliah ini Layak Anda Coba!

Baiklah, kita berinvestasi. Tapi, tapi penghasilan saya masih belum cukup nih untuk investasi? Nonsense! Ada banyak sekali produk investasi saat ini yang bahkan membutuhkan modal minim.

Salah satunya yang kini begitu digandrungi terutama di generasi muda adalah reksadana. Penasaran seperti apa sih reksadana dan bagaimana cara membelinya? Tenang saja, kami akan membahasnya super lengkap untuk Anda.

Pengertian dan Sejarah Reksadana

Pengertian dan Sejarah Reksadana
@Akseleran

Pernahkah Anda ingin membeli sebuah kendaraan bermotor tapi karena uangnya kurang, akhirnya patungan dengan saudara? Yap, secara sederhana konsep reksadana seperti itu. Namun jika dijabarkan secara lebih jelas, reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana atau modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam produk-produk investasi yang ada di pasar modal.

Di mana untuk terlibat dalam wadah tersebut, calon investor harus membeli unit penyertaan reksadana. Nantinya dana dari setiap investor bakal dikelola oleh satu pihak bernama Manajer Investasi (MI) untuk disalurkan ke berbagai portofolio. Misalkan saja saham, obligasi, pasar uang hingga lainnya.

Dari penjelasan yang mengacu kepada Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pasal 1 ayat (27) itu, bisa disimpulkan bahwa reksadana yang dikelola oleh MI merupakan bentuk instrumen investasi jangka menengah dan jangka panjang. Nantinya MI menempatkan dana-dana dari sekelompok investor ke surat berharga dan melaporkan keuntungan atau kerugian, termasuk menerima dividen atau bunga yang dicatat dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana.

Lalu di manakah dana-dana investor itu disimpan? Kepada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan MI. Di Indonesia sendiri ada beberapa bank konvensional yang sudah terdaftar sebagai kustodian setelah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Pasar Modal.

Beberapa bank tersebut ialah BCA, BII, CIMB Niaga, HSBC, Permata Bank, Lippo Bank, BNI, BTPN, UOB Indonesia, BRI, Mandiri, Bank Mega, Panin Bank, Danamon, Bukopin, DBS Indonesia, Standard Chartered, Standard Chartered Indonesia dan Deutsche Bank.

Baca juga : Definisi dan Pengertian Tabungan

Sejarah mencatat bahwa reksadana pertama yang diluncurkan bernama Massachusetts Investors Trust pada 21 Maret 1924. Saat itu hanya dalam waktu satu tahun saja, ada 200 investor yang terlibat dengan total aset mencapai US$392.000! Kemudian ketika bursa saham mengalami masa suram di tahun 1929, pertumbuhan reksadana pun jadi lambat.

Butuh waktu beberapa dekade sampai akhirnya reksadana kembali pulih dan berkembang lagi yakni pada tahun 1960. Saat itu ada 270 reksadana dengan total pengelolaan aset mencapai US$48 triliun.

Baca juga: Memulai Investasi yang Ideal, Berapa Persen dari Penghasilan?

Jenis-Jenis Reksadana di Indonesia

Jenis-Jenis Reksadana di Indonesia
@Indogold

Bagi masyarakat awam, biasanya alur investasi adalah menempatkan penghasilan yang disisihkan di tabungan, deposito kemudian emas. Nanti jika nilai tabungan sudah banyak, digunakan untuk membeli properti.

Tak ada yang salah dengan itu, karena investasi konvensional seperti yang dijelaskan di atas memang mampu memberikan kesejahteraan finansial masa depan untuk Anda. Namun bagi Anda yang ingin mencoba investasi dengan peluang tantangan yang lebih besar sekaligus menyempurnakan portfolio investasi, reksadana adalah pilihan tepat. Tenang saja, ada banyak jenis reksdana yang bisa dipilih sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.

1. Reksadana Saham

Dibandingkan jenis reksadana yang lain, Reksadana Saham memang membuktikan memiliki peluang untung terbesar, tapi juga risiko paling tinggi. Jika Anda memilih Reksadana Saham maka MI akan menempatan dana ke instrumen saham. Investor akan memperoleh tingkat keuntungan yang positif dalam jangka panjang dengan cata mengkapitalisasi pasar modal Indonesia.

Bagi Anda yang hanya suka investasi jangka pendek, Reksadana Saham jelas bukan pilihan tepat karena harga saham begitu fluktuatif secara tajam. Setidaknya butuh waktu di atas lima tahun supaya Anda bisa memetik keuntungan dari reksadana saham.

Hal ini sesuai dengan kasus IHSG yang pada tahun 2018 mencatat kinerja negatif karena terkoreksi hingga 2.5%. Catatan ini jelas merupakan angka terburuk dalam waktu tiga tahun. Namun jika Anda melihat tiga tahun terakhir, IHSG justru mencatat pertumbuhan sebesar 19.99% (2017) dan 15.32% (2016), sementara itu sempat terperosok 12.13% (2015).

Dilansir Infovesta Utama, ada lima MI yang mencatat skor terbaik (periode kinerja 5 tahun) dalam pengelolaan Reksadana Saham. Kelima MI itu adalah Sucorinvest Asset Management (untuk reksadana Sucorinvest Equity Fund dan Sucorinvest Sharia Equity Fund), Narada Aset Manajemen, Sinarmas Asset Management, Henan Putihrai Asset Management dan Trimegah Asset Management.

2. Reksadana Campuran

Sesuai dengan namanya, reksadana jenis ini menawarkan gabungan investasi dalam berbagai instrumen demi meraup keuntungan jangka panjang pada saham, obligasi dan pasar uang. Namun meskipun gabungan, keuntungan Reksadana Campuran tidaklah setinggi Reksadana Saham karena memang risikonya lebih rendah. Hanya saja keunggulannya ialah komposisi portfolio lebih fleksibel sehingga MI bebas mengelolanya.

Silahkan baca terkait ulasan tentang 10 saham blue chip terbaik di Indonesia saat ini…

Jika Anda ingin menghindari risiko yang kelewat besar saat pasar saham dan obligasi fluktuatif tanpa kepastian, maka bisa mempertimbangkan Reksadana Campuran. Dalam jangka panjang, imbal hasil Reksadana Campuran masih cukup positif. Bahkan menurut Infovesta Utama, imbal hasil Reksadana Campuran bisa mencapai 42% sampai 76%. Bagi Anda yang punya profil risiko middle high, tentu sangat cocok memilih Reksadana Campuran.

Lima MI yang mencatatkan periode kinerja lima tahun terbaik untuk reksadana campuran adalah Shinhan Asset Management Indo, Sucorinvest Asset Management, Henan Putihrai Asset Management, Schroder Asset Management dan Kresna Asset Management. Seluruh data MI ini dilansir Infovesta Utama.

Baca juga: 10 Saham Blue Chip Terbaik di Indonesia Menjelang 2020

3. Reksadana Pendapatan Tetap

Tak ingin bermain di pasar modal tapi tetap ingin memilih produk reksadana? Maka Reksadana Pendapatan Tetap bisa dipilih. Karena reksadana jenis ini bisa memberikan suatu tingkat pengembalian yang menarik dengan fokus pada stabilitas modal.

Sekadar informasi, Reksadana Pendapatan Tetap sangatlah bergantung pada perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Jika BI rate menurun, akan membuat obligasi naik dan meningkatkan nilai Reksadana Pendapatan Tetap karena obligasi adalah instrumen penempatan dananya.

Lantaran bergantung pada nilai obligasi, risiko Reksadana Pendapatan Tetap sudah pasti di bawah Reksadana Campuran. Dilansir Duwitmu, pada tahun 2018 kemarin Reksadana Pendapatan Tetap memang mengalami masa sulit karena minus 2.2%.

Tetapi sepanjang 2019 ini justru diprediksi bakal memperoleh return positif. Kenapa bisa begitu? Karena BI memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6% sejak Desember 2018. Selama BI rate tidak anjlok, harga obligasi dan akhirnya Reksadana Pendapatan Tetap juga stabil.

Menurut data Infovesta Utama, periode kinerja lima tahun untuk MI Reksadana Pendapatan Tetap terbaik dipegang oleh PT Insight Investments Management, PT Samuel Aset Manajemen, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia dan PT Sinarmas Asset Management. Dari kelima Mi tersebut, mencatat skor akhir 80.0 – 72.8.

4. Reksadana Pasar Uang

Memutuhkan reksadana dengan risiko paling kecil sehingga uang yang disetorkan tetap aman? Jawabannya adalah Reksadana Pasar Uang.

Saat Anda memilih Reksadana Pasar Uang, MI bakal fokus untuk memberikan tingkat likuiditas yang tinggi demi memenuhi kebutuhan dana tunai dalam waktu singkat. Lantaran jenis investasinya pada instrumen Pasar Uang, sudah pasti membuat reksadana jenis ini jadi yang paling aman dibandingkan reksadana jenis lainnya.

Tetapi wajib diingat, Reksadana Pasar Uang bukanlah jenis investasi yang menguntungkan dalam jangka panjang. Sekadar informasi, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Reksadana Pasar Uang mencatat return di atas 35% lantaran bunga deposito mengalami kenaikan, sesuai dengan bunga SBI di kisaran 6% serta bunga obligasi perusahaan di level 7%. Karena di sepanjang 2019 diprediksi bakal return 5%-6%, Reksadana Pasar Uang cukup menarik.

Karena jangka pendek ini juga, Reksadana Pasar Uang bisa dicairkan kapan saja dan tidak memungut biaya pembelian serta penjualan kembali. Biasanya disediakan fasilitas redemption T+1 (pencairan dana satu hari setelah transaksi terjadi).

Untuk Anda generasi muda yang baru saja memperoleh pekerjaan dengan penghasilan pas-pasan atau kalangan mahasiswa, Reksadana Pasar Uang bisa menjadi salah satu pilihan investasi terbaik. Anda bahkan bisa mulai berinvestasi dengan uang Rp100.000.

Menurut data Infovesta Utama, ada lima MI yang mencatat skor akhir terbaik dalam periode kinerja lima tahun. Kelima MI yang mungkin bisa Anda pertimbangkan itu adalah PT Bahana TCW Investment Management, PT Mega Capital Investama, PT Trimegah Asset Management, PT Manulife Asset Management Indonesia dan PT BNI Asset Management.

Baca juga: Trading Forex Sebagai Sumber Penghasilan Tambahan, Anda Bisa Coba !

Bagaimana Cara Membeli Reksadana untuk Pertama Kali?

Cara Membeli Reksadana untuk Pertama Kali

Dulu salah satu alasan seseorang malas membeli reksadana adalah harus datang ke perusahaan pengelola dan antri di loket. Memang jika membahas lingkungan investasi 10 tahun silam, seperti itulah cara beli reksadana yang bikin banyak orang malas. Namun berterima kasihlah kepada perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi, kini membeli reksadana bahkan sangat mudah. Saking mudahnya, hampir seperti membeli pulsa.

Dengan semakin pahamnya setiap masyarakat terhadap pentingnya investasi, pembelian reksadana kini pun dipermudah. Anda bisa membelinya melalui bank-bank kustodian yang sudah ditunjuk, melalui perusahaan MI yang sudah resmi terdaftar dan diawasi OJK (Otoritas Jasa Keuangan), atau bahkan lewat marketplace yang artinya secara online. Supaya Anda lebih paham, berikut adalah tata cara pembelian reksadana bagi pemula:

  1. Hal pertama yang harus dilakukan saat mau membeli reksadana adalah dengan mencari perusahaan Manajer Investasi (MI) atau bank terbaik. Cari informasi sedetail mungkin, jika perlu bertanya kepada orang lain yang sudah berpengalaman, supaya bisa memperoleh penyedia reksadana yang berkualitas dan sudah pasti terdaftar di OJK serta Bapepam
  2. Setelah memilih penyedia reksadana yang terbaik, pahami informasi soal prospektus. Prospektus adalah penjelasan sekaligus pedoman investor reksadana yang berisi jenis produk reksadana, MI, tata cara pembelian dan penjualan kembali, bank kustodian serta lain-lain
  3. Jika sudah memahami prospektus, Anda tinggal menyiapkan syarat yang dibutuhkan. Biasanya untuk menjadi investor reksadana harus memiliki KTP dan NPWP sambil kemudian mengisi formulir pembelian dan portfolio. Isilah portfolio dengan jujur karena dokumen ini bakal jadi pertimbangan MI untuk menyarankan alokasi dana Anda dalam berinvestasi
  4. Setelah menentukan jenis reksadana sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, Anda tinggal melakukan transfer dana (secara online atau via ATM) dan kemudian memperoleh konfirmasi kepemilikan unit reksadana. Simpan baik-baik buktinya untuk penarikan dana

Bagaimana? Tidak sulit bukan untuk memperoleh unit reksadana? Anda tak perlu khawatir jika masih belum paham, karena bisa langsung bertanya ke pihak CS (Customer Service) mengenai tahapan pembelian. Tenang saja, CS akan menginformasikan tata caranya dengan lengkap sehingga sekalipun Anda adalah seseorang yang baru pertama kali berinvestasi, pasti bakal bisa.

Baca juga: 4 Logam Mulia yang Paling Menguntungkan Sebagai Investasi, Tertarik?

Keuntungan dan Kerugian Reksadana yang Wajib Dipertimbangkan

Memahami apa sih reksadana, jenis-jenis dan tata cara pembelian sudah. Hal berikutnya yang harus Anda mengerti perihal dunia reksadana adalah mengenai kerugian dan keuntungan instrumen investasi yang satu ini. Kenapa wajib tahu? Supaya Anda bisa memperoleh informasi seimbang sehingga mampu mempertimbangkan investasi secara maksimal.

Keuntungan Reksadana Bagi Investor

Keuntungan Reksadana Bagi Investor

1. Profit yang Besar

Alasan seseorang melakukan investasi adalah mencari untung. Hal itu bisa Anda temukan jika memilih reksadana. Terutama produk Reksadana Saham, karena berpeluang memberikan keunutngan hingga 20% per tahun.

Tak heran kalau jenis produk Reksadana Saham merupakan pilihan terbaik bagi investor yang ingin melakukan investasi jangka panjang, seperti persiapan dana pendidikan dan dana pensiun.

2. Risiko yang Terpecah

Yang namanya berinvestasi tentu saja ada untung dan rugi. Emas misalkan, Anda beli dengan harga Rp600 ribu per gram, kemudian mendadak anjlok saat dijual cuma Rp450 ribu per gram. Contoh lainnya juga bisa pada investasi tanah.

Anda membeli tanah satu kavling dengan harga total Rp200 juta, lalu kemudian terjadi bencana alam sehingga harga tanah anjlok jadi Rp50 juta, itu juga merugi. Namun jika Anda memilik reksadana sebagai investasi, ada yang namanya diversifikasi risiko.

Secara mudahnya, diversifikasi risiko membuat uang Anda disebarkan ke berbagai instrumen sehingga kalau salah satu harganya anjlok, masih ada yang stabil.

Contohnya pada Reksadana Saham, MI tak akan menempatkan dana Anda pada satu saham saja, tapi ke berbagai saham untuk mencegah turunnya nilai investasi karena harga suatu saham melorot. Tentunya diversifikasi risiko ini tidak akan bisa terjadi jika Anda memilih investasi saham secara tunggal.

3. Dikelola Secara Profesional

Salah satu penyebab seseorang gagal dalam dunia investasi saham adalah minimnya pengetahuan pasar modal. Apalagi jika Anda berinvestasi di sela-sela pekerjaan sehingga tak memiliki waktu untuk menganalisa bursa dan memperhatikan tren yang ada di pasar modal.

Namun jika Anda menggunakan reksadana, kekhawatiran-kekhawatiran itu tak akan terjadi lantaran seluruh proses reksadana sudah dikelola oleh pihak profesional bernama Manajer Investasi. MI bekerja secara transparan sehingga membuat setiap investor lebih nyaman menyerahkan pengelolaan portfolio mereka.

Tapi kan bayar MI mahal? Memang. Namun bukan menjadi beban Anda seorang, karena fee ditanggung bersama oleh semua investor.

4. Modal Investasi Kecil dan Transaksi Efektif

Demi membuat reksadana menjangkau seluruh masyarakat, kini untuk melakukan investasi hanya butuh modal kecil. Bahkan dengan Rp100 ribu, Anda sudah bisa menanamkan modal pada unit reksadana.

Tak berhenti di situ, beberapa e-commerce juga menawarkan pembelian reksadana yang bisa dilakukan dengan uang Rp10 ribu saja! Selain modalnya kecil, reksadana juga bisa dibeli secara online baik lewat website maupun platform online. Hal ini jelas mengurangi biaya dan mempermudah monitoring yang membuat reksadana menjadi instrumen investasi milenial.

Kerugian Reksadana Bagi Investor

Kerugian Reksadana Bagi Investor

1. Memiliki Risiko yang Tinggi

Pembahasan di atas memang menyebutkan kalau profit dari reksadana terutama Reksadana Saham cukup menggiurkan. Memang betul, tapi risiko kerugian Reksadana Saham juga sangat tinggi.

Tak ada yang bisa menjamin kalau risiko reksadana adalah nol atau harga Reksadana Saham selalu naik. Bahkan bisa saja unit reksadana ditutup oleh otoritas jika jumlah dana yang dikelola jauh di bawah batas minimal. Untuk itulah Anda harus pintar memilih jenis reksadana, seperti Reksadana Pasar Uang yang punya risiko paling kecil sehingga cukup aman bagi pemula, tapi profitnya tidak sebesar Reksadana Saham.

2. Adanya Biaya Investasi

Lantaran menggunakan jasa MI, tentunya dalam transaksi jual beli reksadana ada yang namanya biaya investasi. Biaya ini akhirnya berdampak pada besaran return yang diterima oleh reksadana.

Kok begitu?

Karena hasil investasi reksadana bakal dikurangi biaya investasi. Bukan hanya fee untuk Manajer Investasi, beberapa biaya juga mencakup biaya penyimpanan di bank kustodian, biaya operasional hinga marketing reksadana. Bagaimana cara meminimalisir biaya investasi reksadana ini? Gunakan platform online.

3. Proses Pencairan Lama

Reksadana memang bisa dicairkan. Hanya saja proses pencairan reksadana tentu tak seperti tabungan yang bisa diambil kapanpun di ATM. Bahkan sekalipun deposito memiliki waktu jatuh tempo, pencairan reksadana tidaklah secepat investasi deposito.

Biasanya untuk melakukan likuiditas, investor harus membutuhkan waktu 3-4 hari kerja sejak mengajukan permintaan. Berkaitan dengan pencairan ini juga, ada kemungkinan Anda gagal mencairkan karena MI tak bisa menyediakan dana.

4. Mendapat MI Bermasalah

Dan ini adalah risiko kerugian yang bisa Anda alami jika memilih reksadana. Yap, ada peluang Anda memperoleh Manajer Investasi yang buruk sehingga melakukan wanprestasi. MI yang melakukan wanprestasi jelas tidak melaksanakan kewajibannya sehingga bisa saja dana Anda dibawa kabur.

Tentu saja tak ada investor yang ingin mengalami hal tersebut. Karena itulah Anda harus mencari MI yang benar-benar berkualitas, bertanggung jawab, profesional dan sudah pasti berpengalaman supaya bisa mengelola dana Anda secara maksimal.

Tentunya dari pembahasan keuntungan dan kekurangan reksadana, Anda bisa memilih dengan lebih bijak. Karena sekalipun memiliki kekurangan, reksadana masih menjadi salah satu produk investasi terbaik. Anda yang ingin menambah portfolio investasi, tentu harus membeli unit reksadana.

Supaya bisa membuat risiko rugi di batas minimal, pastikan menggunakan Manajer Investasi yang benar-benar berkualitas dan memilih reksadana yang terbaik. Dengan begitu, Anda bisa memenuhi impian untuk hidup sejahtera secara finansial di masa depan.

Apa itu Reksadana?

Adalah wadah dan pola pengelolaan dana atau modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam produk-produk investasi yang ada di pasar modal.

Jenis-Jenis Reksadana di Indonesia?

1. Reksadana Saham
2. Reksadana Campuran
3. Reksadana Pendapatan Tetap
4. Reksadana Pasar Uang

Apa Keuntungan Reksadana Bagi Investor?

1. Profit yang besar
2. Risiko yang terpecah
3. Dikelola profesional oleh ahlinya
4. Modal investasi relatif kecil dan transaksi efektif

Apa Kerugian reksadana bagi investor?

1. Memiliki risiko tinggi
2. Ada biaya investasi
3. Proses pencairan lama
4. Mendapat MI bermasalah

Scroll to Top