5 Bad Habit yang Menghambat Financial Independence

Kalau bisa memilih, semua orang pasti ingin terlahir di keluarga yang berkecukupan. Tapi nyatanya banyak dari kita yang harus berjuang dari nol untuk mencapai financial independence (bebas finansial).

Seperti yang sudah kita tahu, bahwa uang sebenarnya hanyalah sebuah alat. Berdasarkan penelitian menyebutkan kalau uang ternyata bisa membuat pemiliknya bahagia asalkan kita tahu bagaimana cara menggunakan dan mengelolanya.

Riset menunjukan, kalau pendapatan kita sudah mencapai Rp 1 miliar pertahun, biasanya kita sudah bisa mencapai ketenangan dalam hal finansial.

Langsung insecure deh kita-kita yang bergaji UMR ini!

Tapi nyatanya, meski gaji sudah naik bekali-kali lipat misal dari yang awalnya Rp 3 juta menjadi Rp 30 juta bahkan Rp 300 juta perbulan, masih banyak orang yang terus menerus merasa tidak cukup.

Hal ini terjadi karena mereka melakukan kesalahan-kesalahan yang berasal dari kebiasaan mereka sendiri dan akkhirnya sulit mencapai kemerdekaan secara finansial.

Untuk itu, dibanding insecure, sambil berusaha meningkatkan income lebih baik kita menyadari dan memperbaiki kebiasaan yang mungkin bisa membuat kita mengalami hal yang sama.

Nah, penasaran apa saja sih bad habit atau kebiasaan buruk yang bisa membuat kita sulit mencapai financial independence? Yuk kita bahas satu persatu!

1. Malas Membuat Rencana Keuangan

Inilah bad habit yang seringkali menghambat kita mencapai financial independence. Kenapa demikian?

Bagi kita yang menganut prinsip hidup “let it flow” alias biarkan mengalir apa adanya, membangun kebiasaan untuk membuat rencana keuangan mungkin akan cukup membebani.

Kadang, hidup memang perlu di biarkan mengalir apa adanya agar tidak terlalu stres. Tapi kalau soal keuangan, kebiasaan untuk membiarkan uang kita mengalir begitu saja bisa sangat berbahaya loh!

Karena jika penghasilan yang kita dapatkan keluar tanpa pertimbangan, bisa-bisa uang habis tidak sesuai dengan kebutuhan.

Masih mending kalau hanya habis saja. Yang sering terjadi malah pengeluaran jadi lebih besar dibanding penghasilan. Apalagi kalau kita sudah terjerat siklus hutang konsumtif, kita jadi bekerja hanya untuk membayar hutang.

Ini adalah bahaya terbesar yang sangat mungkin terjadi jika kita punya kebiasaan malas membuat rencana keuangan.

Baca juga, Ingin Bebas Finansial? Kenali Jebakan Rat Race!

Intinya dari sifat malas kita itu, kita tidak mampu menempatkan dana tabungan, memilih aset investasi yang pas dan juga membeli barang yang sesuai dengan kebutuhan.

Jadi bagaimana cara merubah kebiasaan ini?

  • Pahami dan hayati dengan sungguh-sungguh tentang dampak negatif tidak punya rencana keuangan.
  • Pahami dan hayati juga keuntungan jika punya rencana keuangan. Kita bisa memprioritaskan tujuan, menentukan kapan akan meraihnya dan bagaimana juga bagaimana cara meraihnya.
  • Buat rencana keuangan sekarang juga, jangan di tunda-tunda. Pertahankan konsistensi, jika ada kesulitan justru ini pertanda bagus. Artinya Anda sedang berproses menuju keuangan yang lebih baik.

2. Kebiasaan Berhutang Untuk Segala Hal

Biasanya kebiasaan berhutang untuk segala hal terjadi karena dua sebab.

Pertama, mindset bahwa kita bisa memiliki barang sebelum kita mampu karena merasa bisa membayarnya bulan depan (dengan gaji). Jadi lihat tas lucu, checkout pakai paylater, lihat make up kekinian check out dulu pakai paylater. Semuanya serba paylater!

Kedua, karena suka saja.

Ya benar, iseng saja misalnya karena melihat paylater yang tidak digunakan. Rasanya “gatal” untuk tidak membelanjakannya. Hati-hati, ini bisa jadi pertanda bahwa kita mungkin seorang impulsive buyer.

Seseorang akan sulit mencapai financial indepence kalau masih memiliki kebiasaan berhutang tanpa perencanaan.

Memang, disisi lain kita bisa menggunakan hutang untuk membantu kita mencapai sebuah tujuan keuangan. Misalnya seperti mengambil cicilan KPR. Jadi memang berhutang itu tidak dilarang, asalkan tetap terkendali dan kalau bisa justru digunakan untuk meningkatkan produktifitas.

Baca juga, Cara Jadi Kaya dengan Berhutang Produktif Untuk Pemula

Nah jika yang terjadi sebaliknya alias kita punya kebiasaan berutang tanpa kendali dimana kita sampai berhutang demi menutupi hutang kita yang lain?

Sangat jelas, kalau kebiasaan ini membuat masalah tidak akan pernah selesai.

Jadi apa yang harus di lakukan?

  • Ubah gaya hidup. Mudahnya menggunakan paylater untuk membeli barang-barang bisa jadi karena kita punya gaya hidup yang tidak sesuai dengan penghasilan.
  • Hitung dengan detail bunga yang harus di bayar setiap kali ada keinginan untuk mengambil pinjol/ paylater. Kita akan pikir-pikir ulang jika benar-benar tahu sebesar apa bunganya.

3. Santai, Padahal Tidak Punya Dana Darurat

Santai, Padahal Tidak Punya Dana Darurat
gambar : unsplash.com/ Park troopers

Kaum YOLO (You Only Live Once) yang cenderung suka dengan gaya hidup santai mungkin akan merasa terusik dengan hal ini.

Tapi mau tidak mau, kebiasaan santai dalam konteks dana darurat ini memang perlu diwaspadai karena bisa membuat kita sulit mencapai financial independence loh!

Seharusnya, pandemik covid 19 ini membuat kita lebih melek akan pentingnya dana darurat. Kita tidak pernah menyangka bahwa kondisi ekonomi akan terguncang sedemikian rupa dan berefk pada aspek kehidupan kita yang lainnya.

Oleh karena itu, tidak bosan-bosannya para financial planner mengingatkan kepada kita untuk memiliki dana darurat. Setidaknya 3 kali pengeluaran sampai dengan 12 kali pengeluaran bulanan.

Misalnya, pengeluaran perbulan Anda Rp 6 juta. Tinggal dikali tiga saja, berarti dana darurat minimal yang perlu Anda miliki adalah Rp 24 juta.

Dana darurat ini juga sebaiknya disimpan ditempat yang likuid atau mudah di cairkan. Seperti deposito, reksadana pasar uang atau bahkan emas.

Agar punya dana darurat, apa yang sebaiknya dilakukan?

  • Untuk awal, mulailah menyisihkan 5% dari gaji setiap awal bulan. Meski sedikit, tapi harapannya lama-lama jumlah ideal dana darurat bisa tercapai.
  • Gunakan fitur auto debet, untuk menghidari lupa atau terlewat nabung.
  • Sesekali, periksa kembali berapa dana darurat yang sudah terkumpul agar Anda bisa mengatur kembali alokasi menabung tiap bulannya.
  • Jika ingin memiliki dana darurat yang lebih besar, bisa membagi target pengumpulan dana darurat misalnya menjadi per-tiga bulan sampai terkumpul 12 bulan pengeluaran.

Baca juga, 7 Tips Nabung Dana Darurat Keluarga Sampai Berhasil

4. Tidak Suka Berinvestasi Untuk Tujuan Utama

Bad habit ke empat yang membuat kita sulit mencapai financial independence adalah karena kita tidak suka berinvestasi untuk tujuan keuangan utama.

Bagaimana tidak, jika setiap kebutuhan yang sifatnya memerlukan uang yang banyak harus di siapkan mendadak tentu tabungan akan selalu habis. Banyak juga yang malah harus pinjam sana-sini untuk membayarnya.

Jadi, jangankan untuk merasakan kebebasan finansial, yang ada setiap harinya kita merasakan beban finansial tidak berujung.

Biasanya ini terjadi pada orang-orang yang punya prinsip hidup “gimana nanti”. Sehingga mulai sekarang, yuk kita ubah menjadi “nanti gimana?”

Setidaknya ada 2 pos keuangan yang perlu di persiapkan jauh-jauh hari terutama bagi kita yang akan atau sudah berkeuarga. Yang pertama adalah pos dana pendidikan anak dan yang kedua, pos dana pensiun.

Mari kita bahas satu-persatu!

Perencanaan dana pensiun sangat penting jika kita tidak mau mewariskan sandwich generation ke anak cucu kita nanti. Apalagi jika kita tidak mau menurunkan gaya hidup di masa tua. Maka dana pensiun ini wajib di rencanakan sedini mungkin.

Sebagai contoh, karyawan yang tidak merencanakan masa pensiunnya akhirnya harus rela menjual semua asetnya untuk memenuhi kebutuhan menyambung hidup. Bahkan mereka juga harus kehilangan tempat tinggal karena perlu biaya untuk berobat.

Begitu juga dengan dana pendidikan anak yang sifatnya tidak bisa ditunda. Orangtua pasti ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Tapi nyatanya dana pendidikan saat ini cukup besar, apa lagi jika ingin anak kita bisa sampai lulus kuliah.

Oleh karena itu, jika tidak dipersiapkan dengan baik bisa-bisa pendidikan anak terhambat karena tidak adanya dana yang cukup.

Untuk mengubah kebiasaan ini, apa yang bisa kita lakukan?

  • Sisihkan 10% penghasilan untuk tujuan keuangan utama seperti dana pensiun. Misalnya setiap bulan menyisihkan Rp 1 juta ke instrumen saham selama 20 tahunan dengan imbal hasil rata-rata sebesar 15% pertahunnya.
  • Mulai hitung kebutuhan dana pendidikan anak sedini mungkin. Karena dana pendidikan anak selalu naik rata-rata 10% pertahun. Jadi tidak perlu menunggu anak masuk sekolah untuk menabung dana pendidikan anak agar nanti tidak kesulitan.
  • Sisihkan penghasilan di awal bulan untuk dana pendidikan sesuai dengan kemampuan dan pelajari instrumen investasi yang sesuai.
  • Tingkatkan income agar peluang meraih tujuan keuangan utama menjadi lebih besar dan makin cepat tercapai.

Baca juga, Ingin Bebas Finansial? Coba Praktikan Fire Movement!

5. Malas Membangun Aset Produktif

Penghambat Financial Independence Malas Membangun Aset Produktif.png
gambar : unsplash.com/ victor forgacs

Kebiasaan buruk yang tidak kalah berbahaya yakni malas membangun aset produktif.

Kebiasaan ini bisa menghambat kita dalam mencapai financial independence karena di masa depan kebutuhan makin meningkat. Selain itu tidak bisa kita pungkiri kalau faktor usia bisa membuat produktifitas kita dlaam menghasilkan uang menurun.

Jika kita malas membangun aset produktif, maka dari mana kita bisa memenuhi kebutuhan kita? Kembali pada lingkaran hutang yang tidak berujung?

Sebaiknya jangan lakukan itu.

Beda lagi jika kita punya aset produktif. Misalnya kita dapat pasif income dari obligasi tiap bulannya, dari sewa kontrakan dll.

Oleh karenanya bagi Anda khususnya yang sudah berusia diatas 35 tahun, disarankan untuk mulai memikirkan pembelian aset produktif untuk mendapatkan penghasilan pasif dimasa depan.

Apa yang bisa di lakukan untuk membangun aset produktif?

  • Mulai pelajari pilihan aset yang ada. Harga, cara kerjanya, estimasi return dan juga resikonya.
  • Diskusikan dengan ahlinya agar kita punya second opinion sebelum melakukan pembelian aset produktif.
  • Hitung kembali kemampuan pembelian aset produktif mana yang lebih baik dimiliki.

Penutup

Seiring berkembangnya literasi keuangan saat ini, banyak orang yang ingin mencapai financial independence. Dimana kita bisa melakukan aktifitas produktif sesuai minat kita tanpa worry soal keuangan.

Meski terdengar menyenangkan, financial indepence bukanlah hal yang mudah untuk di raih. Tapi, semua orang punya peluang untuk mencapai financial independence jika bersungguh-sungguh. Salah satunya dengan mengubah kebiasaan buruk diatas.

Saat kita sudah tidak menjadikan orangtua sebagai dana darurat, sudah tidak lagi menjadikan anak sebagai dana pensiun dan tidak menjadikan teman sebagai paylater, artinya kita sudah mencapai fiannacial independence kita sendiri.

Semoga ulasan mengenai 5 bad habit penghambat financial independence diatas bisa membantu kita membangun kebiasaan kauangan yang lebih baik.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar