Mengenal Bahan Bakar CNG Yang Ganggu Euforia Kendaraan Listrik

Pertamina tiba-tiba berencana mengeluarkan bahan baru nan ekonomis bernama CNG. Mari kita mengenal bahan bakar CNG yang ganggu euphoria kendaraan listrik.

Bagaimana tidak disebut mengganggu, kemunculannya sejenak setelah rencana pemerintah mensubsidi pembelian kendaraan listrik untuk mengurangi emisi gas buang karbon.

Semenjak digunakan pada G-20, kendaraan listrik mulai rame diperbincangkan dan banyak pengamat meramalkan peralihan kendaraan pada 2023.

Diklaim bahwa kendaraan listrik mampu mengurangi emisi gas karbon yang menjadi penyebab kerusakan iklim.

Namun jika listrik yang digunakan untuk mengisi baterai kendaraan berasal dari pembangkit listrik  tenaga batubara (PLTB), sesungguhnya ini hanya tentang melokalisasi emisi gas karbon.

Dari yang tadi tersebar di seluruh penjuru, kemudian hanya terjadi pada area PLTB saja.

Pertamina “Menantang” Pemerintah

Alih-alih Pertamina mengeluarkan rencana untuk pembangunan stasiun pengisian daya kendaraan listrik, malah berencana untuk mengeluarkan bahan bakar energi yang lebih murah.

Tampak Pertamina sedang melakukan manuver kepada pemerintah, dengan belum sepenuh hati untuk mendukung kampenyekan pemakaian kendaraan listrik baik sepeda motor maupun mobil.

Namun seperti tampak “menantang” keinginan pemerintah, pihak Pertamina kemudian memperkenalkan bahan bakar pengganti yang tak kalah menariknya.

Pertamina akan segera meluncurkan CNG, Compressed Natural Gas. Ini adalah gas alam yang dikompresi dalam tabung silinder bertekanan tinggi.

Menurut keterangan Pertamina, CNG yang dicanangkan akan menjadi pengganti Pertalite memiliki kualitas setara Pertamax Turbo, namun harganya hanya 3 ribuan.

CNG mempunyai kualitas lebih baik dari Pertalite karena terbuat dari bahan baku dengan kandungan metana yang bersih serta memiliki oktan yang tinggi sehingga mampu terbakar dengan sempurna.

Kualitas CNG akan setara dengan Pertamax Turbo dengan Ron 98 yang memiliki harga kisaran 15ribuan.

Jika benar CNG akan beredar dengan harga 3ribu, tentu ini adalah solusi yang sangat ekonomis. Daripada harus membeli kendaraan listrik baru.

Meski disubsidi oleh pemerintah, namun ini bukan hal yang mudah bagi kalangan kelas menengah ke bawah. Maka tidka berlebihan bila CNG bisa disebut sebagai pembunuh kendaraan listrik.

CNG Hanya Butuh Konverter

Bicara tentang konverter, kita juga pernah mendengar bahwa ada perusahaan lokal yang mampu mengkonversi motor dengan mesin bensin menjadi mesin listrik.

Proses konversi mesin membutuhkan biaya yang lumayan, sekitar 5 – 10 juta rupiah.

Nah dengan CNG, Anda tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu.

Menurut kementerian ESDM, pengendara motor cukup menambahkan kan sebuah tabung CNG berukuran 14 x 53 cm yang dapat ditempatkan dengan mudah pada motor Anda.

Harga tabungnya tidak akan mahal, proses pemasangan dan konversi tidak akan sampai menghabiskan dana 1 juta rupiah. Ekonomis sekali bukan?

Menurut Direktur Utama Perusahaan Gas Negara (PGN), M Haryo Yunianto, Compressed Natural Gas (CNG) dengan tangki penuh berkapasitas 2.5L mampu membawa sepeda motor sejauh 100 km.

Jika apa yang dikatakan Haryo benar, maka konversi motor bensin ke CNG akan lebih diminati daripada membeli kendaraan listrik.

Dari sisi biaya, CNG juga lebih murah jika dibandingkan dengan mengisi daya baterai kendaraan listrik.

Jika motor listrik Anda mempunyai baterai berkapasitas 1,5 kwh, Anda bisa menempuh jarak 40 km.

Biaya listrik di kota biasanya 2ribuan per Kwh, maka untuk menempuh 40 km biaya yang dikeluarkan motor listrik mencapai 3 ribu rupiah. Untuk jarak 100km Anda butuh biaya 10ribu rupiah.

Bagaimana dengan CNG?

Jika Pertamina benar membanderol harga 1 liter CNG hanya 3ribu rupiah, maka untuk 100km Anda hanya membutuhkan biaya 7.750 rupiah.

Pengembangan CNG Untuk Nelayan

Selama ini penggunaan CNG hanya untuk bus Transjakarta, namun saat ini Pertamina sedang dalam tahap akhir untuk mengembangkan CNG untuk kendaraan motor dan mobil.

Bahkan Pertamina juga ingin mengembangkan CNG untuk mesin perahu nelayan. Untuk mengurangi beban nelayan untuk membeli bahan bakar.

Baca juga: Pemerintah Akan Subsidi Mobil Listrik 80 Juta Dan Hybrid 40 Juta, Tunggu Realisasinya!

Untuk penggunaan CNG di kapal nelayan Pertamina mematok target jumlah konversi 6,71 BBTUD untuk 30.000 unit perahu nelayan.

Program CNG untuk nelayan akan menggunakan Gaslink Cylinder yang berkapasitas 4.2 lsp yang mampu memberi daya jelajah hingga 50 km pada mode operasi Dual Diesel Fuel (DDF) 50 persen untuk 1 hari berlayar.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar