Inilah 10 Bank Syariah Terbaik dan Paling Menguntungkan di Indonesia

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di planet Bumi, gaya hidup Islami memang tak bisa dielakkan dari Indonesia. Salah satunya adalah dengan penggunaan produk halal yang banyak ditemukan di bahan makanan, minuman, obat-obatan hingga kosmetik. Bahkan dalam perkembangannya, label halal juga bisa ditemukan dalam banyak hal.

Melihat potensi perekonomian halal itulah, sektor perbankan pun tak mau ketinggalan dengan menawarkan produk keuangan syariah. Seperti namanya, produk keuangan syariah ini jelas berjalan dengan hukum-hukum Islami, sehingga umat Muslim tak perlu cemas dengan ancaman riba yang jelas-jelas dilarang dalam Al-Quran. Bahkan dibandingkan bank konvensional, bank syariah pun dianggap lebih aman dan lebih menguntungkan lantaran sistem bagi hasil/nisbah lewat akad mudharabah.

Dengan jumlah umat Islam di dunia yang terus meningkat, tak heran kalau perbankan syariah mencatat pertumbuhan global dengan kecepatan 10-15% per tahun secara konsisten. Majalah The Economist menyebutkan jika pada tahun 2008 saja, ada lebih dari 250 lembaga keuangan syariah di seluruh dunia. Tak main-main, total asetnya menyentuh US$2 triliun pada tahun 2016 silam.

Baca juga: 5 Tabungan Haji Terbaik untuk Persiapan ke Tanah Suci

10 Bank Syariah Terbaik di Indonesia yang Menguntungkan

1. Bank Muamalat Indonesia

Bank Muamalat Indonesia

Inilah bank umum berkonsep syariah pertama di Indonesia, sekaligus berstatus murni. Kenapa begitu? Karena Bank Muamalat Indonesia tidak memiliki bank konvensional seperti layaknya bank-bank syariah lain.

Sejak pertama kali berdiri pada tahun 1991 dan resmi beroperasi untuk umum pada 1992, Muamalat memang langsung mengusung konsep murni syariah. Hampir 30 tahun berjalan, Muamalat selalu konsisten menerapkan syariat Islam dalam kegiatan operasional dan produk yang ditawarkan.

Tak heran kalau Muamalat berhasil menggondol penghargaan sebagai bank syariah terbaik versi Global Finance pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2017 dan 2018. Untuk produk pendanaannya, Muamalat menggunakan prinsip Wadiah (titipan) dan Mudharabah. Sedangkan untuk penanaman dana memakai prinsip Al Murabahah (jual beli), Ijarah (sewa) dan bagi hasil alias nisbah.

Hingga sejauh ini, bank yang saham terbesarnya dimiliki oleh perusahaan finansial Arab Saudi, Islamic Development Bank itu sudah memberikan layanan di 33 provinsi seluruh Indonesia dengan 312 gerai dan 3.800 kantor. Sekadar informasi, Muamalat adalah satu-satunya bank syariah Indonesia yang memiliki cabang di luar negeri, tepatnya di Kuala Lumpur, Malaysia.

2. Bank Syariah Mandiri (BSM)

Bank Syariah Mandiri (BSM)

Bank konvensional yang paling sukses mengembangkan konsep syariah di Indonesia adalah Mandiri lewat Bank Syariah Mandiri (BSM).

Tak banyak yang tahu bahwa sebetulnya BSM sudah berdiri lebih dulu sebelum Muamalat yakni tepatnya pada tahun 1955, dengan nama Bank Industri Nasional yang merupakan bank konvensional. Beberapa kali berganti nama, hingga akhirnya memutuskan beroperasi dalam syariah Islam lewat nama BSM pada tahun 1999.

Dengan kepemilikan saham terbesar adalah Mandiri, BSM jelas dikelola dengan sangat profesional. Bahkan jika dibandingkan dengan Muamalat, layanan BSM jauh lebih unggul karena per Desember 2017 sudah mempunyai 737 kantor di seluruh Indonesia dan lebih dari 196 ribu akses jaringan ATM.

Baca juga : 7 Deposito Syariah Terbaik di Indonesia

Untuk jenis tabungannya, BSM bisa dibilang yang paling lengkap dan menyediakan berbagai kebutuhan mulai dari tabungan Mudharabah, tabungan berencana, Wadiah, pensiun, tabungan mabrur, tabungan saham syariah dan lain-lain.

BSM juga memberikan beberapa produk pembiayaan mulai dari modal kerja, kendaraan bermotor, investasi sampai umrah. Bahkan untuk investasi, BSM dinobatkan sebagai mitra distribusi SBSN Ritel Terbaik di tahun 2019.

Hal ini terjadi karena BSM memang rutin menjual Sukuk Tabungan dan Sukuk Ritel sejak pertama kali diterbitkan pemerintah. Tak main-main, hingga November 2019 ada Rp92,04 triliun berhasil dihimpun BSM dari Dana Pihak Ketiga (DPK).

3. Bank BRI Syariah

Sama seperti BSM yang sebetulnya adalah bank konvensional sebelum diakuisisi, BRI Syariah juga demikian. Berdiri sebagai bank konvensional pada tahun 1969, lembaga perbankan ini awalnya bernama Bank Jasa Arta.

Barulah pada tahun 2008, BRI mengambil alih dan kemudian menjadi BRI Syariah. Meskipun dalam perkembangannya, fasilitas serta sarana prasana BRI Syariah masih kalah dari BSM, nasabah tetap memperoleh banyak keuntungan.

Menjadi anak perusahaan dari bank BUMN terbesar di Indonesia, nasabah bisa memanfaatkan banyaknya jaringan ATM termasuk menggunakan mesin ATM BRI. Ada juga layanan SMS, internet dan mobile banking demi mempermudah kebutuhan keuangan nasabah.

Untuk produk keuangannya, BRI Syariah menyediakan kebutuhan Perbankan Personal (tabungan dan pinjaman individu), Perbankan Bisnis hingga Sukuk Tabungan dan Sukuk Ritel. Tepat pada 9 Mei 2018 lalu, BRI Syariah sudah melakukan IPO (Initial Public Offering) dan melantai di BEI (Bursa Efek Indonesia).

4. Bank BNI Syariah

Sekitar dua tahun setelah BRI mengembangkan layanan perbankan syariah, bank BUMN lainnya yakni BNI mengikuti jejak serupa. melalui unit BNI Syariah, BNI menawarkan bisnis keuangan berbasis hukum Islam pada tahun 2010. Sebelum dikenal sebagai BNI Syariah, lembaga perbankan ini awalnya bernama Unit Usaha Syariah (UUS) BNI yang kemudian berubah menjadi bank umum syariah.

Ada sejarah sendiri mengenai lahirnya lembaga keuangan syariah di Indonesia, termasuk BNI Syariah. Semua bermula saat negeri ini dihantam krisis moneter pada tahun 1997. Waktu itu sistem perbankan syariah dengan tiga prinsip utama yakni adil, transparan dan maslahat terbukti mampu bertahan dan jadi solusi atas sistem perbankan yang adil. Hingga akhirnya pada 29 April 2000, berdiri lima kantor cabang UUS BNI di Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara dan Banjarmasin.

Baca juga: Bukan Hanya Makanan, Yuk Coba 7 Bisnis Halal dengan Omzet Menjanjikan!

Waktu terus berjalan, BNI Syariah terus memenuhi syarat operasional sebagai bank umum syariah. Lolos pengujian DPS (Dewan Pengawas Syariah) yang kala itu dipimpin oleh Wapres Ma’ruf Amin, kantor cabang BNI Syariah pun terus berkembang. Hingga Juni 2014, sudah ada 65 kantor cabang dan 161 kantor cabang pembantu.

5. Bank Mega Syariah

Sebelum dikenal sebagai Bank Mega Syariah, lembaga perbankan ini sudah melewati proses yang cukup panjang. Berdiri pada 14 Juli 1990, nama awalnya adalah Bank Tugu. Barulah pada tahun 2001, anak usaha Asuransi Tugu itu diambil alih oleh CT Corp lewat Mega Corpora. Tiga tahun kemudian atau tepatnya pada 25 Juli 2004, resmi menjalankan prinsip keuangan Islami lewat nama Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI).

Setelah mengalami perubahan logo seperti sister company-nya, BSMI juga berganti nama menjadi Bank Mega Syariah pada 2 November 2010.

Membuktikan kalau mereka adalah salah satu lembaga perbankan syariah yang layak diperhitungkan, Mega Syariah pun memperoleh izin dari Kemenag RI sebagai Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS BPIH) pada 8 April 2009. Sejauh ini Mega Syariah memang fokus di sektor mikro dan kecil dengan produk unggulan tabungan utama IB.

6. Bank BCA Syariah

Bank BCA Syariah

Tak ada yang bisa menampik bahwa BCA merupakan bank swasta terbesar dan tersukses di Indonesia. Dengan aset yang luar biasa besar, BCA rupanya memahami kalau keuangan syariah begitu dibutuhkan oleh nasabah mereka yang mayoritas adalah Muslim.

Hingga akhirnya pada 12 Juni 2009, BCA mengakuisisi Bank Utama Internasional Bank (UIB) yang menjadi cikal bakal BCA Syariah. BCA Syariah baru resmi beroperasi pada 5 April 2010.

Komitmen penuh BCA sebagai pemilik saham terbesar, membuat nasabah BCA Syariah bisa memanfaatkan jaringan cabang BCA untuk tarik tunai dan debit di ATM dan mesin EDC (Electronic Data Capture), tanpa dikenai biaya.

Hingga Oktober 2019, sudah ada 67 jaringan cabang BCA Syariah di seluruh Indonesia. Ada dua produk yang ditawarkan BCA Syariah yakni pendanaan (Tahapan iB, Tahapan Rencana iB, Giro iB, Deposito iB, Simple iB, Tahapan Mabrur iB) dan pembiayaan.

7. Bank Panin Syariah

Sebelum dikenal dengan nama Bank Panin Syariah, lembaga perbankan ini adalah Bank Harta yang berpusat di Surabaya. Bank Harta sendiri sudah berdiri sejak 1990, yang kemudian diambil alih oleh Bank Panin sebagai induk Panin Syariah. Setelah memperoleh izin operasional syariah dari BI, Panin Syariah akhirnya resmi melayani nasabah pada 2 Desember 2009.

Dibandingkan bank-bank lain dalam daftar, Panin Syariah memang memiliki aset dan nasabah terkecil. Bukan hanya unit syariah, induk mereka yakni Bank Panin sebagai lembaga perbankan swasta juga masih kalau jauh jika dibandingkan BCA.

Namun potensi Panin Syariah yang cukup besar akhirnya membuat Dubai Islamic Bank memberikan bantuan modal pada tahun 2017. Sudah melantai di BEI sejak tahun 2014, kini nama Panin Syariah berubah menjadi Panin Dubai Syariah.

8. Bank Syariah Bukopin

Berbeda dengan bank-bank Islami lainnya, sejarah Bank Syariah Bukopin berawal dari dua bank pasar/bank koperasi yang ada di Samarinda, Kalimantan Timur.

Kedua lembaga keuangan itu adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Gunung Sindoro dan BPR Gunung Kendeng yang melebur menjadi Bank Swansarindo pada 29 Juli 1990. Status Swansarindo pun menjadi bank umum dan memindahkan kantor pusat mereka ke Jakarta setahun kemudian.

Melihat perkembangan perekonomian Indonesia di akhir krisis moneter, Muhammadiyah yang adalah salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia pun mengambil alih Swansarindo di penghujung 2002 yang membuat namanya berubah jadi Bank Persyarikatan Indonesia.

Selama 2005-2008, bank Bukopin terlibat dalam kegiatan operasional sampai melakukan tambahan modal. Hingga akhirnya Bukopin resmi mengakuisisi dan pada 9 Desember 2008, Bank Syariah Bukopin (BSB) berdiri.

Baca juga: 10 Pinjaman Modal Usaha Terbaik 2020 (Bunga dan Syaratnya)

9. BTPN Syariah

BTPN Syariah

BTPN Syariah adalah anak perusahaan BTPN yang juga menjadi bank syariah ke-12 di Tanah Air. Lembaga perbankan ini terbentuk dari meleburnya Bank Sahabat Purbadanarta (BSP) dan UUS BTPN.

Sekadar informasi, BSP yang sudah berdiri sejak Maret 1991 di Semarang itu merupakan bank umum non devisa yang 70% sahamnya dimiliki BTPN. Melihat perkembangan keuangan Islami di Indonesia yang semakin meyakinkan, pada 22 Mei 2014 akhirnya BTPN Syariah terbentuk.

Kekuatan utama dari BTPN Syariah adalah membantu kelompok masyarakat menengah ke bawah. Hal ini sesuai dengan tujuan operasional UUS BTPN yang memang fokus melayani dan memberdayakan keluarga pra sejahtera di Indonesia.

Dua produk utama BTPN Syariah adalah Pendanaan (Citra iB, Taseto iB, Deposito iB, Giro iB, Taseto Mapan iB, Haji) dan Pembiayaan (Paket Masa Depan, Tabungan Wow! Syariah).

10. BJB Syariah

Terbentuknya BJB (Bank Jabar dan Banten) Syariah berawal saat induk mereka yakni BJB mengembangkan unit usaha syariah pada tahun 2000.

Setelah beberapa tahun menjadi UUS, BJB Syariah pun melepaskan diri dari induk perusahaan dan resmi terbentuk pada 15 Januari 2010 di Bandung. Kendati merupakan bank ‘lokal’, BJB Syariah memiliki sarana dan prasarana yang cukup mumpuni seperti 8 kantor cabang dan 55 kantor cabang pembantu.

Untuk seluruh produk pendanaan dan pembiayaan, BJB Syariah menawarkan prinsip Murabahah (jual beli) dan bagi hasil. Demi mempermudah seluruh nasabahnya, BJB Syariah juga memberikan layanan Mobile Maslahah yang tentunya menjawab kebutuhan transaksi finansial Muslim Tanah Air.

Baca juga : 5 Macam Investasi Syariah yang Menguntungkan

Tentunya masing-masing bank syariah di atas memiliki keunggulan masing-masing. Anda sebagai calon nasabah bisa memilih salah satu di antaranya yang paling sesuai dengan kebutuhan. Tidak perlu lagi khawatir dengan ancaman riba selayaknya bunga konvensional, Anda akan bisa memperoleh layanan perbankan halal sesuai aturan Islam.

Karena sebagai Muslim yang taat, tentu seluruh kehidupan haruslah berlandaskan Al-Quran. Jadi, mau memperoleh layanan keuangan yang menguntungkan tanpa melanggar ibadah? Pilih saja menabung di bank syariah.

Loading...