Belajar Mindset Orang Kaya Dari The Psychology of Money

Sumber gambar : Unsplash/Giorgio Trovato

“Bagaimana sih mindset orang kaya dalam memandang uang?” Pertanyaan ini seringkali terlupakan padahal justru sangat relevan untuk kita pertanyakan saat hendak memulai berinvestasi.

Banyak orang mempertanyakan bagaimana cara menjadi kaya tanpa benar-benar tahu bagaimana isi kepala orang kaya itu sendiri hingga bisa sampai pada pencapaiannya. Investasi saham, reksadana, crypto, properti, ada banyak sekali cara yang bisa di pilih.

Tapi, ingat tidak semua orang bisa untung dan jadi kaya karenanya, malah ada juga yang justru rugi besar-besaran. Semuanya berawal dari sudut pandang melihat uang.

Nah berhubungan dengan hal ini, ada buku menarik berjudul “The Psychology of Money” karya Morgan Housel yang menyatakan bahwa “kekayaan itu tidak ada hubungannya dengan kepintaran”.

Benarkah? Jika Anda penasaran langsung saja kita bahas beberapa pelajaran berharga yang bisa di ambil dari buku berjudul “The Psychology of Money”!

1. Kesuksesan Finansial Adalah Soft Skill

Sumber gambar : Pexels.com/ Shiva Smyth

Dalam bukunya ia menggunakan studi kasus seorang OB bernama Ronald Read yang bisa memiliki kekayaan USD 8 juta dengan menabung saja. Ia hidup sederhana dan mengatur keuangannya dengan baik. Lalu kasus ini di bandingkan dengan ada seorang yang memiliki background akademis yang sangat kuat (dari Harvard University) bernama Richard Funcone yang gagal karena terlalu rakus karena hidup dengan serakah dan juga boros.

Nah, dari dua studi kasus tersebut Morgan Housel menilai bahwa kita tidak harus pintar untuk menjadi kaya. Kesuksan finansial bukanlah hard science (ilmu yang dikembangkan dengan metode yang ketat dan memiliki tingkat kepastian tinggi), tapi justru merupakan soft skill yang menitik beratkan pada kebiasaan.

Baca juga, 7 Pola Pikir Seorang CEO Sukses

Nyatanya ketika orang yang jenius kehilangan ketenangan dalam mengatur keuangan mereka, hal ini malah akan berakibat fatal. Oleh karena itu perilaku kita dalam keuangan lebih penting dari pada pengetahuan tentang uang dalam menentukan kekayaan.

2. Mindset Orang Kaya Tentang Compounding Effect

Mindset orang kaya yang patut kita pertimbangkan adalah tentang compounding. Bagi yang belum tahu, compounding effect adalah kemampuan suatu aset untuk melipatgandakan keuntungan menjadi lebih banyak. Anda pasti tahu Warrent Buffet bukan?

Tahukah Anda bahwa sebagian besar kekayaan Warrent Buffet datang setelah ia berumur 65 tahun. Mengapa demikian? Karena Warrent Buffet tahu tentang compounding. Ketika ia berusia 30-40an, banyak sekali orang yang lebih kaya dari pada dia.

Dia fokus untuk membesarkan asetnya, walaupun hanya mendapatkan return sebesar 10-20% per tahunnya. Tapi hal ini berlangsung selama bertahun-tahun sehingga kekayaannya berlipat ganda secara konsisten sampai akhirnya Warrent Buffet menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa, kekayaan bisa di dapatkan dari pemahaman yang jelas mengenai dampak dari compounding dan konsistensi.

3. Kekayaan Adalah Kebebasan

Sumber gambar : Pexels.com/ Pixabay

Ada pernyataan menarik dari seorang entrepreneurs bernama Derek Sivers saat ia di wawancara. Pada sesi wawancara tersebut Derek di minta untuk menceritakan bagaimana saat ia menjadi kaya. Jawabannya menarik, karena dia hanya menjelaskan saat dia sudah punya savings untuk memenuhi kebutuhannya selama 1 tahun.

Saat Derek menjawab seperti itu, interviewernya tentu bingung. Mengapa jawabannya bukan saat ia mendapatkan uang berjuta-juta dollar dari perusahaan yang berhasil ia jual.

Lalu Derek Siver hanya menjawab bahwa saat ia menjual perusahannya, itu hanyalah uang yang bertambah di rekeningnya, bukan saat ia menjadi kaya.

Berdasarkan jawabannya tersebut, berarti Derek memandang bahwa kekayaan itu adalah kebebasan. Saat kita sudah bisa memilih hidup untuk apa yang ingin kita lakukan secara independen, maka saat itulah kita sudah menjadi kaya.

4. Tidak Berinvestasi Karena Trend Sosial

Tidak ada investasi yang tanpa resiko. Mungkin sekarang kita melihat seseorang di sosial media bisa membeli mobil atau rumah mewah dari investasi saham, crypto dll.

Namun jangan salah, ada baiknya Anda juga memeriksa kembali apakah keputusan berinvestasi Anda memang sesuai dengan tujuan keuangan ataukah hanya mengikuti trend.

Anda juga mungkin melihat bahwa orang-orang tersebut berani dan “gila” sehingga kita ingin mengikutinya. Tapi ingat, setiap orang memiliki background yang berbeda baik dalam ekonomi, sosial, budaya yang membentuk dirinya.

Jadi berhati-hatilah saat menjadikan seseorang sebagai role model karena bisa jadi background Anda berbeda sehingga proses yang di lalui pun seharusnya berbeda.

Selain itu untuk mengetahuinya, bisa lewat mengamati bagaimana trend instrumen tertentu karena market tidak selalu konstan. Dalam bukunya “The Psychology of Money”, Morgan Housel memperlihatkan trend stock dari waktu ke waktu yang mengakibatkan ada perbedaan pandangan tentang pasar saham Amerika Serikat.

Contohnya di tahun 1950, harga saham pada pasar saham Amerika cukup flat sehingga orang-orang yang lahir pada tahun tersebut tidak terlalu tertarik berinvestasi di pasar modal.

Namun pada tahun 1970 hingga 1990 market naik sehingga saham menjadi booming. Jadi tidak heran jika saat ini banyak milenial dan Gen Z ikut terlibat dalam investasi saham, karena investasi ini yang sekarang paling menarik dan dinilai mudah mendapatkan untung.

Tapi Anda juga perlu tahu bahwa IHSG suatu saat akan turun, contohnya pada pandemik tahun 2020 lalu. Dimana saat itu kita tidak bisa menduganya dan penurunannya sangat ekstrim (black swan).

Oleh karena itu, jangan sampai keputusan keuangan kita terlalu di pengaruhi oleh pressure dari trend sosial. Coba fikirkan ulang, apakah barang-barang yang di pamerkan di sosial media memang berguna bagi kita pribadi. Pastikan bahwa Anda juga memilih instrumen investasi yang cocok untuk Anda pribadi.

Hal ini berhubungan dengan keinginan untuk pamer yang menurut Morgan Housel perlu di perhatikan dalam pengambilan keputusan. Karena biasanya kita bukan ingin barangnya, saat melihat orang lain membeli sesuatu yang mewah.

Namun kita ingin validasi dari orang lain untuk di sebut bisa memiliki barang mahal. Nah jika keputusan pembelian barang yang kita lakukan ternyata hanya berdasarkan ini (bukan keinginan dari dalam) Housel menyarankan agar menghentikannya.

5. Mindset Orang Kaya Tentang Investasi yang Gagal

Sumber hambar : Pexels.com/ Andrea Piacquadio

Kaitannya dengan kegagalan dalam berinventasi, Housel mengambil contoh kasus dari kegagalan Jeff Benzos (Pemilik Amazon). Jeff Benzos pernah memperkenalkan smartphonenya bernama Fire Phone pada tahun 2014. Tapi hp tersebut akhirnya gagal di pasarkan.

Ketika di tanya tentang kegagalannya, Jeff Benzos bilang bahwa kalau Fire Phone mungkin seperti kegagalan dari sudut pandang konsumen.

Namun ia hanya harus menunggu keberhasilannya di masa depan. Dari sini terlihat bahwa CEO Amazon ini melihat sebuah kegagalan sebagai sesuatu yang harus di rangkul dan menjadikannya pelajaran untuk kesuksesan di masa depan.

Disisi lain, Jeff Benzos juga cerdas untuk menempatkan investasinya pada investasi-investasi kecil atau ia sebut investasi ekor (tidak terlihat). Sekarang, salah satu investasi kecil tersebut yakni AWS berhasil mampu mengcover sebagian besar perusahaan. Saat ini AWS memberikan kontribusi pendapatan sebesar 60% untuk Amazon.

6. Menjadi Kaya itu Hanya Butuh Savings dan Etics

Ternyata menjadi kaya itu tidak rumit. Kita hanya butuh menyisihkan pendapatan dan memiliki prinsip etis. Salah satu tantangan kita dalam berperilaku adalah sosial media.

Bukan hanya menjadi sulit menyisihkan sebagian pendapatan tapi hal ini juga memicu rasa iri yang berlebihan. Lihat si A beli mobil baru iri, lihat di B beli gadget baru iri juga.

Nah, Housel menyebutkan jangan sampai rasa iri tersebut membuat kita melakukan hal-hal yang tidak etis dam akhirnya membunuh reputasi selamanya.

Karena jika itu terjadi sekalipun kita punya jabatan yang tinggi dan kekayaan yang banyak jika reputasi kita hancur maka akan sulit menyelamatkan sumber-sumber rezeki yang lain.

Hal ini seperti yang terjadi pada Rajat Gupta yang merupakan Ex-CEO dari salah satu perusahaan konsultan manajemen terbesar di dunia yakni McKinsey & Company. Ia akhirnya di penjara pada tahun 2012 karena melakukan insider trading.

7. Perbedaan Wealth dan Rich

Sumber gambar : Pexels.com/ Andrea Piacquadio

Dalam bahasa Indonesia, Wealth dan Rich artinya adalah kaya. Namun sebenarnya ada perbedaan mendasar dari keduanya. Rich merujuk pada orang yang memiliki pendapatan yang besar, tinggal di rumah dan menggunakan fasilitas serba mewah. Mereka menunjukan bahwa dirinya kaya.

Berbeda dengan rich, wealth itu artinya pendapatan yang di simpan, bukan yang di belanjakan. Jadi yang selama ini kita lihat bukanlah wealth tetapi rich.

Karena ada saja orang yang terlihat rich tapi ternyata hutangnya sangat banyak. Disisi lain ada juga orang yang wealth tapi penampilannya biasa saja dan sederhana.

8. Mempertahankan Kekayaan Tidak Sama dengan Membangun Kekayaan

Menurut Housel, ada banyak cara untuk mendapatkan kekayaan. Tapi untuk tetap menjadi kaya diperlukan gabungan dari hidup sederhana dan memiliki rasa takut. Nah dalam membangun kekayaan dan juga mempertahankannya juga memiliki pendekatan yang berbeda.

Ketika kita membangun kekayaan kita perlu memiliki keberanian mengambil resiko dan optimis. Sedangkan dalam mempertahankannya, justru kita butuh mindset yang terbaik yakni harus lebih sederhana dan memiliki takut akan jika apa yang kita kumpulkan selama ini hilang dalam sekejap. Itulah mengapa mindset survival diperlukan ketika kita mempertahankan kekayaan.

Baca yuk, Belajar Dari Kebiasaan Para Miliarder Dunia

Untuk itu kita harus memiliki manajemen keuangan yang baik. Misalnya dalam hal investasi. Kita perlu membagi berapa persen dari dana investasi untuk ditempatkan pada instrumen yang agresif dan juga berapa persen yang di tempat di instrumen yang lebih konservatif.

Kesimpulan

Investasi memang menjadi topik yang cukup hangat di bicarakan saat ini. Namun seringkali hal mendasar yang sering terlupakan dan justru penting di pahami saat kita mulai mengivestasikan uang pada suatu instrumen keuangan tertentu yakni mindset kita terhadap uang itu sendiri.

Uang di anggap sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, bahkan ada juga yang menganggapnya seperti Tuhan. Nah, jika kita memperhatikan mindset para orang kaya yang kita pikir sebelumnya merupakan orang yang paling obsesi dengan uang diatas, orang yang paling pintar, nyatanya mereka tidak demikian. Uang adalah alat, dan menjadi kaya tidaklah harus pintar dan menghalalkan segala cara.

Itulah beberapa pelajaran penting yang menjadi mindset orang kaya tentang uang dari buku “The Psychology of Money” karya Morgan Housel. Semoga setelah memahaminya kita bisa semakin bijak dalam mengelola uang dan berinvestasi.

Yulinda Nurlisdiana: Hai, saya Yulinda Nurlisdiana, penulis di folderbisnis