Cara Mendidik Anak Supaya Bijak Mengelola Keuangan di Masa Depan

Belajar mengenai keuangan bukan hanya harus di lakukan oleh orang dewasa. Ternyata kita juga perlu mengenalkan pengelolaan uang kepada anak sedari dini. Sebab menjadi seseorang yang bijak dalam mengelola keuangan itu tidak mudah. Perlu waktu dan konsistensi.

Tingginya angka masalah keuangan yang terjadi saat ini tidak terlepas dari kurangnya literasi keuangan dan cara didik keluarga berkaitan dengan keuangan. Nah jika tidak ada usaha untuk merubahnya, maka masalah keuangan yang sama akan terus di alami dari generasi ke generasi bahkan bisa menjadi bola salju yang siap menghancurkan aspek kehidupan yang lainnya.

Masalahnya seringkali orangtua luput untuk memperkenalkan uang kepada anak, dalam artian bagaimana sih cara memandang dan mengelola keuangan dengan lebih seimbang sedari dini. Seperti yang kita tahu, masalah keuangan tidak hanya berefek pada satu hal saja tapi juga merembet pada masalah-masalah lain.

Misalnya jika seseorang terlilit hutang bukan hanya kesejahteraan ekonominya saja yang terganggu tapi juga bisa berdampak pada psikologis, hubungan sosial dan sebagainya.

Baca ulasan lainya, Tips Menabung Untuk Gaya Hidup Cashless Tanpa Tersiksa.

Inilah yang perlu kita renungkan. Maka dari itu penting bagi kita, terutama para orang tua atau calon orang tua untuk tahu bagaimana cara untuk mendidik anak agar lebih bijak dalam mengelola keuangan. Apa saja hal yang bisa dilakukan?

1. Memberikan Imbalan Atas Hal yang Dilakukan

Uang tidak datang dengan sendirinya bukan? Tahukah Anda bahwa banyak anak yang ternyata tidak mengerti konsep dasar ini.

Memberikan Imbalan Atas Hal yang Dilakukan

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk mengenalkan konsep uang kepada anak adalah dengan memberikan imbalan atas hal yang di lakukannya. Hal ini menujukan bagaimana proses mendapatkan uang. Anak-anak bisa lebih paham bahwa untuk mendapatkan uang itu perlu bekerja terlebih dulu.

Tapi mungkin Anda juga sedikit khawatir, bagaimana jika anak hanya mau di suruh jika mendapatkan imbalan saja. Tenang, selain Anda memberikan imbalan atas hal yang di lakukan, Anda juga tentu harus menyeimbangkannya dengan treatment-treatment yang lain. Seperti menunjukan belas kasih dengan cara yang berbeda sehingga disisi lain anak tetap bisa memahami ketulusan.

Anda juga tidak harus selalu memberikan imbalan ketika meminta anak melakukan sesuatu. Berikan imbalan sesekali saja saat momennya pas.

Misalnya Anda bisa memberikan imbalan atas pekerjaan rumah yang mereka lakukan setiap akhir pekan, seperti mengepel, menyapu, mencuci piring dll. Disisi lain Anda juga bisa memberikan keleluasaan kepada anak untuk belajar mengatur dirinya sendiri agar pekerjaan rumah yang ia kerjakan tidak mengganggu bermain dan belajarnya.

2. Kenalkan Konsep Mengelola Keuangan dengan Tidak Selalu Menuruti Semua Keinginan

Sebenarnya poin kedua ini masih berkaitan dengan poin yang pertama. Untuk mengenalkan konsep keuangan, sebaiknya Anda tidak selalu menuruti semua keinginan anak.

Terkadang orangtua mengambil jalan pintas dengan cara memberikan semua yang di inginkan sang anak saat supaya anaknya tidak rewel. Ternyata hal ini kurang baik, karena anak jadi punya pemikiran kalau mereka harus langsung bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan lewat pembelian orangtua.

Jika kebiasaan ini di teruskan, maka akan berefek pada kehidupannya di masa dewasa. Ditempat kerjanya ia merasa selalu tidak puas dengan gaji dan selalu mengajukan kenaikan gaji meski tidak melakukan prestasi apapun.

Selain itu biasanya mereka menjadi orang yang tidak mau bekerja keras dan mudah menyerah. Hal ini karena mereka tidak mengenal konsep pencapaian yang tertunda.

Padahal kenyataannya dalam mencapai tujuan apapun termasuk tujuan keuangan, perlu strategi dan tahapan yang di lalui. Sehingga cukup berbahaya jika kita membiarkan anak terbiasa mendapatkan apa yang ia mau dari pembelian orangtua. Sesekali Anda bisa menolak ketika anak ingin di belikan sesuatu dengan memberikan penjelasan yang bisa di mengerti sesuai usianya.

Lalu Anda bisa menawarkan konsep menabung agar ia bisa mendapatkan apa yang di inginkan. Misalnya saja ia ingin mainan yang harganya Rp 150 ribu, maka Anda ajarkan anak untuk menyisihkan sebagian uang jajan atau uang hasil imbalan mengerjakan pekerjaan rumah yang Anda berikan setiap minggunya. Jika sudah terkumpul, barulah ia bisa membeli mainan yang di inginkan.

Hal ini mengajarkan anak tentang konsep bersabar dan memberikan pengalaman dalam meraih tujuannya sendiri. Anak akan merasa puas dan lebih percaya diri.

Yuk, baca juga 9 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi yang Bisa Anda Lakukan.

Jadi tentu saja konsep dan pengalaman ini sangat berharga sebagai bekalnya di kemudian hari. Sekarang coba bayangkan jika yang terjadi sebaliknya? Ingat bahwa, mentalitas dan moral tidak terbentuk dalam 1 hari.

3. Sekali-kali Perbolehkan Anak Menghabiskan Uangnya

Biasanya para orangtua melarang anak-anaknya untuk menghabiskan uangnya sekaligus. Nah, sekarang coba sesekali biarkan mereka menghabikan semua uangnya sendiri bahkan jika pilihan tersebut berdampak merugikan, misalnya ia jadi tidak bisa jajan saat teman-teman yang lain membeli jajanan di sekolah saat jam istirahat.

Sekali-kali Perbolehkan Anak Menghabiskan Uangnya

Dari pengalaman negatif tersebut, anak jadi punya pengalaman yang membekas tentang dampak penggunaan uang yang kurang bijak. Hal itu akan bisa membuatnya mulai memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekwensi. Ia akan berpikir bagaimana caranya agar kejadian tersebut tidak terulang dan mulai mencari apa hal yang paling penting untuk di beli.

Dengan kata lain, membiarkan anak menghabiskan seluruh uangnya adalah cara untuk membentuk pola pikir tentang prioritas dalam membelanjakan uangnya.

Pada masa dewasa nanti, hal ini akan semakin kompleks bukan? Sebab setiap tindakan dalam penggunaan memiliki konsekwensi. Dengan melatih anak seperti ini akan menstimulusnya agar terbiasa berpikir dulu sebelum bertindak sehingga tidak menjadi sosok yang impulsif dalam menggunakan uangnya.

4. Ajarkan Anak Untuk Berbagi

Tips selanjutnya dalam mengenalkan konsep keuangan pada anak adalah dengan cara mengajarkan anak untuk berbagi. Konsep ini cukup penting karena berhubungan dengan cara anak mendudukan atau memandang uang.

Banyak sekali dari kita bahkan hingga dewasa menjadikan uang sebagai tolak ukur hampir segala hal dan bahkan di sadari atau tidak, kita juga menjadikannya sebagai tujuan hidup.

Padahal uang adalah alat untuk meraih sesuatu, dalam hal ini adalah tujuan-tujuan hidup kita termasuk dalam hal sosial. Dalam ajaran agama maupun ilmu pengetahuan secara umum kita pasti tahu bahwa selain makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Kita tidak bisa hidup sendirian di dunia ini tanpa manusia lain dan alam yang rusak.

Oleh karena itu, selain menabung untuk dirinya sendiri coba ajarkan anak untuk berbagi. Caranya, ajak mereka untuk menyisihkan sebagian uang jajan/ uang imbalannya untuk di berikan pada orang yang membutuhkan ataupun kegiatan-kegiatan menjaga alam agar tetap lestari. Sembari mulai menumbuhkan kepedulian pada sesama dan juga alam dengan komunikasi yang sesuai usianya.

Jika kebiasaan ini di lakukan secara konsisten, pada masa dewasa nanti anak akan menjadi orang yang tidak egois. Ia lebih mudah untuk mengendalikan dan menyeimbangkan antara pemenuhan kebutuhannya sendiri dan orang di sekitarnya.

5. Biasakan Anak Mengingat Pengeluaran Pribadinya

Nah, jika anak sudah mulai mengenal konsep tentang uang hingga tahapan mengenali kebutuhannya sendiri, menyisihkan untuk tabungan dan berbagi mulailah biasakan anak agar ia mengingat pengeluarannya sendiri. Ajak anak berdiskusi tentang cara yang baik dalam menggunakan uangnya.

Biasakan Anak Mengingat Pengeluaran Pribadinya

Tak lupa, beri tahu pula jika kita tidak memperhatikan kemana uang kita akan di habiskan maka dampaknya akan merugikan dirinya sendiri. Anak akan mudah mengerti maksud kita apalagi jika ia punya pengalaman negatif saat menghabiskan semua uangnya.

Anda bisa menjelaskan bahwa semua kebutuhannya, baik itu pakaian, jajanan, buku, mainan semuanya membutuhkan uang. Jika uang kita tidak terkelola dengan baik, maka kita akan kesulitan memenuhi kebutuhan tersebut sesuai kemampuan kita.

Disisi lain kita juga mungkin akan cukup kesulitan untuk berbagi dengan sama dan melakukan hal-hal baik lainnya. Jika anak sudah mulai berusia remaja, coba berikan tanggung jawab untuk mengatur pengeluarannya sendiri dan perlahan ajarkan mereka untuk mencatatnya.

6. Didik Anak Agar Tidak Membiasakan Diri Untuk Berhutang

Salah satu masalah keuangan yang banyak menghinggapi orang dewasa adalah hutang. Apalagi saat ini dengan sangat mudahnya kita bisa mendapat pinjaman.

Ingin membeli baju baru, pesan makanan, sepatu baru kita bisa langsung gesek kartu kredit, paylater, atau pinjaman online lainnya untuk hal-hal yang cenderung konsumtif saja. Yang penting nanti bisa di bayar walaupun tidak bisa menabung.

Seakan berhutang menjadi budaya yang biasa, namun nyatanya karena hal tersebut banyak kasus orang yang terlilit hutang serta kesulitan keuangan. Untuk itu sebaiknya Anda juga mulai mengajarkan mereka agar tidak membiasakan diri membeli barang yang belum mampu ia beli.

Misalnya ketika ingin membeli mainan dan uang mereka tidak cukup, berikan pengertian untuk membelinya di kemudian hari saat tabungannya sudah cukup. Ini akan membentuk pengendalian diri sang anak.

7. Ajarkan Konsep dan Cara Untuk Bersyukur

Ajarkan Konsep dan Cara Untuk Bersyukur

Selain ke enam tips di atas, ada hal penting lainnya yang tidak boleh terlewatkan yakni mengajarkan anak untuk bersyukur. Uang memang bisa memberikan kepuasan, namun hal tersebut tidak bisa kita dapatkan tanpa kemampuan bersyukur.

Semuanya akan terasa kurang dan membuat kita selalu insecure. Jadi ada baiknya Anda juga mengajarkan anak untuk menghargai apa-apa yang telah bisa di dapatkan dan di nikmati.

Ajarkan konsep dan cara bersukur pada anak dengan menunjukan kenikmatan materi maupun imateri. Anda bisa menunjukan hal ini saat kapan saja.

Jika bentuknya materi, Anda bisa membelikan jajanan yang mereka inginkan, dan sesekali menyuruh mereka menahan diri. Dengan bagitu anak memiliki perbandingan antara kondisi bisa memenuhi keinginan dan tidak.

Sedangkan secara imateri, jika anak sudah bisa di ajak berpikir pada saat bersantai Anda bisa fokus pada hal-hal yang sudah di raih. Anda bisa menunjukan ekspresi bahagia atas keputusan-keputusan bijaknya.

Tahapan Mendidik Anak Sesuai Usianya

Sebelum di akhiri, mungkin sebagian dari orangtua mempertanyakan kapan saat yang tepat dalam mendidik anak mengenai keuangan?

Sebenarnya semakin dini Anda mengenalkan konsep mengelola keuangan kepada anak akan semakin baik. Anda bisa mulai mendidik anak-anak Anda dalam mengela keuangan mulai dari usia pra sekolah atau masuk SD, dimana pada kelompok usia ini mereka masih masih sangat penasaran dengan hal-hal di sekelilingnya termasuk uang.

Anda bisa mulai mengenalkan bagaimana proses uang bisa di dapatkan dan menggunakannya untuk keperluan sehari-hari ketika mereka mulai bisa berhitung.

Nah jika anak Anda sudah masuk usia yang lebih matang misalnya kelas 3 hingga 5 SD Anda bisa mulai mengajarkan bagaimana caranya menyisihkan sebagian uang mereka untuk di tabung. Berbeda lagi jika anak Anda sudah mula masuk usia remaja yakni kelas 6 SD-2 SMP, Anda bisa mengenalkan cara mengatur pengeluaran yang baik.

Yuk baca artikel lainya, Baru Buka Usaha? Ini Cara Cermat Atur Keuangan Bagi Entrepreneur Pemula.

Barulah ketika anak-anak sudah masuk usia yang lebih dewasa lagi yakni remaja usia 3 SMP-3 SMA Anda bisa lebih menekankan lagi pentingnya mengelola keuangan, tentang tujuan keuangan dan mengenalkan investasi untuk masa depan.

Penutup

Demikianlah tips seputar pendidikan keuangan untuk anak-anak. Tentu kita semua berharap agar generasi mendatang bisa mendapatkan kehidupan finansial yang lebih baik bukan? Kesadaran mendidik pengelolaan keuangan yang baik adalah langkah besar yang bisa kita lakukan agar generasi masa depan lebih bijak dalam mengelola keuangannya.

Semoga beberapa tips di atas bisa menginspirasi Anda dalam mendidik anak-anak soal keuangan. Karena menjadi orang yang bijak dalam keuangan bukanlah proses yang mudah dan memerlukan latihan serta waktu yang tidak sebentar.

Tinggalkan komentar