Wajib Tahu! Ini Cara Mengatur Uang Gajian Wanita Lajang dan Menikah

Selama masih lajang, rasanya tanggal 25 atau menjelang gajian adalah waktu yang paling menyenangkan. Kita bisa membeli OOTD baru, ngopi di cafe favorit, makan di tempat yang fancy, semua bisa di lakukan. Tidak ada masalah yang berarti dalam mengatur uang gajian, jadi rasa-rasanya itu seperti bentuk financial freedom sebelum berusia 30 tahunan.

Tapi setelah menikah dan punya anak, kok semuanya menjadi berbeda ya? Rasanya semakin berat dan sulit menyisihkan uang untuk kesenangan pribadi dan merawat diri sendiri. Perempuan punya peran utama yang sangat penting dalam keluarga, sehingga harus kuat secara fisik dan juga mental. Jadi jika bukan kita yang merawat diri sendiri lalu siapa lagi?

Atau malah sebaliknya, kita masih merasa gaji perempuan adalah milik perempuan saja. Padahal kenyataannya setelah berkeluarga banyak sekali kebutuhan yang perlu di support dengan gaji kita, namun agak terabaikan dan mengakibatkan masalah di kemudian hari.

Mengapa Perempuan Wajib Merencanakan Pengeluaran

Dibanding pemasukan, pengeluaran adalah hal yang paling bisa kita kendalikan. Sehingga merencanakan pengeluaran adalah hal yang wajib di lakukan untuk para perempuan.

Sebab perempuan biasanya memiliki pengeluaran yang nyaris tidak terbatas. Mulai dari pengeluaran yang bersifat wajib, yang mana hal-hal yang bersifat wajib ini biasanya juga lebih banyak daripada pria hingga yang sifatnya sekunder atau tersier.

Hal ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan, apalagi ketika sudah berkeluarga. Oleh karena itu pengaturan alokasi gajian/ income harus di lakukan para perempuan yang memiliki penghasilan. Baik itu perempuan yang masih lajang maupun sudah menikah.

Sebenarnya mengatur uang gajian perempuan sebelum menikah dan setelah menikah itu cukup mirip, namun perbedaannya ada pada prioritas. Mungkin yang dulunya alokasinya sedikit, setelah menikah menjadi lebih besar karena lebih prioritas. Nah, bagaimana sih kira-kira pembagian alokasi gajian perempuan lajang dan yang sudah menikah?

1. Pos Keuangan Untuk Zakat/ Sosial

Pos Keuangan Untuk Zakat Sosial

Bagi perempuan yang masih lajang biasanya cukup lebih leluasanya dalam mengalokasikan dana untuk beramal sosial dan membantu kebutuhan keluarga. Baik itu zakat dan infaq bagi umat Islam ataupun amal sosial lainnya. Namun setelah menikah, perlu ada kesepakatan antara pasangan suami sitri dalam hal alokasi dalam bersedekah dan juga jika ada kebutuhan membantu anggota keluarga tertentu.

Misalnya alokasi zakat dalam Islam minimal 2,5% dari pendapatan namun jumlahnya sendiri bisa berbeda-beda tergantung kebutuhan dan kesepakatan Anda dengan pasangan.

Tapi yang pasti, hal ini harus di bicarakan secara jelas dengan pasangan jika sudah menikah. Apalagi jika ada anggota keluarga besar yang butuh di bantu. Jika tidak di bicarakan dengan baik, tujuan yang mulia ini malah justru bisa menjadi sumber masalah.

Bagaimana dengan Anda? Berapa persen sih alokasi yang telah Anda anggarkan untuk pos keuangan yang satu ini?

2. Tabungan Dana Darurat

Alokasi gaji selanjutnya adalah untuk dana darurat. Untuk Anda para perempuan lajang yang memiliki gajian, sebenarnya masih bisa bertahan dengan dana darurat sebesar 3 kali pengeluaran bulanan.

Berbeda lagi jika kita sudah menikah. Dana darurat yang di perlukan setidaknya adalah 12 kali pengeluaran rutin bulanan. Dana darurat ini bisa Anda gabungkan kok dengan dana darurat milik pasangan, supaya lebih cepar terkumpul. Lalu dimanakah tempat yang tepat untuk menyimpan dana darurat ini?

Karena dana darurat ini bisa sewaktu-waktu di gunakan secara mendadak, sehingga kriteria penempatan dana darurat juga harus di simpan pada instrumen keuangan yang liquid. Idealnya kita bisa menyimpannya di rekening tabungan sehingga mudah di ambil.

Berbicara tentang kemudahan pengambilannya, sebagian mungkin khawatir karena takut tergoda untuk membelanjakan dana darurat di situasi yang tidak darurat. Belajarlah dewasa untuk tidak mengambil uang darurat dengan mengingat tujuan dan nilai penting dari uang darurat itu sendiri.

Baca juga, 7 Jenis Tabungan Terbaik Bagi Milenial Supaya Finansial Lebih Sehat

Jika kita masih belum terbiasa, bisa juga di simpan di deposito dengan jangka waktu 1 bulan dan reksadana pasar uang ataupun membagi alokasinya. Misalnya 30% di rekening tabungan dan 70% di deposito atau reksadana pasar uang.

3. Membayar Premi Asuransi

Membayar Premi Asuransi

Pembagian alokasi gajian yang ketiga adalah untuk premi asuransi. Untuk kita yang masih lajang, di utamakan cukup memiliki asuransi kesehatan saja. Kalaupun ingin membeli asuransi jiwa, itu adalah optional (kebutuhan sekunder).

Nah, jika kita sudah berkeluarga akan berbeda lagi karena Anda dan keluarga wajib memiliki proteksi jiwa, proteksi kesehatan dan proteksi penyakit kritis jika di butuhkan. Tapi jangan lupa pastikan juga kalau premi yang kita bayarkan tidak berlebihan atau amsih sesuai kemampuan kita.

Karena khawatirnya, masih banyak kebutuhan pengeluaran lainnya yang belum tercover apalagi di awal-awal berkeluarga. Biasanya sekitar 5% dari total gaji kita.

Lalu bagaimana jika alokasi untuk premi kita masih kurang? Untuk itu pastikan bahwa Anda sudah menjadi anggota BPJS kesehatan dan tidak telat membayar premi.

Baca yuk, Cara Mendaftar Asuransi BPJS Kesehatan secara Online

4. Alokasi Untuk Biaya Hidup

Cara mengatur uang gajian yang tidak kalah penting adalah mengalokasikannya untuk biaya hidup. Meskipun banyak perempuan merasa bahwa gaji perempuan adalah milik perempuan, karena laki-laki lah yang memiliki tanggung jawab dalam menafkahi keluarga tapi kenyataan tidak selalu bisa demikian. Hal ini tidak masalah, jika kita terbiasa mengatur uang gajian kita sendiri.

Jadi ketika kita masih lajang, sebisa mungkin kita mengalokasikan bahkan hingga 1/2 dari gaji kita untuk berinvestasi. Karena sata masih lajang kita bisa lebih bebas menekan pengeluaran. Nanti setelah menikah, ceritanya bisa berbeda karena pengeluaran akan semakin banyak. Maka dari itu, mumpung masih lajang manfaatkan waktu dan alokasi gajian untuk investasi.

Nanti setelah menikah Anda dan pasangan harus memilih mulai dari tujuan dan alokasi investasi bahkan siapa yang lebih ‘jago’ dalam urusan ini, agar dana investasinya bisa memperoleh return yang maksimal dan bisa memperkecil resiko.

Soal biaya hidup setelah menikah, coba alokasikan maksimal 50% dari gajian. Lalu bagaimana dengan cicilan? Untuk perempuan yang sudah menikah cicilan dalam bentuk aset seperti cicilan rumah masih bisa di lakukan dengan tidak melebihi 30% dari gaji. Namun untuk cicilan konsumtif, ada baiknya jika di hindari.

5. Tabungan Untuk Big Purchase Item

Tabungan Untuk Big Purchase Item

Kita pastinya memiliki keinginan-keinginan untuk di wujudkan. Misalnya sesederhana ingin liburan, membeli kendaraan untuk bekerja, membeli gadget dan lainnya sehingga kita harus menabung terlebih dahulu. Nah itulah yang dimaksud dengan big purchase item (pembelian barang/jasa yang ‘besar’).

Untuk para perempuan, wajib sekali memiliki rekening khusus untuk hal-hal seperti ini. Hm..berapa ya jumlahnya?

Sebagai saran, tabungan untuk big purchase item seperti ini di usahakan hanya 5% saja dari total gajian. Kenapa? Sebab, masih ada pos penting lainnya yang butuh alokasi biaya dari gaji kita. Tadi maksimal 50% sudah di pakai untuk kebutuhan hidup, 30% untuk cicilan rumah dan 5% untuk tabungan big purchase item, jadi sisanya 15% lagi. Kemanakah kita mengalokasikan dana ini? Simak di poin selanjutnya!

6. Alokasi Investasi Untuk Tujuan Keuangan

Saat masih lajang, perempuan bisa mengalokasikan gajiannya secara besar-besaran untuk berinvestasi. Tapi setelah menikah, berinvestasi nampaknya memang agak berat bagi perempuan. Oleh karena itu coba kita urutkan dulu satu persatu, apa tujuan keuangan yang prioritas.

Misalnya kita ingin anak kita nanti memiliki pendidikan yang terbaik, maka tidak ada salahnya para perempuan berinvestasi juga untuk dana pendidikan anak. Sementara untuk para perempuan yang usianya sudah lebih mature, bisa mengalokasikan investasinya untuk dana pensiun.

Masalahnya, selama ini yang masih mendominasi dalam dunia investasi adalah laki-laki. Apakah perempuan bisa juga berinvestasi?

Sebenarnya, perempuan sangat bisa berinvestasi asalkan terus menambah ilmunya. Bahkan seiring meningkatkan edukasi keuangan, persentase perempuan Indonesia dalam investasi semakin tinggi.

Untuk Anda yang masih khawatir menempatkan dana investasinya bisa mulai mencoba investasi dengan instrumen yang tingkat resikonya paling rendah, misalnya emas. Minimal Anda memiliki emas batangan yang Anda simpan sendiri. Tapi jika Anda ingin mencoba menggunakan instrumen investasi lain bisa juga mencoba deposito, obligasi atau reksadana pasar uang.

7. Pos Keuangan Playing & Happiness

cara mengatur uang gajian perempuan dengan Pos Keuangan Playing & Happiness

Alokasi gajian terakhir bisa di tempatkan untuk selflove. Baik perempuan yang masih lajang maupun menikah berhak mendapatkan kebahagiaan dengan mencintai diri sendiri. Apalagi ketika sudah menikah tanggung jawab para perempuan mungkin akan semakin bertaman sehingga perlu sekali memiliki kesehatan mental yang prima. Asalkan jumlah alokasinya masih sesuai dengan kemampuan finansial kita.

Pastikan jumlah tidak lebih dari 10% atau maksimal sekitar 20% dari gaji kita. Di dalam pos playing and happiness ini kita juga bisa kok menggunakannya untuk membelikan hadiah untuk anak-anak ataupun keluarga. Karena selflove bisa dilakukan dengan berbagai cara, yang pasti tujuannya membuat diri kita bahagia.

3 Skills Penting yang Wajib dimiliki Perempuan Dalam Hal Keuangan

Masa pandemik ini mengajarkan kita untuk lebih peduli dengan financial management kita. Jadi jangan sampai gajian yang kita peroleh dengan susah payah, atau dari side hustle sana sini lenyap begitu saja tanpa bersisa dan sia-sia. Nah, sebelum menutup pembahasan kali ini sekedar menjadi pengingat kita saja, ada 3 skills dasar yang wajib di miliki perempuan agar semakin jago dalam mengatur keuangan, yakni :

  1. Kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan
  2. Kemampuan memahami prioritas
  3. Kemampuan menabung, investasi dan juga proteksi

Sudah punya skills dasar di atas? Yuk terus tingkatkan ilmu dengan banyak membaca maupun menonton video literasi keuangan.

Penutup

Meraih kesejahteraan bagi perempuan bukanlah hal yang mustahil, namun langkahnya harus dilakukan mulai dari sekarang. Dari beberapa tips di atas, manakah yang sudah berhasil Anda praktikan?

Itulah cara mengatur uang gajian bagi perempuan yang memiliki penghasilan sendiri. Setiap posnya hampir sama, baik bagi perempuan yang masih lajang maupun sudah menikah, yang perlu di perhatikan adalah soal prioritasnya. Perencanaan alokasi gajian ini bisa di lakukan setiap bulannya. Jadi menjelang gajian, Anda tidak khawatir gajian Anda lenyap begitu saja karena sudah punya daftar alokasi yang siap di lakukan setelah menerima uang gajian.

Sehingga meskipun sudah berkeluarga, dengan memperhatikan skala prioritas kita juga tetap bisa menjadi perempuan yang sejahtera. Sedangkan untuk Anda yang masih lajang, semoga tips diatas bisa bermanfaat agar Anda tidak shock dalam pengaturan keuangan setelah menikah nanti. Semoga bermanfaat.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar