6 Cara Mengendalikan Gaya Hidup Konsumtif dengan Paham Finansial

Cara-menghilangkan-gaya-hidup-konsumtif

Pernahkah Anda menyadari ternyata gaya hidup Anda menjadi lebih boros dari sebelumnya ketika menginstall aplikasi belanja, memfollow akun online shop atau menggunakan berbagai metode pembayaran digital (e-wallet) dan kredit digital yang syarat pengajuannya cukup mudah?

Sebenarnya kemajuan teknologi digital yang di manfaatkan untuk bertransaksi seperti digital payment, memiliki dampak yang positif untuk memudahkan kita dalam hal transaksi, bahkan pemerintah mendukung program go to digital payment loh!

Hal ini karena selain mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi dan pada akhirnya lebih bisa menghemat waktu dan energi untuk sekedar melakukan pembayaran, digital payment juga bisa menghemat biaya operasional pencetakan uang. Tapi memang, kemudahan ini juga akan memiliki dampak negatif yang cukup besar jika tidak di seimbangkan dengan wawasan finansial yang mendukung.

Di era digital ini, kesadaran akan literasi finansial sangatlah penting untuk mengendalikan life style yang cenderung mengarah pada konsumerisme. Karena kemudahan akses untuk melihat berbagai promo yang di tawarkan, menggunakan, dan mengeluarkan uang mendorong perubahan life style menjadi lebih konsumtif.

Tentunya ini akan menjadi berbahaya jika kita tidak bisa mengendalikannya. Oleh karena itu, mari kita bentengi lifestyle yang akan membuat kehidupan finansial kita menjadi tidak sehat dengan wawasan finansial yang seimbang. Yuk kita bahas satu persatu!

1. Pandangan terhadap uang

Pertama, coba kita cek dulu bagaimana kita memandang uang. Karena uang adalah alat yang pada umumnya kita gunakan untuk bertransaksi. Apapun profesi kita, kita pasti punya pandangan tentang fungsi dan bagaimana cara menggunakan uang, hal ini juga berlaku bagi millenial yang baru saja mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan gaji setiap bulan.

Setiap gajian rasanya jadi orang kaya sedunia! Ketika terima uang, langsung buka aplikasi dan melakukan checkout barang-barang yang sudah kita tandai sebelumnya.

Baca : 10 Pinjaman Modal Usaha Terbaik 2020 (Bunga dan Syaratnya)

Memang benar, uang memiliki fungsi memperoleh kebutuhan di masa kini, tapi mungkin kita juga perlu memandang uang dengan melihat fungsinya di masa depan dan hal-hal tidak terduga.

Siapa sih dari kita yang tidak ingin menjadi orang yang bebas finansial?

Tidak punya beban hutang, tapi bisa membiayai biaya pernikahan, membeli rumah, punya dana pensiun, bahkan punya tabungan yang menjamin pendidikan anak dan membiayai diri sendiri atau keluarga yang terkena sakit dan perlu biaya banyak.

Dengan kesadaran bahwa uang itu memiliki fungsionalitas berdasarkan masanya yaitu kini dan nanti, kita jadi kepikiran untuk menjawab bagaimana penggunaan yang seharusnya dan mulai merencanakan penggunaan uang dengan lebih bijak.

2. Membedakan antara kebutuhan dan keinginan

Cara Mengendalikan Gaya Hidup Konsumtif

Memiliki kesukaan atau hobby itu boleh, bahkan menurut sudut pandang psikologi hal itu harus dilakukan untuk menjaga kesehatan mental kita. Misalnya hobby nge-gym, hobby traveling, koleksi barang antik dan lain sebagainya. Boleh. Tapi sayangnya, karena di stimulus dengan serbuan iklan dan promo yang menggoda akhirnya tidak jarang kita melakukan pembelian secara impulsif/ tidak terkendali.

Setelah membeli barang/jasa tersebut dan sadar bahwa koleksi ataupun jasa tersebut tidak benar-benar kita butuhkan, tempat untuk menyimpan barang tersebut di rumah sudah tidak cukup, atau bahkan malah harus terbuang.

Padahal jika dananya tidak dipakai untuk membeli barang/jasa tersebut, bisa digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih bermanfaat atau di tabung dan di investasikan. Menyesal tapi sudah terlanjur di beli, akhirnya merasionalisasi diri dan melakukannya lagi.

Kita bisa mengendalikan hal tersebut, salah satunya dengan belajar mengenali kebutuhan dan keinginan. Karena kebutuhan adalah hal-hal yang sifatnya harus di penuhi kalau tidak maka akan mengganggu fungsionalitas kita sebagai manusia, seperti makan sehat, pakaian yang bersih dan layak, tempat tinggal yang aman.

Sementara keinginan adalah hal-hal yang bersifat sekunder untuk di penuhi, artinya jika hal tersebut tidak terpenuhi maka sebenarnya tidak sampai bisa mengancam hidup kita misalnya makan enak yang belum tentu sehat, pakaian yang branded, tempat tinggal yang mewah.

Dengan mengetahui perbedaannya, kita mulai bisa berhitung tentang prioritas mana yang harus kita penuhi terlebih dahulu dengan kemampuan finansial kita saat itu. Tapi ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh memenuhi keinginan, seperti yang di sebutkan sebelumnya bahwa memiliki keinginan itu adalah keharusan, tetapi harus tetap menyadari prioritas salah satunya dengan mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan.

3. Membuat rencana pengeluaran

Mindset tentang uang, kebutuhan dan keinginan saja tidak lengkap tanpa action! Ya, salah satu actionnya adalah dengan membuat rencana pengeluaran kita setiap bulan dan mempraktikannya dengan konsisiten.

Hal ini supaya kita punya pengendalian diri dan terhindar dari sikap belanja yang impulsif. Karena tanpa rencana pengeluaran, kita akan cenderung mudah lupa dengan skala prioritas.

Banyak praktisi keuangan mengatakan bahwa seberapapun besarnya penghasilan kita, tidak akan pernah cukup kalau hanya di gunakan untuk mengikuti lifestyle saja, karena manusia itu tidak pernah puas.

Tetapi penghasilan kecil yang di atur dengan tepat bisa membuat kita mampu memenuhi kebutuhan hidup dan menjadikan hidup lebih bahagia. Benar juga ya?

Menurut beberapa literasi keuangan, rencana pengeluaran bisa di sesuaikan dengan jumlah pendapatan dan juga kondisi status kita dalam keluarga. Misalnya, apakah gaji kita masih di bawah UMR, gaji 4 juta, gaji 10 juta dan seterusnya.

Tetapi secara umum, pengeluaran itu sifatnya ada yang primer dan sekunder. Pengeluaran primer (wajib) seperti budget makan harian, transportasi, listrik, air dan seterusnya. Sedangkan pengeluaran sekunder sifatnya penting, tapi tidak wajib karena kita sebagai manusia pasti punya keinginan berupa life style seperti hobby kuliner, traveling, belanja dll.

Jika tuntutan pekerjaan Anda harus menjadikan refreshing sebagai hal yang primer berarti dana refreshing di masukan pada pos pengeluaran primer dengan mengurangi beberapa pengeluaran primer yang dirasa tidak perlu misalnya berlangganan TV kabel atau wifi padahal ternyata jarang di pakai.

Untuk menjaga kesehatan keuangan kita, para praktisi keuangan menyarankan bahwa dana pengeluaran primer bulanan yang kita sipakan maksimal adalah 50% dari penghasilan kita. Lalu minimal 30% untuk tabungan dan investasi (minimal ya, jadi boleh lebih) dan sisanya bisa digunakan untuk akun lifestyle.

4. Memahami perbedaan menabung dan investasi

Nah, selanjutnya kita perlu juga memahami perbedaan antara menabung dan investasi. Di point sebelumnya kita sedikit membahas tentang tabungan dan investasi, dimana minimal 30% dari tabungan kita umumnya bisa kita alokasikan untuk tabungan dan investasi.

Tapi pertanyaannya apa tujuan/ goals kita dalam menabung. Tanpa goals yang jelas biasanya lama-lama kita jadi lesu untuk menabung atau berinvestasi dan sedikit demi sedikit mencoel dana tabungan atau investasi untuk memenuhi keinginan life style.

Apalagi bagi kita yang masih awam dengan konsep investasi, biasanya menyamakannya dengan tabungan dan akhirnya dananya disamakan. Padahal tabungan dan investasi adalah hal yang berbeda. Maka dari itu kita perlu tahu perbedaan menabung dan investasi serta tujuan kongkritnya.

Menabung adalah proses menyimpan sebagian pendapatan yang biasanya dilakukan untuk mengamankan dana yang kita miliki untuk digunakan dimasa mendatang. Sementara berinvestasi adalah usaha-usaha yang tujuannya supaya nilai aset bisa bertambah.

Jadi tabungan lebih menekankan pada sisi keamanan dana yang minim resiko dan investasi lebih meninginakan penambahan nilai dari aset dengan segala resiko yang ada di dalamnya. Keduanya cukup penting, karena nilai mata uang akan cenderung berubah dan bunga tabungan biasanya tidak sebesar kenaikan nilai aset pada investasi.

Tetapi jika kita masih awam dengan investasi, bisa mengalokasikan dana simpanan lebih besar pada tabungan dan sedikit demi sedikit belajar bagaimana cara berinvestasi yang baik dari sisa dana simpanan tersebut.

Selanjutnya, jangan lupakan tujuan kongkrit dari menabung dan investasi. Hal apa yang ingin kita capai, misalnya menyiapkan dana darurat, dana pernikahan, DP rumah dan seterusnya.

Dengan kesadaran tentang perbedaan tabungan dan investasi serta adanya tujuan kongkrit yang telah di tentukan, pasti kita akan termotivasi untuk menabung atau berinvestasi tentunya dengan selalu upgrade ilmu investasi ya!

5. Catatan data keluar masuk uang tiap harinya di smartphone

Setelah membuat rencana pengeluaran, lebih baik lagi jika hal tersebut terdokumentasikan di tempat yang mudah kita jangkau seperti mencatatnya di smartphone. Hal ini mempermudah kita mengontrol dan mengevaluasi pengeluaran kita perbulannya.

Karena untuk sebagian orang yang mudah mengeluarkan uang, biasanya bisa kehabisan uang sebelum gajian dan lupa uangnya di gunakan untuk apa saja. Sehingga embuat rencana pengeluaran bisa jadi sia-sia saja.

Kita bisa mendownload aplikasi money manager yang dengan mudahnya kita bisa memasukan angka-angka bugdet untuk berbagai dana dan melakukan pencatatan pengeluaran setiap harinya. Dan setiap akhir bulan kita bisa melihat track record pengeluaran kita, apakah ada yang tidak seimbang dan kenapa.

Jika kita sudah terbiasa dengan hal ini, kita tidak akan merasa terbebani melakukannya malah akan semakin fleksibel dalam mengatur keuangan karena sudah tahu bagaimana cara mengatur strateginya.

6. Pahami resiko jebakan hutang dan kredit

Saat ini beli ini itu, bayar ini itu mudahnya luar biasa bahkan, berhutangpun jadi mudah. Kadang, walaupun sudah punya rencana pengeluaran tapi godaan promo terus bermunculan lewat email, notifikasi dari aplikasi dan iklan-iklan medsos membuat kita menyerah dan memilih metode pembayaran secara kredit yang tujuannya meringankan pembayaran.

Sebenarnya, mengajukan pembayaran kredit itu boleh-boleh saja. Tetapi, diusahakan hanya untuk aset yang jenisnya adalah investasi seperti rumah dan sesuai dengan kemampuan finansial kita saat itu. Selain dari itu praktisi keuangan menyarankan, bahwa lebih baik untuk kita melakukan pembayaran secara cash.

Kalaupun ingin membeli barang yang harganya cukup mahal bisa dengan membuat akun tabungan sendiri yang kita sisihkan diluar tabungan dan investasi. Kalaupun harus membayar secara kredit jangan sampai hanya karena pengajuan kredit itu mudah, jumlah kredit yang harus kita bayar melebihi 50% gaji kita perbulannya dan untuk kebutuhan sehari-haripun ikut menggunakan metode kredit.

Menurut beberapa praktisi finansial, jumlah kredit yang kita bayarkan tiap bulannya tidak boleh melebihi 30% dari total gaji kita. Jika melebihi 30%, maka kita akan menggunakan jatah menabung dan investasi ataupun budget untuk kebutuhan harian yang wajib. Belum lagi bunga yang harus di bayarkan.

Baca : 5 Pinjaman Online Cepat Cair Terbaik, Tanpa Ribet dan Legal

Jika kita sampai melakukan kredit untuk kebutuhan harian kita maka sebenarnya keuangan kita sudah tidak sehat. Karena itu artinya kita sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagaimana kita membayar kebutuhan harian tersebut?

Mungkin dengan mengajukan hutang ke platform keuangan digital lainnya. Inilah lingkaran setan keuangan yang akan membelit kita. Jika kita memahami resiko berhutang/kredit kita lebih bisa memikirkan ulang setiap hendak memenuhi lifestyle dengan metode pembayaran kredit.

Loading...
Scroll to Top