Fakta-Fakta Suramnya Ekosistem Kripto Global di Tahun 2022

Sesaat lagi mencapai bulan terakhir di tahun 2022, bisa dibilang kalau berbagai aset ekonomi memang mencatatkan kemuraman.

Hal yang sama juga dialami oleh mata uang kripto (cryptocurrency). Sempat begitu memukau dan mencatat raihan fantastis berkat Bitcoin (BTC), kripto justru berulang kali ‘kiamat’ di tahun 2022 ini.

Tak heran kalau banyak pelaku pasar kripto menyebutkan jika kondisi yang terjadi di sepanjang 2022 pada ekosistem kripto global ini bernama Black Swan.

Dilansir Gizmologi, Black Swan sendiri merujuk pada peristiwa tidak terduga yang akhirnya memberikan pengaruh signifikan pada kelangkaan, memicu dampak ekstrim dan akhirnya prediktabilitas retrospektif.

Kalau sudah begini, para investor dan trader kripto memang mengalami hantaman terbesar dan harus sesegera mungkin mencari solusi supaya finansial tak tertekan dalam jangka lama.

Supaya mengetahui kemurahan Black Swan di ekosistem kripto global, berikut sejumlah fakta yang terjadi pada cryptocurrency sepanjang 2022:

1. Kebijakan The Fed Pengaruhi Ekosistem Kripto Global

Semenjak agresi militer yang terjadi di Eropa Timur yakni antara Rusia dan Ukraina, perekonomian global memang langsung limbung.

Baru saja mencoba bangkit usai badai pandemi, konflik geopolitik itu justru memicu krisis energi dan krisis pangan secara luas. Banyak negara merevisi kebijakan moneter termasuk menaikkan suku bunga acuan bank sentral mereka masing-masing.

Keputusan ini justru membuat angka inflasi terkerek naik dan menggiring banyak negara ke jurang resesi, yang berujung pada resesi global 2023. Rupanya kondisi ini menjadi faktor eksternal yang melemahkan ekosistem kripto global.

Keputusan The Fed (The Federal Reserve) selaku bank sentral AS (Amerika Serikat) dalam kebijakan hawkish demi mengendalikan inflasi, justru menekan kripto.

Sejalan dengan pergerakan ekuitas global, makin banyak negara yang membatasi hingga melarang keberadaan kripto yang membuatnya melemah.

Belum lagi insiden yang dialami pelaku ekosistem kripto global membuat nilai cryptocurrency makin anjlok dan akhirnya berujung pada Black Swan.

2. Terjadi Krisis pada LUNA dan UST

Ilustrasi Aset Kripto
© iStock

Badai cukup besar pada ekosistem kripto global terjadi pada bulan Mei 2022 saat terjadi insiden stablecoin Terra Luna USD (UST).

Sekadar informasi, UST sebetulnya merupakan aset kripto yang dirancang dengan aset tertentu entah USD maupun komoditas lain dengan perbandingan 1:1.

Sebagai stablecoin, harga UST harusnya di kisaran US$1 tapi di bulan Mei itu harga UST dan LUNA sebagai sister coin jadi hancur luar biasa sampai tak bernilai yang membuat banyak investor dan trader rugi puluhan miliar dolar.

Bahkan jurnalis Lee Do Yoon dari media Korea Selatan, KBS News, ramai memberitakan pada awal November 2022 mengenai seorang jaksa yang menemukan bukti manipulasi harga LUNA oleh Do Kwon, CEO Terraform Labs bersama rekannya.

Baca juga : Volatilitas Bitcoin Semakin Rendah, Pertanda Apa Ini?

Besar kemungkinan Do Kwon kini kabur dan jadi imigran ilegal di Dubai yang dalam lingkup luas membuat masyarakat mempertanyakan perilaku para pelaku ekosistem kripto global.

3. Krisis Bursa Kripto Zipmex

Insiden yang melibatkan Do Kwon dalam lingkup LUNA dan UST seolah meyakinkan masyarakat luas mengenai betapa berisikonya ekosistem kripto global. Namun tak berhenti di situ saja, cryptocurrency kembali dihantam krisis kepercayaan pada Juni 2022.

Hal ini bermula saat Celcius Network membekukan fitur penarikan dana padahal Celcius Network adalah platform digital yang memungkinan siapapun melakukan pnjaman denga jaminan mata uang kripto.

Mengikuti jejak Celcius Network, Babel Finance juga melakukan penagguhan serupa. Platform yang berpusat di Hong Kong ini menghentikan layanan penarikan dan penukaran aset kripto pada Juni 2022 lantaran tekanan likuiditas.

Kala itu Babel Finance melakukan penangguhan pada dua aset kripto terbesar yakni BTC dan Ethereum (ETH) serta stablecoin.

Kendati masih ada sekitar 500 klien terpilih yang diperbolehkan menggunakan layanan, keputusan Babel Finance itu semakin memperuncing kepercayaan masyarakat pada kripto.

Atas apa yang dilakukan Celcius Network dan Babel Finance, Zipmex pun terkena dampaknya.

Sekadar informasi, Zipmex adalah bursa kripto yang beroperasi di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Di mana pada Juli 2022, Zipmex mengeluarkan pengumuman mengenai penghentian sementara pada layanan penarikan dana uang fiat dan aset kripto.

Baca juga : Apa Itu Crypto ADA (Cardano), Menjadi Pesaing Ethereum?

Saat situasi ini terjadi, ada banyak sekali pengguna Zipmex yang mengalami kerugian. Seolah situasi ini menjadikan investor dan trader kripto sama sekali tak mampu bergerak.

4. Krisis Kebangkrutan FTX

Ilustrasi Mata Uang Kripto

Setelah insiden yang melibatkan LUNA dan UST serta kriris Celcius Network dan Babel Finance, banyak orang berharap atas pulihnya ekosistem kripto global.

Namun kabar itu tampaknya belum terwujud pad tahun 2022 karena di bulan November ini giliran bursa FTX yang runtuh.

Keruntuhan FTX yang dipicu oleh krisis likuiditas ini bahkan sampai membuat Binance sebagai raksasa bursa cryptocurrency, melakukan akuisisi.

Hanya saja kejutan terjadi saat Binance membatalkan rencana itu dan membuat Sam Bankman-Fried sebagai pemilik FTX makin terpuruk.

Atas keputusan itu, Changpeng Zhao selaku CEO Binance menegaskan kalau yang terjadi pada bursa FTX bukanlah wewenangnya.

Christopher Tahir selaku co-founder CryptoWath dan pengelola channel Duit Pintar kepada Kontan pun angkat bicara atas krisis FTX.

Menurut Tahir, kasus yang menimpa FTX menjadi bukti bahwa para investor dan trader kripto harus mengamati betul fundamental perusahaan terlebih dulu. Kesalahan dalam manejemen pengelolaan dana nasabah adalah pemicu kehanduran FTX.

Di mana FTX dan Alameda Research yang merupakan perusahaan afiliasinya, diduga memakai dana nasabah demi menyelamatkan bisnis pribadi. Lantaran tak bisa memisahkan dana secara profesional, FTX nekat meminjamkan dana nasabah ke pihak lain lalu mengacaukan finansial bisnis saat perbedaan nilai dana nasabah dan dana cadangan FTX makin besar.

Tak butuh lama, krisis FTX langsung membuat ekosistem kripto global melemah dan tergelincir ke harga terendah sepanjang tahun.

Baca juga : 10 Broker Crypto Terbaik Indonesia

Amblesnya neraca keuangan FTX memicu terjun bebasnya pasar kripto dan tindakan bank run (penarikan dana besar-besaran) dari exchange FTX. Dengan segera kapitalisasi pasar cryptocurrency langsung ambles ke bawah US$1 triliun dan volume perdagangan terkoreksi lebih dari 10%.

Kesimpulan

Melihat berbagai krisis dalam ekosistem kripto global itu, kita seolah kembali pada fakta bahwa cryptocurrency sangatlah berisiko. Namun kini para pelaku kripto lainnya mencoba semaksimal mungkin untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Seperti yang dilakukan Pang Xue Kai selaku CEO Tokocrypto, di mana dirinya sebagai pedagang fisik aset kripto yang terdaftar di Bappebti, akan meningkatkan keamanan aset.

Hal berbeda diungkap Tahir mengenai krisis ekosistem kripto global yang sebetulnya bukanlah kali pertama. Karena sebelum FTX, ada perusahaan MT.Gox dan Cryptopia yang bangkrut. Di mana MT.Gox sudah menutup usaha pada 2014 saat kehilangan 840 ribu BTC senilai Rp460 juta kala itu, akibat aksi peretasan. Sama seperti MT.Gox, Cryptopia juga jadi korban pencurian aset sebesar US$16 juta di awal tahun 2019.

Kendati berisiko, tetap saja ekosistem kripto global masih memiliki peluang untuk bangkit. Asalkan kita cukup cerdas dalam mengikuti pemberitaan global dan bijak menggunakan cryptocurrencyi, maka masa depan si mata uang kripto akan cukup menjanjikan.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar