4 Jenis Investasi Reksadana Menguntungkan dan Aman

Pandemi tanpa terasa sudah memasuki bulan ketujuh. Dengan lebih dari 291 ribu kasus positif, tampaknya memang kita harus banyak berdamai dengan wabah corona ini termasuk dalam hal keuangan. Setiap orang harus bijak mengatur keuangan termasuk dalam hal memilih investasi. Dari banyaknya instrumen investasi yang ditawarkan, investasi reksadana menguntungkan menjadi pilihan terbaik.

Mungkin banyak di antara Anda yang masih pikir-pikir soal investasi reksadana ini. Karena di masa pandemi ini, aset instrumen pasar keuangan dianggap bermasalah dan rawan kemerosotan seperti saham atau obligasi, sampai reksadana. Alhasil, banyak orang memilih investasi-investasi konvensional yang dianggap lebih stabil dan sangat aman seperti deposito.

Apakah tepat menjual aset-aset investasi pasar keuangan dan mengalihkannya ke deposito?

Jawabannya adalah kurang tepat.

Baca juga: Inilah 6 Faktor Perempuan Bisa Investasi Lebih Baik Daripada Laki-Laki

Menjual aset ketika pasar keuangan anjlok justru malah bikin Anda merugi. Apalagi ketika semua dana itu dialihkan ke tabungan deposito, besaran bunga yang didapat tidak sebanding yang malah justru membuat keuangan masa depan bermasalah.

Padahal di masa pandemi seperti saat ini, investasi reksadana masihlah menguntungkan. Alan T Darmawan selaku CEO Eastspring Investments Indonesia kepada Kompas memaparkan jika produk-produk reksadana atau unitlink yang berinvestasi di saham blue chip, masihlah menguntungkan saat wabah.

Jenis-Jenis Investasi Reksadana Menguntungkan dan Rendah Risiko

jenis investasi reksadana
jenis investasi reksadana © Freepik

Sekadar informasi, perjalanan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) selama wabah corona memang sangat fluktuatif. Mencapai titik terendahnya pada 16 April (4.480), IHSG justru meraih posisi puncak pada 27 Agustus (5.371).

Kendati sempat anjlok drastis pada 24 September (4.842), IHSG berusaha bangkit hingga mencapai level 4.970 pada Kamis (1/10) sore kemarin.

Performa IHSG menunjukkan bahwa sebetulnya pasar keuangan dan pasar modal Indonesia tetap memiliki kekuatan bertahan di masa pandemi. Ini menjadi bukti bahwa investor reksadana tak perlu cemas atau kerugian, karena justru kondisi ekonomi saat ini jadi peluang terbaik menambah nilai investasi reksadana.

Nah, bagi Anda yang hendak membeli reksana sebagai instrumen investasi, beberapa jenis investasi reksadana menguntungkan dan aman berikut ini bisa dipertimbangkan:

1. Reksadana Pasar Uang

Inilah jenis investasi reksadana menguntungkan sekaligus yang paling aman untuk dipilih yakni reksadana pasar uang.

Bagi Anda yang baru pertama kali menjadi investor dan tak mau ambil risiko besar, reksadana pasar uang adalah pilihan terbaik. Dalam reksadana pasar uang, seluruh modal investasi dari investor akan dialokasikan ke dalam instrumen surat berharga dengan masa jatuh tempo maksimal satu tahun.

Baca juga: Apa Itu Analisis Fundamental dan Analisis Teknikal? Ini Penjelasannya!

Dengan modal awal investasi bisa dimulai dari Rp100 ribu, jangka waktu investasi reksadana pasar uang sangatlah fleksibel dan pencairan dana begitu mudah. Selain bebas pajak, rata-rata keuntungan yang bisa didapat sebesar 6-8 persen per tahun. Sehingga bagi Anda yang butuh dana tunai sewaktu-waktu, reksadana pasar uang jelas lebih untung daripada deposito.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, beberapa produk reksadana pasar uang bisa meraup untung total lebih dari 35%. Bagaimana bisa? Lantaran bunga deposito yang naik di kisaran 6% dan bunga obligasi perusahaan mencapai 7%.

2. Reksadana Pendapatan Tetap

Investasi reksadana menguntungkan yang berikutnya adalah jenis reksadana pendapatan tetap.

Dalam reksadana pendapatan tetap, 80% dari dana investor akan dialokasikan dalam bentuk obligasi. Seperti yang diketahui, penerbit Efek Utang akan memberikan pembayaran bunga (kupon) bagi pemegang obligasi, sehingga akhirnya disebut pendapatan tetap.

Kinerja reksadana jenis ini dipengaruhi oleh suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Sehingga ketika BI rate turun, harga obligasi akan naik dan menguntungkan pemilik reksadana pendapatan tetap. Biasanya jangka waktu reksadana pendapatan tetap sekitar 1-3 tahun.

Pada tahun 2018 lalu, reksadana pendapatan tetap memang sempat muram karena dilaporkan negatif 2.2%. Namun return negatif itu justru menjadi positif pada 2020. Kenapa bisa begitu? Karena BI yang memilih mempertahankan suku bunga acuan di level 6%. Sejauh ini rata-rata return reksadana pendapatan tetap di kisaran 5-10 persen per tahun.

Kendati besaran return reksadana pendapatan tetap lebih rendah daripada reksadana saham atau reksadana campuran, risikonya juga lebih kecil. Anda pun bisa memulai modal investasi dari Rp10 ribu dan tak usah cemas terkena pajak. Selain itu, tak akan ada yang namanya kecurangan pengelolaan dana karena obligasi diatur oleh pemerintah, sehingga uang Anda sudah pasti aman.

3. Reksadana Campuran

mempertimbangkan aset investasi
mempertimbangkan aset investasi © Amonrat rungreangfangsai/Vecteezy

Seperti namanya, reksadana campuran merupakan gabungan investasi dalam banyak aset. Sebagai investasi jangka panjang, beberapa aset pilihan dalam reksadana campuran adalah saham, obligasi dan pasar uang. Dengan risiko lebih rendah, keuntungan reksadana campuran jelas tidak setinggi reksadana saham.

Baca juga: Cara Cerdas Investasi Untuk Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

Namun yang membuat reksadana campuran sangat menarik adalah MI (Manajer Investasi) bisa merancang portfolio investor jauh lebih fleksibel, sehingga membuat produk ini menjadi investasi reksadana menguntungkan. Jika Anda ingin menghindari risiko besar di pasar saham sementara kupon obligasi terus naik-turun, maka reksadana campuran bisa membuat diri lebih tenang.

Jika ditarik kesimpulan rata-rata, return reksadana campuran sebesar 10-12 persen yang artinya lebih besar daripada reksadana pendapatan tetap. Yang patut jadi pertimbangan dalam reksadana campuran adalah kinerjanya bakal cukup naik-turun, karena memiliki unsur instrumen saham yang dipengaruhi pergerakan IHSG.

4. Reksadana Saham

Produk investasi reksadana menguntungkan yang ada di posisi terakhir adalah reksadana saham. Bukan tanpa alasan, karena dibandingkan tiga produk reksadana lainnya, reksadana saham memang mempunyai potensi risiko terbesar, tapi keuntungannya juga tertinggi.

Seperti namanya, jika Anda memilih reksadana saham maka seluruh dana investor ditempatkan dalam instrumen saham. Sebagai aset jangka panjang (setidaknya lima tahun), reksadana saham tak cocok untuk Anda yang ingin meraup keuntungan dalam waktu singkat.

Kenapa harus jangka panjang? Karena kinerja IHSG dalam 2-3 tahun terakhir memang tidak terlalu menyenangkan. Bahkan pada tahun 2018, IHSG sempat terkoreksi sebesar 2,5%. Kini dengan pandemi yang berkepanjangan dan ancaman resesi perekonomian bagi Indonesia, IHSG juga berpeluang terkoreksi.

Namun Anda tak perlu cemas. Kendati reksadana saham punya risiko terbesar, pergerakan saham dalam jangka panjang cukuplah positif terutama untuk saham-saham blue chip yang memiliki fundamental sangat baik. Bahkan setidaknya return untuk reksadana saham mencapai lebih dari 10-25% per tahun.

Tips Tetap Untung Investasi Reksadana Saat Wabah Corona

tips untung reksadana © istockphoto
tips untung reksadana © istockphoto

Meskipun memang investasi reksadana menguntungkan sangat layak dipertimbangkan, Anda sebagai investor haruslah tetap mengelola keuangan dengan bijaksana. Apalagi dalam kondisi pandemi , Indonesia bahkan terancam memasuki fase resesi yang biasa diikuti dengan inflasi.

Menurut Parto Kawito selaku Direktur Infovesta Utama kepada Republika, investor reksadana saham atau yang underlying asset investasinya pada saham-saham BEI (Bursa Efek Indonesia), berpotensi merugi. Tak hanya itu, investor reksadana pendapatan tetap juga akan cukup was-was lantaran pergerakan harga obligasi.

Baca juga: Mau Investasi Reksadana? Perhatikan 8 Tips ini Untuk Pemula!

Namun selama si investor tenang dan unit pernyertaan masih di rekening investor, serta tidak melakukan aksi nekat mencairkan atau redemption reksadana, kerugian hanyalah akan menjadi sekadar potensi. Tapi jika investor panik dan buru-buru melakukan redemption, sudah pasti akan merugi.

Parto menambahkan bahwa alih-alih cemas, masa ancaman resesi dan krisis ekonomi justru harus jadi peluang investasi. Dengan peluang rata-rata harga pembelian bakal menurun, ini bisa jadi kesempatan Anda menambah dana untuk membeli aset investasi baru. Dalam kondisi ini, strategi average down adalah pilihan terbaik.

Nanti ketika kondisi pasar membaik, Anda yang melakukan average down bakal lebih mudah untung karena kerugian yang sempat dirasakan akan berbalik jadi keuntungan.

Naik-Turun Nilai Reksadana adalah Hal Biasa

Fluktuasi reksadana © aeaechan/123RF
Fluktuasi reksadana © aeaechan/123RF

Mencoba membuat tenang para investor reksadana, menurut Parto kondisi nilai reksadana naik turun ini bukanlah hal pertama. Bahkan Indonesia pernah beberapa kali mengalami krisis ekonomi seperti tahun 1998 (krisis moneter era Reformasi) dan 2008 (krisis keuangan Amerika Serikat/Subprime Mortgage Facility), tapi mampu melewatinya dengan baik.

Apa yang membuat industri reksadana mampu bertahan meskipun dua kali mengalami krisis ekonomi yang sangat buruk?

Baca juga: Mudah dan Murah, 10 Cara Investasi Emas Tanpa Beli Fisiknya

Semua tak lepas dari regulasi industri reksadana yang sangat jelas. Setiap kali ada calon investor, MI akan melakukan tahapan KYC (Know to Your Customer) agar tahu kondisi keuangan sebagai sumber dana investasi. Lewat adanya regulasi ini, setiap ada dana investasi yang masuk maka sumber dananya bisa diketahui.

Kebijakan ketat yang diatur OJK (Otoritas Jasa Keuangan) ini sebagai pencegahan tindak pencucian uang dan penyimpangan pengelolaan dana. Bahkan seluruh dana investor disimpan terpisah pada rekening bank kustodian. Pihak MI sendiri akan memperoleh jasa pengelolaan dana dengan besaran yang sudah ditetapkan di awal.

Sehingga jika disimpulkan, investasi reksadana menguntungkan bukanlah hal yang mustahil dalam masa pandemi dan ancaman resesi ekonomi saat ini. Asalkan Anda memiliki strategi yang tepat dan memahami produk reksadana, maka risiko kerugian bisa dikelola dengan baik sehingga memperoleh target keuntungan optimal.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar