Investasi Untuk Gen Z, Inilah 8 Fakta Obligasi yang Wajib Diketahui!

Demografi terbaru menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia saat ini adalah anak-anak muda dengan rentang usia 28-29 tahun.

Kelompok usia itu masihlah masuk generasi milenial (terlahir pada tahun 1980-1995). Namun saat ini kelompok usia di bawah milenial yakni generasi Z (terlahir pada tahun 1996-2009) mulai menjadi sorotan.

Anak-anak Z yang berada di rentang umur 13-26 tahun memang bisa terbilang masihlah begitu muda untuk bicara soal masa depan.

Hanya saja gen Z senior adalah mayoritas mereka yang sudah fresh graduate dan memiliki penghasilan sendiri. Gen Z-gen Z senior inilah yang kini mulai disorot berkat gaya hidupnya yang juga cukup konsumtif, sampai-sampai lupa investasi.

Padahal investasi merupakan satu-satunya cara untuk mempunyai finansial yang lebih baik dalam kondisi perekonomian serba tidak tentu, seperti ancaman resesi 2023 mendatang.

Gen Z senior haruslah menjadi kelompok yang melek finansial dan mulai mengalokasikan penghasilan mereka ke produk investasi yang tepat.

Dari banyaknya produk investasi untuk gen Z, obligasi muncul sebagai salah satu yang paling menonjol dan layak dipilih.

Memang seunggul apa obligasi sampai wajib dipertimbangkan anak-anak muda? Ulasan berikut ini akan sangat membantu Anda menentukan:

1. Berikan Penghasilan Tetap

Fakta pertama yang menjadi obligasi investasi untuk gen Z adalah produk ini memberikan penghasilan tetap bagi para pemiliknya.

Sesuai dengan penjelasan di website resmi OJK (Otoritas Jasa Keuangan), obligasi adalah surat utang jangka panjang atau jangka menengah yang bisa diperdagangkan.

Dalam obligasi tertera janji dari pihak penerbit untuk membayar imbalan kepada pembelinya. Di mana imbalasn ini bisa berupa bunga (kupon) yang wajib dibayar sesuai tenor.

Sehingga para pemilik obligasi selain akan memperoleh kembali dana pokok utang yang mereka berikan di akhir waktu, dalam kurun waktu tertentu juga akan memperoleh kupon.

Baca juga : Tertarik? Ini Keuntungan Investasi Emas Online

Dengan begitu para pemilik obligasi akan tetap mendapat penghasilan tetap dengan tingkat pertumbuhan nilai yang relatif stabil.

2. Penerbit Obligasi Terpercaya

Ilustrasi Obligasi (1)
foto: rupixen.com/UNSPLASH

Dalam kondisi perekonomian yang serba tidak tentu sekalipun literasi keuangan di masyarakat sudah semakin berkualitas, tetap saja ancaman investasi bodong di depan mata.

Gen Z sebagai kelompok usia yang masih muda adalah kelompok yang cukup berpeluang jadi korban investasi tak bertanggung jawab. Untuk itulah penting bagi anak-anak muda memahami betul produk investasi yang hendak dia pilih.

Jika menggunakan obligasi, pembeli tak perlu banyak pertimbangan karena penerbit obligasi alias surat utang cenderung meyakinkan.

Setidaknya ada dua pihak utama penerbit obligasi yakni yang pertama adalah perusahaan demi memperoleh dana segar dari investor, dan kedua adalah pemerintah yang dananya akan digunakan untuk pos-pos pembiayaan di APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).

Tentu saja fakta ini menjadikan obligasi yang diterbitkan pemerintah bakal jauh lebih menguntungkan.

Baca juga : Investasi Tas Mewah Jelang Resesi

Karena dalam kondisi apapun, negara bakal membayarkan kembali pokok utang yang diberikan investor obligasi, lengkap dengan besaran kupon sesuai kesepakatan.

Dibandingkan perusahaan, peluang negara untuk bangkrut juga makin kecil sehingga membuat investor jauh lebih nyaman.

3. Investor Kena Pajak

Salah satu fakta lain yang mungkin tak banyak diketahui adalah pemegang obligasi alias investor tetap dikenai pajak.

Kendati begitu hal ini tidak menyurutkan posisi obligasi sebagai salah satu investasi untuk gen Z. Pajak yang dibebankan ini berupa PPh (Pajak Penghasilan) atas imbal hasil atau bunga kupon.

Di mana besaran pajak itu sebesar 5% pada tahun 2020 dan 10% di tahun 2021, sesuai PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 5 Tahun 2019.

Besaran pajak ini bisa dibilang menurun daripada sebelumnya yang mencapai 15%. Tidak hanya bunga obligasi pemerintah, aturan PPh ini juga berlaku pada obligasi swasta entah dana investasi real estate,

4. Tiga Keunggulan Obligasi

Sebagai salah satu strategi dalam pengelolaan finansial di masa depan, setiap produk investasi jelas memiliki keunggulan dan risiko kerugian.

Hal inilah yang kadang luput dari perhatian gen Z karena usia begitu muda dan literasi atas aset investasi cukup rendah. Supaya makin yakin, berikut ini adalah tiga keunggulan obligasi yang membuatnya layak jadi investasi untuk gen Z:

  • Memberikan penghasilan tetap bagi setiap investor karena adanya sistem pembayaran kupon sesuai waktu yang disepakati pihak penerbit
  • Jika obligasi dipegang hingga jatuh tempo, Anda akan memperoleh kembali pokok utang yang dibayarkan pihak penerbit
  • Obligasi merupakan produk investasi yang bisa dijual di pasar sekunder. Nantinya investor akan memperoleh capital gain yakni keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual

5. Tiga Risiko Obligasi

Ilustrasi Obligasi (2)
foto” Christian Dubovan/UNSPLASH

Kendati punya sejumlah keunggulan, obligasi bukanlah aset investasi sempurna sehingga sudah pasti punya risiko kerugian.

Apa saja? Berikut beberapa pertimbangan yang bisa Anda perhatikan terlebih dulu sebelum menggelontorkan dana investasi lewat obligasi:

  • Risiko paling besar dari obligasi adalah penerbit tidak bisa melakukan pembayaran. Risiko ini terjadi ketika obligasi yang Anda beli diterbitkan oleh perusahaan. Jika memang demikian, pokok utang dan kupon yang jadi kewajiban penerbit akan gagal diperoleh
  • Kendati obligasi bisa diperdagangkan, potensi kalau obligasi itu tidak ada yang bersedia untuk membelinya bukanlah sesuatu yang tak mungkin terjadi. Bahkan bisa saja di pasar sekunder, obligasi tersebut memiliki harga sangat rendah sehingga investor bisa merugi
  • Faktor utama yang membuat harga obligas berubah adalah inflasi dan suku bunga. Saat inflasi dan suku bunga naik, ada peluang harga obligasi untuk anjlok dan sebaliknya. Sehingga ketika resesi di tahun 2023 nanti terjadi, Anda tentu harus lebih bijak untuk menjual obligasi

6.  Obligasi Berdasarkan Sistem Pembayaran Kupon

Setidaknya ada dua jenis obligasi jika dilihat dari sistem pembayaran kupon. Jenis pertama adalah obligasi tanpa kupon (zero cuupon bonds) yang tidak wajib membayarkan bunga/kupon sesuai ketentuan.

Namun Anda tidak boleh cemas karena kupon bakal dibayarkan penerbit saat jatuh tempo.

Sedangkan jenis obligasi yang kedua adalah obligasi kupon tetap (fixed coupon bonds) yang mana tingkatan kupon bunga sudah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana. Nantinya kupon ini wajib dibayarkan penerbit sesuai ketentuan waktu secara rutin.

7. Obligasi Berdasarkan Penerbit

Kalau dilihat sesuai dengan pihak penerbit, ada tiga jenis obligasi yakni obligasi korporasi (corporate bond), obligasi pemerintah (goverment bond) dan obligasi ritel.

Sesuai dengan namanya, obligasi korporasi diterbitkan oleh perusahaan entah yang berupa BUMN maupun perusahaan swasta. Biasanya obligasi korporasi ini berupa obligasi kupon tetap, obligasi kupon variabel dan obligasi syariah.

Sedangkan untuk obligasi pemerintah, sudah pasti dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia dan biasanya berjenis obligasi kupon tetap seri FR (fixed rate) dan obligasi kupon variabel seri VR (variable rate).

Namun satu yang harus Anda tahu adalah pemerintah juga menerbitkan obligasi berprinsip syariah atau sukuk negara.

Baca juga : Pembelian Terbaik Di Umur 20-an, Belanja Apa Saja?

Untuk jenis terakhir merupakan obligasi ritel yang juga sama-sama dikeluarkan oleh pemerintah.

Hanya saja obligasi ritel ini biasanya ditawarkan pada individu atau perseorangan lewat agen penjual yang ditunjuk pemerintah. Melalui obligasi ritel, gen Z dan anak-anak muda lainnya bisa memiliki obligasi dengan modal yang relatif terjangkau.

8. Obligasi Syariah

Fakta terakhir yang menjadi obligasi sebagai produk investasi untuk gen Z adalah ditawarkan juga sesuai aturah syariat Islam.

Menyadari bahwa penduduk Indonesia mayoritas Muslim, membuat obligasi syariah bisa jadi produk investasi yang tepat. Anda bisa mempertimbangkan sukuk (obligasi syariah) berjenis mudharabah atau ijarah.

Untuk obligasi mudharabah, investor akan memperoleh pendapaan sesuai akad bagi hasil setelah mengetahui pendapatan emiten (penerbit obligasi). Sedangkan untuk obligasi ijarah, digunakan akad sewa sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap, bisa dketahui serta diperhitungkan sejak obligasi diterbitkan oleh emiten.

Bagaimana? Terbukti bukan kalau obligasi merupakan investasi untuk gen Z? Dengan berbagai fakta di atas, Anda bisa menentukan jenis obligasi yang tepat dan sesuai tujuan keuangan di masa depan. Dengan begitu, Anda tidak akan bingung ketika dunia tengah berjuang melawat resesi global pada tahun 2023 mendatang. Intinya, tetaplah semangat dan jangan berhenti belajar soal finansial.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar