7 Kebiasaan Baik Atur Keuangan yang Wajib Anda Miliki

Tak perlu malu mengakui, keinginan untuk mempunyai kehidupan yang finansialnya sejahtera bahkan saat tidak produktif lagi adalah keinginan hampir setiap orang. Banyak hal dilakukan untuk mewujudkannya, terutama dengan menerapkan sejumlah kebiasaan baik atur keuangan sejak muda. Karena jika terlambat menerapkannya, bukan tak mungkin finansial bakal kacau balau.

Apalagi bagi Anda yang nantinya bakal menjadi kepala keluarga, memiliki pasangan dan buah hati, tentu kewajiban dalam hal finansial bakal jadi lebih besar. Jika tidak membiasakan hal-hal positif tersebut, keuangan yang bermasalah akan bikin hidup tertekan dan anggota keluarga yang disayangi bakal sulit memperoleh kebahagiaan serta kesejahteraan.

Tentu tak ingin mengalami hal seperti itu, bukan?

Tenang saja, Anda masih memiliki kesempatan untuk membuat finansial yang lebih baik. Bahkan sekalipun baru dimulai di pekan ketiga buan Februari 2022 nanti, Anda bisa menerapkan sejumlah kebiasaan baik atur keuangan yang dimulai dari sendiri. Apalagi jika melihat kondisi perekonomian di tahun ini yang disebut-sebut bakal bangkit setelah pandemi Covid-19 sejak 2020, harapan untuk sejahtera masih besar.

Baca juga: Manfaat Kartu Kredit bagi Anda yang Memiliki Bisnis Sendiri

Seperti Apa Kondisi Perekonomian di 2022?

Kondisi Ekonomi 2022
© shutterstock

Sebelum membahas seperti apa sih kebiasaan baik atur keuangan yang setidaknya wajib kita miliki, tak ada salahnya jika Anda mengintip kondisi perekonomian Indonesia sekaligus apa yang terjadi di dunia saat ini.

Memangnya, untuk apa?

Karena bagaimanapun juga, kondisi perekonomian global yang terhantam wabah corona juga sangat memberikan pengaruh ke Indonesia dan seluruh warga negaranya. Contohnya, pandemi membuat banyak harga saham rontok dan bank-bank sentral global terpaksa memangkas suku bunga acuan mereka yang sedikit banyak berimbas ke harga-harga kebutuhan pokok dan mempengaruhi finansial setiap individu.

Bahkan di tahun pertama pandemi terjadi, Indonesia sampai tergelincir ke jurang resesi ekonomi yang ditandai dengan makin meningkatnya angka pengangguran, dan catatan minus dalam pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut. Berbagai kondisi makro ekonomi itu rupanya juga menggesek kondisi keuangan setiap orang yang dituntut lebih bekerja keras demi bertahan selama wabah corona.

Dan untuk tahun 2022 ini, Laporan WEO (World Economic Outlook) IMF (International Monetary Fund) edisi Januari kemarin menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia bisa dibilang mencatat raihan positif, di saat perekonomoian global menurun. Kondisi ini sudah terlihat sejak 2021 lalu di mana perekonomian negeri tumbuh 5,9% sedangkan untuk lingkup global justru disebut bakal alami moderasi ke level 4,4% atau turun 0,5% pada tahun 2022.

Menurut Febrio Kacaribu selaku Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenku, perekonomian Indonesia yang diprediksi tetap positif di tahun 2022 hingga 2023 nanti adalah bukti penanganan pandemi Covid-19 yang efektif dan memuaskan. Febrio melanjutkan jika negara-negara maju banyak yang bakal melorot untuk pertumbuhan ekonominya di 2022 seperti Amerika Serikat, kawasan Eropa hingga China.

Kondisi lebih baik justru bakal terjadi di kawasan Asia Tenggara yang diduga kuat akan ada dalam tren meningkat sejak 2021 hingga 2023 mendatang. Indonesia yang mencatat pertumbuhan 3,3% di 2021, akan mencapai 5,6% dan 6,0% di 2022 serta 2023. Kondisi ini senada dengan laporan BPS (Badan Pusat Statistik) yang menyebut PDB Indonesia tumbuh sebesar 5,02% di kuartal akhir tahun 2021.

Meskipun sudah memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan sejak 2021, pemerintah sepertinya tak mau bertindak gegabah. Bahkan di sepanjang 2022, Bisnis melansir jika pemerintah tetap harus waspada terhadap risiko global yang bisa saja dipicu dinamika pandemi Covid-19, permasalahan geopolitik hingga normalisasi kebijakan ekonomi yang dilakukan negara-negara maju.

Menurut Eko Listiyanto selaku Wakil Direktur Eksekutif INDEF (Institute of Development of Economics & Finance), setidaknya ada empat risiko yang bakal mempengaruhi perekonomian Indonesia di tahun 2022.

Keempat hal itu adalah peluang mutasi virus Covid-19 setelah varian Omicron, gejolak harga minyak yang dipicu kondisi geopolitik Rusia-Ukraina, lonjakan harga komoditas serta risiko inflasi, dan pengurangan pembelian aset oleh The Fed (Federal Reverse). Tak heran kalau keempat risiko itu justru membuat Eko memprediksi jika pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2022 bakal lebih rendah dari 2021.

Waduh, apakah bakal membahayakan?

Risiko memang akan selalu ada. Namun seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Anda tetap harus bertahan dan mencoba berpikir positif, sembari tetap melakukan sejumlah kebiasaan baik atur keuangan agar lebih tenang.

Apakah Anda Punya Kebiasan-Kebiasaan Baik Atur Keuangan Ini?

Hal-Hal Baik Atur Keuangan
via bank jateng

Melihat bagaimana gejolak perekonomian bakal masih akan terjadi di tahun 2022, membuat masing-masing dari kita wajib disiplin untuk mewujudkan kesehatan finansial. Sebagai hal fundamental yang harus dilakukan setiap orang karena memberikan pengaruh ke kesuksesan diri, berikut adalah tujuh kebiasaan baik atur keuangan yang harus Anda miliki:

Baca juga: Perhatikan Ini yah Sebelum Belanja Dengan Paylater

1.    Hidup Hemat

Kebiasaan baik atur keuangan yang pertama dan bisa dibilang sangat mendasar adalah penerapan hidup hemat. Karena dengan terbiasa hidup hemat, penghasilan sekecil atau sebesar apapun bisa dialokasikan dengan lebih efektif. Gaya hidup hemat ini cenderung sulit untuk dilakukan apalagi di era teknologi seperti sekarang, yang membuat banyak orang tergiur untuk menerapkan pola hidup konsumtif.

Untuk bisa menerapkan kebiasaan hidup hemat, Anda haruslah cukup dewasa dan bijaksana dalam menggunakan penghasilan. Cobalah untuk berpikir ulang sebelum membeli sesuatu, apakah memang benar-benar Anda butuhkan saat ini atau cuma sekadar gengsi belaka. Dengan pemikiran seperti ini, Anda akan bisa terhindar dari pengeluaran tidak penting dan jauh lebih hemat.

Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan agar terbiasa hemat lewat sistem pos-pos keuangan. Misalkan saja, Anda punya penghasilan Rp5 juta per bulan, lalu dibagi ke beberapa bagian entah disimpan lewat sub-sub rekening maupun amplop. Seperti Rp500 ribu untuk menabung, Rp1 juta untuk dana investasi, Rp1 juta untuk persiapan dana darurat, maka Anda hanya punya Rp2,5 juta tersisa untuk kebutuhan bulanan.

Jika dari porsi Rp2,5 juta itu sudah dipakai Rp1 juta untuk bayar tagihan dan Rp1 juta untuk belanja bulanan, maka praktis Anda hanya menyisakan Rp500 ribu untuk biaya konsumtif dalam sebulan seperti nonton bioskop, nongkrong di cafe hingga jajan streetfood. Sehingga kalau ingin dana itu mampu memenuhi kebutuhan selama satu bulan, mau tak mau memang wajib berhemat.

2.    Rutin Menabung

Pernahkah Anda mendengar pepatah rajin menabung pangkal kaya? Ucapan yang mungkin sering kita dengar sejak kecil ini, justru merupakan salah satu kebiasaan baik atur keuangan yang wajib dilakukan ketika dewasa dan memiliki pekerjaan. Ya, menabung tidak memiliki sisi negatif tapi justru menjadi hal mendasar terkuat jika ingin mewujudkan kesejahteraan finansial di masa depan.

Tak perlu menabungkan setengah dari penghasilan, karena biasanya porsi untuk menabung itu minimal 10% dari pendapatan. Jadi seandainya Anda mempunyai gaji Rp4 juta per bulan, setidaknya Rp400 ribu harus langsung disisihkan setiap bulannya untuk kewajiban menabung. Lakukan secara disiplin dan rutin, maka Anda akan mempunyai dana simpanan dalam kurun waktu tertentu.

Kesalahan utama dalam menabung biasanya baru dilakukan setelah penghasilan digunakan untuk membayar tagihan dan berbelanja kebutuhan. Hal ini jelas salah besar karena justru harus disisihkan di awal. Anda pun bisa menambah porsi tabungan sedikit demi sedikit karena jika kebiasaan baik ini dilakukan secara rutin, gaya hidup hemat jelas bakal Anda lakukan, alih-alih konsumtif.

3.    Punya Asuransi

Tak banyak yan sadar kalau kebiasaan baik atur keuangan berikutnya adalah mempunyai asuransi. Apalagi di zaman serba sulit dan tidak menentu seperti pandemi Covid-19 ini, asuransi adalah produk keuangan wajib demi membuat hidup tenang karena Anda bakal memiliki perlindungan. Terutama jika Anda kepala keluarga, membekali diri dan keluarga dengan asuransi kesehatan serta jiwa adalah wajib.

4.    Belanja Cerdas

Belanja bulanan adalah salah satu kegiatan wajib yang tentunya dilakukan setiap orang, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga. Belanja bulanan ini biasanya mencakup pembelian kebutuhan pokok hingga kebutuhan-kebutuhan sekunder atau bahkan tersier, sehingga biasanya porsi pos keuangan ini dapat jadi yang terbesar dari pengeluaran bulanan.

Nah, supaya tidak semakin menggerus keuangan, ada baiknya kalau Anda menerapkan kebiasaan baik atur keuangan lewat kegiatan berbelanja yang cerdas. Apa maksudnya? Anda harus bisa menahan nafsu konsumtif semaksimal mungkin. Ada baiknya mencatat terlebih dulu barang-barang yang diperlukan selama sebulan ke depan, supaya saat berbelanja terhindar dari ‘lapar mata’.

Anda juga dapat memanfaatkan diskon yang ditawarkan oleh berbagai sistem pembayaran seperti kartu debet, e-money, hingga kartu kredit yang membuat nominal belanja bulanan jadi lebih efisien. Namun ingat untuk kartu kredit, jangan dilakukan secara berlebihan dan pastikan besar tagihannya masih sesuai kemampuan finansial Anda yang sudah dianggarkan.

5.    Tidak Tunda Investasi

Kebiasaan baik atur keuangan berikutnya yang bisa Anda terapkan adalah tidak pernah menunda yang namanya investasi. Bagaimanapun juga, investasi merupakan salah satu cara untuk menciptakan kesejahteraan finansial. Tak peduli berapapun penghasilan Anda, cobalah untuk berinvestasi. Misalkan saja penghasilan hanya Rp2,5 juta per bulan, maka minimal Rp500 ribu wajib dialokasikan untuk investasi.

Bisa apakah dengan Rp500 ribu dalam investasi? Reksadana, P2P Lending hingga menabung saham atau menabung emas. Ingat, sesuatu yang dilakukan sedikit demi sedikit, maka bisa memberikan hasil besar di kemudian hari. Hal ini juga berlaku dalam investasi sehingga jangan sampai ditunda.

6.    Bijaksana dalam Berhutang

Apakah untuk mewujudkan finansial sejahtera kita tidak boleh berhutang? Tentu saja tidak. Anda bisa saja berhutang hanya saja cobalah untuk mengalihkannya ke hutang produktif, alih-alih konsumtif.

Apa maksudnya?

Misalkan saja Anda mengajukan KUR (Kredit Usaha Rakyat) demi membuka bisnis kuliner, maka itu adalah hutang produktig. Begitu pula KPR (Kredit Pemilikan Rumah) bisa dianggap produktif karena rumah ke depannya bisa jadi aset investasi menjanjikan. Hutang-hutang produktif ini jauh lebih baik daripada sekadar pengajuan kredit cicilan HP mewah atau belanja tidak urgent lainnya. Sehingga bijaklah berhutang.

Baca juga: Cara Mencegah Masalah Keuangan Rumah Tangga Pasangan Baru

7.    Catat Pengeluaran-Pemasukan

Kebiasaan baik atur keuangan yang terakhir adalah wajib mencatat pengeluaran dan pemasukan. Sangat mudah dilakukan, tapi kebanyakan orang-orang malas mewujudkannya. Padahal dengan rajin mencatat pos pemasukan dan pengeluran sekalipun nominalnya sangat kecil, akan membuat Anda bisa mengendalikan arus uang yang keluar.

Anda bisa tahu ke mana saja penghasilan bulanan dilakukan, sehingga lebih mudah menerapkan evaluasi. Melalui proses evaluasi, Anda akan bisa menghapus pengeluaran yang tidak penting atau urgent seperti biaya nongkrong di cafe atau beli pakaian branded demi tren sehingga bisa lebih mudah dialokasikan ke dana darurat, menambah porsi tabungan atau bahkan modal investasi yang bermanfaat untuk finansial di masa depan.

Nah, bagaimana? Sebetulnya tidak sulit bukan dalam menerapkan kebiasaan baik atur keuangan? Asalkan Anda cukup disiplin dalam melakukannya, finansial lebih baik di 2022 jelas bukan sekadar impian lagi.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar