10 Kesalahan Pemula dalam Investasi Reksadana dan Wajib Dihindari

Modal awal yang terjangkau, keberadaaan MI (Manajer Investasi) yang mengelola dana dan bisa diakses di mana saja adalah beberapa alasan kenapa banyak investor-investor baru memilih reksadana. Hanya saja para pemula ini kerap kali tanpa sadar melakukan kesalahan investasi reksadana yang berujung kerugian.

Bukan tanpa alasan kenapa banyak kesalahan investasi reksadana dilakukan investor pemula. Karena memang orang-orang baru ini cenderung mengharapkan keuntungan yang besar dan cepat, tanpa mau belajar lebih mendalam soal reksadana.

Padahal sekalipun mempunyai banyak keuntungan dan kemudahan, reksadana tetaplah instrumen investasi yang pastinya selain menawarkan profit, tetap saja mempunyai potensi risiko. Sebagai instrumen investasi pula, reksadana adalah sebuah upaya pengelolaan finansial yang baik sehingga keuntungan bakal makin besar terasa dalam jangka panjang.

Baca juga: Apa itu Reksadana? Berikut Penjelasan Lengkapnya!

Hal-hal yang cukup fundamental itulah kadang kala tak dipahami para investor baru yang mayoritas kalangan generasi muda. Alih-alih memberikan keputusan secara tepat, berbagai kesalahan pemula dalam investasi reksadana itu malah berujung pada kerugian yang cukup besar.

Nah, supaya Anda tidak ikut terseret pada banyaknya kesalahan investasi reksadana, berikut beberapa hal yang wajib Anda pelajari sekaligus hindari.

10 Kesalahan Investasi Reksadana yang Sering Dilakukan Investor Pemula

1. Tujuan Keuangan Tidak Jelas

Kesalahan investasi reksadana pertama yang sering dilakukan investor pemula adalah tidak mempunyai tujuan keuangan. Kondisi ini memang sering dialami oleh kalangan yang benar-benar buta investasi, dan sebetulnya merupakan hal yang fatal. Jika Anda tak tahu atau tak punya tujuan keuangan dan cuma ikut-ikutan investasi reksadana, alih-alih untung, justru malah merugi.

Jika boleh dianalogikan, mereka yang tak punya tujuan keuangan jelas saat investasi reksadana itu tak ubahnya seperti orang yang datang ke bandara tapi tak mempunyai tujuan mau naik pesawat apa dan ke mana. Sebetulnya ingin berjemur di pantai yang indah, tapi malah ikut-ikutan banyak orang beli tiket pesawat ke Nepal yang merupakan kawasan pegunungan. Hasilnya? Jelas salah tujuan dan merugi. Kondisi seperti inilah yang dialami investor tanpa tujuan.

Untuk itulah sebelum Anda memastikan diri membeli reksadana, pastikan tahu apa tujuan keuangan yang mau dicapai. Entah untuk biaya pensiun, biaya pendidikan atau mungkin sekadar warisan bagi anak cucu.

2. Salah Pilih Produk Reksadana

Salah pilih produk reksadana
Salah pilih produk reksadana © investasi.online

Berkaitan dengan kesalahan investasi reksadana yang pertama, maka akan membuat Anda salah pilih produk. Seperti yang diketahui, setidaknya ada empat jenis produk reksadana yang umum ditawarkan ke masyarakat pemodal. Empat jenis produk itu adalah reksadana saham, reksadana campuran, reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. Masing-masing produk ini memiliki karakteristik yang berbeda.

Reksadana saham contohnya, memiliki peluang profit yang besar tapi juga potensi rugi sebanding. Menjadi masalah kalau Anda cuma mau untung besar tapi tak mau terima risiko dan pilih reksadana saham, maka bisa menjadi kekecewaan jika kondisi pasar keuangan membutuk. Untuk itulah tak ada salahnya kalau Anda cukup aktif bertanya kepada MI mengenai produk-produk reksadana dan mencari info tambahan sebelum investasi.

3. Tak Pelajari Risiko Reksadana

Kesalahan investasi reksadana yang ketiga adalah para pemula ini sering tidak mempelajari risiko reksadana. Padahal seperti yang sudah disinggung sebelumnya, reksadana sebagai instrumen investasi, tetap memiliki risiko. Apalagi untuk reksadana saham, potensi risikonya jauh lebih besar tapi memang sangat sebanding dengan peluang profit yang ditawarkan.

Saat seorang investor tak paham risiko, mereka akan sering melakukan keputusan yang konyol. Contohnya Anda memilih reksadana saham karena tertarik pada return yang tinggi. Namun dalam kondisi krisis ekonomi memburuk seperti pandemi Covid-19 saat ini, pasar modal jelas bergejolak dan Anda ketar-ketir. Lantaran tak mau makin rugi, Anda buru-buru menjual seluruh reksadana saham yang dipunya dan dialihkan ke reksadana pasar uang.

Padahal tanpa Anda tahu, perekonomian memang memburuk tapi akan ada masanya untuk kembali pulih dalam waktu 1-2 tahun. Ketika harga-harga saham itu kembali stabil bahkan naik berkali-kali lipat, Anda yang sudah menjual reksadana saham secara terburu-buru, jelas tak akan dapat untung. Kondisi ini terjadi karena Anda sama sekali tidak paham soal risiko reksadana. Dimana naik-turunnya reksadana adalah sebuah risiko yang harus diterima dengan tenang supaya bisa menentukan keputusan yang tepat.

Baca juga: 4 Jenis Investasi Reksadana Menguntungkan dan Aman

4. Tak Paham Reksadana Online

tak paham reksadana online
tak paham reksadana online © via Kaskus

Perkembangan zaman yang serba online juga dialami oleh reksadana, yang sebetulnya memiliki banyak sekali manfaat. Hanya saja para investor pemula seringkali tidak paham betapa bergunanya aplikasi atau platform online untuk investasi reksadana. Mereka masih sering pergi ke kantor perusahaan MI atau sekuritas hingga bank kustodian, untuk membeli reksadana.

Padahal melalui platform online, segala informasi mengenai reksadana ditampilkan. Anda tak perlu repot-repot dalam bertransaksi, karena semua bisa dilakukan melalui smartphone. Saat ini bahkan agen penjual reksadana sudah memiliki aplikasi mobile yang membuat investor bisa memantau portfolio sesuka hati. Untuk itulah jika pihak MI memiliki aplikasi mobile, pastikan Anda mempelajari bagaimana cara menggunakannya supaya bisa memaksimalkan keuntungan.

5. Ogah Baca Dokumen Prospektus

Sebagai dokumen penting saat investasi reksadana, wajib hukumnya bagi semua investor memahami prospektus. Lewat prospektus, Anda akan memperoleh informasi tentang produk reksadana sebelum memutuskan untuk membeli. Sehingga bisa disimpulkan jika Anda enggan membaca atau memahami prospektus lalu langsung beli reksadana, tentu bisa merugi.

Dalam sebuah prospektus reksadana, ada beberapa hal yang wajib Anda pahami seperti rekam jejak dan pengalaman MI, tujuan dari produk reksadana sekaligus strategi pengelolaan aset, manfaat sekaligus faktor-faktor yang jadi risiko reksadana itu sendiri, imbalan jasa MI, hak=hak pemegang unit, pembubaran sekaligus likuidasi reksadana sampai tata cara pembelian/penjualan.

6. Melakukan Trading Reksadana

trading reksadana
trading reksadana © Akseleran

Pada dasarnya kesalahan pemula dalam investasi reksadana berakar dari keinginan dapat untung besar dalam waktu singkat. Hal ini yang membuat mereka tergiur melakukan trading, yakni aksi jual-beli reksadana dalam jangka pendek demi meraup untung lewat kenaikan harga. Padahal tanpa disadari, trading dalam reksadana sama saja dengan berjalan ke kerugian.

Kenapa begitu? Reksadana pada dasarnya adalah investasi jangka menengah dan panjang, Para investor reksadana adalah pemula yang sama sekali belum paham pasar keuangan. Sehingga ketika Anda nekat jadi trader tanpa mempunyai skill mumpuni, Anda tak akan bisa memprediksi pergerakan harga jangka pendek yang bikin rugi total.

7. Fokus Jangka Pendek

Apakah pertimbangan Anda membeli sebuah produk reksadana? Melihat kinerjanya dalam jangka pendek? Hmm, kalau seperti itu, ada baiknya Anda mulai mengubah strategi. Yap, daripada fokus pada performa reksadana jangka pendek, Anda harus mempertimbangkan kinerja jangka panjang.

Baca juga: 5 Pilihan Bank Penjual Reksadana Terbaik 2020

Kok begitu?

Karena ketika Anda melihat kinerja sebuah produk reksadana dalam jangka panjang, maka akan terlihat bagaimana konsistensi kinerjanya apakah positif atau negatif, terutama ketika terjadi krisis ekonomi. Beberapa produk reksadana ada yang cuma mencatat hal positif dalam kurun waktu setahun, tapi ternyata sebelumnya selalu negatif dan kemudian tak bisa bertahan saat ekonomi memburuk. Kalau sudah begini, Anda tentu akan rugi sehingga pertimbangkanlah dalam waktu lama.

8. Investasi Lewat Unit Link

Investasi dengan Unit Link
Investasi dengan Unit Link © Bareksa

Seperti yang diketahui, investasi reksadana tidak memiliki jaminan perlindungan jiwa. Sehingga jika terjadi hal buruk pada investor, maka dana yang ada pada reksadana bakal berhenti begitu saja, tak bisa dicairkan atau diwariskan. Hal-hal inilah yang akhirnya membuat orang memilih Unit Link sebagai bentuk investasi sekaligus asuransi, tapi justru merupakan salah satu kesalahan investasi reksadana yang paling mendasar.

Kenapa membeli Unit Link dianggap sebagai kesalahan pemula dalam investasi reksadana?

Jawabannya sangat simple karena Unit Link ini mahal!

Jika Anda melakukan investasi reksadana lewat Unit Link, maka akan dikenai biaya tambahan sebesar 5% dari nilai investasi. Alih-alih untuk MI yang mengelola reksadana, biaya ini bakal menjadi hal milik pihak asuransi penyedia Unit Link. Tentu akan merugikan ketika profit reksadana yang diharapkan tidak besar, tapi langsung terpotong biaya Unit Link. Sehingga untuk pemula, ada baiknya beli reksadana murni dan produk asuransi sendiri-sendiri.

9. Tidak Melakukan Diversifikasi

Kesalahan investasi reksadana berikutnya yang kerap dialami banyak investor terutama pemula adalah tidak melakukan diversifikasi. Diversifikasi investasi sangatlah perlu supaya karena memang seyakin apapun Anda pada instrumen investasi, jangan pertaruhkan semua uang yang dimiliki. Karena ketika instrumen itu mendadak anjlok parah, Anda bisa kehilangan seluruh uang.

Untuk itulah coba pertimbangkan berinvestasi pada reksadana saham, reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap. Jika tak mau reksadana saja, Anda bisa mencoba investasi emas hingga menabung uang di deposito bank. Dengan begitu ketika reksadana mengalami penurunan dan merugi, harga emas masihlah stabil dan deposito jelas akan memberikan untung saat jatuh tempo.

10. Terlalu Banyak Menunda

tunda investasi
tunda investasi © XDana

Ada yang bilang kalau terlalu lama menunda, maka kesuksesan akan tiba lebih lama. Kondisi ini juga terjadi jika Anda berinvestasi. Sebagai investasi yang memberikan profit terbesar dalam jangka panjang, semakin cepat Anda memulai beli reksadana, maka artinya keuntungannya juga makin tinggi. Anda yang masih first jobber beli reksadana di usia 20 tahunan, bisa saja sudah memperoleh return sangat tinggi saat berumur 35 tahun.

Baca juga: Inilah Panduan Beli Reksadana Lewat Aplikasi Online

Kondisi ini tentu tak sama dengan mereka yang barus beli reksadana di usia 30 tahun, maka baru bisa memperoleh return maksimal di umur 40 tahunan. Karena itulah agar memperoleh manfaat maksimal dari pembelian reksadana, jangan tunda untuk berinvestasi. Apalagi kalau Anda berpikir baru mau investasi reksadana jika sudah memperoleh penghasilan besar, sudah menikah dan berkeluarga, itu adalah salah satu kesalahan investasi reksadana yang sering dilakukan pemula.

Jika sudah memahami sepuluh kesalahan investasi reksadana yang sering dilakukan pemula, maka Anda bisa mulai berinvestasi dengan lebih bijaksana. Saat sudah mampu menetapkan keputusan yang lebih tepat, Anda tentu akan lebih tenang dalam berinvestasi. Sehingga sudah pasti tujuan finansial bakal tercapai dan masa tua bisa dilalui dengan lebih nyaman. Yuk, investasi reksadana!

Bagikan ;

Tinggalkan komentar