8 Tips Kelola Keuangan Pasca Bercerai Bagi Perempuan

Bagi setiap pasangan suami istri tentu tak ada yang pernah berharap kalau pernikahan indah mereka berakhir di perceraian. Meskipun terjadi karena prahara dan ingin cepat-cepat berpisah, perceraian jelas terasa menyiksa. Kehidupan setelah perceraian, terutama bagi perempuan tentu akan berat. Termasuk dengan bagaimana para janda ini harus pintar-pintar mengelola keuangan pasca bercerai.

Seperti yang Anda tahu, di dalam sebuah pernikahan suami memang memiliki tanggung jawab utama sebagai penyokong keuangan keluarga. Mulai dari membayar cicilan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), pendidikan anak, belanja rumah tangga hingga tagihan-tagihan lainnya. Tentu saja ketika perceraian itu terjadi, akan ada kelimpungan yang terjadi terutama dalam mengembalikan kestabilan finansial.

Bagi pasangan suami istri yang sama-sama bekerja dan terbiasa menerapkan sistem joint income, tentu hanya perlu mengelola keuangan masing-masing. Namun kondisi keuangan akan cukup berat jika Ibu tidak bekerja. Memang untuk kebutuhan anak, Ayah tetap menanggung hingga cukup umur, sekalipun anak tinggal bersama mantan istri. Tetapi jika si mantan suami tidak bertanggung jawab, perempuan haruslah bekerja keras.

Baca juga: Tips Kelola Keuangan Bagi Tulang Punggung Keluarga yang Masih Single

Terbiasa hidup ditanggung oleh suami dan kemudian jadi sendiri, kondisi keuangan pasca bercerai bagi perempuan memang tak pernah mudah. Namun Anda tak perlu cemas berlebihan karena ada beberapa hal yang tetap bisa dilakukan sehingga seorang single mother tetap mampu mencapai kesejahteraan finansial.

Pandemi Covid-19 dan Kasus Perceraian

pandemi perceraian
© Getty Images

Sebelum membahas bagaimana sih mengelola keuangan pasca bercerai secara tepat, Anda harus tahu bahwa selama pandemi Covid-19 melanda dunia hampir 1,5 tahun terakhir, rupanya angka perceraian ikut bertambah. Di Indonesia sendiri, peningkatan kasus perceraian juga terjadi di beberapa wilayah.

Kabupaten Brebes misalnya, berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Brebes, ada 5.671 perkara perceraian masuk selama periode Maret 2020 – Februari 2021. Dari jumlah itu, teratat 3.513 kasus cerai yang terjadi di masa pandemi dipicu oleh faktor ekonomi. Meskipun begitu bukan berarti diperburuk oleh wabah corona, hanya saja putusan cerai keluar saat pandemi masih terjadi.

Sementara itu di Bandar Lampung, kasus perceraian selama pandemi justru didominasi oleh gugatan yang dilayangkan pihak istri. Kompas melaporkan bahwa selama lima bulan pertama di tahun 2021, ada 829 perkara perceraian. Jumlah ini jelas lebih banyak daripada periode sama di tahun 2020 yang tercatat sebanyak 699 perkara.

Fakta bahwa uang selalu jadi penyebab umum terjadinya perselisihan rumah tangga hingga berujung perceraian, membuat kondisi ini memang wajib jadi perhatian. Apalagi ketika sudah resmi berpisah, mengembalikan kondisi keuangan pasca bercerai supaya jadi stabil adalah PR yang harus dilakukan, terutama bagi perempuan.

Agar Keuangan Pasca Bercerai Tetap Sehat, Simak Tipsnya!

tips atur keuangan
© collegegrant

Bagi perempuan korban perceraian yang tidak bekerja atau mungkin mantan suami tidak bertanggung jawab atas kewajiban biaya hidup anak, mengatur keuangan pasca bercerai adalah keharusan. Daripada menanti belas kasihan dari orang yang memang memilih kabur, beberapa tips berikut ini bisa coba Anda terapkan:

1. Menilai Aset yang Dimiliki

Hal pertama yang wajib Anda lakukan agar kondisi keuangan pasca bercerai tidak kacau adalah dengan menilai aset yang dimiliki. Tak perlu merasa kalau ini adalah tindakan materialistis, karena bahkan dalam UU Pernikahan di Indonesia, perihal pembagian harta gono-gini saat pasangan suami istri bercerai adalah salah satu hal yang harus dilakukan.

Aset ini juga akan berguna untuk menunjang finansial Anda di masa depan, ketika sudah menjadi janda atau single mother. Jika Anda dan pasangan membeli rumah dalam pernikahan, bicarakan kepada siapakah rumah itu diwariskan. Jika kepada anak, apakah artinya anak dan Ibu yang memperoleh hak asuh, boleh tinggal di sana? Jika tidak, mungkin saja mantan pasangan menawarkan untuk menjual.

Kalau rumah tersebut dijual, bagaimana perhitungan pembagiannya? Bahas perihal ini sesuai dengan UU Pernikahan dan pertimbangan masa depan anak. Begitu juga dengan rekening bersama yang selama ini digunakan oleh suami dan istri, besar kemungkinan harus ditutup karena memang pernikahan sudah berakhir.

Baca juga: 7 Tips Menjaga Skor Kredit Saat Pandemi Covid-19

2. Minta Bantuan Profesional

Setelah perhitungan aset sudah selesai dengan transparan, tentu Anda sebagai istri akan memperoleh sejumlah dana. Nah, supaya dalam pengelolaan keuangan pasca bercerai tidak salah kaprah, Anda bisa meminta bantuan profesional seperti perencana keuangan alias financial planner. Tak perlu malu, karena financial planner bakal sangat membantu dalam mengatur keuangan pasca bercerai.

Anda akan diarahkan bagaimana mengelola dana hasil aset pernikahan, agar cukup untuk kebutuhan sehari-hari, maupun persiapan di masa depan. Pihak profesional biasanya juga akan turut membantu Anda untuk mencapai hak tunjangan pasca perceraian yang biasanya dibebankan pada mantan suami. Dengan adanya financial planner, Anda akan lebih bijaksana dan punya tujuan keuangan baru.

3. Penyesuaian Anggaran

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kehidupan pasca perceraian jelas tak lagi sama. Jika sebelumnya sebagai istri, Anda bisa bebas pesan makanan atau minuman online, ikut arisan bersama teman-teman hingga membeli perhiasan baru, maka saat perceraian terjadi, semua kebutuhan pribadi istri akan jadi tanggung jawab sendiri lagi.

Hal inilah yang kadang membuat perempuan akan cukup kesulitan dalam mengelola keuangan pasca bercerai, karena tidak ada lagi pihak yang menanggung kehidupannya. Namun jangan biarkan diri Anda menjadi perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa saat suami tiada. Semua ini dapat Anda mulai dengan melakukan penyesuaian anggaran.

Jika perlu, tulis dulu seluruh pengeluaran bulanan Anda biasanya terlebih dulu. Dari catatan pengeluaran itu, Anda akan tahu pos-pos yang tidak diperlukan lagi dan bisa dihapus, karena memang setelah bercerai, perempuan haruslah hidup hemat. Sisakan kebutuhan pengeluaran yang berkaitan dengan anak, karena itu masih jadi kewajiban mantan suami.

Setelah melakukan penyesuaian anggaran, Anda tentu bisa memperhitungkan berapa kebutuhan penghasilan terbaru. Karena sudah hidup sendiri, mau tak mau memang harus mencari pemasukan dengan cara bekerja.

Baca juga: Jangan Stres, Ini Tips Atur Keuangan Saat Isolasi Mandiri

4. Melunasi Hutang

Yang harus dilakukan berikutnya kalau ingin kondisi keuangan pasca bercerai baik-baik saja adalah dengan melunasi hutang. Seberapa besarpun penghasilan Anda, hidup tak akan menyenangkan jika mempunyai hutang. Untuk itulah usahakan agar hutang benar-benar lunas terlebih dulu, baik itu hutang yang diambil dalam kondisi berpasangan, atau hutang pribadi.

Misalkan saja Anda dan mantan suami pernah mengajukan kredit untuk usaha ke bank, ketika perceraian terjadi, usahakan melunasinya terlebih dulu. Jika memang tidak bisa lunas, konsultasikan dengan pihak bank termasuk upaya restrukturisasi kredit tersebut. Sementara untuk hutang pribadi, Anda dapat melunasinya terlebih dulu agar lebih tenang dalam mengatur finansial sebagai seorang single parent.

5. Miliki Asuransi

Aset sudah beres, hutang lunas dan anggaran telah diperbaharui, maka hal berikutnya yang bisa dilakukan adalah mempunyai asuransi. Yap, perempuan yang hidup sendiri pasca bercerai haruslah dapat mandiri dan tidak merepotkan mantan suami kembali. Untuk mewujudkan kondisi itu, Anda bisa membeli polis asuransi entah asuransi kesehatan atau asuransi jiwa.

Bahkan kalau ingin Anda padukan dengan investasi, Anda bisa mempertimbangkan asuransi unit link. Dengan adanya asuransi ini, Anda tak perlu cemas lagi kalau mendadak sakit atau terkena musibah. Anda akan tetap memperoleh perlindungan secara maksimal dan bisa melewati hari-hari lebih bahagia serta tenang.

6. Lakukan Investasi

Selain asuransi, cara berikutnya supaya keuangan pasca bercerai tidak bermasalah adalah dengan melakukan investasi. Seperti yang sudah Anda tahu, investasi memang merupakan langkah terbaik dalam melipat gandakan keuntungan secara jangka panjang. Ketika Anda bercerai dan tak ada pasangan yang bertanggung jawab atas kehidupan, investasi merupakan pilihan untuk masa depan.

Pilih aset investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan dan profil diri. Jika Anda cukup berani dan bersedia menerima risiko, saham yang menjanjikan keuntungan besar bisa dipertimbangkan. Namun kalau Anda ogah yang berpotensi bikin rugi  besar, pilih saja beberapa instrumen yang cukup aman seperti deposito, obligasi, emas atau bahkan reksadana.

Untuk bisa memilih aset investasi yang tepat, Anda memang harus memperbanyak informasi. Jangan mudah tergiur dengan rayuan investasi jangka pendek, modal ringan tapi keuntungan luar biasa besar, karena bisa saja itu merupakan investasi bodong. Jika Anda mudah tergiur dengan penawaran ini, bisa-bisa bukan untung yang diperoleh, tapi malah buntung.

7. Tetap Fokus Tunjangan Anak

Hal berikutnya lagi yang harus diperhatikan betul bagi perempuan yang baru saja bercerai dan memiliki anak adalah perihal tunjangan anak. Seperti yang sudah Anda tahu, mantan suami tentu memiliki tanggung jawab penuh atas biaya hidup anak hingga dia cukup umur. Meskipun hak asuh anak dimiliki oleh Ibu, Ayah tetaplah wajib mengirimkan biaya setiap bulannya.

Baca juga: Manfaat dan Ide Menabung Jangka Pendek Tahun 2021

Bicarakan mengenai kondisi ini dengan mantan suami termasuk bagaimana dia membayarkan kewajibannya tiap bulan. Tanyakan pula perihal biaya kesehatan anak, apakah asuransi suami dari perusahaan masih tetap memberikan perlindungan pada anak meskipun sudah bercerai atau tidak. Dengan tunjangan yang tetap lancar diberikan, Anda pun tak akan bingung.

8. Kelola Karier

Nah, hal terakhir yang wajib dilakukan supaya kondisi keuangan pasca bercerai tetap baik-baik saja adalah mulai kelola karier. Anda harus tahu bahwa saat berstatus sebagai janda, itu bukanlah segalanya. Perempuan yang berpisah dari suaminya juga masih bisa kok memenuhi kebutuhan hidup bahkan menggapai sukses, asalkan bisa memilih karier dengan tepat.

Jika buah hati Anda masih kecil, maka cobalah memilih pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Entah kuliner online atau mungkin jualan pakaian dan item fashion yang dapat dikerjakan tanpa perlu ke kantor. Sehingga dengan begitu Anda tetap bisa menjaga buah hati, memperhatikan tumbuh kembangnya, sekaligus memperoleh penghasilan.

Namun kalau memang Anda harus bekerja ke kantor, bicarakan juga dengan mantan suami apakah perlu menyewa baby sitter hingga menitipkan anak di pusat penitipan anak, atau mungkin meminta orangtua menjaga. Jika memang harus menyewa orang lain untuk menjaga si kecil, pastikan orang tersebut memang harus benar-benar bisa dipercaya.

Kesimpulan

Dari ulasan di atas, sudah jelas bisa ditebak bahwa perceraian itu memang tidak pernah mudah. Tak ada pasangan suami istri di dunia ini yang berharap rumah tangganya berakhir dengan perpisahan. Begitu pula harus membesarkan anak dalam status mantan suami dan mantan istri, tentu menyakitkan.

Tetapi daripada menjalani hidup dengan tangisan dan kepedihan, Anda haruslah bisa jadi perempuan yang hebat. Tunjukkan pada diri sendiri bahwa perceraian bukan akhir segalanya. Anda tetap dapat memiliki keuangan pasca bercerai yang sejahtera dan mencapai kemapanan finansial di masa depan sekalipun jadi janda. Semangat!

Tinggalkan komentar