10 Keuntungan dan Kerugian Reksadana Bagi Investor

Tak perlu malu mengakui, kalau memang ternyata tujuan Anda berinvestasi adalah mencari untung. Hanya saja dari berbagai instrumen investasi yang ada, semuanya pasti memiliki potensi untung dan rugi. Begitu pula reksadana yang dianggap cukup aman. Namun jika dibandingkan yang lain, keuntungan dan kerugian reksadana bisa dibilang cukup masuk akal.

Hal inilah yang akhirnya membuat banyak orang merekomendasikan reksadana sebagai instrumen investasi yang layak untuk pemula. Selain bisa dibeli dengan nominal yang terjangkau, Anda tak perlu ribet memikirkan performa reksadana, karena ada MI (Manajer Investasi) yang bertanggung jawab mengelola dana Anda.

Bahkan di awal tahun 2020 ini, investor reksadana mencatat peningkatan yang cukup signifikan. Dilansir Bareksa, jumlah SID (Single Investor Identification) reksadana per Januari 2020 mencapai 1,84 juta investor padahal pada Desember 2019 masih di angka 1,77 juta investor.

Baca juga: Apa itu Reksadana? Berikut Penjelasan Lengkapnya!

Namun jika dibandingkan negara-negara lain, total AUM (Asset Under Management) atau dana kelolaan industri reksadana di Indonesia cukup rendah.

Berdasarkan data OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pada Oktober 2018, dana kelolaan industri reksadana Tanah Air baru mencapai US$37 miliar.

Jumlah ini kalah jauh dari Malaysia yang mencatat AUM sebesar US$106 miliar atau Thailand dengan US$156 miliar. Jangan bandingkan dengan Singapura, karena membukukan AUM cukup fantastis yakni US$2,4 triliun.

Karena itulah dengan potensi yang masih sangat terbuka lebar, menjadi investor reksadana bisa jadi pertimbangan Anda untuk mengelola finansial masa depan. Supaya makin paham, ada baiknya Anda tahu seperti apa sih keuntungan dan kerugian reksadana.

Calon Investor Wajib Tahu, Ini 10 Keuntungan dan Kerugian Reksadana

euntungan dan Kerugian Reksadana
© fortunebuilders

Sebelum membahas keuntungan dan kerugian reksadana, Anda tentu harus tahu sekilas mengenai instrumen investasi yang satu ini. Jika penjelasan dalam istilah ekonomi cukup sulit, maka Anda bisa membayangkan reksadana itu bak keinginan membeli kendaraan bermotor.

Anda tentu pernah bukan ingin mempunyai kendaraan bermotor tapi uangnya kurang? Kalau sudah begini biasanya salah satu solusinya adalah mengajak saudara untuk patungan.

Nah, konsep pembelian seperti itulah yang ditawarkan reksadana. Karena reksadana merupakan wadah dan pola pengelolaan dana bagi sekumpulan investor.

Dana yang diterima dari sekelompok investor itu ditempatkan oleh MI ke surat berharga dan disimpan di bank kustodian.

Karena itulah, Anda tak perlu cemas dengan dana yang sudah disetorkan karena asalkan memilih MI dan bank kustodian yang terpercaya, investasi reksadana Anda bisa memperoleh hasil terbaik.

Namun tetap, pertimbangkan juga beberapa keuntungan dan kerugian reksadana berikut ini sebelum mulai berinvestasi.

Baca juga: 4 Jenis Investasi Reksadana Menguntungkan dan Aman

Keuntungan Investasi Reksadana

Keuntungan Investasi
© the Economic Times

1. Profit Cukup Menjanjikan

Apakah instrumen investasi yang paling menguntungkan?

Tentu banyak orang akan menjawab saham. Bahkan dibandingakn dengan emas atau properti yang merupakan investasi konvensional, tak ada yang menampik betapa besarnya potensi keuntungan dari saham terutama blue-chip.

Namun jangan salah, reksadana juga bisa menawarkan keuntungan alias profit yang cukup menjanjikan lewat produk reksadana saham.

Seperti yang sudah kamu tahu, ada banyak sekali jenis-jenis reksadana dan reksadana saham adalah yang menawarkan profit terbesar.

Bahkan dilaporkan kalau profit rata-rata untuk reksadana saham adalah 20% per tahun, yang artinya sangatlah menjanjikan. Tertarik untuk memilih reksadana saham? Pastikan profil risiko Anda sudah sesuai supaya bisa mencapai tujuan keuangan yang dimau.

2. Adanya Diversifikasi Risiko

Kalau Anda memilih salah satu jenis instrumen, tentu semua uang akan masuk ke instrumen itu. Maksudnya seperti investasi saham atau emas, maka seluruh dana akan Anda gelontorkan untuk membeli aset tersebut.

Sehingga ketika saham atau emas mengalami kerugian, uang yang sudah Anda keluarkan bisa saja berkurang bahkan habis sehingga mengakibatkan kerugian.

Namun jika Anda membeli produk reksadana seperti reksadana saham atau reksadana indeks, penempatan dana investor tidak hanya pada satu jenis saham saja.

Uang investor disebarkan ke beberapa saham sehingga ketika salah satu saham mengalami penurunan, saham lain masih stabil dan bahkan mencetak profit. Proses pengelolaan dana di lebih dari satu keranjang ini menjadi diversifikasi investasi yang disarankan.

3. Keberadaan MI Profesional

Salah satu alasan orang enggan berinvestasi adalah tak punya waktu dan tak paham sama sekali soal investasi. Namun ketika Anda memilih reksadana, kedua masalah itu bakal teratas karena seluruh proses pengelolaan reksadana menjadi tanggung jawab MI profesional. MI-MI terpercaya ini sudah pasti sangat berpengalaman dalam mengelola portfolio.

Tapi bukankah untuk menggunakan MI ada bayaran khusus yang harus disiapkan di awal?

Memang benar. Namun Anda tak perlu cemas karena pembayaran kepada MI ini menjadi tanggung jawab sekumpulan investor. Sehingga kalau dibagi, maka besar bayaran MI menjadi cukup terjangkau.

4. Modal Investasi Cukup Terjangkau

Demi meningkatkan minat masyarakat umum untuk berinvestasi reksadana, saat ini para penjual reksadana terus melakukan inovasi yang menggiurkan. Salah satunya adalah dengan menawarkan pembelian reksadana mulai Rp10 ribu.

Terbilang cukup tak masuk akal, tapi faktanya beberapa e-commerce memang menjual reksadana mulai dari Rp10 ribu.

Modal awal yang sangat terjangkau inilah menjadikan reksadana sebagai instrumen investasi terbaik bagi kalangan first jobber.

Kondisi ini tentu berbeda jika Anda ingin investasi saham yang harus menggelontorkan dana mulai jutaan Rupiah. Bahkan investasi emas sekalipun, harus dimulai dari kisaran ratusan ribu Rupiah.

Baca juga: 5 Pilihan Bank Penjual Reksadana Terbaik 2020

5. Transaksi Dilakukan Secara Online

Zaman yang makin berkembang dan serba internet, membuat reksadana juga berubah makin modern. Kalau dulu untuk beli reksadana sangatlah ribet dan wajib menuju MI atau bank kustodian, kini tidak lagi.

Agen pengelola reksadana banyak menawarkan aplikasi mobile yang bisa dipasang pada smartphone. Keberadaan aplikasi reksadana online ini jelas menguntungkan karena Anda bisa melakukan pembelian atau pencairan reksadana di mana pun tanpa ribet, cuma bermodalkan kuota dan aplikasi online.

Kerugian Investasi Reksadana

Kerugian Investasi Reksadana
© finpeg

6. Reksadana Juga Punya Risiko Merugi

Seperti yang sudah disinggung di awal, reksadana sama seperti instrumen investasi pada umumnya yang juga punya potensi merugi.

Satu hal yang harus Anda tahu, dari berbagai jenis reksadana, tak ada satupun yang tak mempunyai risiko rugi. Reksadana saham menempati posisi pertama sebagai produk reksadana yang mempunyai peluang kerugian terbesar, karena memang sebanding dengan profit yang ditawarkan.

Karena itu jika Anda ingin meminimalisir kerugian, cobalah pilih produk reksadana yang punya peluang rugi terkecil, tapi berbanding lurus dengan keuntungan yang ditawarkan.

7. Return Terimbas Biaya Investasi

Ada harga yang harus dibayar untuk kemudahan investasi reksadana. Beberapa biaya yang wajib dibayarkan investor itu mencakup fee layanan MI, biaya penyimpanan dana di bank kustodian, biaya operasional hingga urusan marketing.

Berbagai biaya yang dikeluarkan ini jelas akan mempengaruhi besaran return yang Anda terima. Karena itulah ada baiknya memilih MI dan bank kustodian yang menawarkan biaya paling kompetitif, jika perlu menggunakan platform online seperti aplikasi mobile agar biaya-biaya investasi reksadana lebih efisien.

8. Pencairan Butuh Waktu

Jika Anda berinvestasi pada emas, setelah logam mulia itu dijual tentu langsung memperoleh uang tunai. Begitu pula investasi pada tabungan deposito, saat memasuki jatuh tempo, uang Anda langsung cair ke rekening.

Kondisi berbeda dialami reksadana karena pencairannya butuh waktu. Secara normal, pencairan reksadana butuh waktu 3-4 hari kerja.

Kenapa cukup lama? Karena reksadana adalah instrumen investasi murni yang likuiditasnya tidak sebaik tabungan deposito. Belum lagi ada kemungkinan reksadana gagal dicairkan karena MI gagal menyediakan dana untuk membeli kembali unit reksadana.

Baca juga: Inilah Panduan Beli Reksadana Lewat Aplikasi Online

9. Reksadana Bisa Bubar Tanpa Diduga

Salah satu potensi kerugian reksadana yang wajib Anda ketahui adalah adanya kemungkinan perusahaan penyedia reksadana bubar.

Kok bisa begitu? Tentu saja bisa, apalagi jika perusahaan tersebut melanggar aturan yang ditetapkan OJK. Potensi pembubaran reksadana juga bisa terjadi saat NAB (Nilai Aktiva Bersih) reksadana kurang dari 25 miliar Rupiah selama 90 Hari Bursa berturut-turut.

10. MI Lakukan Wanprestasi

Untuk peluang kerugian investasi reksadana yang terakhir adalah terjadinya wanprestasi yang dilakukan oleh MI.

MI dianggap melakukan wanprestasi alias cidera janji, ketika tak bisa menetapi atau memenuhi kewajiban kepada investor sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam kontrak.

Kalau sudah begini, Anda sebagai investor tentu akan kehilangan uang yang sudah disetorkan begitu saja dan pastinya butuh waktu bagi MI untuk melakukan pembayaran kembali atas apa yang sudah diperbuat.

Kesimpulan

Lewat pembahasan keuntungan dan kerugian reksadana, bisa disimpulkan bahwa instrumen investasi yang satu ini tetaplah menjanjikan. Karena dari potensi kerugian yang ada, masih bisa dicari solusinya sehingga mampu mengatasi secara tepat. Sehingga tak berlebihan jika reksadana tetaplah menjadi salah satu investasi terbaik bagi para pemula dan generasi muda first jobber yang baru saja ingin berinvestasi demi masa depan finansial mereka.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar