Masalah Keuangan Generasi Z dan Cara Mengatasinya

Kelompok usia produktif saat ini bukanlah jadi kekuasaan milenial saja. Sudah muncul sang penerus yakni generasi Z, manusia-manusia kelahiran 1996-2010. Berada di rentang usia 11-25 tahun, generasi Z juga sudah ada yang mulai bekerja. Hanya saja sama seperti milenial, ada banyak masalah keuangan generasi Z yang membuat mereka berpotensi susah mencapai kemapanan finansial.

Kendati mungkin Anda banyak menemukan generasi Z senior yang masih duduk di bangku kuliah, beberapa di antaranya bahkan ada yang sudah bekerja selepas sekolah menengah. Atau mungkin yang sudah fresh graduate dan punya pekerjaan pertama, pun lazim-lazim saja generasi Z jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab atas penghasilan.

Dari segi usia, generasi Z memang masih cukup muda dan kerap identik dengan istilah ’anak bau kencur’, tetapi bisa saja mereka memiliki penghasilan besar berkat kreatifitas yang dimiliki. Kondisi ini terjadi karena gen Z memiliki masa remaja yang unik, serba digital dan begitu berbeda dengan milenial. Tak heran kalau mereka bisa memperoleh kemudahan akan kebutuhan dan konten tak terbatas.

Baca juga: Trik Sukses Agar Gaji UMR di Bawah Rp3 Juta Bisa Beli Mobil

Lewat riset yang dilakukan GADIS dan Psikolog Klinis, Tara de Thouars, terungkap bahwa 71% gen Z memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kondisi ini membuat mereka begitu inovatif, positif dan aktif. Kerap menyalurkan ekspresi di media sosial, ada banyak pesohor gen Z yang sudah memiliki bayaran besar. Namun tak berbeda jauh dengan milenial, masalah keuangan generasi Z juga jadi salah satu hambatannya.

Pentingnya Gen Z Paham Finansial Sejak Dini

gen Z paham finansial
© pointsNORTH

Pada dasarnya beberapa masalah keuangan generasi Z ini terjadi karena campur tangan orangtua. Di mana jika dibiarkan, justru membuat anak-anak muda tersebut sulit dalam mengelola finansial mereka. Hal inilah yang diungkapkan pula oleh Kevin O’Leary selaku Ahli Keuangan. Leary berpendapat bahwa banyak gen Z yang sudah memperoleh kartu kredit dari orangtuanya dan memicu gaya hidup konsumtif.

Kondisi mental gen Z yang belum matang terutama dalam membuat keputusan soal finansial, membuat mereka kadang menghabiskan uang tanpa sadar. Ada banyak gen Z yang melakukan fomo spending atau buang-buang uang hanya karena tren. Mulai dari beli item fashion branded, makanan atau minuman viral hingga travelling supaya tidak ketinggalan isu kekinian.

Fakta ini seolah diperburuk dengan survei yang dilakukan T. Rowe Price di tahun 2017, di mana sekitar 44% orangtua enggan berbicara soal uang dengan anak-anak mereka, yang notabene adalah gen Z. Padahal menurut Leary, diskusi mengenai uang yang dilakukan orangtua, akan sangat membantu mereka dalam menghindari masalah keuangan generasi Z.

Namun tentu saja hal ini tidak terjadi pada seluruh gen Z, karena ternyata ada banyak yang sudah memilah-milih instrumen investasi bahkan ketika masih berstatus sebagai mahasiswa. Tak sedikit dari gen Z yang sudah memiliki usaha sendiri seperti online shop meskipun sedang kuliah, sehingga membuat mereka bisa mengalokasikan profit bisnis ke investasi.

7 Masalah Keuangan Generasi Z dan Solusinya

Dibandingkan dengan baby boomer (kelahiran 1951 – 1965) atau generasi X (kelahiran 1966 – 1980), pada dasarnya milenial (kelahiran 1981 – 1995) maupun gen Z mungkin akan sulit memperoleh kemapanan finansial. Bahkan saat ini daftar orang-orang terkaya di dunia selalu dikuasai oleh kelompok baby boomer dan gen X. Hal ini terjadi karena milenial dan gen Z, sering mengalami masalah keuangan yang sama.

Baca juga: 9 Rahasia Anti Kalap Bagi Penggila Belanja Online, Ampuh!

Sebagai dua generasi yang bakal menjadi masa depan dunia, milenial dan gen Z yang sudah terbiasa dengan hal-hal digital kerap kali terjebak gaya hidup konsumtif. Bahkan meskipun penghasilan bulanan mereka jauh lebih besar daripada apa yang diraih baby boomer dan gen X di rentang usia yang sama, milenial dan gen Z selalu identik dengan kesulitan menabung.

Nah, supaya tidak terjebak menjadi anak-anak muda yang tak punya tabungan di usia tua kelak, berikut sederet masalah keuangan generasi Z sekaligus cara mengatasinya, supaya Anda bisa jadi anak muda yang lebih baik. Seperti apa? Simak ulasannya:

1. Besar Pasak Daripada Tiang

pengeluaran lebih besar
© Executive Support Magazine

Inilah masalah keuangan generasi Z yang paling dasar tapi begitu mempengaruhi kebiasaan finansial mereka. Yap, Anda mungkin pernah mendengar bahwa besar pasak daripada tiang merujuk pada pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan. Kondisi keuangan yang kerap dialami milenial ini rupanya juga bisa terjadi pada gen Z.

Terutama untuk gen Z yang harus ikut menanggung beban hidup keluarga dan saudaranya, sehingga mereka akhirnya menjadi generasi sandwich. Biasanya demi menutupi berbagai kebutuhan sehari-hari, gen Z sampai ada yang nekat melakukan pinjaman entah berhutang ke teman, kasbon penghasilan, hingga berani mengajukan pinjol (pinjaman online) ke fintech ilegal.

Tentu saja kondisi ini tak bisa dibiarkan karena sebesar apapun penghasilan Anda, jika pengeluarannya tetap besar bahkan sampai lebih dari kemampuan gaji, artinya keuangan itu tidaklah sehat. Lantas apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Anda harus terbuka mengenai besar penghasilan bulanan dan jujur terhadap kemampuan pengeluaran, sekaligus tetap memenuhi kebutuhan diri sendiri.

2. Tak Paham Hutang

Sebagai anak-anak muda, gen Z kadang tidak paham dengan hutang. Kondisi ini jelas jadi salah satu masalah keuangan generasi Z yang bisa membuat finansial mereka jadi kacau. Banyak gen Z yang menggunakan kartu kredit, atau membeli sesuatu dengan skema kredit tanpa pikir panjang, karena merasa penghasilannya masih cukup untuk membayar tagihan.

Padahal dalam setiap kali berhutang, ada rasio yang harus dipahami dan dijadikan pedoman yakni maksimal 30% dari penghasilan. Maksudnya, jika Anda adalah gen Z first jobber yang bekerja di sebuah instansi perbankan dengan gaji Rp3,5 juta per bulan, maka besar hutang per bulan yang tidak akan mengganggu finansial Anda adalah Rp1.050.000 juta.

Sehingga kalau Anda punya tagihan kartu kredit hingga Rp2 juta dan masih wajib bayar cicilan kredit sepeda motor sebesar Rp650 ribu per bulan, maka itu artinya keuangan Anda tidak sehat. Karena dari gaji Rp3,5 juta, Anda hanya memegang Rp850 ribu untuk kebutuhan bulanan. Untuk itulah sebelum mengajukan kredit, ada baiknya hitung berapa nominalnya sudah menembus batas aman 30% atau tidak.

Begitu pula ketika memperoleh tawaran paylater dari marketplace, jangan mudah tergiur dengan besar paylater yang diberikan. Lagi-lagi sesuaikan limit paylater dengan kemampuan rasio hutang dari penghasilan bulanan. Jika Anda paham perhitungan hutang ini, tentu hidup tak akan masalah meski harus bayar tagihan.

Baca juga: 8 Tips Kelola Keuangan Pasca Bercerai Bagi Perempuan

3. Tak Punya Tujuan Jangka Panjang

Masalah keuangan generasi Z berikutnya yang juga sering terjadi adalah tak punya tujuang jangka panjang. Yap, mayoritas gen Z adalah anak-anak muda yang memang belum berumah tangga. Mereka masih tinggal dengan orangtua dan bisa makan gratis di rumah. Kondisi ini yang akhirnya membuat gen Z tak punya tujuan jangka panjang sehingga penghasilannya habis untuk foya-foya.

Bahkan beberapa gen Z sampai berpikir kalau urusan memiliki rumah atau tabungan deposito, baru dipikirkan ketika sudah berkeluarga saja. Padahal pemikiran seperti ini salah besar, karena sebetulnya urusan memiliki aset masa depan harus dimulai sedini mungkin.

Untuk itulah ketika Anda masih jadi mahasiswa, mulailah menyisihkan uang saku. Kebiasaan ini akan berlanjut ketika Anda sudah lulus dan memperoleh pekerjaan pertama. Sehingga bukan tak mungkin kalau Anda bakal bisa memiliki rumah pribadi saat usia 35 tahun. Misalkan saja Anda rajin menabung Rp1 juta per bulan yang dalam lima tahun sudah jadi Rp60 juta dan bisa jadi DP untuk KPR rumah.

4. Iri dengan Finansial Orang Lain

finansial orang lain
© Getty Images

Sebagai generasi yang identik dengan media sosial, gen Z tentu akan sering dipaparkan konten-konten anak muda yang hobi pamer saldo. Kondisi ini tanpa sadar rupanya bisa memberikan pengaruh buruk pada kestabilan mental gen Z. Karena belum cukup dewasa, mereka akan mudah rendah diri dan pesimis saat tahu teman seumuran punya finansial lebih baik.

Alih-alih berjuang untuk mencapai kesejahteraan keuangan lewat bekerja, justru banyak gen Z yang memilih dikuasai iri dengki, hingga akhirnya buang-buang waktu dengan mengurusi kondisi keuangan orang lain.

5. Enggan Susun Anggaran

Masalah keuangan generasi Z berikutnya yang juga sering dilakukan adalah keengganan untuk menyusun anggaran bulanan. Malas karena ribet? Padahal ini adalah pondasi penting jika Anda ingin tahu ke mana saja uang Anda mengalir. Dengan menyusun anggaran rutin, Anda bisa tahu pos pengeluaran terbesar dan melakukan koreksi diri.

Apakah pengeluaran itu benar-benar dibututuhkan atau cuma sekadar diinginkan? Sehingga dengan begitu Anda tidak perlu mengulanginya bulan depan, yang artinya menghemat pengeluaran. Lewat penyusunan anggaran ini pula, Anda jadi tahu berapa besar nominal uang yang bisa digunakan untuk belanja bulanan, termasuk barang-barang yang dibeli sehingga terhindar dari pemborosan.

6. Tak Punya Dana Darurat

Yang namanya kondisi darurat seperti mendadak terkena musibah, memang bakal dialami setiap orang terutama dalam masa pandemi Covid-19. Bakal jadi buruk kalau kita sama sekali tidak memiliki dana darurat. Situasi ini ternyata menjadi salah satu masalah keuangan generasi Z. Usia yang muda dan pikiran yang belum terlalu panjang, membuat gen Z banyak yang belum paham apa dana darurat.

Baca juga: 7 Tips Menjaga Skor Kredit Saat Pandemi Covid-19

Padahal dana darurat merupakan salah satu pilar penting dalam urusan finansial selain menabung dan juga investasi. Untuk Anda yang masih lajang, setidaknya siapkan dana darurat sebesar 3-6 kali penghasilan. Sehingga jika Anda bergaji Rp3,5 juta, dana darurat bisa sebanyak Rp10-20 juta. Lalu jangan lupa alokasikan 10% dari penghasilan bulanan untuk investasi juga demi hidup sejahtera di usia tua.

7. Gaya Hidup Konsumtif

boros konsumtif
© Shutterstock

Dan inilah yang bisa dianggap sebagai masalah keuangan generasi Z yang paling utama. Yap, gaya hidup konsumtif adalah penyebab berapapun besar penghasilan gen Z, tak akan pernah cukup. Mayoritas pemborosan yang dialami gen Z ini disebabkan dengan bukti eksistensi diri di media sosial. Untuk meredam sifat buruk ini, Anda haruslah jadi sosok yang dewasa.

Anda harus tahu bahwa hidup tidak akan berakhir di usia 25 tahun, sehingga pemborosan hanya bikin keuangan kacau. Rem keinginan untuk foya-foya dengan mengalokasikan penghasilan langsung ke dana darurat, investasi dan tentunya menabung. Pahami bahwa hidup sejahtera saat tua, memiliki rumah pribadi, kendaraan pribadi dan uang pensiun jauh lebih penting.

Jika Anda memahami betul masalah keuangan generasi Z dan tahu bagaimana solusi untuk mengatasinya, maka bukan tak mungkin kalau Anda bisa jadi anak muda yang dewasa dalam hal finansial. Dengan begitu saat rekan-rekan Anda bingung dan pusing ketika besar pasak daripada tiang dan tak punya tabungan di usia 30 tahunan, Anda bisa jauh lebih bangga.

Tinggalkan komentar