Mau Investasi Reksadana? Perhatikan 8 Tips ini Untuk Pemula!

Reksadana belakangan ini semakin populer di masyarakat. Seiring derasnya arus informasi dan tingginya penggunaan teknologi masyarakat semakin sadar akan pentingnya berinvestasi. Reksadana dapat dibilang bisa menjadi instrumen keuangan yang bisa di gunakan untuk berinvestasi bagi pemula. Hal ini dikarenakan, investasi reksadana bisa dilakukan oleh siapapun dengan nominal investasi mulai dari Rp. 100.000 bahkan Rp. 10.000 saja.

Kemajuan teknologi juga sangat mempengaruhi dorongan untuk berinvestasi. Banyak platform online yang kini sudah menyediakan media berinvestasi reksadana. Misalnya Ajaib, Bibit, Bareksa, bahkan di marketplace online seperti Bukalapak dan Tokopedia.

Sebelum mulai berinvestasi, pastikan bahwa Anda memahami jika reksadana merupakan salah satu produk investasi sehingga tidak ada jaminan seperti tabungan dan deposito. Sehingga jika Anda nantinya di tawarkan reksadana dengan jaminan imbal hasil tertentu maka patut di pertanyakan. Karena reksadana pasar uang, pendapatan tetap, saham dan campuran tidak bisa menjanjikan return yang pasti. Kecuali jenis reksadana yang terproteksi.

Bagi Anda yang masih pemula mungkin merasa masih ragu karena tidak tahu produk reksadana mana yang harus Anda pilih. Apakah harus memilih reksadana dengan keuntungan agresif tapi bersiko tinggi ataukah keuntungan yang moderat tapi dengan resiko yang lebih aman.

Karena, seperti yang kita ketahui, tidak ada investasi yang tanpa resiko. Maka dari itu, untuk Anda yang masih pemula coba perhatikan beberapa hal ini sebelum berinvestasi di reksadana!

1. Pastikan Anda memiliki Tujuan Investasi

Memiliki Tujuan Investasi

Hal mendasar yang perlu di perhatikan sebelum berinvestasi di reksadana adalah tujuan investasi itu sendiri. Banyak pemula ketika di tanya apa tujuannya ketika menerima gaji/ penghasilan dan uangnya akan di taruh ke reksadana, tujuannya adalah investasi. Tapi pertanyaannya, ketika sudah berinvestasi dana tersebuet akan di gunakan untuk apa?

Sebenarnya itulah tujuan berinvestasI yang seharusnya di jawab. Karena investasi adalah cara. Misalnya Anda ingin menyiapkan dana pernikahan, atau dp rumah dan lain-lain. Maka investasi adalah caranya, salah satu opsi dalam berinvestasi adalah reksadana.

2. Memahami Capital Gain VS Cashflow

Banyak orang masih bingung, apakah dana yang dimiliki lebih cocok di taruh di reksadana ataukah deposito untuk berinvestasi. Perlu kita ketahui bahwa keduanya adalah instrumen investasi yang berbeda. Dalam deposito kita mengharapkan adanya penghasilan perbulan, tapi uang yang kita tempatkan berapapun nilainya akan tetap sama (cashflow).

Misalnya kita taruh deposito di bank sebesar Rp. 100.000.000 dengan return 5% p.a yakni sebesar Rp. 5.000.000/ 12 (bulan) = Rp. 416.000/bulan. Itulah penghasilan perbulan yang bisa kita terima dari deposito.

Sedangkan pada reksadana, kita tidak bisa mengharapkan adanya penghasilan setiap bulan jika kita hold reksadana yang kita miliki. Misalnya kita menaruh Rp. 20.000.000 pada produk reksadana. Kita mengharapkan uang tersebut berkembang menjadi Rp. 25.000.000. Jika sudah mencapai target yang kita inginkan, barulah kita jual.

Maka yang menjadi keuntungan kita dapatkan adalah selisih dari jumlah reksadana yang kita setor dengan target perkembangan dananya.

3. Mengetahui Profile Resiko

Mengetahui Profile Resiko

Karena diri kita sendiri yang akan menginvestasikan uang yang kita miliki dalam reksadana, maka kita perlu mengetahui profil resiko kita dalam berinvestasi. Profil resiko ini-lah yang nanti menjadi landasan jenis reksadana apa yang di sarankan untuk Anda pilih. Apakah kita termasuk investor dengan profil resiko konservatif, moderat ataukah agresif. Profil resiko bisa di ketahui berdasarkan lamanya kita hendak berinvestasi sesuai tujuan keuangan kita, ataupun kebiasaan menghadapi resiko keuangan.

Profil resiko konservatif umumnya tidak terlalu ingin mengambil resiko tinggi dan tidak masalah jika return yang di terima rendah, yang penting aman. Sebaliknya, profil resiko agresif adalah orang-orang yang terbiasa mengambil resiko tinggi dalam berinvestasi dengan return yang tinggi.

Sedangkan profil resiko moderat bisa di artikan merupakan orang-orang yang tidak ingin mendapatkan resiko terlalu tinggi, namun masih bisa menanggung resiko lebih tinggi dari pada orang-orang dengan profil resiko konservatif. Oleh karena itu, returnnya pun tidak terlalu besar seperti investor dengan profil resiko agresif dan juga tidak terlalu rendah seperti investor berprofil resiko konservatif (low).

4. Mengetahui Jenis Reksadana yang Cocok

Mengetahui Jenis Reksadana yang Cocok

Ada 4 jenis reksadana yakni reksadana pendapatan tetap, pasar uang, saham, dan campuran. Berikut penjelasan singkatnya :

  • Reksadana saham, dana akan di tempatkan pada saham oleh manager investasi. Resikonya tinggi tapi returnnya juga tinggi.
  • Resadana pendapatan tetap, dana akan di tempatkan pada obligasi oleh manager investasi dan bergantung pada perubahan nilai suku bunga BI. Returnya menekankan pada stabilitas modal.
  • Reksadana pasar uang, dana akan di tempatkan pada pasar uang oleh manager investasi, menekankan pada kebutuhan dana tunai sehingga lebih aman namun returnnya kecil.
  • Reksadana campuran, dana akan di tempatkan di tempatkan di berbagai instrumen keuangan seperti deposito, SBN, obligasi, dan saham. Komposisinya bisa bermacam-macam, ada yang 50:50 (obligasi : saham), atau ada juga yang lebih banyak menempatkannya di saham dan sebaliknya.

Pada investor dengan profil resiko moderat di sarankan untuk memilih reksadana campuran di banding saham. Hal ini karena reksadana saham sangat fluktuatif. Di khawatirkan akan terlalu khawatir dan panik ketika melihat nilai investasinya sedang turun dan akhirnya resiko mengalami kerugian juga tinggi.

Namun sebenarnya, mereka yang berprofil resiko moderat juga masih bisa berinvestasi di reksadana saham dengan catatan periode investasinya jangka panjang minimal 8-10 tahun. Karena, nilai return maksimal investasi reksadana saham bisa terlihat beberapa tahun kemudian.

Untuk Anda yang memiliki tujuan keuangan jangka pendek misalnya selama 2 tahun saja untuk dana pendidikan anak, maka di sarankan untuk memilih reksadana pasar uang. Return reksadana pasar uang sekitar 6-7% di tahun 2019. Jika misalnya dana pendidikan anak yang di butuhkan 2 tahun ke depan sebesar Rp. 20.000.000 maka kira-kira dana yang harus di setorkan ke reksadana setiap bulannya adalah 1.550.000/ bulan.

5. Perhatikan Metode Berinvestasi Reksadana

Ada 2 cara yang biasanya di lakukan dalam menyimpan dana pada investasi reksadana. Pertama mencicil atau membeli produk reksadana secara berkala setiap hari atau bulannya hingga dana terkumpul sesuai target. Yang kedua menunggu hingga dana terkumpul hinggan menjadi sejumlah uang dengan nominal yang besar dan kemudian baru menempatkannya dalam produk reksadana tertentu.

Metode yang kita pilih sebenarnya akan mempengaruhi potensi keuntungan yang bisa kita dapatkan. Untuk investor pemula, lebih di sarankan untuk membeli produk reksadana secara berkala. Karena investor pemula biasanya kurang memahami apakah pembelian produk reksadana yang di lakukan harganya sedang murah ataukah sedang mahal. Dengan begitu, investor pemula bisa mendapatkan keuntungan yang lebih rata-rata.

Sedangkan jika kita langsung membeli produk reksadana dalam jumlah banyak, seandainya membeli ketika harga murah memang akan untung tinggi. Sebaliknya jika membeli ketika harganya sedang turun, maka akan uag yang kita tempatkan di reksadananya juga akan ikut turun nilainya dan bahkan sulit kembali.

6. Jangan Hanya Melihat Kinerja Masa Lalu

Hal yang sering dilakukan para investor pemula sebelum berinvestasi reksadana adalah melihat kinerja masa lalu. Biasanya pemula seringkali melihat return di masa lalu dan membandingkannya dengan produk reksadana yang lain kemudian memilih yang paling tinggi. Misalnya produk reksadana A memberikan 10% return di tahun lalu sedangkan produk B bisa menghasilkan 15% di tahun lalu. Maka yang di pilih adalah produk reksadana B.

Sebenarnya melihat kinerja masa lalu sah-sah saja. Namun yang perlu di perhatikan lebih dalam adalah, mengapa produk reksadana tersebut bisa mendapatkan hasil demikian, apa yang di lakukan manager investasinya dan saham-saham jenis apa yang di pilih oleh manager investasi. Sehingga walaupun sudah di sediakan grafik oleh sebuah platform kita tetap harus update asumsi lainnya.

7. Perhatikan Strategi Manager Investasi

Selain membeli lewat bank, reksadana juga bisa di beli lewat fund manager di luar bank. Saat ini banyak fund manager yang sudah terdaftar di OJK dan sudah lama beroperasi namun nyatanya harus di tindak tegas/ ditertibkan oleh OJK. Hal ini mungkin membuat kita akan berpikir berulang kali dalam memilih manager investasi.

Pertama, yang perlu kita pahami saat memilih fund manager atau manager keuangan adalah bagaimana strateginya. Strategi yang digunakan oleh fund manager bisa aktif dan juga bisa pasif. Strategi pasif yakni cara memilih saham dengan hanya mereplikasi saham-saham apa saja yang ada misalnya di IHSG. Lawannya adalah strategi aktif yakni cara manager keuangan dalam mengelola dana dengan memilah-milah saham mana yang dari segi fundamental dan growth.

Strategi yang di rekomendasikan untuk pemula adalah strategi pasif. Namun jika fund manager memilih berdasarkan fundamental yang bagus maka bisa di ambil, namun yang perlu di waspadai adalah jika manager keuangan menggunakan stretagi aktif berdasarkan growth, karena hal ini cukup beresiko. Misalnya sektor saham yang di ambil oleh manager keuangan sedang turun anjlok maka nilai reksadananya juga ikut turun anjlok dan sulit di kembalikan.

8. Terus Menabung Reksadana Secara Konsisten

Menabung Reksadana Secara Konsisten

Seperti yang telah di jelaskan pada poin metode investasi reksadana, bahwa metode yang di rekomendasikan untuk pemula adalah mencicil membeli produk reksadana secara berkala setiap hari atau bulannya. Hal ini selain lebih aman dalam resiko, juga bisa memaksimalkan keuntungan yang di dapatkan. Jadi bukan hanya untung rata-rata, tapi Anda juga bisa berpotensi mendapatkan keuntungan yang lebih maksimal.

Dibandingkan jika Anda hanya mendiamkan sejumlah uang, dan berharap dana tersebut bisa tumbuh berkali-kali lipat suatu hari nanti. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek lain seperti tujuan investasi, strategi atau jenis intrumen keuangan yang di ambil manager invetasi, return di masa lalu, bisa sedikit menjadi gambaran perhitungan pertumbuhan dana. Jadi lebih baik jika pemula konsisten menabung reksadana.

Baca juga : 5 Agen Reksadana terbaik, Bahkan Bisa Beli Online

Penutup

Investasi reksadana bisa di ibaratkan seperti berbisnis, sebutsaja misalnya bisnis fashion. Jika kita seseorang yang tidak peduli dengan fashion kemungkinan suksesnya akan lebih kecil dibanding dengan orang yang mengerti dan banyak berkutat dengan fashion. Karena ia bisa memilih mana fashion yang bagus dan buruk, warna ataupun bentuk yang selaras dan tidak dll.

Begitupun reksadana, dana Anda di kelola oleh orang-orang yang mengerti seluk beluk berbagai instrument keuangan. Nah, bagaimana Anda siap berinvestasi reksadana? Dengan tips di atas semoga Anda tidak bingung lagi untuk memulai investasi reksadana.

Bagikan ;