Milenial Ternyata Bisa Punya Rumah Sendiri, Ini Caranya!

Berdasarkan survey yang dilakukan agen properti rumah123 pada tahun 2017, ternyata hanya 5% kaum milenial yang kemungkinan bisa memiliki rumah tinggal sendiri pada tahun 2020.

Lalu bagaimana dengan sisanya?

Kecilnya angka ini, menurut beberapa praktisi keuangan dikarenakan gaya hidup kaum milenial yang lebih suka membeli pengalaman daripada investasi jangka panjang sehingga minat untuk membeli rumah sendiri menjadi prioritas kesekian dari daftar kebutuhannya.

Kemudian alasan lainnya adalah, karena masalah DP (Down Payment) minimal 15%-30% yang dinilai cukup berat. Pendapatan bulanan yang dimiliki para milenial belum bisa menutupi bahkan jauh dari minimal DP yang harus di bayarkan.

Tapi ternyata jika ditanya setelah menikah ingin tinggal di rumah sendiri atau orangtua, jawabannya “tentu rumah sendiri!”. Nah?

Lalu bagaimana caranya milenial bisa memiliki rumah sendiri?

1. Merubah Mindset Karena Kita Tidak Bisa Selamanya Menyewa

Selain lebih suka memilih membeli pengalaman, ternyata kaum milenial juga lebih terbiasa dengan sewa-menyewa untuk memenuhi kebutuhannya termasuk dalam kebutuhan tempat tinggal.

Tapi apakah Anda tahu, bahwa menurut perencana keuangan salah satu indikator kebebasan finansial adalah dengan memiliki rumah tinggal sendiri. Kenapa?

Karena rumah tinggal sendiri menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia yakni untuk beristirahat, berlindung dari cuaca dan lain sebagainya. Hal ini bisa lebih terjamin jika kita punya rumah milik sendiri.

Ingat bahwa kendaraan memang ada yang namanya kendaraan umum, tetapi dalam kondisi normal tidak ada rumah umum.

Selain itu, rumah tinggal sendiri juga bisa di wariskan kepada anak cucu. Jadi secara tidak langsung, kita juga lebih bisa menjamin salah satu kebutuhan hidup khususnya dalam hal tempat tinggal generasi dibawah kita.

Hal inilah yang harus mulai dipikirkan oleh para milenial. Boleh saja menyewa, tetapi sebaiknya diberi jangka waktu misalnya 5 tahun saja untuk selanjutnya memikirkan bagaimana caranya memiliki rumah sendiri.

Karena jika tidak memulai, maka selamanya kita tidak akan memiliki rumah tinggal sendiri. Jangan sampai tahu-tahu saat sudah berusia 40-50 tahun ternyata masih saja harus menyewa.

Tapi apa mungkin generasi milenial bisa punya rumah sendiri? Secara di usia yang masih muda, pendapatanpun belum terlalu besar, jangankan untuk DP rumah sebesar 15-30% gaji saja baru cukup untuk menghidupi diri sendiri.

Jawabannya, bisa-bisa saja asal mau berusaha mulai merencanakan, dan mengatur life style pribadi. Selain itu jika dipikirkan gaji yang di dapatkan sekarang akan terus bertambah seiring meningkatnya kompetensi kita dari waktu kewaktu, hal ini membuat menyicil rumah bisa sangat realistis.

Nah, salah satu langkah awalnya adalah dengan membuat rencana target harga rumah seperti pada point 2.

2. Buat Target Harga Rumah Sesuai Kemampuan Finansial

Milenial Ternyata Bisa Punya Rumah Sendiri

Setiap orang pasti memiliki kriteria rumah tinggalnya sendiri. Rumah dengan 2 lantai, dengan halaman luas, tempat yang strategis, fasilitas yang modern dan lain sebagainya.

Itu tidak sah-sah saja, tetapi kita juga harus mempertimbangkan kemampuan finansial yang kita miliki saat ini. Jangan sampai karena kriteria ideal rumah kita membutuhkan budget diluar kemampuan kita akhirnya kita malah tidak memiliki rumah tinggal sama sekali.

Kita bisa merencanakan desain pembangunan rumah lantai dua (untuk Anda yang membangun sendiri), tetapi yang di bangun terlebih dahulu di lantai satu terlebih dahulu.

Untuk lebih kongkitnya coba kita ilustrasikan!

Misalnya nih, saat ini kita sudah menerima gaji sebesar Rp.5.000.000. Ternyata menurut perencana keuangan dengan gaji tersebut rumah yang realistis dibeli oleh kaum milenial adalah rumah dengan harga berkisar Rp.200 jutaan. Emang ada rumah dengan harga segitu?

Untuk rumah tinggal pertama kita perlu realistis, karena definisi rumah tinggal tidak hanya rumah yang memiliki halaman/ rumah tapak saja. Tapi juga ada rumah bertingkat seperti apartemen yang saat ini bisa realistis dibeli dengan budget diatas.

Sebenarnya di Indonesia bahkan masih daerah perkotaan ada juga rumah tapak dengan kisaran harga 200 jutaan. Hanya saja kita butuh lebih jeli untuk mencari informasi sehingga tetap bisa punya rumah tapak (jika tetap ingin rumah tapak) tetapi masih sesuai kemampuan finansial saat ini.

Sering-seringlah mengunjungi pameran, atau melihat situs-situs lelang yang menjual rumah dibawah standart harga. Usahakan mencari tempat yang strategis, walaupun rumahnya dalam keadaan tidak layak huni jika perbaikannya bisa sesuai budget kenapa tidak mengambil kesempatan memiliki rumah tinggal sendiri?

4. Pilih Cicilan KPR Ideal

Selanjutnya yang perlu di pikirkan adalah mencari cicilan KPR yang ideal untuk kita, yakni sesuai dengan kemampuan finansial kita saat ini.

Menurut perencana keuangan, kemampuan seseorang untuk mencicil pada umumnya berkisar 1/3 dari pemasukan yakni bagi yang sudah berkeluarga, dan 1/2 untuk yang masih lajang.

Prediksi besaran ini berbeda karena tanggungan orang yang sudah berkeluarga dan yang masih lajang juga berbeda. Selain itu, hal lain yang bisa membuat besaran kemampuan menyicil rumah juga karena kondisi pendapatan masing-masing orang yang juga bisa berbeda.

Sehingga, kita tidak bisa sembarangan mengambil cicilan walaupun itu adalah KPR. Bisa jadi harga rumahnya sudah sesuai kemampuan finansial kita tetapi ketika waktunya mencicil ternyata membuat urusan kebutuhan sehari-hari menjadi terhambat karena cicilan yang di ambil terlalu besar melebihi kapasitas finansial kita perbulannya.

Oleh karena itu, cari dan bandingkan beberapa bank yang menyediakan program KPR lalu pelajari detail serta konsekwensi pembayaran seperti bunga dan total besarannya yang harus di bayar tiap bulan, berapa lama tenornya dll.

5. Membuat Strategi Mengumpulkan DP Rumah

Milenial Ternyata Bisa Punya Rumah Sendiri

Sebaiknya kita tidak berhutang untuk membayar DP (Down Payment). Karena saat kita memiliki rumah, nantinya kita akan terbebani dengan 2 cicilan yang menjadi kehidupan finansial sangat berat yakni cicilan DP dan cicilan rumah nya itu sendiri. Kecuali cicilan rumah dibayar setelah melunasi hutang DP (Down Payment) rumah.

Dibanding berhutang untuk membayar DP rumah, Anda bisa coba mengumpulkannya dengan cara-cara berikut ini:

  • Menabung rutin
    Coba kita menggunakan ilustrasi dengan asumsi gaji 5 juta Rupiah dan target harga rumah sebesar 200 juta Rupiah yang berarti membutuhkan DP sebesar 75 juta Rupiah. Kita bisa menggunakan metode menabung harian, misalnya kita sisihkan 50 ribu rupiah sehari.

    Dalam sebulan, Anda bisa mengumpulkan Rp.1.500.000 dan dalam 5 tahun Anda memiliki tabungan sebesar 90 juta rupiah. Berarti dalam waktu 5 tahun Anda sudah bisa memiliki rumah dengan cara mencicilnya dari tabungan 90 juta tersebut. Dibayarkan DP Sebesar 75 juta dan sisanya bisa Anda gunakan untuk perabotan rumah yang diperlukan.
  • Investasi Jangka Menengah
    Jika rencana kepemilikan rumah Anda termasuk kedalam rencana jangka menengah yakni 5-8 tahun, Anda bisa menaruh uang Anda pada instrumen Investasi yang lebih beresiko tapi keuntungannya lebih tinggi, seperti reksadana campuran atau investasi saham.

    Sebagai saran, 5 tahun pertama Anda bekerja sebenarnya sangat baik jika di gunakan untuk memaksimalkan dalam persiapan kebutuhan di masa depan, dibanding memenuhi semua keinginan lifestyle yang tidak ada habisnya. Sehingga pada saatnya tiba Anda bisa hidup lebih nyaman.

    Tenang, bukan berarti jika Anda sibuk mengumpulkan modal untuk masa depan berarti Anda tidak bisa bersenang-senang. Anda tetap bisa memenuhi life style dengan cara membuat tabungan/pos keuangan tersendiri untuk hal tersebut. Jadi Anda tetap bisa jajan kekinian, traveling atau apapun yang Anda sukai dan tetap terkontrol.
  • Cari Kerja/Bisnis Sampingan
    Selain berinvestasi di instrumen keuangan yang bisa memberikan bunga lebih besar, untuk mempercepat pengumpulan DP kita juga bisa mencari kerja sampingan.

    Yang penting fokus memperbesar income, supaya dana untuk membayar DP rumah tinggal bisa segea tercapai.

    Walaupun Anda seorang karyawan, saat ini sudah banyak peluang kerja ataupun bisnis sampingan yang realistis Anda kerjakan dan bisa memberikan income tambahan yang cukup bisa diperhitungkan. Misalnya bisnis dropship yang minim bahkan bisa tanpa modal, menjadi graphic designer secara freelance, dan masi banyak lagi.
  • Menghindari Pinjaman-pinjaman dan Pembelian yang Bersifat Kurang Prioritas
    Selain dari sisi pemasukan, kita juga perlu mengupayakan dari segi pengeluarannya. Akan jadi percuma jika pemasukan kita maksimalkan dengan menambah job/bisnis tambahan jika ternyata uangnya digunakan untuk melunasi pinjaman-pinjaman atau pembelian sesuatu yang bersifat kurang prioritas.

    Oleh karena itu hindarilah pinjaman-pinjaman yang bersifat kurang penting meskipun pinjaman tersebut sangat mudah didapatkan.

    Untuk pinjaman-pinjaman kurang prioritas misalnya pinjaman paylater untuk beli lipstik yang warna sama tapi punya 10 dengan merek yang berbeda, beli sepatu atau kaos olah raga yang sudah memenuhi lemari misalnya.

    Sementara untuk pengeluaran yang sifatnya kurang prioritas misalnya dimulai dari mengurangi jajan minuman kekinian boba-boba itu, atau kopi-kopi kekinian dan semacamnya.
  • Disiplin Dengan Pos-pos Keuangan yang Telah Direncanakan
    Mengumpulkan DP rumah akan menjadi lebih lama lagi jika kita tidak disiplin dalam pos-pos keuangan.

    Memang betul sih kita tidak meminjam dari orang lain atau lembaga keuangan tertentu tetapi kita gali lobang tutup lobang dari pos-pos keuangan yang sebelumnya sudah di rencanakan agar bisa mengumpulkan DP rumah sesuai waktu yang ditargetkan karena tergiur promo-promo yang sebenarnya bisa di skip.

    Maka dari itu, diri kita sendirilah yang harus disiplin pada rencana pos-pos keuangan. Caranya?

    Biasanya setiap orang memiliki titik ‘kelemahan’ masing-masing terhadap suatu hal yang akhirnya membuat dompet amblas. Karena bukan hanya perempuan yang suka belanja, tapi laki-laki juga! Hanya saja apa yang dibelanjakan berbeda.

    Perempuan mungkin lebih suka dengan makeup, baju, sepatu sedangkan laki-laki mungkin belanja game, kaos-kaos bola, pernak-pernik bola, dan hal-hal yang menjadi hobinya yang lain. Jadi sama saja bukan?

    Langkah pertama adalah sadari potensi ‘kelemahan’ tersebut, sehingga ketika di hadapkan pilihan untuk membeli dan tidak, setidaknya ada alarm yang mengingatkan tentang hal ini dan akhirnya mendorong kita untuk mengukur kebutuhan.

    Kemudian bisa di ikuti dengan pencatatan keuangan secara rutin dan hal-hal lain yang bisa mengendalikan gaya hidup konsumtif yang menjadi salah satu godaan besar di era 4.0 ini.

Sebelum anda tutip artikel ini, anda bisa membaca artikel kami yang lain misalnya apa investasi terbaik bagi generasi milenial, saya yakin anda kaum milenial..

Jadi, apakah Anda sudah mulai tergerak dan lebih optimis untuk menyicil rumah tinggal milik sendiri? Anda tentu bisa mengkolaborasikan strategi-strategi diatas bahkan berkreatifitas membuat strategi lainnya yang lebih baik. Selamat merencanakan rumah tinggal pertama Anda!

Bagikan ;