Panduan Mengelola Keuangan Jika Baru Pertama Bekerja

Bagaimana strategi mengelola keuangan yang tepat jika kita baru pertama kali bekerja? Jika pertanyaan ini sudah muncul saat menjelang lulus atau memang Anda sedang menjalani pekerjaan pertama, maka Anda patut mengapresiasi diri sendiri. Kita tahu bahwa menjadi first jobber memang tidak mudah, sebab ini adalah masa transisi dari uang saku ke gaji sendiri.

Disisi lain kita juga merasa senang, setelah bertahun-tahun mengenyam pendidikan akhirnya dari pekerjaan pertamabisa mendapat uang yang 100% menjadi milik kita. Tapi tidak sedikit yang saking euforianya, lupa untuk memikirkan nasib keuangannya di awal masa karirnya. Padahal hal ini cukup penting loh!

Bukannya tidak boleh, menikmati hasil jerih payah sendiri. Tentu saja boleh, kok. Tapi jika tidak di kelola dengan baik, bisa-bisa berdampak kepada keuangan kita di masa depan.

Ada juga yang langsung tancap gas untuk berinvestasi setelah menonton youtube atau drakor yang ada tema investasinya. Maklum, saat ini milenal memang terkenal sangat aktif di dunia investasi sehingga pembahasan tentang investasi memang sangat masiv terdengar dimana-mana.

Hm.. untuk berinvestasipun sebaiknya perlu kita pikirkan ulang. Apakah di masa awal berkarir ini kita sudah siap berinvestasi? Karena jika tidak siap tapi memaksakan, bukan untung yang akan kita dapatkan tapi justru kehilangan tabungan yang susah payah kita kumpulkan.

Lantas bagaimana strategi mengelola keuangan yang tepat? Simak panduan lengkapnya berikut ini!

Kesalahan Milenial Dalam Mengelola Keuangan

Perbedaan pandangan terhadap skala prioritas keuangan antar generasi biasanya sering terjadi. Biasanya orang-orang yang lebih tua menyarankan kita untuk punya rumah, tanah, mobil dll. Sedangkan kita berpikir memiliki hal tersebut bukanlah prioritas. Apakah ada yang mengalaminya juga?

Hal ini memang bisa wajari, karena di pengaruhi oleh perubahan zaman dan teknologi. Namun bukan berarti kita tidak bisa belajar mengenai financial planning dari kesalahan generasi sebelumnya.

Baca yuk, 15 Tips Mengatur Keuangan Ala Raditya Dika

Jadi sebelum membicarakan strategi mengelola keuangan akan lebih baik jika kita belajar dari kesalahan-kesalahan keuangan yang sering dilakukan para milenial yang lebih senior saat awal kali bekerja.

Apa saja ya?

Pakai Paylater Untuk Hal-hal Konsumtif

Banyak yang menganggap remeh paylater, karena merasa bisa membayar saat gajian selanjutnya. Kita merasa masih produktif, sehingga dengan mudahnya bilang “gampang, nanti juga bisa di bayar saat menjelang jatuh tempo!”

Tapi yang gawat adalah saat ini sudah menjadi kebiasaan dan bahkan ketergantungan. Sedikit-sedikit pakai paylater, beli kopi pakai paylater, liburan pakai paylater belum lagi beli barang-barang perintilan lainnya, pakai paylater. Jika limit belum habis maka rasanya tangan gatal untuk membeli sesuatu lewat smartphone. Sebenarnya ini bukan hanya berlaku untuk paylater tapi juga pinjaman online yang lain.

Tahukah Anda, kalau pembelian yang sedikit-sedikit itu tanpa kita sadari bisa menjadi bukit?

Apalagi bunga cicilan Paylater biasanya cukup tinggi. Tidak sedikit orang yang harus hidup untuk membayar cicilan setiap kali gajian dengan sebagian besar pendapatannya, padahal karirnya baru saja di mulai. Jangan sampai Anda mengalaminya juga ya!

Tidak Tahu Kemana Larinya Penghasilan

Banyak sekali orang yang tidak tahu kemana penghasilannya mengalir setiap bulan. Seperti hanya numpang lewat saja. Tiba-tiba uang habis tanpa sisa. Penyebabnya bisa banyak, seperti kurang sadar untuk membedakan kebutuhan dan keinginannya, tidak memiliki catatan pengeluaran, bahkan sebenarnya tidak punya tujuan keuangan.

Tidak Punya Tujuan Keuangan

Kesalahan lainnya yang biasanya dilakukan oleh para first jobber adalah tidak punya tujuan keuangan. Tujuan ibarat kompas, jadi karena tidak punya tujuan kita dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk hal-hal yang kurang di perlukan. Pembahasan mengenai tujuan keuangan akan di bahas secara lebih detail setelah ini.

Mengenal Tujuan Keuangan

Saking banyaknya keinginan, seringkali kita jadi tahu sebenarnya apa hal prioritas yang perlu kita lakukan. Padahal tujuan keuangan adalah hal yang penting untuk di miliki.

Terkadang kita ingin sekali menjadi kaya, tapi tidak tahu uangnya akan digunakan untuk apa. Jadi sebenarnya, menjadi kaya bukanlah tujuan keuangan itu sendiri.

Anda perlu tahu dulu apa tujuan keuangan secara lebih spesifik Anda. Memangnya kenapa?

Mengapa Tujuan Keuangan Itu Sangat Penting?

Membuat Anda Lebih Tahu Arah

Secara umum kita tahun bahwa tujuan akan membuat hidup kita lebih terarah. Kita tidak tidak perlu menjadi tamak untuk bahagia tapi butuh tujuan spesifik yang ingin kita tuju.

Tanpa tujuan, kita akan mudah terbawa arus dan tidka berjalan kemanapun bahkan bisa membawa kita pada kemunduran dalam keuangan.

Misalnya saja Anda memiliki impian menjadi seorang musisi, tapi di sisi lain Anda juga ingin berkeluarga. Anda akan mencari tahu mana yang prioritas, apakah bisa di lakukan bersamaan dan bagaimana caranya.

Ternyata Anda lebih baik menjadi penari balet terlebih dahulu. Apa yang di butuhkan musisi? Alat musik dan sumber belajar musik, seperti guru les, buku dll. Semua itu membutuhkan uang bukan?

Tidak sampai disitu. Jika sudah bisa memainkan musik, jadikan itu juga bisa menghasilkan dan membeli peralatan yang mendukung Anda agar semakin dekat dengan impian.

Misalnya alat-alat rekaman dan camera untuk mengunggahnya ke youtube. Masukan semua itu dalam daftar tujuan keuangan Anda.

Baca yuk, Baru Buka Usaha? Ini Cara Atur keuangan Enterpreneur Pemula

Jika Anda punya tujuan keuangan, maka penghasilan Anda tidak akan jatuh ke tempat-tempat yang tidak di perlukan melainkan fokus untuk mendukung apa saja yang di butuhkan untuk meraih impian Anda. Jadi inilah mengapa skala prioritas itu sangat penting.

Mengetahui Kemampuan Diri

Tujuan membuat kita lebih bisa mengenali kemampuan diri sendiri. Kalau kita tahu dimana batas kemampuan kita, nantinya kita akan bisa membuat rencana keuangan dan strategi yang lebih tepat.

Dengan memahami tujuan kita tidak akan sembarangan dalam menetapkan rencana maupun strategi mengelola keuangan.

Ibaratnya seperti seorang atlit tenis meja yang asal mengover bola. Kita tahu dimana letak goals kita sehingga bisa mengatur energi dan juga teknik agar efektif dan efisien mencapai apa yang kita impikan.

Bisa Mendapat Peluang-peluang Terbaik

Punya tujuan keuangan itu sangat penting karena kita punya potensi lebih untuk meraih peluang tebaik. Sebut saja kita ingin menikah 5 tahun lagi.

Meskipun belum ada jodohnya, tidak ada salahnya jika Anda mempersiapkan mengenai keuangannya dari sekarang. Sehingga saat bertemu jodoh, Anda dan pasangan tidak memerlukan waktu lebih lama lagi untuk mempersiapkan soal keuangan.

Membuat Kita Tidak Mudah Panik

Kita jadi tidak gampang panik saat menghadapi situasi-situasi genting jika memiliki tujuan keuangan.

Hal ini karena kita sudah mempersiapkan atau kita tahu mana pos keuangan yang bisa di jadikan solusi untuk menghadapi situasi tersebut. Oleh karena itu kita juga tidak bisa sembarangan dalam membuat tujuan keuangan.

Tujuan Keuangan Prioritas di Masa Awal Karir

Saat baru bekerja adalah saat yang paling tepat untuk kita mulai memperhatikan bagaimana cara kita mengelola keuangan. Karena jika terlambat, kita akan menyesal di akhir-akhir.

Untuk itu hal pertama adalah mengetahui tujuan prioritas keuangan di masa awal masuk dunia kerja seperti saat ini.

Tujuan keuangan ini tidak melulu berbicara mengenai suatu nominal tertentu tapi juga semua hal terkait keuangan yang bisa mendukung kita membangun keuangan yang sehat. Nah setidaknya tujuan keuangan yang perlu di raih oleh para first jobber adalah :

1. Cash Flow Lancar

Tujuan keuangan pertama yang sangat penting dan mendasar bagi para first jobber bukan menabung atau investasi tapi memiliki cash flow yang lancar/ sehat.

Cash flow (arus kas) mudahnya berbicara tentang pemasukan yang kita terima dan bagaimana cara kita membelanjakannya. Mengapa memiliki cash flow yang sehat layak di jadikan tujuan keuangan para first jobber?

Hal ini mengingat siklus keuangan kita merupakan masa transisi dimana kita mulai menerima gaji dan harus membelanjakannya secara mandiri.

Dengan kata lain kita mulai bertanggung jawab atas uang kita sendiri, biasanya first jobber masih ada yang belum terbiasa.

Ditambah lagi godaan yang besar di luar sana. Saat kita sudah bisa memegang uang yang jumlahnya lebih besar dari uang saku, lalu terlena dengan mudahnya paylater atau pinjol. Hal ini sangat memungkinkan membuat cashflow para first jobber menjadi tidak lancar.

Sehingga semua orang yang sudah berpenghasilan pasti memiliki income dan juga pengeluaran. Namun tidak semua kondisi cash flownya sehat. Biasanya ciri cash flow yang sehat adalah memiliki rasio yang positif. Artinya pemasukan yang dimiliki lebih besar di banding pengeluarannya.

Di samping itu cash flow yang sehat juga terukur dan tercatat dengan baik. Oleh karena itu kita bisa melihat dengan jelas bagaimana pergerakannya. Kita bisa tahu kemana saja dana yang masuk mengalir.

2. Memiliki Dana Darurat

Mungkin beberapa dari first jobber berpikir, untuk apa mengumpulkan dana darurat? Sebab toh uangnya tidak berkembang. Lebih baik di gunakan untuk berinvestasi, seperti membeli saham bahkan crypto. Tapi tunggu dulu!

Kita tidak pernah tahu kapan musibah akan datang. Tidak peduli seberapa muda atau seberapa tua diri kita. Oleh karena itu, dana darurat memang perlu di siapkan dan di simpan yang aman dan liquid (mudah di cairkan). Agar saat musibah itu terjadi dam kita memerlukan sejumlah dana kita bisa dengan mudah mengambilnya dan tidak panik.

3. Memiliki Proteksi Kesehatan

Tujuan keuangan selanjutnya yang perlu di pertimbangkan para first jobber adalah memiliki proteksi kesehatan. Mirip seperti dana darurat, kita tidak pernah tahu kapan kita sakit dan memerlukan bantuan medis yang memerlukan biaya besar.

Coba bayangkan jika sewaktu-waktu ternyata Anda membutuhkan penanganan medis tapi belum terdaftar menjadi peserta BPJS?

Anda pasti harus menanggung biayanya 100% menggunakan dana darurat. Itupun jika cukup. Ini artinya Anda harus memulai kembali menabung dana darurat sebesar pengeluaran untuk biaya kesehatan Anda.

Oleh karena itu minimal kita menjadi peserta BPJS dan tidak telat membayar iurannya agar kepesertaan BPJS kita tidak di blokir.

4. Miliki Dana Untuk Menunjang Karir

Jalur karir manapun yang Anda pilih, di masa awal ini lebih baik Anda fokus untuk memperbesar income dengan cara membuka peluang sebesar-besarnya.

Hal tersebut bisa di lakukan dengan cara berinvestasi pada waktu dan energi Anda. Tapi tidak jarang hal tersebut juga membutuhkan biaya.

Misalnya saja agar Anda bisa bekerja di multinational company Anda harus lancar berbahasa inggris. Maka, Anda bisa menabung agar bisa belajar bersama tutor bahasa inggris yang sesuai dengan goal Anda.

Dana ini juga bisa digunakan untuk mentraktir orang-orang yang lebih berpengalaman, lebih bijak, lebih pintar dari Anda ketika bertemu dan berdiskusi karena ilmu dan saran berharga bisa datang dari siapa saja.

5. Mulai Pikirkan Kapan Mulai Menyiapkan Dana Pensiun

Baru saja bekerja, masa harus mikirin pensiun? Nah, bukan berarti Anda harus menabung dana pensiun saat ini juga, namun menjadikan tabungan dana pensiun sebagai salah satu list tujuan keuangan kita sangat di perlukan. Pensiun kan masih lama? Mungkin 25 bahkan bisa 40 tahun-an lagi!

Tapi menyiapkan dana pensiun juga lama sebab jumlahnya tidaklah sedikit. Justru karena rentang waktu kita saat ini dengan masa pensiun cukup jauh kita bisa lebih baik menyiapkan keuangan di masa tua nanti.

Semakin dini kita menyiapkannya maka akan semakin baik. Namun jika dana Anda masih terbatas tidak masalah. Misalnya baru cukup untuk dana darurat, proteksi kesehatan dan upgrade skill, Anda bisa memprioritaskannya terlebih dahulu.

Tanda-tanda Siap Mulai Berinvestasi

Salah satu kesalahan first jobber yang belum di sebutkan adalah rata-rata memulai dengan mentalitas :

  • Gaji pemula untuk hidup sehari-hari saja sudah cukup
  • Karena saya sandwich generation jadi tidak akan bisa menabung apalagi berinvestasi
  • Gaji saya tidak akan naik-naik jadi akan sulit menabung apalagi investasi

Ingat bahwa apa yang ada di pikiran kita bisa menjadi kenyataan. Karena pemikiran tersebut bisa menjadi mindset kita yang mempengaruhi kecenderungan perilaku kita nanti. Memang mungkin saat masih awal bekerja kita belum bisa berinvestasi, tapi bukan tidak mungkin.

Justru penting bagi kita untuk tetap mengarahkan spirit agar siap berinvestasi. Oh ya bagi Anda yang belum tahu bedanya menabung dan investasi, bisa membaca di artikel khusus yang membahas tentang kedua hal tersebut.

Nah ini tanda-tanda kalau Anda siap berinvestasi :

Sudah Punya Tujuan Keuangan

Salah satu tanda bahwa Anda siap untuk berinvestasi adalah memiliki tujuan keuangan yang jelas. Jika belum ada tujuan yang jelas, nantinya investasi yang dilakukan akan tidak terarah.

Selain itu, potensi merugi menjadi lebih besar karena Anda tidak tahu saat kapan harus mengambil kembali dana investasi yang Anda tanam.

Kebanyakan investor pemula yang tidak memiliki tujuan investasi, panik dan langsung mengambil dana investasinya saat nilai investasinya turun. Ini jelas-jelas akan merugikan investor sendiri.

Beda dengan investor yang memiliki tujuan yang jelas, dia mungkin akan tenang-tenang saja saat investasinya turun karena tahu kenapa tahu kapan ia harus mencairkan dana investasinya (uangnya tidak akan di gunakan saat ini).

Sudah Punya Kebiasaan Baik Dalam Mengelola Keuangan

Sudah terbiasa mengelola keuangan dengan baik, misalnya dengan membuat budgeting yang realistis dan melakukan pencatatan rutin adalah salah satu tanda kita mulai siap berinvestasi.

Karena dengan kebiasaan baik tersebut Anda tahu pos-pos mana yang ternyata masih bisa di kurangi dan selisihnya bisa di investasikan.

Kita jika pengelolaan keuangan kita sudah benar, hal itu akan mendorong kita menjadi semakin berhati-hati dalam melakukan pinjaman.

Alhasil yang biasanya gaji awal bulan cepat menyusut karena membayar Paylater bisa digunakan untuk investasi. Kalau pengelolaan keuangannya saja masih kacau, uang habis entah kemana setiap bulannya, lebih baik tunda dulu keinginan untuk berinvestasi.

Jika masih punya tanggungan cicilan, cobalah untuk fokus melunasinya terlebih dahulu supaya saat berinvestasi nanti Anda jadi lebih tenang dan fokus tanpa pusing memikirkan hutang yang ada.

Memiliki Dana Darurat dan Proteksi Kesehatan

Dana darurat adalah dana yang wajib dimiliki. Namun sayangnya masih banyak para first jobber yang menganggap remeh tentang dana darurat ini. Kalau di buat prioritas, mana yang lebih penting : dana darurat atau investasi?

Jawabanya adalah dana darurat terlebih dahulu. Jadi jika kondisinya penghasilan belum mencukupi untuk berinvestasi dan baru cukup untuk menabung dana darurat dan membayar iuran BPJS maka tidak perlu memaksakan.

Apalagi di saat pandemik, menabung dana darurat dan memastikan Anda memiliki proteksi kesehatan minimal memang harus di segerakan.

Sudah Mengenali Profil Resiko Investasi

Mengetahui profil resiko diri investasi sendiri adalah salah satu tandanya Anda mulai siap berinvestasi. Resiko investasi berbicara tentang, seberapa besar toleransi kita terhadap resiko yang kemungkinan akan terjadi saat berinvestasi.

Apakah Anda tergolong investor yang konservatif yang cenderung menghindari resiko tinggi, investor moderat yang masih menoleransi sebagian resiko/penurunan nilai investasi, ataukah termasuk investor agresif yang tidak takut akan resiko dan cenderung optimis bisa berhasil.

Dengan memahami profil resiko investasi ini kita bisa memilih instrumen investasi yang lebih tepat. Karena setiap instrumen investasi tentunya memiliki karakteristik resiko yang berbeda-beda. Nah, bagaimana dengan Anda? Sudahkah mengenali profil resiko investasi Anda sendiri?

Sudah Mempelajari Instrumen Keuangan yang di minati

Selain memahami profil resiko investasi, tanda lainnya bahwa Anda sudah mulai siap berinvestasi adalah sudah mempelajari instrumen investasi yang diminati.

Misalnya Anda mulai tertarik tertarik dengan reksadana, lalu mencari tahu bagaimana cara kerjanya, jenisnya dan mencocokannya dengan tujuan keuangan serta profil resiko Anda.

Jika mencari tahu tentang cara kerja instrumen investasi saja belum, lalu tiba-tiba ingin mendapatkan keuntungan return tinggi karena lihat teman-teman yang sudah duluan investasi lebih baik Anda fikir-fikir lagi.

Tidak sebaiknya perlu langsung terjun ke instrumen yang rumit, coba saja dulu yang lebih sederhana dan mudah di fahami. Anda perlu tahu perbedaan investing dan gambing.

Karena keduanya jauh berbeda. Investing akan dilakukan dengan penuh pertimbangan berdasarkan data tapi gambling hanya berdasarkan “untung-untungan” saja. Untuk memahami lebih dalam perbedaan saving, investing dan gambling sudah di bahas di artikel khusus ya.

Punya Uang Dingin

Tanda lainnya yang memperlihatkan bahwa Anda siap berinvestasi selain hal-hal yang sudah di sebutkan di atas adalah memiliki uang dingin alias uang menganggur.

Jika Anda sudah memiliki dana surplus yang tidak akan di gunakan dalam jangka waktu dekat (bukan dana untuk hidup sehari-hari, biaya untuk bayar utang, dsb) maka inilah saatnya Anda mulai berinvestasi.

Bagaimana dengan Anda sekarang? Sudah punya uang dingin?

Jika sudah ada, maka jangan sia-siakan waktu untuk belajar berinvestasi dan segera memulainya. Semakin dini kita sadar akan investasi, maka masa depan keuangan yang lebih akan semakin bisa di raih.

Strategi Mengelola Keuangan Untuk Para First Jobber

Sebenarnya prinsip mengelola keuangan untuk para first jobber tidak terlalu rumit. Tapi praktiknya-lah yang terkadang cukup menantang karena kita belum benar-benar paham dan juga terbiasa.

Oleh karena itu, kita akan membahas beberapa strategi cerdas untuk mengelola keuangan bagi Anda yang baru memasuki dunia kerja dengan detail!

1. Mulai Mengenali Antara Kebutuhan dan Keinginan

Menjadi first jobber memang tidak mudah, banyak sekali godaannya. Apalagi para milenial dan gen Z terkenal sebagai generasi yang cukup konsumtif di beberapa sisi.

Baru saja menerima gaji, sudah ingin liburan, ingin upgrade gadget, dan banyak lagi. Akibatnya jangankan untuk menabung, bahkan terkadang biaya yang di keluarkan melebihi budget sehingga memilih menambah biaya dengan cicilan untuk mencapai apa yang di inginkan.

Ingat bahwa bukan hanya ada kebutuhan dan keinginan saja tapi juga ada yang namanya kewajiban. Apalagi jika kita perantau, maka harus peka dengan adanya kewajiban.

Misalnya saja iuran wajib untuk membayar kos, listrik, air, belum lagi ternyata kita mengajukan pinjaman. Maka membayar utang dari pinjaman tersebut juga termasuk kewajiban.

Pertanyaan selanjutnya, jika di pikir-pikir kenapa ya kebutuhan itu banyak sekali dan tidak ada habisnya? Rasanya semuanya butuh. Baiklah kita coba perjelas apa yang di maksud dengan kebutuhan dan keinginan itu.

Begini, adanya tempat tinggal untuk berlindung dari terik dan dinginnya cuaca adalah kebutuhan dasar manusia. Namun ketika kita membicarakan tentang rumah yang lokasinya dimana, besarnya berapa, designnya seperti apa, itulah keinginan.

Contoh lainnya adalah tentang makan. Bisa mendapatkan makanan untuk memenuhi nutrisi yang di butuhkan oleh tubuh adalah kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Sedangkan jika sudah bisa makan makanan korea, makanan jepang, makanan western, itu namanya keinginan.

Contoh ketiga tentang liburan. Liburan memang kebutuhan dasar manusia karena merupakan kebutuhan akan love & belonging. Sehingga sesekali berlibur dari kepenatan pekerjaan sangat boleh sekali.

Tapi liburan yang seperti apa sih yang di bayangkan? Liburan ke luar negeri? Liburan di resort mewah? Pakai transportasi kelas bisnis? Itu adalah sebuah keinginan.

Contoh terakhir adalah soal kesehatan. Menjaga kesehatan dengan berolahraga adalah kebutuhan dasar manusia.

Tapi jika kita memilih berolah raga sepeda sehingga harus membeli sepeda menggunakan paylater. Dimana ketika ditambahkan pokok dan bunganya maka kita harus membayar cicilan lebih dari 30% gaji kita? Itu adalah keinginan.

Setiap orang pasti memiliki kebutuhan dan keinginan. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun saat kita mampu mengenali yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan kita bisa mengelola keuangan kita lebih baik lagi. Sebab kita bisa mengukur kemampuan diri dalam memenuhi keinginan lalu menyesuaikannya.

2. Membuat Pos-pos Keuangan

Salah satu prinsip penting dalam mengelola keuangan untuk para first jobber adalah membangun kebiasaan keuangan yang baik, khususnya dalam hal pengeluaran. Jadi penting untuk Anda membuat pos-pos keuangan untuk alokasi pengeluaran tiap bulannya.

Pos-pos keuangan ini sebenarnya akan mempermudah Anda dalam menyiapkan pengeluaran tiap bulan terutama yang bersifat wajib, butuh dan juga ingin.

Menurut financial planner Prita Ghozie secara umum, pos keuangan ini setidakya terbagi dalam 50% untuk living, 30% untuk saving dan 20% untuk playing.

Ini artinya Anda bisa mengalokasikan 50% dari pendapatan untuk kebutuhan hidup dan wajib Anda bayarkan tiap bulannya. Lalu 30%nya untuk menabung dimana tabungan ini terbagi untuk tujuan keuangan prioritas Anda dan juga 20% untuk gaya hidup.

3. Membuat Rekening Terpisah Untuk Dana Darurat

Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya, dana darurat bagi first jobber sifatnya wajib. Setidaknya Anda memiliki dana darurat sebesar 6-12 kali biaya rutin per bulannya.

Supaya dana darurat berhasil dan cepat terkumpul, buatlah rekening khusus untuk menabung dana darurat ini. Fungsinya agar Anda bisa lebih fokus menabung dan tidak tercampur dengan pos lain hingga akhirnya tanpa sadar di belanjakan.

Anda bisa menggunakan rekening tabungan digital, ataupun deposito. Intinya simpanlah dana darurat pada instrumen keuangan yang liquid (mudah di cairkan).

Karena saat ini dengan Rp 1 jutaan kita sudah bisa mulai membuat deposito dengan tenor minimal 1 bulan. Rekening seperti ini sangat memudahkan Anda para first jobber yang ingin mulai belajar menabung.

3. Menjadi Tuan dan Manajer Keuangan Pribadi

Strategi mengelola keuangan selanjutnya adalah membangun kebiasaan untuk membuat anggaran bulanan dan mencatatnya.

Anda harus menjadikan diri Anda sebagai manajer keuangan pribadi Anda sendiri. Dengan begitu, Anda tidak sembarangan dalam mengelolanya. Terutama pada sisis pengeluaran.

Dengan menjadi manajer keuangan Anda sendiri, Anda menjadi orang pertama yang tahu bagaimana kondisi keuangan pribadi.

Apakah sudah saatnya bisa mencicil kendaraan, mencicil rumah atau justru perlu bersabar terlebih dahulu. Anda juga akan menjadi orang yang tahu kemana saja uang Anda mengalir dan untuk apa, sehingga membentuk mental Anda menjadi tuan bagi uang bukan sebaliknya.

4. Cobalah Instrumen Investasi Secara Bertahap tapi Konsisten

Jika sudah siap berinvestasi, cobalah instrumen investasi secara bertahap namun konsisten, khususnya bagi Anda yang masih pemula.

Misalnya mulai dari yang sederhana, yakni menggunakan deposito terlebih dahulu. Tetapkan berapa persen dari gaji yang Anda taruh di deposito.

Dari deposito kini Anda sudah tahu rasanya mendapatkan return (bunga), walaupun jumlahnya kecil. Di tahap ini tujuan Anda memang bukanlah mendapatkan untung sebesar-besarnya dari investasi, melainkan memiliki pengalaman berinvestasi.

Lalu jika sudah cukup paham tentang deposito, Anda bisa pindah ke reksadana. Bisa di bilang reksadana ini miniatur menuju investasi saham. Sebelum itu pelajari dulu bagaimana mekanismenya.

Baca juga, Keuangan Sekarat? 6 Tips Jitu Bikin Dompet Normal Usia Libur Panjang

Anda bisa memilih reksadana pasar uang atau pendapatan tetap untuk awal kali sambil terus belajar. Jangan tergiur oleh trend orang-orang yang pamer return di social media jika Anda belum paham betul bagaimana cara kerja saham. Sebab saham termasuk instrumen investasi yang high risk.

5. Rencanakan Untuk Memiliki Aset Tetap

Para milenial biasanya lebih suka membeli pengalaman dibandingkan aset tetap. Misalnya lebih memilih liburan keluar negeri di banding aset yang bersifat tetap.

Sebenarnya membeli pengalaman itu tidak masalah, namun jika tidak ada sisa untuk membeli aset tetap akibatnya akan dirasakan saat berusia 50-60an nanti. Dimana tubuh dan energi kita sudah tidak mampu seperti dulu dalam menghasilkan income.

Ini sama halnya dengan memiliki rumah tinggal sendiri. Mungkin saat ini menyewa rumah terasa lebih mudah dan fleksible namun jika kita sudah masuk usia tua nanti, kira-kira bagaimana ya? Apa masih mampu berpindah-pindah kontrakan seperti sekarang? Diri kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Kesimpulan

Diterima bekerja untuk pertama kalinya merupakan momen yang sangat membahagiakan bagi banyak orang. Setelah menempuh pendidikan selama bertahun-tahun, tibalah saatnya untuk mempraktikan ilmu dan mulai bertanggung jawab atas kebutuhan ekonomi kita sendiri. Tapi tantangan dalam hal keuangan yang harus di hadapi juga banyak loh!

Mulai dari gaya hidup kekinian, kemudahan mendapatkan pinjaman, hingga kepekaan kita dalam membedakan kebutuhan dan keinginian. Untuk mulai berinvestasipun kita perlu memperhatikan kesiapan kita. Jadi tidak asal berinvestasi, sebaiknya cari tahu dulu saat kapan bisa mulai berinvestasi dan jangan lupa belajar mengenai instrumen investasinya.

Semoga panduan keuangan yang di jelaskan di atas bisa membantu Anda dan menjadikan pengelolaan keuangan Anda lebih baik lagi.

Yulinda Nurlisdiana: Hai, saya Yulinda Nurlisdiana, penulis di folderbisnis