9 Rahasia Anti Kalap Bagi Penggila Belanja Online, Ampuh!

Bagi para penggila belanja online, event 8.8, 9.9, 10.10, 11.11, hingga puncaknya 12.12 tak ubahnya ’Hari Raya’ untuk mereka. Terdengar berlebihan? Mungkin memang seperti itu, tapi sudah pasti tidak bagi para shopaholic ini. Karena menurut mereka, momen di mana banyak marketplace melakukan diskon besar-besaran adalah saatnya melampiaskan hasrat belanja yang begitu melimpah.

Tak hanya barang-barang yang sudah diincar sejak jauh-jauh hari, event diskon akbar yang digelar setiap bulannya pada tanggal ’kembar’ ini juga kerap membuat konsumen membeli produk yang mungkin sebetulnya tidak ’butuh-butuh amat’. Kondisi ini terjadi karena keinginan untuk berbelanja sudah tak bisa dibendung sehingga membuat para shopaholic tak sadar uangnya terkuras habis.

Bahkan sekalipun uang tabungan sudah tak bersisa, penggila belanja online nekat menggunakan layanan paylater atau membayar dengan credit card, demi memuaskan hasrat berbelanja. Memang, banyak orang bilang bahwa berbelanja adalah hak setiap orang apalagi jika itu dilakukan dengan penghasilannya sendiri. Bahkan berbelanja kadang kala membuat pikiran stres menjadi lebih fresh.

Baca juga: 8 Tips Kelola Keuangan Pasca Bercerai Bagi Perempuan

Hanya saja kalau kebiasaan berbelanja online ini sudah jadi perlebihan dan memicu Anda jadi seorang shopaholic, tentu itu bakal merugikan. Kecanduan berbelanja sudah pasti akan berdampak buruk ke finansial dan gaya hidup.

Jika kondisi finansial buruk seperti misalnya uang gaji habis dalam waktu 1-2 hari karena terlalu banyak check out di e-commerce, Anda tentu akan kebingungan untuk melanjutkan hidup sampai tiba tanggal gajian bulan depan.

Nah, supaya tidak jadi penggila belanja online yang malah bikin kondisi ekonomi dan sosial terganggu, Anda tentu harus dapat menghindari kemungkinan menjadi shopaholic. Tenang saja, masih ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi tabiat buruk tersebut.

Shopaholic, Kebiasaan Buruk Penggila Belanja Online

Apa Itu Shopaholic
© the hungry jpeg/ntl-studio

Berasal dari dua kata yakni shop (belanja) dan aholic (ketergantungan terhadap hal tertentu yang dilakukan secara sadar atau tidak), shopaholic memang dianggap sebagai gangguan psikologis tepatnya penyimpangan obsesif-kompulsif. Karena bagi seorang shopaholic, pikiran mereka akan terus mengarah ke kebiasaan berbelanja karena jika tidak melakukannya, diri bakal tersiksa.

Sehingga tak heran kalau akhirnya mereka para penggila belanja online yang sudah sampai di level hidup terasa hambar sampai pikiran jadi depresi hanya karena melewati pesta belanja online, wajib mewaspadai diri karena mungkin saja mengidap shopaholic. Tak cuma dialami oleh kalangan perempuan yang identik sebagai kaum doyan belanja, laki-laki pun berpeluang jadi shopaholic.

Lantaran merupakan gangguan psikologis, biasanya shopaholic muncul dengan masalah mental lain seperti gangguan cemas, depresi, OCD (gangguan obsesif-kompulsif) hingga binge eating disorder. Kondisi ini kerap muncul di akhir masa remaja dan awal masa dewasa (20-30 tahun). Tentu tanda-tanda yang paling jelas dari para shopaholic  ini adalah ketidakmampuan mengontrol hasrat belanja.

Karena punya self-esteem yang rendah, shopaholic selalu tampak rendah diri dan serba kekurangan sehingga semua dilampiaskan lewat belanja yang dianggap dapat meningkatkan harga diri mereka. Kendati ada rasa kecewa yang dilakukan setelah menghambur-hamburkan uang, shopaholic tetap akan merasakan kecewa dan penyesalan. Kondisi inilah yang membuat pengelolaan keuangan mereka buruk.

Namun di saat finansial diri sudah hancur lebur, shopaholic sampai ada yang rela melakukan tindakan nekat seperti mengajukan pinjol (pinjaman online) ilegal, menggadaikan aset, berhutang ke rekan-rekannya sampai mencuri dan menipu hanya karena supaya bisa berbelanja lagi. Kondisi penggila belanja online yang sudah demikian jelas butuh bantuan psikiater atau psikolog untuk mengatasinya.

Trik Ampuh Anti Kalap Bagi Penggila Belanja Online

Tak ingin terjebak sebagai shopaholic tapi kerap kali kalap dalam berbelanja online? Maka kondisi demikian harus sesegera mungkin Anda atasi. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, penggila belanja online seringkali memiliki tata kelola finansial yang buruk. Tentu dengan keuangan yang bermasalah, Anda tak mungkin bisa mencapai kesejahteraan.

Baca juga: Tips Kelola Keuangan Bagi Tulang Punggung Keluarga yang Masih Single

Nah, karena Anda kini sudah paham betapa berbahayanya jadi shopaholic, beberapa rahasia berikut ini bisa coba Anda terapkan supaya tidak terlalu terjerumus sebagai penggila belanja online:

1. Jangan Tergiur Diskon

Kalap Diskonan
© vecteezy/natalia1891991133727

’Diskon gila-gilaan 90% khusus pembelian hari ini dengan transaksi minimal Rp1 juta!’, tentu hal itu akan menarik perhatian banyak orang. Cara inilah yang kerap jadi ’senjata’ bagi marketplace setiap bulan yang membuat nilai transaksi mereka meningkat dan orang-orang jadi lebih konsumtif. Tak sedikit dari mereka yang tergiur diskon sampai tak sadar kalau sudah melakukan transaksi melebihi batas.

Untuk itulah langkah pertama supaya tidak terus-menerus jadi penggila belanja online adalah dengan tidak mudah tergiur diskon. Anda harus tahu kalau diskon tidak serta merta diberikan begitu saja. Diskon adalah trik dari penjual supaya produk mereka laku, tanpa bikin rugi.

Karena meskipun diskonnnya besar, bisa saja penjual sudah menaikkan terlebih dulu harga jualnya sehingga sebetulnya berbelanja saat diskon dan tidak, keuntungan konsumen tak terlalu besar. Untuk itulah jika memang harus berbelanja saat diskon, pastikan produk itu memang benar-benar Anda butuhkan dan besaran diskonnya tetap menguntungkan dibandingkan produk tersebut dibeli secara regular.

2. Hindari Berhutang Saat Belanja

Rahasia kedua supaya tidak terjebak dalam gaya hidup shopaholic adalah dengan menghindari belanja dengan hutang. Maksudnya, Anda membayar transanksi dengan kartu kredit atau fasilitas paylater. Memang sih kedua layanan ini memungkinkan Anda membeli produk yang dimau meskipun tak punya uang, tapi setelah itu Anda bakal dibebankan tagihan setiap bulannya dengan bunga tinggi.

3. Susun Anggaran Belanja

© Vectorstock/Yapanda
© vectorstock/yapanda

Cara ampuh berikutnya yang bisa coba diterapkan para penggila belanja online adalah dengan menyusun anggaran belanja. Dalam anggaran belanja itu tuliskan berapa besar penghasilan, berapa tagihan rutin yang harus dibayar per bulan, berapa kisaran untuk alokasi dana darurat dan invstasi, hingga berapa jatah untuk belanja. Dengan begitu Anda akan tahu berapa nominal yang bisa dibelanjakan.

Tentu dibutuhkan kedisiplinan dan tekad yang kuat untuk mengikuti anggaran belanja itu secara konsisten. Supaya bisa melakukannya, Anda bisa memisahkan alokasi penghasilan itu di rekening yang berbeda. Sehingga saat waktu belanja tiba, gunakan saja uang yang sudah disiapkan di rekening khusus belanja.

Baca juga: 7 Tips Menjaga Skor Kredit Saat Pandemi Covid-19

4. Cari Rekan yang Hemat

Masih merasa suka kalap saat belanja? Maka Anda bisa mencoba mencari rekan yang hemat dan selalu mengajaknya saat berbelanja. Anda tentu tahu bahwa lingkungan pertemanan bisa berdampak pada diri? Karena itulah kalau Anda memang punya kecenderungan jadi shopaholic, usahakan mencari teman yang hewan dan tidak gila belanja agar Anda terpengaruh jadi lebih baik.

5. Tetapkan Waktu Belanja

Waktu Belanja
© vecteezy/holaillustrations

Terlalu lama membuka aplikasi e-commerce atau berada di pusat perbelanjaan padahal produk yang ingin dibeli sudah di tangan? Kondisi inilah yang bisa memicu seseorang untuk jadi shopaholic. Nah karena Anda sudah menyusun anggaran belanja dan besaran nominal yang bisa dipakai untuk membeli sesuatu, jangan lupa juga untuk menetapkan waktu belanja.

Misalkan Anda memasang waktu buka aplikasi e-commerce di ponsel selama dua jam termasuk dengan check out, maka itulah waktu yang harus dipegang teguh saat berbelanja online. Begitu pula saat harus ke mall, pasang waktu paling lama adalah tiga jam maka durasi itu yang bisa Anda lakukan untuk berbelanja. Jika melebihi batas waktu, jangan segan memberikan punishment pada diri.

6. Bikin Daftar Belanja

Agar bisa konsisten dengan anggaran dan waktu belanja, Anda juga bisa menggunakan daftar belanja yang sudah dituliskan sebelumnya. Membuat daftar belanja cukup ampuh untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan dan berapa total belanjaan nanti. Dengan adanya daftar belanja, Anda bisa langsung ke pusat perbelanjaan dan membeli produk yang hendak dibeli, tanpa perlu buang waktu.

Daftar belanja ini juga bisa dilakukan saat membeli produk secara online di marketplace. Di mana Anda bisa langsung mencari produk yang diinginkan di kolom pencarian, menetapkan filter misalkan harga barang termurah dan lokasi terdekat, lalu dengan segera melakukan check out dan membayar transaksi.

7. Berhenti ’Cuci Mata’

Cuci Mata Belanja
© vectorstock/siraanamwong

Salah satu kebiasaan buruk penggila belanja online adalah suka ’cuci mata’ dengan dalih menyegarkan pikiran. Misalkan saja mengisi waktu akhir pekan setelah seminggu bekerja dengan iseng membuka aplikasi e-commerce. Kebiasaan ini tanpa sadar justru mendorong seseorang melakukan pembelanjaan, karena ’cuci mata’ dapat menggiring Anda tanpa sadar untuk berbelanja di luar rencana.

Apalagi jika membuka aplikasi di saat momen diskon besar-besaran, awalnya ’cuci mata’ justru berakhir di uang melayang karena membeli barang yang lucu, dan akhirnya malah menyesal. Tak hanya saat berbelanja online, perilaku ini juga kerap terjadi saat Anda sedang jalan-jalan di mall untuk mengisi waktu dan melakukan window shopping.

Bisa saja ketika melihat ada toko yang memasang diskon besar, atau mendadak Anda dihampiri oleh seorang SPG (Sales Promotion Girl) atau SPB (Sales Promotion Boy), Anda pun akhirnya terpikat dan berbelanja begitu saja. Untuk itulah jangan membiarkan diri menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan yang bisa bikin tanpa sadar membeli produk yang menarik mata.

Baca juga: Jangan Stres, Ini Tips Atur Keuangan Saat Isolasi Mandiri

8. Bawa Uang Tunai Terbatas

Meskipun saat pandemi Covid-19 ini siapapun disarankan untuk melakukan transaksi cashless, uang tunai justru memegang peran penting dalam meredam kebiasaan gila belanja. Apalagi kalau Anda membawa uang tunai terbatas alih-alih kartu debet yang bisa digesek sesuka hati atau kartu kredit dengan limit besar, uang tunai jika sudah habis maka akan membuat Anda terpaksa berhenti berbelanja.

Hal ini juga bisa diterapkan dalam kegiatan belanja online, di mana jika Anda sudah menunjukkan tanda-tanda sebagai shopaholic, ada baiknya untuk tidak menautkan akun dengan layanan mobile banking, internet banking atau bahkan e-wallet yang justru mengundang diri melakukan transaksi.

9. Alihkan ke Investasi

Belanja Jadi Investasi
© vecteezy/eamesbot

Dan inilah hal terakhir yang bisa membuat penggila belanja online mengubah kebiasaan gila belanja menjadi keuntungan finansial. Yap, Anda harus tahu bahwa ada beberapa produk yang diincar shopaholic justru mempunyai nilai investasi tinggi seperti tas, sepatu hingga arloji branded berharga mahal, sampai tentunya perhiasan-perhiasan mewah.

Dengan memahami kalau barang-barang bernilai fantastis itu justru bisa jadi sumber penghasilan baru, maka Anda tentunya akan bisa menjadi seorang penggila belanja online yang cerdas. Asalkan seluruh barang bernilai investasi itu memang dibeli dalam kondisi asli, berkualitas dan senantiasa terawat, bukan tak mungkin harganya bakal melambung apalagi jika merupakan item koleksi.

Jadi, siapa bilang penggila belanja online tak bisa meraih kesejahteraan finansial?

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar