9 Penyebab Kegagalan Start-Up Yang Harus Anda Waspadai

Sejak dua tahun lalu, banyak anak muda yang ingin meniru kesuksesan perusahaan rintisan atau Start-up digital seperti Gojek, Tokopedia, atau Traveloka.

Namun setelah mereka mengikuti banyak pelatihan dan akhirnya merintis Start-up, banyak dari mereka yang kemudian sukses, namun banyak juga dari mereka yang akhirnya gagal.

Alasan yang paling banyak kami temui ketika melihat Start-up yang gagal adalah karena produknya tidak menarik untuk konsumen atau kekurangan uang untuk mengembangkan bisnis dengan alasan belum ada investor yang berminat.

Namun jika mau mempelajarinya lebih dalam, alasannya tidak sesederhana itu. Ada banyak detail permasalahan yang bisa kami petakan untuk bahan pelajaran kita semua.

Sebagai referensi bagi kawan-kawan yang sedang menjalankan start-up atau yang baru saja akan memulai.

Jika Anda membayangkan bahwa membuat Start-up adalah yang penting mempunyai aplikasi android dan layanan produk unggulan lalu kemudian pelanggan akan dengan sukarela menggunakan layanan Anda. Maka Anda SALAH BESAR!!

Jika Anda ingin menbangun sebuah Start-up kemudian belajar dari succeed story itu sudah biasa, namun lebih penting adalah belajar dari failed story. Agar Anda bisa mencegah faktor kegagagalan terjadi pada start-up Anda di kemudian hari.

1. Masalah Pasar

Alasan yang paling utama dari kegagalan Start-up adalah hanya ada sedikit atau malah tidak ada pasar sama sekali untuk produk yang telah mereka bangun.

Tidak ada proposisi nilai yang cukup menarik, atau peristiwa yang menarik, yang menyebabkan pembeli benar-benar berkomitmen untuk menggunakan produk mereka.

Kami memperhatikan banyak start-up yang sebenarnya memiliki terobosan yang bagus, tapi kondisi pasar belum mampu menerima ide mereka.

Kami menyebut ide Start-up tersebut sangat futuristik tapi kondisi pengetahuan masyarakat masih dua langkah di belakang ide mereka sehingga sulit untuk menerimanya.

Kami pernah menemui Start-up yang bernama Homipedia, mereka bergerak di bidang perbaikan infrastruktur rumah skala kecil seperti perbaikan ledeng, mengganti keramik yang retak, atau menambal tembok yang retak.

Konsep perbaikan rumah yang menggunakan teknologi aplikasi untuk memudahkan pelanggan adalah terobosan yang luar biasa.

Ini akan memudahkan pelanggan,  khususnya untuk anak kos atau seorang ibu rumah tangga yang kebetulan suaminya sedang dinas ke luar kota.

Namun optimisme dan terobosan ini ternyata belum mampu mendatangkan banyak pelanggan. Bahkan tidak banyak investor yang mau berinvestasi pada ide yang cemerlang ini.

Ternyata masalahnya ada pada kondisi pasar. Start-up ini bukan dikembangkan di kota besar seperti Jakarta atau Bandung yang mempunyai masyarakat dengan kultur individu yang tinggi.

Tetapi di sebuah kota yang meski banyak mempunyai kampus, namun kultur sosial antar masyarakat masih tinggi.

Sehingga untuk mencari orang yang bisa memperbaiki kerusakan rumah tidak terlalu sulit untuk menemukannya di lingkungan sekitar.

Kami sebenarnya yakin bahwa Start-Up tersebut bisa berkembang apabila mengembangkan layanan mereka di Jakarta.

Jadi sebagus apapun ide bisnis Start-up Anda, harus bisa mengukur sejauh mana penerimaan masyarakat. Kultur sosial dan pendidikan masyarakat juga berpengaruh terhadap keminatan mereka menggunakan layanan Anda.

2. Kegagalan Model Bisnis

Seperti yang kami tulis di awal tulisan ini, salah satu penyebab kegagalan paling umum di dunia startup adalah pengusaha terlalu optimis tentang betapa mudahnya mendapatkan pelanggan.

Mereka berasumsi bahwa karena mereka akan membangun situs web, produk, atau layanan yang menarik, pelanggan akan membuka jalan menuju pintu mereka.

Itu mungkin terjadi dengan beberapa pelanggan pertama, tetapi dengan cepat itu akan menjadi tugas yang mahal untuk menarik dan memenangkan pelanggan.

Dalam banyak kasus biaya untuk memperoleh pelanggan lebih tinggi daripada biaya menjaga loyalitas pelanggan.  

Dalam aturan ideal sebuah Start-up bahwa Anda harus dapat memperoleh pelanggan Anda dengan uang lebih sedikit daripada yang akan mereka berikan dalam hubungan antara pelanggan dan penyedia jasa.

Namun terlepas dari itu, saya melihat sebagian besar pengusaha gagal memberikan perhatian yang memadai untuk mencari tahu biaya akuisisi pelanggan yang realistis.

Sejumlah besar rencana bisnis tidak memikirkan angka kritis ini dan mereka sering mulai menyadari bahwa model bisnis mereka tidak ideal antara biaya mendapatkan pelanggan dan merawat pelanggan.

3. Tim Manajemen Yang Buruk

Masalah yang sangat umum penyebab startup gagal adalah tim manajemen yang lemah. Ada beberapa kesalahan dalam manajerial sebuah tim, antara lain:

Lemah dalam strategi, Start-Up membangun produk yang tidak ingin dibeli siapa pun. Ini karena manajemen gagal melakukan validasi ide sebelum dan selama pengembangan.

Buruk dalam eksekusi, ini menyebabkan masalah karena produk tidak dibangun dengan benar atau tepat waktu. Tentu ini akan membuat eksekusi pasar menjadi tidak terimplementasi dengan baik.

Membangun tim yang semakin lemah ke bawah. Kami sering menemui alur perekrutan tim operasional bahwa semakin ke bawah malah semakin lemah dalam pengetahuan.

4. Kekurangan Dana

Penilaian sebuah Start-up tidak berubah secara linier dari waktu ke waktu. Hanya karena sudah dua belas bulan sejak Anda menaikkan putaran bisnis, tidak berarti bahwa bisnis Anda sekarang bernilai lebih banyak mahal.

Untuk mencapai peningkatan valuasi, perusahaan harus mencapai titik aman pertama sesuai dengan target dan sebelum kehabisan uang.

Dalam menjalankan tes produk untuk memenuhi kecocokan pasar, biasanya sebuah Start-up membutuhkan waktu 6 bulan sampai 1 tahun.

Maka Anda harus benar – benar memperhitungkan posisi keuangan Anda, jangan sampai target belum tercapai dan Anda mengalami Burn out.

Dalam 6 bulan pertama Anda harus bisa melihat beberapa kendala teknis, meningkatkan validasi dan engagement dengan pelanggan, kemudian menyesuaikannya dengan situasi pasar.

Jika semua hal itu sudha dilakukan dan bisnis mulai menggeliat, maka sedikit banyak model bisnis Anda mulai terbukti.

Anda sudah mengetahui cara mendapatkan pelanggan dengan biaya yang  cukup rendah kemudian jelas bahwa bisnis dapat menguntungkan, karena monetisasi dari setiap pelanggan melebihi biaya ini.

Setidaknya tahapan – tahapan diatas bisa menjadi parameter bahwa bisnis telah berkembang dengan baik. Waktunya Anda mengatakan bahwa kepada investor bahwa butuh dana tambahan untuk lebih mempercepat ekspansi.

Modal ini mungkin untuk ekspansi internasional, atau untuk mempercepat ekspansi pasar , atau bisa untuk mendanai kebutuhan modal kerja seiring pertumbuhan bisnis.

5. Tidak Fokus

Ini adalah masalah yang hampir ditemui oleh pebisnis konvensional maupun digital. Mereka terlalu banyak mengkonsumsi wacana sehingga banyak sekali ide yang masuk ke otak mereka.

Masalahnya adalah itu membuat mereka tidak fokus terhadap satu ide, dalam otak mereka sudah terbayang skema bisnis yang bercabang dan berharap bahwa semuanya bisa cuan.

Mempunyai banyak usaha yang semuanya bisa memberi kita uang tentu menyenangkan, tapi Anda harus ingat bahwa mempersiapkan satu unit usaha membutuhkan fokus untuk mencapai hasil optimal.

Saat Anda melakukan sebuah proyek Start-up, kami yakin akan ada godaan dari pihak luar agar Anda turut serta juga dalam membangun proyek mereka.

Kami sarankan untuk tidak mengambil kesempatan itu, karena memikirkan dua hal dalam satu waktu sama artinya memecah kemampuan otak Anda menjadi dua bagian.

6. Tidak Siap Kompetisi

Memulai startup bukan hanya tentang fokus pada bisnis dan pelanggan. Ingat, sebuah start up mampu bertahan karena mampu memenangkan kompetisi.

Kebanyakan perusahaan startup merasa bahwa ide bisnis adalah satu-satunya yang akan memandu mereka menuju keberhasilan ketika produk meluncur ke pasar.

Tapi tidak semudah itu, bahwa startup dengan ide yang hampir sama akan selalu ada dari waktu ke waktu.

Anda harus siap berkompetisi dengan Start-up lain. Maka Anda harus sering menganalisa pasar, kompetisi, dan bisnis yang sudah terbentuk akan membantu menghasilkan strategi berbeda pada area berbeda untuk memenangkan pasar.

7. Mengabaikan Feedback Pelanggan

Selalu sulit bagi perusahaan startup untuk memutuskan diantara dua hal ini. Antara memperbaiki produk menjadi lebih baik atau mengujinya di pasar terlebih dahulu.

Mungkin satu hal menarik untuk mengajak para pelanggan memberikan ide tentang peningkatan produk. Namun jika terlalu fokus pada ide pelanggan, malah bisa mengaburkan ide kita sendiri.

Namun Anda juga tidak bisa mengabaikan pelanggan, karena hari ini yang sedang tren adalah pendekatan berbasis konsumen, customer based oriented.

Saat Anda menilai produk Anda sendiri, maka coba melihat menggunakan sudut pandang konsumen. Juga menguji produk tersebut pada beberapa orang yang bisa memberikan pendapat dengan jujur.

Pondasi keberhasilan startup adalah pada validasi pasar. Anda akan gagal dengan produk yang bagus namun tanpa melakukan validasi pasar.

Kemungkinan cara terbaik untuk memastikan semua berjalan baik adalah dengan mengukur, melacak, memvalidasi, dan mengoptimalkan data yang Anda terima dari pelanggan.

8. Marketing Yang Buruk

Sebagus apapun produk Anda, tidak akan ada artinya tanpa mengetahui audiens target Anda. Kemudian mengetahui cara mendapatkan perhatian mereka dan mengubahnya menjadi prospek.

Pada akhirnya memprospek pelanggan adalah salah satu keterampilan terpenting dari bisnis yang sukses.

Tetapi ketidakmampuan untuk memasarkan adalah kegagalan umum terutama di antara para pendiri Start-up yang hanya fokus pada aktivitas coding

atau membangun produk tetapi tidak menyukai gagasan untuk mempromosikan produk.

Pada tahap inilah tim Anda akan diuji, apakah mampu melakukan proses pemasaran atau Anda harus merekrut orang lain untuk memasarkan produk Anda.

Seperti pembahasan pada nomor 1, sebaik apapun terobosan Anda jika dipasarkan kepada orang dan situasi yang salah maka akan tampak tidak berguna.

9. Kurangnya Passion

Banyak ide bagus namun manajemen tidak melakukan eksekusi dengan baik karena ide tersebut tidak relate dengan diri mereka dan tidak membangkitkan gairah.

Maka kami menyarankan bahwa bukan sekedar ide bisnis yang bagus, tapi juga ide bisnis yang berasal dari sesuatu hal yang kalian gemari.

Jika sebuah bisnis berangkat dari sebuah hal yang digemari, tentu kalian tidak akan berasa sedang bekerja namun sedang melakukan hobi Anda.

Anda tidak akan merasa tertekan seperti orang sedang bekerja,namun Anda akan menikmati seperti sedang liburan.

Baca juga, Tips Memulai Start-Up

Ada sebuah kutipan menarik yaitu “Bekerjalah seperti engkau sedang Bertamasya, dan katakanlah pada orang bahwa engkau tidak butuh liburan karena bekerja adalah sebuah liburan untukmu”

Tentu kami tidak menyarankan Anda untuk bekerja selama 30 hari dalam sebulan. Namun maksud kutipan ini adalah bahwa saat Anda bekerja harus menggunakan hati yang bahagia.

Ini akan mempengaruhi hasil pekerjaan Anda karena dilakukan dengan passion.

Alfian Ihsan: