7 Hal yang Menyebabkan Pertumbuhan Investor Indonesia Lambat

Perhitungan investasi

Istilah Gemah Ripah Loh Jinawi memang sudah menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia sejak dulu. Ya, Nusantara ini memang dikenal sebagai negeri dengan kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Baik daratan atau lautan, semua memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang istimewa. Jika dikaitkan dengan sektor ekonomi, kekayaan alam Indonesia tentu sangat mampu menarik hari banyak pebisnis.

Bahkan sejak masa lampau, Indonesia telah menjadi rebutan banyak penjajah karena melimpahnya sumber daya. Kini setelah negeri ini merdeka, pesona Bumi Pertiwi masihlah sangat tinggi dan membuat banyak investor tertarik. Hanya saja faktanya, ada banyak sekali kendala yang membuat para investor terutama asing, berpikir ulang untuk menanamkan modal mereka di perusahaan-perusahaan Indonesia.

Baca juga: Mau Investasi Tanah? Inilah Hal-Hal yang Wajib Anda Hindari

Menanam Modal di Indonesia Antara Fakta dan Dilema

Investasi penanaman modal

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Vietnam saat ini menjadi bintang baru dalam sektor investasi di Asia. Padahal jika dilihat SDA yang dimiliki, tentu Indonesia jauh memiliki potensi lebih besar. Namun apa yang membuat Vietnam mampu menarik hati investor? Tidak lain karena jumlah regulasi terkait investasi di Vietnam jauh lebih sedikit daripada di Indonesia.

Dari data yang dilansir Katadata menurut Bank Dunia, Kemenkeu, BKPM, KPMG sampai Vietnam Investment Review, rata-rata rasio investasi asing terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) di Vietnam dalam kurun waktu 2010-2018 mencapai 5,9%! Nilai ini jauh lebih besar daripada Indonesia di periode sama yang cuma mencatat 2,1%. Bahkan jumlah regulasi investasi di Indonesia memiliki total 6.300, jauh lebih banyak daripada Vietnam yang hanya 4.000.

Baca juga: Wajib Tahu, Inilah Faktor-Faktor Penyebab Harga Saham Naik Turun

Memang tidak bisa dipungkiri, kebijakan yang terlalu longgar akan sangat memperluas jalan masuk PMA untuk menanamkan modal besar-besaran. Namun faktanya, PMA lebih banyak menanamkan modal di sektor industri yang jelas membutuhkan banyak pekerja. Generasi produktif pun lebih memilih bekerja di sektor industri dan membuat sektor-sektor perekonomian lain ditinggalkan. Imbasnya, PMA itu hanya berdampak ke pertumbuhan ekonomi negaranya, alih-alih Indonesia.

Semakin memperburuk kondisi, pemerintah juga dianggap kurang bisa menarik minat pemilik modal dalam negeri untuk berinvestasi. Minimnya keuntungan dan sosialisasi mengenai pentingnya investasi menjadikan mayoritas penduduk Indoneisa tidak paham. Banyak yang ingin mendapat untung besar dalam waktu kecil karena kecenderungan gaya hidup konsumtif. Belum lagi dengan kebanggaan menggunakan produk impor daripada produk asli Indonesia semakin memperburuk risiko investasi dalam negeri dan membuat pertumbuhan investor terus melambat.

Inilah 7 Hal Penyebab Pertumbuhan Investor Indonesia Lambat

1. Susahnya Percaya ke Lembaga Keuangan

Bank Indonesia

Hal pertama yang membuat banyak orang berpikir ulang untuk menjadi investor adalah karena sulit percaya ke lembaga keuangan. Bahkan bisa dibilang kalau kepercayaan rakyat Indonesia terhadap institusi ini belum maksimal. Belum lagi masalah keamanan dana nasabah yang masih mengkhawatirkan, membuat menjadi investor sukses di Indonesia dipandang sekadar mimpi.

Tentu Anda masih ingat dalam kasus Bank Century yang melenyapkan triliunan rupiah dana nasabah dan kasusnya sendiri masih terkatung-katung sampai sekarang. Tingginya angka kriminalitas seperti pembobolan rekening atau kartu kredit, semakin memperbuduk kepercayaan kepada perbankan dan lembaga keuangan, pintu gerbang utama investasi.

Baca juga: Cara Berinvestasi Bagi Karyawan dengan Gaji Minim, Berikut Panduannya!

2. Minimnya Sosialisasi

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, minimnya sosialisasi terhadap pasar modal juga menjadi penyebab kenapa pertumbuhan investor lokal melambat. Bahkan kalau boleh dibilang, semua cuma berpusat di kota-kota besar pulau Jawa, padahal daerah lain memiliki potensi juga. Seolah makin buruk, pelaksanaan sosialisasi bahkan cuma sekadar formalitas belaka yang tidak ada tindakan lanjutan.

3. Regulasi Birokrasi yang Bertele-Tele

Regulasi investasi bertele-tele

Kembali lagi ke data regulasi investasi yang ditetapkan oleh Indonesia, terlihat jika sangatlah banyak. Regulasi birokrasi yang berkesan bertele-tele dan dipersulit ini jelas memberikan beban kepada calon penanam modal. Meskipun begitu memang prosedur rumit ini adalah sebagai upaya perlindungan, tetap saja harus membuat calon investor menghubungi banyak pihak sebelum menanamkan modal.

4. Anggapan Riba untuk Investasi

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim di dunia yang terbesar. Fakta ini membuat umat Islam di Tanah Air harus memegang teguh ajaran agamanya dalam kehidupan termasuk saat hendak berinvestasi. Masih saja ada pendapat yang menyebutkan investasi itu sama dengan riba yang jelas-jelas dilarang dalam agama Islam. Hal ini semakin membuat minat untuk jadi investor pun menurun karena tak sesuai dengan ajaran agama.

Produk keuangan syariah

Apakah ini benar? Satu hal yang wajib dipertegas adalah investasi bukanlah bentuk menggandakan uang, sekalipun memang terlihat sama. Justru ketika seseorang melakukan penanaman modal di sebuah perusahaan, dana itu akan digunakan untuk operasional perusahaan dalam rangka menjalankan roda bisnisnya dan kemudian memperoleh omzet serta keuntungan. Dana hasil penanaman modal tidaklah berdiam dalam brankas perusahaan, tapi harus dikelola supaya bisa menghasilkan keuntungan sesuai kontrak kepada si penanam modal.

5. Hasil Investasi yang Cenderung Tak Tampak

Perhitungan investasi

Ada satu hal yang membuat kenapa rakyat Indonesia lebih suka investasi ke bidang tanah, properti atau emas. Jawabannya adalah investasi jenis itu terlihat dan bisa dipegang entah dalam bentuk bendanya atau sertifikat. Namun hal ini tidak terlihat saat melakukan investasi dengan menanam modal ke perusahaan lantaran wujud barangnya tidak terlihat, sampai akhirnya keuntungan dibagikan.

6. Investasi Cuma Monopoli Orang Berduit

Alasan utama kenapa seseorang tak mau berinvestasi adalah karena investasi hanya bisa dilakukan mereka orang-orang kaya yang punya banyak orang. Memang ada beberapa produk investasi yang menerima nominal kecil, tapi sang investor tidak akan memperoleh dampak berarti. Fakta inilah yang secara langsung membuat pertumbuhan investor di Indonesia melambat.

Baca juga: 10 Ciri-Ciri Investor Sukses yang Bisa Anda Contoh Dalam Berinvestasi

Jika memang demikian, Anda tentu harus mencari tahu kebijakan perusahaan dengan teliti. Ada beberapa perusahaan yang tetap memberikan keuntungan pada penanam modal dengan nominal tidak besar dalam bentuk lembaran saham. Kalau begini, maka Anda tinggal menjual saham-saham tersebut jika memang memperoleh keuntungan dalam bentuk uang tunai.

7. Kurang Sabar Saat Berinvestasi

Perencanaan investasi

Dan inilah penyebab utama kenapa pertumbuhan investor di Indonesia sangat jauh dari harapan. Yap, tidak memiliki rasa sabar dan tingginya keinginan untuk sesegera mungkin sukses adalah penyebab utamanya. Tak bisa dipungkiri memang jika pemikiran mayoritas penduduk Indonesia adalah belum mengarah ke kedewasaan. Lantaran ini pula, akhirnya banyak orang terjebak memilih melakukan investasi ke pihak penipu yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Kondisi seperti inilah yang akhirnya menyebabkan banyak orang trauma jika mau berinvestasi lagi.

Bagaimana? Cukup masuk akal bukan hal-hal yang membuat pertumbuhan investor di Indonesia serasa jalan di tempat? Nah, bagi Anda yang ingin menjadi investor lokal, sebetulnya tidaklah sulit untuk memperoleh akses terhadap informasi saham. Anda tinggal berkunjung ke Bursa Efek Indonesia alias Indonesia Stock Exchange (IDX) untuk memperoleh data-data kredibilitas perusahaan sehingga bisa menentukan tempat penanaman modal yang tepat.

Scroll to Top