10 Dampak Perang Dagang Antara Amerika VS China bagi Indonesia

Awal Maret 2018, menjadi bulan yang mencekan bagi Negara Amerika Serikat dan juga China. Di Bulan tersebut gaung perang dagang mulai terdengar hingga belahan dunia.

Presiden Amerika, Donald Trunp mengancam untuk menaikan tarif impor bebragai produk dari China. Ancaman tersebut, rupanya tidak membuat china takut karena mereka pun mengancam balik dengan hal yang sama.

Pada bulan Mei, perang dangan pun mulai mereda karena keduanya sepakat untuk mengambalikan tarif impor seperti semula yaitu Rp 1.000 triliun.

Namun, hal tersebut tidak bertahan lama karena sebulan kemudian perang dagang antar kedua negara tersebut kembali menegang.

Donald Trump pun memberikan aturan baru terhadap tarif impor tersebut sebesar Rp 2.800 triliun. sedangkan China pun tidak main-main dengan ancamannya karena memberlakukan tarif impor bagi Amerika Sebesar Rp 705 triliun.

Dengan adanya kejadian tersebut, Indonesia pun terkena dampak perang dagang Amerika vs China. Dampak yang dirasakan menurut menteri perekonomian ada yang bersifat positif dan juga negatif.

Jika Anda ingin mengetahui dampak apa saja yang dihasilkan dari perang dagang tersebut. Berikut akan kami paparkan di bawah ini!

1. Ekspor Sawit Menurun

Perang dagang Amerika vs China
Perang dagang Amerika vs China

Dampak perang dagang Amerika vs China ini membuat ekspor sawit menurun. Padahal ekspor sawit ini adalah produk unggulan dari Indonesia.

Penurunan tersebut sangat jelas dibandingkan tahun lalu dimana ekspor sawir menurun hingga 17 persen.

Hal ini terjadi karena di beberapa negara melakukan kebijakan yang sangat ketat untuk kepentingan negaranya.

Contohnya, seperti Amerika yang menaikkan bea masuk prodek biodiesel.

Di Eropa pemerintahnya melarang penjualan minyak kelapa sawit. Serta di India, pemerintah setempat melakukukan peningkatan bea masuk antidumping untuk produk kelapa sawit.

2. Terganggunya Ekspor Produk Otomotif

Dampak lain yang dirasakan dari perang dagang Amerika vs China adalah terganggunya ekspor produk otomotif ke negara Vietnam.

Hal ini terjadi karena pemerintah Vietnam membuat kebijakan standarisasi baru tentang impor otomotif yang masuk ke negara tersebut.

Padahal sebelumnya, Vietnam tak pernah mempermasalahkan hal tersebut dan sudah teruji serta disepakati tentang standarisasi otomotif tersebut.

Karena hal itulah, delegasi Indonesia pun akan berupaya untuk melobi pemerintah membahas tentang ekspor produk otomotif tersebut.

Selama ini Vietnam menjadi pasar ekspor otomitif yang menguntungkan. Hal tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun lalu di mana Indonesia mendapatkan keuntungan sebanyak US$241,2 juta.

3. Ekspor Besi, Baja, dan Aluminium yang Terhambat

Dampak berikut dari perang dagang Amerika vs China adalah terhambatnya ekspor besi, baja, dan aluminium ke negeri Amerika.

Selama ini, Indonesia banyak mengekspor kedelai dan juga besi, baja ke negeri Paman Sam tersebut.

Mengingat perang antar kedua negara tersebut, menjadikan Indonesia berpotensi sebagai negara pengalihan dari kedua tersebut. Sehingga proses ekspor dan impor pun terganggu.

Selama ini Indonesia memang mendapatkan keuntungan yang besar dari ekspor tersebut. Seperti pada tahun 2017 keuntungan yang di raup dari baja dan alumunium sebesar US$19 juta dan US$70 juta.

4. Amerika Memutuskan Kebijakan Ekspor di Sektor Industri Tekstil

Dampak perang dagang USA vs China

Dampak perang dagang Amerika vs China ini membuat Amerika memutuskan kebijakan ekspor dengan mencabut Generalised System of Preference (GSP) yang berada di sektor industri tekstil.

GSP adalah salah satu mekanisme perdangan yang memberikan penurunan tarif bea masuk dari negara maji ke negara berkembang dengan menggunakan form A.

Dengan dicabutnya GSP tersebut maka harga tekstil di AS sulit untuk bersaing dengan produk tekstil yang lain.

5. Berpeluang Menggantikan Produk yang Dibutuhkan oleh AS dan China

Adanya perang dagang ini membuat kedua negara tersebut pasti akan ada produk impor yang tidak terpenuhi. Oleh karena itu, kedua negara tersebut pastinya akan melirik negara lain untuk mengisi kekosangan tersebut.

Karena hal itulah, Indonesia berpeluang untuk bisa mengisi kekosongan tersebut. Sebagai contoh, China mengenakan tarif impor kedelai mahal tentu saja pihak AS akan mengganti produk tersebut dengan yang serupa di negara lain.

Melihat peluang seperti itu, Indonesia bisa saja menggantikannya dengan mengirimkan Crude Palm Oil yang memiliki khasiat yang sama dengan minyak nabati dari kedelai.

6. Melemahnya Sektor Keuangan di Indonesia

Dampak perang dagang Amerika vs China ini akan berimbas pada melemahnya sektor keuangan di Indonesia. Pihak Amerika membuat sebuah kebijakan yang disebut dengan kebijakan moneter di Amerika.

Mereka menaikkan suku bunga yang lebih tinggi dari standariasi yang biasa. Akibatnya para investor akan mengambil modal dari negara-negara berkembang salah satunya adalah yang ada di Indonesia.

Dengan melihat fenomena tersebut, pihak BI langsung cepat tanggap membuat strategi yang membuat keuangan negara stabil.

Strategi yang dilakukannya adalah menaikkan suku bunga, memastikan sejumlah negara terkai pasar keuangan yang berdaya saing, mendorong arus masuk modal asing, dan mengenadalikan defisit transaksi berjalan.

7. Neraca Perdagangan Indonesia Mengalami Defisit

Dampak yang terasa dari perang dagang Amerika vs China ini adalah neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit.

Menurut menteri perekonomian dan perdagangan, terjadinya defisit tersebut mulai terjadi sejak januari hingga Mei 2018.

Hanya pada bulan Maret 2018 saja neraca perdagangan di Indonesia mengalami surplus sebesar US$1 miliar. Hal tersebut terjadi karena Indonesia mampu bertahan menghadapi gejolak eksternal.

Untuk menanggulangi hal tersebut, pihak pemerintah akan mengupayakan perbaikan neraca dimulai dari sektor pariwisata. Karena selama ini, sektor tersebut banyak menyumbangkan devisa kepada negara.

8. Industri Keramik Terancam Dibanjiri Produk Impor

Adanya perang dagang antara Amerika vs China ini memberikan dampak yang berarti pada sektor industri keramik. Di industri tersebut sangat rentan untuk dibanjiri produk impor karena harga gas di dalam negeri pun masih bisa memenuhi apa yang ada di sektor industri.

Oleh karena itu, menteri perindustrian, yaitu bapak Airlangga pun akan mengupayakan cara untuk bisa mengurangi impor keramik.

Cara yang bisa dilakukannya adalah dengan membuat working level, working group, dan juga substitusi impor bahan baku yang bisa digunakan untuk investasi.

9. Menimbulkan Ketidakpastian dalam Perekonomian

Menurut ketua kebijakan publiks asosiasi pengusaha Indonesia, Sutrisno Iwantono. Dampak dari perang dagang Amerika vs China juga menimbulkan ketidakpastian ekonomi.

Artinya para pelaku usaha cenderung menahan diri hingga berdampak pada pertahanan pertumbuhan ekonomi dunia yang seharusnya bisa membaik.

10. Hubungan Antara Indonesia dan Kedua Negara tersebut Merenggang

Indonesia memang tidak ada sangkut pautnya terhadap perang ini. Hanya saja ketika kedua negara tesebut berperang dagang menimbulkan dampak yang begitu besar.

Selain dampak perekonomian, hubungan kekeluargaan Indonesia dengan kedua negara tersebut menjadi renggang. Terlebih ketika pihak Amerika Serikat mencabut kebijakan GSP tersebut.

Tak dipungkiri pula, bila hal tersebut bisa menyebabkan Amerika pun mengajak perang dagang dengan Indonesia. Namun, dari pihak Indonesia sendiri segera mengantisipasi hal tersebut dengan mengirimkan tim negosiasi agar hal tersebut tidak berdampak secara luas.

Negara-Negara yang Terkena Dampak Perang Dagang Amerika dan China selain Indonesia

selain di Indonesia, ada beberapa negara di beberapa benua pun yang terkena dampak perang dagang tersebut. Adapun negara yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Negara Irlandia

Saat ini Irlandia tengah mneghadapi kondisi ekonomi yang rapuh, hal ini berdampak dari perang dagang yang menyebabkan sector ekonomi global bergejolak.

Selama ini kontribusi ekspor terhadap ekonomi irlandia mencapai 59,2 persen. Mereka mengandalkan bisnis layanan finansial dan high tech untuk mengundang para investor asing..

2. Negara Islandia

Negara ini pun termasuk yang terkena dampak dari perang dagang Amerika dan China. Kontribusi ekspor terhadap ekonomi Islandia mencapai 59,3 persen.

Selama ini, industri yang maju di Islandia adalah wisata,  pengolahan ikan, pengolahan aluminium. Oleh karena itulah, negara Islandia pun sering mengekspor kekayaan alamnya ke Uni Eropa, Amerika serikat, dan Jepang.

3. Negara Malaysia

Pimpinan Malaysia mengakui bahwa, perang dangan kedua negarat tersebuut sangat memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian Malaysia.

Selama ini mitra dagang terbesar Malaysia adalah China yang memang serinkali melakukan ekspor dan impor di negeri Jiran tersebut.

Kontribusi ekspor untuk perekonomian Malaysia sendiri cukup besar yaitu sekitar 60,4 %.

4. Negara Singapura

Sama halnya dengan Malaysia, Negara Singapura ini memiliki hubungan yang erta dengan China terlebih soal kerjasama dalam bidang perekonomian.

Karena perang tersebut, maka secara tidak langsung sangat berimba kepada negara tersebut. Perjanjian dangan yang telah disepakati kedua negara tersebut mencapai lebih dari USD 100 miliar. Kontribusi ekspor terhadap ekonomi Singapura sendiri mencapai 61,6 persen.

5. Negara Korea Selatan

Selama ini hubungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat terhitung dekat terlebih dalam hal bisnis, ekonomi, geopolitik, dan juga denuklirisasi Korea Utara.

Selain “akrab” dengan Amerika Serikat, Korea Selatan pun memiliki hubungan kerjasama yang baik dengan China terlebih dalam hal ekspor yang bisa mencapai 62,1 persen.

Dengan adanya perang tersebut, jelas saja membuat negara Korea Selatan mengalami kerugian dalam persentase ekspor tersebut.

6. Negara Republik Ceko

Negara ini meman paling banyak mengekspor ke negar-negara Uni Eropa. Persentase dari ekspor tersebut yaitu 64.7 persen. Ekpor unggulan yang dilakukan negara ini adalah engineering dengan menggunakan teknologi tinggi.

Walaupun tidak secara langsung berhubungan dengan kedua negara tersebut. tetap saja kedua negara tersebut mampu melemahkan sector ekonomi yang ada di Eropa.

7. Negara Hungaria

Negara ini sangat tergantung kepada ekpsor karena itulah perdagangan asing mampu membuat perekonomiannya maju. Ekspo yang paling sering dikirim ke negara tersebut adalah otomotif, IT, elektronik, kimia, dan juga agrikultur.

Kontribusi ekspor terhadap ekonomi negara tersebut mencapai 65,1 persen. Karena itu, ketika terjadinya perang dagang menyebabkan persentase ekonomi tersebut menurun.

8. Negara Taiwan

Taiwan dijuluki sebagai naga kecil yang berada di benua asia. Karena itulah negara ini akan masuk dalam daftar negara terparah dari adanya perang dagang antara AS dan China.

Hal tersebut bisa terjadi karena Taiwan merupakan negara ekonomi yang terintegrasi langsung pada level global. Oleh karea itu persentase yang dimiliki negara tersebut berkisar 67,7 persen.

Sector ekonomi juga menjadi pilar utama dari negara tersebut. maka ketika perang ini bergejolak negara Taiwanlah yang terkena imbasnya dengan parah.

Penutup

Amerika Serikat dan juga China dikenal sebagai negara terkuat di dunia.  Keduanya memiliki sumber daya manusai dan alam yang memang berkualitas. Dengan adanya perang dagang ini jelas saja menimbulkan kegaduhan yang cukup besar bagi eknomi global.

Semoga saja perang ini tidak akan berlangsung lama, dan perekonomian global bisa kembali membaik. Semoga informasi mengenai 10 dampak perang dagang Amerika vs China ini bagi Indonesia ini bermanfaat untuk Anda.

Bagikan ;