Rebalancing Portofolio, Solusi Investasi Saat Pandemi

© VectorStock/siraanamwong

Hingga hari Selasa (13/7), kasus Covid-19 di Indonesia bertambah lagi lebih dari 40 ribu orang sehingga kini total sudah menembus 2,56 juta. Jumlah yang terus meningkat ini jelas membuat banyak orang makin cemas dengan kehidupannya sehari-hari, termasuk urusan perekonomian dan investasi. Namun tahukah Anda, kalau ada solusi bernama rebalancing portofolio?

Bagi Anda yang memang sudah fokus mengelola investasi, istilah rebalancing portofolio jelas bukan sesuatu yang asing.

Secara mudahnya, rebalancing portofolio ini adalah sebuah strategi dalam investasi yang dilakukan untuk menyesuaikan kembali alokasi portofolio investasi. Penyesuaian ini dilakukan sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko. Untuk melakukan langkah rebalancing ini, Anda bisa menjual beberapa instrumen investasi yang dimiliki lalu membeli aset yang lain.

Biasanya penyesuaian investasi ini terjadi ketika kondisi perekonomian investor berubah. Bisa jadi lebih baik sehingga mereka menjual aset-aset yang dianggap tak menjanjikan dan membeli aset lebih berisiko, tapi juga bisa terjadi saat kondisi memburuk sehingga membuat investor terpaksa menjual aset dan menyederhanakan portofolio supaya finansial pribadi tetap lancar.

Baca juga: 6 Investasi Terbaik Untuk Perempuan Single Parent Agar Mandiri Finansial

Bicara soal kondisi investor yang memburuk, tentu sejalan dengan masa pandemi Covid-19 seperti ini. Anggap saja Anda sebelumnya punya banyak saham, tapi gejolak pasar modal membuat risiko semakin tinggi, sejalan dengan biaya hidup. Anda sebagai investor, terpaksa melepas saham dan memilih aset yang lebih terjangkau dan tetap menjanjikan seperti emas.

Hanya saja supaya memberikan hasil yang maksimal, Anda tentu wajib melakukan rebalancing portofolio secara tepat. Atur strategi dengan benar dan memahami pergerakan pasar, sehingga sekalipun portofolio investasi menjadi lebih sederhana atau makin beragam, Anda tetap bisa meraih cuan sekalipun perekonomian begitu muram karena wabah corona.

Hal-Hal yang Membuat Investor Lakukan Rebalancing Portofolio

© Crypto Adventure

Tujuan utama seseorang berinvestasi tentu memperoleh keuntungan. Saat Anda memiliki uang dan hendak mengalokasikan pada sebuah instrumen, tentu Anda berharap pertumbuhan ekonomi membaik sehingga aset investasi itu mampu memberikan hasil maksimal. Namun kadang ada beberapa kondisi yang membuat aset-aset itu berjalan tidak sesuai harapan.

Nah, bagi Anda yang kini tengah memulai langkah awal sebagai seorang investor, berikut beberapa hal yang menjadi pemicu Anda melakukan rebalancing portofolio:

1. Gejolak Ekonomi

Inilah hal pertama dan pemicu terbesar seorang investor harus mulai melakukan rebalancing portofolio. Yap, gejolak ekonomi akan membuat atmosfer investasi berubah dengan cepat. Seperti saat pandemi Covid-19 seperti saat ini, ada banyak negara-negara maju dengan kemampuan ekonomi kuat terpaksa tergelincir ke jurang resesi.

Indonesia sebagai negara berkembang pun tak ketinggalan, ketika akhirnya mengumumkan masuk ke fase resesi ekonomi sejak November 2020 lalu. Ketika resesi ekonomi terjadi, akan ada lebih banyak pengangguran, inflasi yang meningkat hingga daya beli masyarakat anjlok. Sudah pasti kondisi ini membuat Anda harus punya strategi tepat dalam mengelola aset.

Misalkan saja, Anda sebelumnya adalah investor properti rumah kos mahasiswa. Namun sejak wabah corona menggila dan membuat universitas menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) secara online, mahasiswa akhirnya pulang kampung yang membuat banyak rumah kos kosong. Bagi pemilik rumah kos, kondisi ini jelas akan mengurangi penghasilan mereka.

Supaya penghasilan tetap ada dan keuntungan investasi tetap diterima, pemilik rumah kos bisa saja menjual aset properti yang dimiliki dan membeli properti lebih kecil tapi tetap bisa disewakan. Selain itu, gejolak ekonomi juga mengubah skema perpajakan yang tentunya sangat mempengaruhi nilai produk investasi.

2. Nilai Aset Investasi

© Retire Wire

Berkaitan dengan gejolak ekonomi, kondisi ini akan membuat nilai aset investasi berubah sehingga mau tak mau Anda harus mulai melirik opsi rebalancing portofolio. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, perekonomian yang memburuk membuat inflasi meningkat dan langsung berimbas ke aset investasi.

Anda tentu masih ingat saat ’gelombang pertama’ pandemi Covid-19 menyerang dunia di tahun 2020 lalu. Saat ada banyak negara mengumumkan resesi, bank-bank sentral pun langsung memangkas suku bunga acuan mereka. Kondisi ini jelas membuat keuntungan investasi tabungan deposito dan obligasi menurun.

Para investor forex dan saham pun ikut cemas saat nilai mata uang asing dan indeks saham ambruk akibat wabah corona. Ketika nilai-nilai aset investasi itu menurun, banyak investor yang memilih menjual dan mengalihkannya ke emas. Terbukti, logam mulia itu mampu bertahan di sepanjang 2020 bahkan mencapai nilai tertingginya sepanjang sejarah, lebih dari Rp1 juta per gram!

3. Tujuan Investasi

Biasanya waktu yang tepat untuk melakukan rebalancing portofolio adalah setiap enam bulan atau setahun sekali. Perubahan tujuan investasi juga bisa menjadi salah satu faktor pemicu seorang investor melakukan penyesuaian. Terutama dalam pandemi Covod-19 yang membuat banyak orang harus mengubah strategi finansialnya.

Baca juga: Apa Benar Investasi Minimal Trading Bitcoin Cukup Rp5 Ribu Saja?

Misalkan saja, Anda pada tahun 2019 memilih investasi SBN (Surat Berharga Negara) karena ingin liburan ke luar negeri pada 2021 mendatang. Namun ketika wabah corona menyerang, Anda bisa saja memilih menjual seri SBN yang dimiliki atau memanfaatkan fasilitas early redemption, demi memperoleh uang tunai yang digunakan untuk membeli produk-produk kesehatan.

Begitu pula saat Anda sedang melajang, tujuan investasi saham mungkin supaya bisa melanjutkan pendidikan S2. Namun saat akhirnya menemukan jodoh dan menikah, bisa saja Anda menjual saham-saham dan mengalihkan dananya untuk mata uang kripto serta investasi jangka pendek lainnya, demi memperoleh cuan cepat supaya bisa beli rumah pribadi atau biaya keluarga.

4. Profil Risiko

Tidak selamanya seseorang bisa hidup bahagia dengan penghasilan Rp20 juta per bulan. Pandemi Covid-19 bisa membuat siapapun kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat dan akhirnya tak punya penghasilan sama sekali. Kondisi ini membuat profil risiko seseorang berubah dan akhirnya rebalancing portofolio adalah pilihan terbaik.

Misalkan saja Anda yang sebelumnya pilot sebuah maskapai dan berinvestasi pada saham atau cryptocurrency yang punya profil risiko tinggi, bisa saja karena strategi rebalancing, aset investasi berubah jadi emas, obligasi atau reksadana yang meskipun keuntungannya lebih kecil, tapi jauh lebih aman dan sesuai dengan profil risiko yang baru saja di-PHK sebagai pilot.

Volatilitas tinggi di pasar saat perekonomian bergejolak memang akan membuat alokasi portofolio yang sudah ditetapkan di awal, menjadi berubah. Akhirnya profil portofolio juga berdampak yang membuat Anda mau tak mau tetap harus melakukan rebalancing, supaya investasi terus tumbuh dan memperoleh cuan meski penghasilan berkurang.

Jenis-Jenis Rebalancing Portofolio

©The Balance

Katarina Setiawan selaku Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen kepada Kompas menjelaskan bahwa rebalancing portofolio wajib dilakukan demi menyesuaikan alokasi dana dan tujuan investasi terbaru. Apalagi dalam kondisi perekonomian tidak pasti, bisa saja tujuan investasi Anda berubah dari jangka panjang ke jangka pendek.

Menurut Katarina, investor jangka panjang dengan profil agresif bisa melakukan rebalancing saat kondisi perekonomian memburuk, sebagai peluang untuk average down investasi. Karena tetap melakukan investasi saat harga pasar belum terlalu buruk, rebalancing akan sangat membantu stabilnya alokasi portofolio investasi.

Hal serupa juga dianjurkan Bareksa Prioritas kepada investor HNWI (High Net Worth Individuals) dalam proses rebalancing. Di mana para investor HNWI disarankan memilih reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap, supaya alokasi dana investasi bisa sesuai dengan profil risiko dalam kondisi pandemi Covid-19.

Ricky Rachmatulloh selaku Direktur Bareksa Prioritas, menjelaskan bahwa investor bisa saja mengalokasikan dana ke aset investasi yang lebih agresif (risk-on) sebagai pertimbangan seiring dengan perekonomian yang mulai tumbuh. Hanya saja karena kini kasus Covid-19 terus meningkat dan proses vaksinasi belum berjalan sesuai harapan, tentu harus disesuaikan kembali.

Supaya bisa melakukan rebalancing portofolio secara tepat, setidaknya ada tiga jenis yang bisa Anda pilih:

1. Rebalancing Profil Risiko

Sudah jadi rahasia umum bahwa investor-investor milenial atau generasi Z yang berusia produktif dan hidup melajang, punya karakter investasi yang lebih agresif. Karakteristik ini membuat saham, mata uang kripto dan forex bisa jadi aset terbaik. Namun saat para investor ini sudah menikah dan mulai pensiun, profil risiko yang berubah membuat Anda harus memilih instrumen investasi pendapatan tetap, supaya finansial sejahtera di usia tua terwujud.

2. Rebalancing Diversifikasi

Tak mau berubah aset investasi tapi ingin melakukan rebalancing? Maka Anda bisa memilih melakukan diversifikasi. Ambil contoh investasi saham. Sebelumnya, Anda memilih saham-saham yang begitu positif dalam jangka pendek sehingga bisa memperoleh cuan secara singkat. Namun saat kondisi ekonomi berubah, pilihlah saham blue chip yang lebih aman dalam jangka panjang.

3. Smart Beta Rebalancing

Berbeda dengan jenis rebalancing portofolio sebelumnya, jenis ini merupakan strategi alokasi dana investasi yang dilakukan dan ditinjau secara rutin sesuai dengan jadwal, sehingga investor ada baiknya memahami dan menguasai analisis teknikal secara tepat.

Baca juga: 5 Cara Investasi Emas Agar Anda Makmur di Masa Depan

Biasanya jenis ini harus menghindari inefisiensi pasar, sehingga tetap bisa dalam kondisi perekonomian bergejolak dan meraih cuan dalam beberapa tahun berikutnya. Lewat indikator beta, Anda bisa mengukur kinerja nilai buku, hingga saham-saham yang sedang undervalue, supaya cuan di kemudian hari.

4. Calendar Rebalancing

Hampir sama seperti metode Smart Beta, rebalancing jenis ini punya batas waktu. Biasanya dilakukan setiap enam atau 12 bulan sekali, supaya Anda bisa melakukan evaluasi atas portofolio investasi dan sesuai dengan rencana awal. Karena bagaimanapun juga, dalam rebalancing

Anda harus mempertimbangkan biaya dan keuntungan. Jika untung lebih besar daripada biaya, lakukan rebalancing sekarang juga.

Cara Tepat Lakukan Rebalancing Portofolio

© Shutterstock

Agar memperoleh untung sesuai dengan harapan, rebalancing portofolio tentu wajib dilakukan dengan tepat. Tidak terlalu sulit karena Anda bisa memulainya dengan cara mencatat. Yap, Anda harus tahu dan jika perlu mencatat, seberapa besar porsi portofolio yang dimiliki di awal secara detail. Untuk apa? Supaya lewat catatan itu, Anda bisa melakukan perbandingan.

Baca juga: 20 Saham dengan Dividen Yield Terbesar di Indonesia

Anggap saja ketika investasi sudah berjalan selama tiga tahun, Anda yang selalu terbiasa mencatat pergerakan nilai aset, tentu bisa membandingkannya dengan awal investasi. Karena jika masih merugi, rebalancing adalah pilihan terbaik. Lewat proses pembandingan ini pula, Anda bisa mengubah strategi investasi sesuai tujuan dan profil risiko untuk tiap-tiap aset.

Kenapa harus tiap-tiap aset?

Supaya Anda tahu aset investasi mana yang paling merugi dan paling untung, sehingga bisa memilih antara rebalancing sesuai profil risiko, rebalancing diversifikasi hingga smart beta. Dengan penyesuaian yang tepat, tentu rebalancing portofolio bisa berjalan sesuai harapan dan akhirnya Anda tetap punya alokasi investasi sesuai dengan rencana dalam kondisi apapun.

Arai Amelya: Pecinta seni yang harus menikahi jurnalistik dan penulisan