IHSG Anjlok, Inilah 9 Rekomendasi Saham yang Bisa Dibeli Investor

Sejak awal tahun 2020 ini, saham justru menjadi produk investasi yang paling banyak berisiko. Kondisi semakin diperparah dengan wabah global virus corona alias Covid-19 yang hingga Rabu (11/3) sudah menembus lebih dari 111 ribu kasus di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Seolah tak berhenti, bursa saham juga kembali ambruk dengan jatuhnya harga minyak mentah.

Di Indonesia sendiri, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru benar-benar membuat investor muram. Dalam penutupan hari Senin (9/3) kemarin, IHSG merosot 6,58% di level 5.136. Menurut William Wamudi selaku analis Samuel Sekuritas, penurunan poin IHSG ini merupakan yang terdalam sepanjang sejarah bursa, seperti dilansir Suara.

Baca juga: 9 Daftar Deposito Terbaik dan Bunga Tertinggi Tahun 2020

Selamatkan IHSG, Perdagangan Saham Dihentikan

Trading Halt pasar saham
© Tagar

Kinerja IHSG yang masih dalam tren penurunan ini sebetulnya telah terjadi semenjak 2020 bermula. Sejumlah sentimen negatif baik global dan domestik memang membuat IHSG terus merosot. Bisnis melaporkan dari 682 saham yang diperdagangkan di BEI (Bursa Efek Indonesia), 381 saham di antaranya melemah dengan hanya 41 saham yang menguat. Menurunnya saham BCA dan BRI menjadi penekan utama melemahnya IHSG.

Kini demi menyelamatkan IHSG, otoritas pasar modal pun melakukan kebijakan penghentian perdagangan (trading halt). Lewat kebijakan yang berlaku efektif sejak hari Rabu (11/3) ini, jika terjadi penurunan yang sangat tajam dalam sehari bursa yang sama, akan dilakukan trading halt selama 30 menit pertama jika menurun 5%. Lalu kembali lagi 30 menit saat melemah 10%, terakhir diberlakukan trading suspend kalau-kalau IHSG anjlok hingga 15%, seperti dilansir Detik Finance.

12 BUMN Siap Lakukan Buyback Rp8 T

Kondisi di BEI
© Katadata

Tak ingin kondisi buruk pada IHSG terus berlanjut, Menteri BUMN Erick Thohir pun langsung membuat langkah tegas yakni memerintahkan 12 perusahaan BUMN untuk melakukan aksi beli kembali alias buyback saham yang beredar di publik. Menurut Arya Sinulingga selaku Staf Khusus Menteri BUMN, aksi buyback saham ini akan bernilai Rp7-8 triliun.

Baca juga: 5 Pilihan Investasi Teraman di Tengah Hantaman Virus Corona

Ke-12 perusahaan BUMN yang terlibat buyback pada pekan ini berasal dari sektor perbankan, konstruksi dan pertambahan. Emiten-emiten itu adalah BRI (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), BNI (BBNI), BTN (BBTN), PT Wijaya Karya (WIKA), PT Adhi Karya (ADHI), PT PP (PTPP), PT Waskita Karya (WSKT), PT Jasa Marga (JSMR), PT Aneka Tambang (ANTM), PT Bukit Asam (PTBA) dan PT Timah (TINS).

Menanggapi kondisi ini, IHSG pun mencatat kenaikan pada perdagangan Selasa (10/3) kemarin yakni ditutup menguat 1,64% menyentuh level 5.220.

9 Rekomendasi Saham yang Layak Dibeli Saat IHSG Terkapar

Menurut Maximilianus Nico Demus selaku Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, pekan muram IHSG adalah waktu yang tepat bagi investor untuk mengoleksi saham-saham berkapitalisasi pasar besar alias big caps, mid cap, hingga small cap, seperti dilansir KONTAN. Bahkan sekadar informasi, ketika IHSG anjlok lebih dari 6% di awal pekan ini, ada dua saham yang mencatat lonjakan terbesar pada perdagangan Senin (9/3) kemarin.

Baca juga : 10 saham blue chip terbaik Indonesia

Kedua saham yang baru saja melakukan perdagangan perdana di BEI dan memperoleh hasil positif itu adalah PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) dan PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk (BESS).

Masing-masing emiten itu ditutup melambung 70% dan 69,52%. Kondisi ini juga dikuatkan oleh Sukarno Alatas selaku Analis OSO Sekuritas, bahwa masih ada saham-saham lapis dua dan tiga yang memiliki prospek baik dan layak dikoleksi. Berikut beberapa di antaranya yang layak Anda pertimbangkan:

1. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM)

emas dari PT ANTAM
© Jatim Times

Salah satu emiten kelas kakap alias blue chip yang masih layak dipertimbangkan di tengah muramnya kondisi IHSG adalah ANTM. Kendati memang mencatat koreksi saham paling signifikan hingga lebih dari 1/10 nilai sahamnya, ANTM tetaplah masih aman. Sekadar informasi, ANTM sempat terkoreksi hingga 17,9% seiring dengan anjloknya harga emas dari level tertingginya akhir pekan lalu.

Menurut Sukarno Alatas, secara aspek fundamental dan teknikal, ANTM masihlah cukup oke. Bahkan di kalangan masyarakat, emas tetaplah salah satu produk investasi yang paling aman sehingga harga jual/belinya tidak akan anjlok drastis. Berdiri pada tahun 1968 dan memiliki lebih dari 2.500 karyawan, saham perusahaan yang meraup pendapatan Rp25,2 triliun pada 2018 ini tercatat meningkat 3,60% dalam penutupan Selasa (10/3) sore kemarin.

Baca juga: Cara Mudah Investasi Dollar untuk Pemula Biar Untung dan Aman

2. PT Dewata Freight International Tbk (DEAL)

Saham PT Dewata Freight International Tbk (DEAL) termasuk salah satu yang naik cukup signifikan pada awal Maret 2020 ini. Dilansir CNBC Indonesia, emiten DEAL mencatat penguatan sebesar 29,2% atau setara 45 poin per saham.

Sekadar informasi, PT Dewata Freight International Tbk memang baru saja menandatangani enam nota kesepahaman alias MoU (Memorandum of Understanding) proyek logistik.

Memang berkat meningkatnya gaya hidup serba online, perkembangan e-commerce begitu meningkat sehingga membuat pertumbuhan bisnis Tanah Air melambung hingga lebih dari 30% pada 2020.

Kondisi ini memang menjadi berkah bagi perusahaan jasa pengiriman kargo yang berpusat di Surabaya ini. Dengan fakta bahwa Indonesia adalah pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara, tak heran kalau emiten DEAL cukup kebal saat IHSG terkapar.

3. PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF)

PT Kimia Farma
© Bizlaw

Dengan jumlah 27 kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia hingga Selasa (10/3) kemarin, sektor kesehatan tentu yang paling terkena imbasnya. Berbagai jenis obat, suplemen vitamin hingga masker kesehatan menjadi produk-produk yang laris manis di pasaran. Karena itulah, melirik saham PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) termasuk yang wajib dipertimbangkan investor.

Menjadi perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia, cikal bakal Kimia Farma sebetulnya didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1817 dengan nama awal NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Sebagai perusahaan BUMN, emiten KAEF tentu cukuplah aman untuk dibeli. Tercatat pada penutupan perdagangan saham hari Selasa (10/3) sore kemarin, saham KAEF ditutup meningkat 90 poin alias 12,16%.

4. PT Unilever Tbk (UNVR)

PT Unilever Indonesia (UNVR) adalah sebuah perusahaan Indonesia yang merupakan anak perusahaan Unilever. Berdiri pada 5 Desember 1933, bisa dibilang kalau produk-produk PT Unilever Indonesia tidak bisa dipisahkan dari keseharian masyarakat mulai dari kecantikan, kesehatan, kebersihan hingga kebutuhan dapur. Lantaran begitu berkuasa di pasar Tanah Air, UNVR adalah salah satu emiten terbaik di BEI.

Dengan pola kenaikan IHSG yang terimbas aksi buyback 12 perusahaan BUMN masihlah bersifat teknikal rebound, potensi tekanan IHSG masihlah sangat mungkin terjadi. Namun UNVR, menjadi salah satu saham yang direkomendasikan mengingat pada penutupan perdagangan hari Selasa (10/3) kemarin, mencatat kenaikan 75 poin alias sebesar 1,07% menjadi Rp7.100.

5. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)

Produk-produk SIDO Muncul
© Nuriyanto IC

Wabah Covid-19 rupanya juga berimbas ke sektor obat-obatan tradisional. Bahkan di kalangan masyarakat, permintaan akan rempah-rempah asli Indonesia alias empon-empon yang kerap digunakan untuk jamu seperti jahe merah, temulawak, kunyit, kencur dan lain-lain terus meningkat. Hal ini membuat harga tanaman obat itu melambung karena dipandang bisa meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan Covid-19.

Kondisi positif ini juga berdampak pada kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). Perusahaan jamu tradisional dan farmasi yang berdiri pada tahun 1940 ini menjadi salah satu emiten yang layak dilirik di tengah gempuran virus corona. Tercatat dalam penutupan Selasa (10/3) sore kemarin, SIDO meningkat sebesar 55 poin alias sebesar 4,56%.

6. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)

Menurut Nico Demus, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) adalah salah satu saham second liner yang layak diperhatikan oleh investor di saat kondisi IHSG masih limbung. Perseroan terbatas yang bergerak di bidang investasi dan jasa penunjang telekomunikasi ini memang menawarkan jasa persewaan sekaligus perawatan menara telekomunikasi nirkabel.

Kendati baru dibentuk pada Juni 2008, PT Sarana Menara Nusantara berstatus sebagai operator independen menara telekomunikasi terbesar di Indonesia. Untuk itulah bagi Anda yang mempertimbangkan investasi jangka panjang dan melihat betapa pentingnya komunikasi dalam kehidupan masyarakat, emiten TOWR sangatlah cocok. Sekadar informasi, TOWR mencatat kenaikan pada penutupan perdagangan hari Selasa (10/3) kemarin sebesar 0,65%.

Baca juga: Dibandingkan Emas, Inilah 8 Kelebihan Investasi ReksaDana!

7. PT Bank Permata Tbk (BNLI)

Termasuk jajaran saham lapis kedua yang direkomendasikan oleh Nico Demus, PT Bank Permata Tbk (BNLI) juga mencatat kenaikan pada penutupan perdagangan hari Selasa (10/3) sore kemarin. Bank swasta nasional yang memiliki lebih dari 7.400 karyawan ini memperoleh kenaikan saham BNLI sebesar 25 poin alias 1,94%. Tentunya raihan ini cukup positif di tengah muramnya kondisi IHSG.

Apalagi kini dengan fakta bahwa 89% saham Permata dikuasai Bangkok Bank, kinerja Permata diprediksi bakal lebih mentereng. Babak baru akuisisi Bank Permata ini resmi terjadi setelah digelarnya RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) pada 5 Maret 2020 silam di Thailand.

Sekadar informasi, KONTAN melansir bahwa modal inti Permata pada tahun 2019 sebesar Rp22,15 triliun yang artinya tumbuh 10,72% secara YoY (Year on Year). Dengan ambisi ingin menjadi BUKU IV, saham BNLI tentu bakal makin berkilau.

8. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)

PT Siloam International Hospitals

Dengan prediksi bakal bertambahnya jumlah kasus Covid-19 di Indonesia, sektor kesehatan tentu yang akan memperoleh imbas terbesar. Perusahaan-perusahaan kesehatan jelas makin dibutuhkan termasuk rumah sakit. Untuk itulah PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menjadi salah satu perusahaan dengan kinerja yang cukup baik di pasar modal. Di saat IHSG masih lemah, emiten SILO justru tetap stabil.

Jaringan rumah sakit swasta milik Lippo Group ini memang semakin jadi pilihan masyarakat Indonesia dalam mencari fasilitas kesehatan. Berdiri pada tahun 1996, jaringan Rumah Sakit Siloam bahkan sudah tumbuh sebanyak 21 unit di seluruh Indonesia. Tentunya dengan membeli saham SILO, Anda turut terlibat dalam upaya kesehatan di Tanah Air yang jumlah kebutuhannya terus meningkat.

9. PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES)

PT Ace Hardware Indonesia

Pada akhir Januari 2020 kemarin, PEFINDO25 menjadi satu-satunya indeks yang menguat di tengah melemahnya IHSG. Kondisi ini menurut Chris Apriliony selaku Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, sebagai imbas aksi jual investor asing terhadap saham-saham kapitalisasi pasar besar yang tidak mempengaruhi saham-saham kapitalisasi kecil, seperti dilansir KONTAN.

Baca juga: 10 Tips Belajar Saham Bagi Pemula di Tahun 2020

Dan kini di awal Maret 2020, saham-saham PEFINDO25 masih cukup positif karena investor-investor lokal tetap percaya. Salah satu saham PEFINDO25 yang cukup menggembirakan adalah PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES). Terus melakukan ekspansi dan memperlihatkan kinerja baik, ACES tercatat meningkat sebesar 35 poin alias 2,51% dalam penutupan Selasa (10/3) sore kemarin.

Nah, terbukti kan sekalipun IHSG tidak dalam kondisi terbaiknya, pasar saham tetap masih menawarkan celah untuk meraup keuntungan. Saham-saham yang dibilang cukup kebal di tengah kondisi perekonomian muram ini justru layak untuk Anda perhatikan. Sehingga apapun yang terjadi, cuan tetap akan bisa diperoleh.