10 Saham Blue Chip Terbaik di Indonesia Menjelang 2020

Saham Blue Chip Terbaik. Ada banyak sekali instrumen investasi yang dikenal oleh masyarakat. Semuanya memiliki tujuan jelas yakni mendulang keuntungan. Karena memang bagaimanapun juga, manusia tentu ingin memiliki kehidupan yang lebih sejahtera di masa depan, terutama jika menyangkut perihal finansial. Bahkan demi mencapat tujuan kemakmuran itu, banyak yang sudah mulai menabung dan mengelola keuangannya secara lebih bijak sedari masih muda.

Investasi memang menjadi salah satu pilihan terbaik untuk memiliki kehidupan keuangan yang lebih baik di masa depan. Ada banyak sekali jenis investasi yang mungkin sudah pernah Anda dengar seperti investasi reksadana, investasi emas, investasi properti (tanah, rumah), investasi deposito dan tentunya investasi saham. Dari semuanya memang menawarkan keuntungan tetapi kalau boleh memilih, investasi saham memiliki peluang untung paling besar.

Baca juga: Mau Tanam Uang di Fintech P2P Lending? 7 Tips Ini Harus Dipertimbangkan

Benar, ada banyak sekali investor saham yang sukses meraup untung berkali-kali lipat dan kaya mendadak berkat saham yang dimiliki. Namun satu hal yang harus diketahui, saham memang punya peluang untung sangat besar tapi begitu pula dengan risikonya. Yap, jika Anda memilih untuk investasi saham tentu harus siap jika memang untung dan ruginya memiliki peluang yang sama-sama besar.

Tapi meskipun demikian, jangan jadikan hal ini sebagai alasan untuk tidak memulai investasi saham. Jika memang tujuan jangka panjang yang Anda inginkan, Anda bisa mencoba menanamkan modal pada perusahaan-perusahaan pemilik saham blue chip. Dalam dunia pasar modal, saham blue chip memang selalu jadi primadona baik investor senior maupun yang masih pemula karena cenderung lebih rendah risikonya. Nah, supaya lebih memahami saham blue chip, ada baiknya jika Anda mempelajari ulasan dari kami berikut ini.

Pengertian Saham Blue Chip

saham blue chip - 4

Bagi para investor saham pemula, tentu nama saham blue chip tidaklah asing. Banyak analis saham yang merekomendasikan pembelian saham blue chip kepada calon investor baik untuk investasi jangka panjang atau jangka menengah, karena peluang untung yang jauh lebih besar. Memang, apa sih saham blue chip ini? Banyak yang mengartikan bahwa saham blue chip adalah saham-saham papan atas atau saham unggulan dalam pasar modal.

Tidak keliru memang, karena saham blue chip dimiliki perusahaan dengan kualitas terbaik yang ada di bursa efek. Dianggap paling aman dan menjanjikan keuntungan yang stabil, tak heran kalau saham blue chip diburu oleh banyak investor, terutama mereka yang baru ingin bermain saham. Bahkan jika disesuaikan dengan kondisi di Bursa Efek Indonesia (BEI), banyak yang menyebutkan kalau saham blue chip ini sama dengan LQ45. Sekadar informasi, LQ45 ialah indeks pasar saham di BEI yang mencakup 45 perusahaan berfundamental cemerlang dan tentunya kapitalisasi pasar sangat besar.

Apakah saham blue chip ini adalah LQ45? Tidak sepenuhnya tepat karena faktanya memang saham-saham emiten bergengsi ini masuk indeks LQ45. Namun tak semua saham dalam LQ45 adalah blue chip, karena bisa saja sektor perdagangannya tengah ramai dan perusahaannya bagus sehingga masuk indeks LQ45. Sehingga jika bisa diartikan secara umum, saham-saham blue chip adalah saham milik perusahaan yang sudah diakui secara nasional dan sudah cukup mapan, serta sehat dalam hal keuangannya.

Di mana pada umumnya perusahaan-perusahaan blue chip ini menjual produk dengan layanan yang sangat berkualitas dan diterima oleh masyarakat luas. Karena fakta inilah, perusahaan blue chip memiliki pendapatan yang stabil dan liabilitas wajar sekalipun sektor yang diperdagangkan sedang bermasalah. Jika bicara kaitannya dengan kapitalisasi pasar, saham blue chip tentu punya nominal yang sangat besar yakni di atas Rp40 triliun.

Ciri-Ciri Saham Blue Chip

saham blue chip - 3

Jika melihat nilai pasar saham blue chip, tentu begitu terperangah lantaran sangat besar. Tak heran kalau julukan blue chip tak bisa diberikan secara sembrono karena perusahaannya bukanlah abal-abal. Hanya perusahaan besar dengan etos kerja yang sangat baik dan dikelola secara profesional berhak disebut demikian. Nah, supaya bisa memilih dengan tepat, berikut ini adalah beberapa ciri saham blue chip:

1. Perusahaan Lawas yang Leader di Sektornya dan Diakui

Salah satu ciri paling mudah untuk melihat saham tersebut blue chip atau tidak adalah dengan melihat profil perusahaan. Jika perusahaannya sudah lama beroperasi dan memperoleh pengakuan baik secara nasional hingga global, bisa dipastikan kalau saham mereka adalah blue chip. Salah satu perusahaan yang memenuhi syarat ini adalah Astra International (ASII). Emiten dari Astra Group ini selalu berhasil membuat produk mereka top brand di kelasnya yang bisa dilihat dari merk-merk kendaraan bermotor di Indonesia hingga lingkup Asia.

Sama seperti ASII, saham TLKM milik PT Telkom dengan produk Telkomsel serta saham UNVR dari Unilever juga berhak disebut blue chip karena sudah pasti leader di sektornya, sekaligus diakui hingga luar negeri. Karena memang siapa sih orang di Indonesia (bahkan Asia Tenggara) yang tidak mengenal Pepsodent atau Clear? Bukan hanya produk yang populer, perusahaan pemilik saham blue chip pada umumnya juga sudah beroperasi dalam jangka waktu lama. Salah satu contohnya ialah saham PGAS milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang sudah berjalan lebih dari setengah abad. Tetapi selama apapun perusahaan ini berjalan, tetap harus mampu menghasilkan laba dengan konsisten.

Baca juga: 4 Logam Mulia yang Paling Menguntungkan Sebagai Investasi, Tertarik?

2. Kapitalisasi Pasar Besar dan Sangat Likuid

Dengan profil perusahaan yang sangat cemerlang, bisa dipastikan pula kalau saham-saham blue chip ini sangatlah likuid. Ciri saham yang sangat likuid adalah selalu masuk dalam daftar saham teraktif di pasar modal, karena memang ramai diperdagangkan di bursa baik oleh investor perorangan maupun lembaga. Dengan saham yang begitu likuid, blue chip jelas memiliki kapitalisasi pasar yang begitu besar. Hal ini bisa diketahui dari nilai jumlah saham yang beredar dengan harga saham yang terbaru sangatlah tinggi.

3. Rasio Hutang dan Aset Stabil

saham blue chip - 2

Ciri berikutnya dari saham blue chip adalah memiliki rasio antara hutang aset yang cukup stabil. Contohnya bisa dilihat dari saham-saham blue chip di sektor perbankan yang memiliki DER (Debt-to-Equity Ratio) tidak lebih dari 15%. Tentu jika saham perusahaan memiliki DER yang sangat tinggi, bisa dipastikan risiko usahanya semakin besar terutama jika menghadapi masalah likuiditas yang berat. Bukan hanya DER, saham blue chip juga memiliki perbandingan ROE (Return On Equity) dan ROA (Return On Assets) yang tinggi. Hal ini terlihat dari kemampuan perusahaan menghasilkan laba maksimal atau minimal, cukup melalui aset yang dimiliki.

4. Konsisten Bayar Dividen

Dividen alias pembagian laba adalah hal yang jelas sangat dinantikan oleh investor saham. Seorang investor Amerika legendaris sekaligus ekonom dunia, Benjamin Graham menyebutkan bahwa seorang calon investor sebisa mungkin mencari perusahaan yang terbukti secara konsisten membayar dividen dalam kurun waktu 20 tahun. Jika sebuah perusahaan mampu melakukannya, terbukti jika mereka rutin menghasilkan laba maksimal setiap tahunnya. Sehingga tak berlebihan kalau disebut jika perusahaan tersebut memiliki saham blue chip.

5. Kinerja Usaha Solid

Saham blue chip dimiliki oleh perusahaan yang mampu mencetak laba maksimal secara rutin setiap tahunnya. Hal ini menjadi bukti jika kinerja perusahaannya sangatlah solid. Meskipun begitu ada perusahaan yang sudah bisa dibilang cukup mapan tapi sempat mengalami kinerja menurun karena daya beli masyarakat yang berkurang. Contohnya seperti saham UNTR milik perusahaan penjualan alat berat dan pertambangan batu bara, PT. United Tractors Tbk yang memiliki pertumbuhan laba konsisten yakni rata-rata 14,3% per tahun selama satu dekade terakhir.

Baca juga: Inilah Keunggulan dan Kelemahan Trading Emas Online di Pasar Forex

Daftar dan Harga 10 Saham Blue Chip Terbaik di Indonesia

Dalam Bursa Efek Indonesia, terdapat lebih dari 600 saham yang terdaftar. Dalam kurun waktu beberapa bulan, biasanya ada update daftar saham blue chip yang bisa dipilih investor dan memang selalu direkomendaiskan. Dan jika boleh memilih, berikut ini adalah 10 rekomendasi saham blue chip terbaik di Indonesia untuk tahun 2019, sesuai dengan sektor masing-masing:

1. BBCA – Bank BCA (Sektor Bank)

BCA

Sudah menjadi rahasia umum bahwa BCA (Bank Central Asia) adalah bank swasta terbesar di Indonesia. Berstatus sebagai salah satu bank terbaik di Tanah Air, jaringan ATM BCA bisa dibilang paling luas sehingga tak heran kalau jumlah nasabahnya menyentuh jutaan orang. Berdiri pada 21 Februari 1957 oleh Sudono Salim, kini bank yang berusia 62 tahun itu dimiliki oleh Djarum.

Di lantai BEI, saham BBCA memiliki volume 11.378.100 lembar saham dengan harga saham terakhir pada penutupan hari Jumat (4/10) sore kemarin adalah Rp30.225. Pada 30 April 2019 kemarin, BCA membagikan total dividen tunai untuk tahun 2018 yang bernilai total Rp8,3 triliun. Dengan status fundamentalnya yang begitu solid, BBCA jelas menjadi salah satu saham blue chip idaman banyak investor.

2. BBRI – Bank BRI (Sektor Bank)

Jika BCA adalah bank swasta terbaik, maka untuk bank ‘plat merah’ status itu diraih oleh BRI (Bank Rakyat Indonesia). Menjadi bank dengan laba terbesar di Tanah Air, BRI memiliki kemampuan yang luar biasa dalam produk kredit mikro dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) yang membuat bank lain kalah telak. Bahkan bisa dibilang produk kredit mikro dan UMKM dari BRI hampir tidak bisa disaingi.

Didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja pada 16 Desember 1895, bank yang pada 2019 ini berusia 124 tahun itu memiliki 93.849.800 lembar saham di BRI. Pada harga penutupan terakhir hari Jumat (4/10) siang kemarin, saham BBRI tercatat sebesar Rp3.950. Ketika pembagian dividen tunai tahun 2018 pada tanggal 13 Juni 2019, BRI menggelontorkan dana lebih dari Rp16,1 triliun kepada para pemegang saham.

Baca juga: Jangan Sembrono, Inilah 6 Hal yang Wajib Dipahami Saat Buka Deposito

3. ASII – PT Astra International Tbk (Sektor Manufaktur)

Astra International saham blue chip terbaik

Salah satu saham blue chip terbaik di Indonesia yang berasal dari sektor manufaktur adalah ASII. Berdiri pada tahun 1957 oleh William Soerjadjaja dan dua rekannya, kini Astra sudah menjelma menjadi perusahaan multinasional diversifikasi dengan sekitar 58 anak perusahaan. Di lantai saham, Astra mengenalkan ASII yang termasuk kategori blue chip.

Dalam pasar modal, ada volume 10.680.600 lembar saham ASII dengan harga pada penutupan hari Jumat (4/10) menyentuh Rp6.425. Jika sesuai dengan jadwal, Astra akan membagikan dividen tunai saham ASII tahun ini kepada para investor mereka pada 30 Oktober 2019. Sebelumnya pada 24 Mei 2019, Astra sudah membagikan dividen tunai sebesar Rp6,23 triliun dari laba bersih tahun 2018.

4. JSMR – Jasa Marga (Persero) Tbk (Sektor Insfrastruktur)

Dari banyaknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jasa Marga adalah perusahaan pemilik saham blue chip yang banyak dipilih investor. Lewat saham JSMR, perusahaan yang resmi berdiri pada 1 Maret 1978 ini fokus membangun dan mengoperasikan jalan tol di Indonesia. Hingga saat ini, Jasa Marga adalah pemimpin pengelolaan lebih dari 531 km atau 76% dari total jalan tol di seluruh Tanah Air.

Sebagai market leader, saham JSMR jelas sangatlah likuid dan begitu menarik perhatian investor. Di lantai BEI, JSMR memiliki volume 1.533.300 lembar saham dengan harga penutupan pada Jumat (4/10) sore kemarin adalah Rp5.550 per lembar saham. Jasa Marga tercatat terakhir kali melakukan pembagian dividen tunai pada 11 Mei 2018 sebesar Rp440 miliaran berdasarkan laba bersih 2017.

5. PGAS – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (Sektor Energi)

Perusahaan milik pemerintah lainnya yang tercatat memiliki blue chip adalah PT Perusahaan Gas Negara alias PGN. Bergerak di sektor energi, PGN yang awalnya adalah sebuah perusahaan gas swasta milik Belanda ini resmi berdiri pada 13 Mei 1965. Merupakan anak perusahaan Pertamina, saham PGN yakni PGAS cukup menarik investor karena begitu likuid dan prospek masa depan gas bumi sebagai energi terbarukan begitu potensial.

Di pasar modal, PGN memiliki volume total 30.098.100 lembar saham dengan harga terakhir pada penutupan hari Jumat (4/10) sore adalah Rp2.100. Sekadar informasi, PGN yang kini sudah memiliki jalur pipa transmisi gas bumi sepanjang lebih dari 2.160 km di seluruh Indonesia ini telah membagikan dividen tunai pada 28 Mei 2019. Berdasarkan laba bersih tahun 2019, dividen tunai milik PGAS menyentuh angka Rp1,3 triliun.

Baca juga: 7 Hal yang Menyebabkan Pertumbuhan Investor Indonesia Lambat

6. UNVR – PT Unilever Indonesia Tbk (Sektor Manufaktur)

Unilever Indonesia

Rasa-rasanya hampir seluruh penduduk Indonesia mengenal yang namanya Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Vaseline, Rinso, Molto, Sunlight sampai Bango, Royco dan es krim Wall’s. Ya, hampir seluruh produk kebutuhan sehari-hari itu merupakan keluaran Unilever. Perusahaan multinasional yang berpusat di Belanda ini memiliki anak perusahaan di Tanah Air yakni Unilever Indonesia dengan saham blue chip-nya, UNVR.

Didirikan pada 5 Desember 1933, Unilever Indonesia resmi melepas 15% sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1981. Hingga saat ini, perusahaan yang memiliki ribuan distributor di seluruh Indonesia itu memiliki total 795.700 lembar saham di BEI. Dengan harga terakhir pada penutupan Jumat (4/10) menyentuh Rp45.425 per lembar saham. Diketahui dividen tunai UNVR dibagikan terakhir kali pada 18 Juni 2019 sebesar Rp5,9 triliun sesuai laba tahun 2018.

7. TLKM – PT Telekomunikasi Indonesia Persero Tbk (Sektor Infrastuktur)

Selain JSMR, sektor infrastruktur juga memiliki saham blue chip lainnya yakni TLKM milik Telkom. Perusahaan informasi dan komunikasi sekaligus penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi ini mengklaim bahwa mereka adalah yang terbesar di Tanah Air. Hingga sejauh ini ada lebih dari 15 juta pelanggan telepon tetap dan 104 juta pelanggan telepon seluler yang menjadi pasar utama Telkom.

Sebagai perusahaan milik negara berstatus BUMN, sekitar 52,09% saham Telkom dimiliki oleh pemerintah Indonesia dan sisanya adalah 47,91% milik publik. Di pasar modal, volume TLKM adalah 34.082.000 lembar saham dengan harga per lembar terakhir pada penutupan Jumat (4/10) sore menyentuh Rp 4.190. Sebagai perusahaan yang begitu solid, Telkom juga tercatat sebagai pemegang saham mayoritas terhadap 13 anak perusahaan termasuk Telkomsel.

Dengan neraca perdagangan yang begitu menggiurkan, saham TLKM memang begitu naik daun di pasar modal dan sangat menarik perhatian investor. Apalagi dalam pembagian dividen tunai pada 27 Juni 2019 kemarin, TLKM membagikan lebih dari Rp16,2 triliun untuk seluruh pemilik saham. Total dividen tunai ini bahkan lebih besar daripada dividen tunai saham BBRI milik bank BRI. Fakta bahwa sektor teknologi komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat, membuat saham TLKM sangatlah aktif dan likuid dibandingkan blue chip lainnya.

Baca juga: Persamaan dan Perbedaan Reksa Dana vs Unit Link Sebagai Investasi

8. PTBA – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (Sektor Pertambangan)

Bukit Asam

Sebagai negara dengan kekayaan bumi yang begitu melimpah ruah, sektor pertambangan juga memiliki pengaruh besar pada perekonomian Indonesia. Tak heran kalau perusahaan-perusahaan tambang selalu mampu mencatat laba menggiurkan sehingga saham-saham mereka laris manis di pasar modal. Salah satu yang berstatus blue chip adalah PTBA milik Bukit Asam.

BUMN yang berpusat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan ini resmi berdiri pada 1950 dan memiliki 46 anak perusahaan. Dengan fundamental yang sangat kuat, ada sekitar 11.964.400 lembar saham PTBA di BEI dengan harga penutupannya hari Jumat (4/10) kemarin menyentuh Rp2.200. Meskipun batu bara yang menjadi industri utama Bukit Asam termasuk energi yang tak bisa diperbaharui, Bukit Asam sukses mencatat laba bersih sekitar lima triliun rupiah pada 2018 silam. Tak heran kalau akhirnya dividen tunai saham PTBA yang dibagikan pada 29 Mei 2019 mencapai Rp3,7 triliun.

9. AALI – PT Astra Agro Lestari Tbk (Sektor Perkebunan)

Hingga saat ini, Indonesia adalah negara penghasil minyak kelapa sawit (CPO) terbesar di dunia dengan jumlah produksinya pada tahun 2015 saja menyentuh angka 31,1 ton. Bisa disebut sebagai market leader, tak heran kalau perusahaan yang bergerak di produksi CPO ini mampu mencatatkan sahamnya menjadi blue chip seperti Astra Agro Lestari dengan saham AALI.

Memiliki sekitar 317.700 lembar saham di pasar modal, saham AALI mencatatkan harga Rp10.750 per lembar pada penutupan hari Jumat (4/10) kemarin. Sebagai perusahaan yang neraca perdagangannya sangat solid, Astra Agro Lestari sudah memiliki puluhan anak perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit, karet dan komoditas lainnya. Untuk perkebunan kelapa sawit, anak perusahannya tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Pada 16 Mei 2019 kemarin, saham AALI resmi membagikan dividen tunai sesuai perhitungan laba tahun 2018 dengan nilai total lebih dari Rp646 miliar. Meskipun saat ini produsen CPO tengah memperoleh kritikan tajam karena kasus kabut asap di berbagai provinsi, tetap saja saham AALI masih dianggap begitu likuid dan mampu menghasilan keuntungan besar untuk seluruh pemegang sahamnya.

10. INDF – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Sektor Manufaktur)

Kalau ada produk makanan yang begitu menggambarkan ciri khas masyarakat Indonesia, maka Indomie adalah jawabannya. Ya, mie instan yang sangat dicintai warga Indonesia ini memang begitu ikonis dan seolah tak tergantikan. Sekalipun ada produk mie-mie instan baru, Indomie tetap mampu kokoh menjadi pilihan dan sampai meraih pengakuan global. Melalui Indomie pula, PT Indofood Sukses Makmur mencatatkan diri sebagai salah satu perusahaan pemilik saham blue chip dalam waktu relatif singkat.

Indofood saham

Resmi dibentuk pada 14 Agustus 1990 oleh Sudono Salim sang pendiri BCA, Indofood kini telah menjelma menjadi perusahaan total food solutions yang produknya bisa ditemukan di seluruh pelosok Indonesia. Bahkan produk Indofood pun sudah diekspor hingga Australia, Asia dan Eropa yang pastinya akan membuat omzet perusahaan makin meningkat sehingga membuat investor jatuh hati.

Baca juga: Mau Investasi Tanah? Inilah Hal-Hal yang Wajib Anda Hindari

Melalui saham INDF, Indofood pun melantai di pasar modal dengan total volume 3.454.800 lembar saham. Pada penutupan hari Jumat (4/10) kemarin, harga saham INDF tercatat sebesar Rp7.850 per lembar. Dalam sesi pembagian dividen tunai terakhir pada 8 Juli 2019, saham INDF menggelontorkan Rp1,5 triliun dari laba bersih tahun 2018 kepada seluruh investornya.

Anda bisa memantau setiap saham blue chip tersebut di situs resmi IDX Indonesia.

Bagaimana? Sungguh luar biasa sekali bukan kemampuan finansial dan laporan keuangan singkat yang dimiliki saham-saham blue chip? Tak heran kalau akhirnya perusahaan mereka mampu mendapat pengakuan publik dan menjadi pilihan utama para investor. Beruntung saat ini perkembangan investasi saham semakin inovatif, sehingga para calon investor yang masih pemula bisa lebih mudah dalam mengelola keuangannya di pasar modal.

Loading...