Apa itu Startup dan Bagaimana Perkembangannya di Indonesia?

Startup dan perkembangannya di Indonesia

Dalam waktu beberapa tahun terakhir, nama GO-JEK, Tokopedia hingga Traveloka begitu sering diucapkan masyarakat Indonesia. Mulai dari kawasan perkotaan hingga kabupaten begitu mengenalnya. Ya, perusahaan-perusahaan tersebut memang telah mengubah gaya hidup publik Tanah Air dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Lantaran penggunanya yang menyentuh jutaan orang, omzet dan keuntungan perusahaan-perusahaan Startup berbasis online itu bahkan menyentuh miliaran Dolar AS!

Yang cukup membanggakan, hampir seluruh pendiri alias founder perusahaan Startup itu adalah generasi milenial yang berusia di bawah 40 tahun. Hal inipun akhirnya membuat tren bisnis Startup mendadak diminati oleh banyak kalangan muda Indonesia. Kalau dulu mungkin para sarjana yang baru lulus kuliah bingung melamar pekerjaan sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) atau karyawan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), saat ini kalangan muda justru saling memutar otak untuk menggeluti bisnis Startup yang dipandang menjanjikan penghasilan fantastis.

Apakah itu benar?

Apakah memang bisnis Startup seindah itu? Mungkin memang demikian. Hanya saja seperti layaknya bisnis-bisnis lain, dibutuhkan perencanaan yang matang dan tentunya semangat juang pantang menyerah jika ingin menggeluti bisnis Startup dan menjadi raksasa seperti GO-JEK yang sudah berstatus Decacorn (valuasi perusahaan menyentuh $10 miliar). Nah, supaya mencapai tahapan demikian, ada baiknya bagi Anda yang ingin mulai menggeluti bisnis Startup membahas ulasan dari kami berikut ini.

Anda bisa membuka informasi terkait ranking startup yang ada di Indonesia di link berikut ini.

Baca juga: 10 Ide Bisnis StartUp Paling Potensial di 2019, Layak untuk Dicoba!

Pengertian, Sejarah dan Karakteristik Bisnis Startup

bisnis startup-1

Banyak yang bicara mengenai bisnis Startup, memang apa sih Startup itu?

Jika dilihat secara etimologi, Startup merupakan sebuah istilah serapan dari bahasa Inggris yang bisa diartikan sebagai tindakan atau proses memulai sesuatu. Namun jika dikaitkan dengan bisnis, di dalam Wikipedia menjelaskan bahwa Startup merujuk kepada perusahaan rintisan yang belum lama beroperasi. Lantaran baru didirikan, sehingga masih dalam fase pengembangan dan penelitian dalam menentukan pangsa pasar yang tepat.

Namun jika melihat sejarah perkembangannya, Startup justru identik sebagai perusahaan yang berhubungan dengan teknologi, website dan internet. Kenapa begitu? Karena istilah Startup mulai populer secara global di masa buble dot-com.

Sekadar informasi, buble dot-com ditujukan kepada era tahun 1998-2000, di mana banyak perusahaan saling berlomba membuka website pribadi. Hal ini membuat masyarakat kenal akan internet, sebuah lahan baru untuk berbisnis. Tak hanya perusahaan lama, di era ini pula lahir banyak sekali perusahaan-perusahaan baru alias rintisan yang dijuluki Startup.

Padahal seperti dilansir Maxmanroe.com, Ronald Widha dari TemanMacet.com memaparkan bahwa sebetulnya Startup bukanlah perusahaan yang berbasis teknologi dan internet saja. Startup bisa dikaitkan dengan perusahaan baru atau gerakan ekonomi rakyat akar rumput yang mengenalkan produk barang/jasa, tanpa bantuan korporasi besar yang sudah pasti lebih mapan.

Namun seperti penjelasan sejarah singkat sebelumnya, istilah Startup akhirnya berkaitan dengan perusahaan rintisan yang menggunakan internet sebagai lahan bisnisnya.

Karakteristik Bisnis Startup yang Harus Diketahui:

  1. Sebuah perusahaan dianggap sebagai Startup jika berusia kurang dari tiga tahun
  2. Memiliki jumlah pegawai maksimal 20 orang
  3. Pendapatan perusahaan haruslah maksimal USD100 ribu (sekitar Rp140 juta) per tahun atau omzet bulanan paling banyak Rp11,5 juta atau omzet harian maksimal Rp380 ribu
  4. Merupakan perusahaan yang masih dalam tahap perkembangan sehingga produk yang ditawarkan dan target pasar bisa berubah
  5. Lantaran Startup saat ini identik sebagai perusahaan rintisan berbasis teknologi, maka produk barang atau jasa yang ditawarkan berupa aplikasi digital dan beroperasi secara online, serta memiliki website resmi

Baca juga: Tertarik Bisnis Startup? Berikut 6 Tips yang Harus Dipahami Pemula!

Perkembangan Bisnis Startup di Indonesia

bisnis startup-2

Kesuksesan GO-JEK mengubah jasa transportasi di Tanah Air atau bagaimana Tokopedia dan Traveloka membuat gaya belanja online makin populer, memang menjadi penggerak utama tren bisnis Startup di Tanah Air.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, jumlah pemilik (founder) bisnis Startup setiap bulan bahkan selalu bertambah. Bahkan menurut DailySocial, setidaknya kini ada minimal 1.500 bisnis Startup lokal di Indonesia. Kenapa bisa luar biasa banyak? Lantaran pengguna internet di Tanah Air semakin hari semakin meningkat.

Sekadar informasi, pada tahun 2013 saja alias enam tahun lalu, pengguna internet di Indonesia sudah menyentuh 70 juta orang. Dengan jumlah penduduk Indonesia lebih dari 200 juta jiwa, maka bisa dipastikan kalau potensi internet di Tanah Air sangat luas sehingga menjadi peluang bisnis Startup yang menjanjikan.

Rama Mamuaya selaku CEO DailySocial kemudian mengelompokkan bisnis Startup di Indonesia yang ternyata ada tiga kategori besar yakni Startup pencipta game, Startup aplikasi pendidikan dan Startup perdagangan (e-commerce dan informasi).

Startup game online, pendidikan dan informasi dipandang memiliki masa depan cukup cerah dan relatif diminati, karena proses pembuatannya relatif mudah dan pangsa pasar sangat luas lantaran didukung oleh tingginya pengguna smartphone dan media sosial di Tanah Air.

Sementara untuk Startup yang menawarkan e-commerce atau marketplace masih memiliki tantangan minimnya pengguna kartu kredit. Namun beruntung, saat ini metode pembayaran digital menjadi favorit sehingga peluang e-commerce pun terbuka lebar.

Kendati demikian, tidak semua Startup memang memiliki hasil yang menggembirakan. Molly Nagler selaku mentor Startup di Silicon Valley kepada Warta Ekonomi berpendapat bahwa hampir semua Startup itu gagal.

Hanya saja dari kegagalan itu, founder memperoleh ilmu baru yang akan menambah pengetahuannya dalam berbisnis. Karena memang pada dasarnya, Startup diawali oleh proses trial & error. Hanya mereka yang selalu belajar dan tidak patah semangat bakal membawa bisnis Startup yang dikelola menjadi sukses sebagai perusahaan besar.

Faktor-Faktor Bisnis Startup Bisa Berkembang

bisnis startup-3

Sebetulnya bukan tanpa alasan kenapa bisnis Startup di Indonesia memiliki perkembangan yang sangat pesat dan bisa dibilang cemerlang. Ada beberapa faktor yang menjadai penyebab tren bisnis Startup di Tanah Air begitu digandurungi. Nah, bagi Anda yang tengah tertarik dengan bisnis Startup, faktor-faktor berikut ini tentu bisa jadi pandangan baru supaya bisa memulai Startup yang cemerlang. Apa saja? Simak ulasannya:

1. Publik Tanah Air Terbuka dengan Teknologi

Inilah faktor pertama yang membuat bisnis Startup sangat laris manis di Indonesia. Yap, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang begitu terbuka dengan teknologi. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, pengguna internet di Indonesia semakin meningkat saja dari tahun ke tahun, sebagai bukti bahwa publik Tanah Air sangat terbuka dengan teknologi.

Didukung dengan perkembangan smartphone, teknologi semakin dikenal tak hanya oleh masyarakat perkotaan, tapi juga sampai pelosok desa. Bukan cuma generasi muda, kalangan berusia tua dengan berbagai latar belakang kini semakin banyak yang mencoba berselancar di internet dengan gawai mereka masing-masing.

2. Penduduk Indonesia Sangat Banyak

Pada tahun 2017, tercatat bahwa jumlah penduduk Indonesia menyentuh 264 juta jiwa. Jumlah yang bahkan jauh lebih banyak daripada negara maju sekelas Jepang. Sebagai negara berkembang, tentu jumlah penduduk yang luar biasa banyak itu menjadi pangsa pasar yang empuk untuk bisnis-bisnis apapun termasuk Startup.

Hal inilah yang akhirnya dimanfaatkan betul oleh GO-JEK, Traveloka hingga Tokopedia yang membuat mereka menjelma menjadi perusahaan-perusahaan Startup raksasa. Asalkan Anda bisa memahami apa kebutuhan masyarakat pada umumnya dan menawarkan solusi lewat bisnis, maka tentu usaha tersebut bakal berkembang pesat.

Baca juga: 8 Tanda yang Membuktikan Kalau Anda adalah Seorang Pengusaha Sukses

3. Pelayanan Startup Lebih Memuaskan

Faktor berikutnya yang membuat Startup cepat berkembang adalah karena pelayanan yang ditawarkan. Seperti yang sudah diketahui, bisnis Startup masa kini memang sangat identik dengan teknologi sehingga operasionalnya dilakukan secara online. Inilah yang membuat masyarakat memilih lantaran Startup dirasa jauh lebih efektif dan efisien.

Contohnya saja marketplace seperti Tokopedia, Anda tinggal membuka aplikasi pada ponsel, melakukan pembayaran dan barang diantar ke rumah. Atau jika ingin bepergian, tinggal pesan jasa ojek dan saat lapar tinggal pesan ke restoran terdekat sambil menanti kurir datang seperti yang ditawarkan oleh GO-JEK. Jauh lebih memuaskan, bukan? Tak heran kalau bisnis Startup langsung banyak diminati.

4. Investor – Pemerintah Saling Dukung

bisnis startup-4

Dan inilah faktor terakhir yang membuat bisnis Startup berkembang di Indonesia yakni saling mendukungnya antara investor dan pemerintah. Bahkan pada pertengahan Agustus 2019, Kementrian Komunikasi dan Informatika meluncurkan Program Ignite the Nation Gerakan Nasional 1000 Startup Digital sebagai bukti kalau pemerintah memang mendukung penuh kehadiran Startup baru.

Di beberapa kota pun, komunitas-komunitas Startup selalu rajin menggelar ruang diskusi demi mencari CEO-CEO Startup baru. Kondisi ini memang sesuai dengan keinginan Presiden Jokowi untuk mendeklarasikan Indonesia sebagai The Digital Energy of ASIA. Tak heran kalau begitu mendukungnya pemerintah atas perkembangan Startup, ada banyak investor-investor lokal dan asing yang tertarik dan menanamkan modal ke perusahaan rintisan tersebut.

Dengan geliat ekonomi digital yang semakin menjanjikan itulah, GO-JEK pun sukses meraih suntikan dana Rp2 triliun dari Global Digital Niaga (GDN), anak perusahaan Astra International dan Grup Djarum. Tak hanya lokal, Startup yang didirikan oleh Mendikbud Nadiem Makarim itu pada 2017-2018 telah memperoleh total Rp3,3 triliun dari dua perusahaan raksasa Tiongkok yakni Tencent dan JD.com, serta Rp16 triliun dari induk perusahaan Google yakni Alphabet dan Temasek Holding asal China.

Prediksi Bisnis Startup Tanah Air di Masa Depan

bisnis startup-5

Dengan masih luar biasa besarnya potensi pengguna internet di Indonesia, bisa dibilang kalau masa depan bisnis Startup Indonesia masihlah sangat cemerlang dan menjanjikan. Apalagi pasar ekonomi digital Asia Tenggara pada tahun 2025 nanti diprediksi menyentuh US$240 miliar, tentu sebuah nominal yang amat sangat fantastis sehingga belum ada kata terlambat untuk memulai bisnis Startup. Yang cukup menggembirakan, Indonesia disebut-sebut bakal menjadi salah satu kontributor utama mengingat statusnya sebagai pasar ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Bahkan dari prediksi tahun 2025 itu, Indonesia diperkirakan bakal memiliki kontribusi mencapai 50% dari Gross Merchandise Value (GMV) di Asia Tenggara, seperti dilansir Tech in Asia. Prediksi itu sepertinya bukan sekadar isapan jempol, mengingat hingga akhir tahun 2018, suntikan dana Startup Unicorn di Indonesia sudah mendekati investasi empat Startup Unicorn asal Singapura.

Keempat Startup Singapura itu adalah Grab, Lazada, Razer dan Sea yang memperoleh total US$22 miliar (sekitar Rp308 triliun), hampir sama dengan raihan dana total GO-JEK, Tokopedia, BukaLapak dan Traveloka yang mencapai US$20 miliar (sekitar Rp280 triliun).

Baca juga: Jangan Sampai Menyesal, Ini 6 Tips Pilih Rekan Bisnis yang Tepat

Kini belum sampai setahun, GO-JEK sudah menjelma menjadi Startup berstatus Decacorn yang sudah menawarkan layanannya di Vietnam, Thailand dan Singapura. Tak heran kalau akhirnya banyak yang menilai jika aliran dana investor asing ke Startup di Indonesia bakal menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, jauh meninggalkan Startup-Startup asal negara maju sekelas Singapura. Untuk itu tunggu apalagi? Yuk mulai bisnis Startup sekarang juga!

Apa itu Startup?

Perusahaan rintisan yang belum lama beroperasi.

Apa karakteristik Bisnis Startup?

1. Sebuah perusahaan dianggap sebagai Startup jika berusia kurang dari tiga tahun.
2. Memiliki jumlah pegawai maksimal 20 orang.
3. Pendapatan perusahaan haruslah maksimal USD100 ribu (sekitar Rp140 juta) per tahun atau omzet bulanan paling banyak Rp11,5 juta atau omzet harian maksimal Rp380 ribu.
4. Merupakan perusahaan yang masih dalam tahap perkembangan sehingga produk yang ditawarkan dan target pasar bisa berubah.
5. Lantaran Startup saat ini identik sebagai perusahaan rintisan berbasis teknologi, maka produk barang atau jasa yang ditawarkan berupa aplikasi digital dan beroperasi secara online, serta memiliki website resmi.

Bagaimana Prediksi Bisnis Startup Tanah Air di Masa Depan ?

Masa depan bisnis Startup Indonesia masihlah sangat cemerlang dan menjanjikan. Apalagi pasar ekonomi digital Asia Tenggara pada tahun 2025 nanti diprediksi menyentuh US$240 miliar.

Scroll to Top