Rupiah Tembus Rp16 Ribu/Dolar, Ini 7 Strategi yang Harus Dilakukan UMKM

Pandemi virus corona alias Covid-19 yang makin mengkhawatirkan mulai memberikan dampak buruk ke nilai tukar rupiah. Tercatat hingga Kamis (19/3) sore kemarin, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menyentuh level Rp15.929. Menguat sebesar 4.5%, beberapa bank bahkan mulai menjual dolar AS dengan harga menembus Rp16 ribu.

Dilansir Detik, beberapa bank dalam negeri itu adalah bank BCA, Mandiri, BRI dan BTN. Nilai jual dolar AS tertinggi dicatat oleh BRI yang menyentuh Rp16.410, sementara yang terendah ditawarkan BNI dengan harga Rp15.979. Menurut Ariston Tjendra selaku Kepala Riset Monex Investindo Futures, pergerakan nilai tukar rupiah masih berpeluang melemah untuk beberapa hari ke depan.

Apalagi sampai Jumat (20/3) pagi ini, jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia sudah lebih dari 309 orang dengan tingkat kematian tertinggi di dunia yakni mencapai 8%. Ramainya isu lockdown, dikhawatirkan akan makin membuat perekonomian memburuk dengan harga-harga kebutuhan meroket. Jika dibiarkan, bukan tak mungkin akan semakin menghantam berbagai sektor ekonomi seperti salah satunya UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).

Baca juga: Cara Mendaftar BPOM Online, UMKM Wajib Tahu !

Dolar AS Menggila Bikin Harga Kebutuhan Naik

Dolar AS dan Rupiah
© Sumsel Terkini

Menurut Adhi S. Lukman selaku Ketua Umum GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia), penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah ini memberikan pengaruh signifikan ke industri makanan dan minuman. Masih menggunakan bahan baku impor, serta situasi Covid-19 semakin membuat para pelaku usaha industri terhimpit.

Bahkan kondisi pun diperburuk dengan keadaan sulit pada sektor ekspor yang menjadikan pengusaha makanan dan minuman harus benar-benar berpikir keras. Dengan daya beli masyarakat melemah, Adhi pun berharap kalau para pelaku usaha tidak menaikkan harga produk pangan. Kendati begitu menurut Adhi, tidak semua pengusaha bakal bisa menekan keuntungannya demi menjaga daya beli masyarakat.

“Kalau pengusaha besar kan bisa hedging saat dolar naik atau turun. Sementara para pengusaha menengah dan kecil? Biasanya mereka tidak punya kemampuan hedging nilai tukar, jadinya harga bahan baku bakal naik-turun. Sehingga perusahaan cuma punya dua pilihan yaitu mengurangi untung atau menaikkan harga jual,” papar Adhi seperti dilansir Detik.

Fakta inilah yang akhirnya membuat Adhi berharap agar pemerintah segera menerbitkan insentif untuk menjaga daya beli masyarakat. Insentif itu juga bisa membantu pelaku usaha supaya tetap bisa menjual produk dengan harga stabil. Menanggapi kondisi itu, Mendag Agus Suparmanto menegaskan kalau tak akan ada lonjakan harga makanan karena pemerintah bakal mempermudah pengadaan bahan baku impor.

UMKM Sang Penyelamat Perekonomian Nasional

bisnis UMKM kain batik
© Katadata

Kondisi melemahnya rupiah ini tentu mengingatkan pada kejadian di tahun 2018. Di mana secara Year to Date (YtD) hingga akhir September 2018, rupiah terdepresiasi 8.97%. Nilai itu bahkan lebih rendah daripada India, Afrika Selatan, Brasil dan Turki. Apakah Indonesia memang mampu bertahan di saat rupiah terus melemah dan masih ramainya wabah Covid-19?

Untuk menjawabnya mungkin kita bisa membuka sejarah ketika krisis ekonomi dahsyat di tahun 1998 silam. Saat nilai tukar rupiah menyentuh Rp20 ribu per dolar AS, banyak perusahaan besar yang tumbang, industri perbankan kolaps hingga PHK gila-gilaan lantaran perusahaan kesulitan modal dan likuiditas. Di tengah krisis ekonomi, sektor UMKM justru menyelamatkan perekonomian nasional.

UMKM saat itu mampu menjadi dinamisator dan melakukan percepatan recovery ke perekonomian Tanah Air. Dengan sumber daya lokal, resesi ekonomi rupanya tidak terlalu mempengaruhi UMKM lantaran mereka masih bisa melakukan kegiatan produksi demi memenuhi permintaan pasar. Fakta inilah yang kembali menjadikan UMKM tumpuan harapan ketika rupiah kembali melemah di penghujung Maret 2020.

Kemampuan UMKM ini juga pernah disinggung oleh Muhammad Nafik selaku dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair Surabaya. Kepada suarasurabaya.net, Nafik menyebutkan kalau naiknya kurs dolar AS terhadap rupiah justru jadi peluang bagus bagi UMKM.

Baca juga: 6 Tips Ampuh Membangun Branding Produk UMKM, Dijamin Sukses!

Dengan fakta bahwa perekonomian Indonesia dikuasai oleh UMKM dan berbagai langkah pemberdayaan pemerintah seperti kemudahan akses KUR (Kredit Usaha Rakyat), kondisi anjloknya rupiah ini bisa jadi waktu untuk UMKM kembali bersinar sebagai pahlawan perekonomian bangsa.

7 Strategi UMKM Agar Tetap Kuat Ketika Rupiah Melemah

Kendati memang UMKM dianggap sebagai sektor perekonomian yang paling tahan saat rupiah anjlok, tetap saja untuk bertahan haruslah memiliki strategi. Yap, Anda pelaku bisnis UMKM wajib mulai memikirkan kelangsungan bisnis jangka panjang supaya tidak ikut-ikutan rontok jikalau resesi ekonomi makin terasa, melalui beberapa strategi berikut ini.

1. Fokus Bahan Baku Lokal

bahan baku kain
© Liputan 6

Salah satu penyebab kenapa banyak perusahaan-perusahaan skala besar begitu terpukul dengan lemahnya nilai tukar rupiah adalah karena menggunakan banyak sekali bahan baku impor. Misalkan saja industri produksi mie instan yang bisa saja bahan baku tepung terigunya diimpor dari luar negeri. Saat dolar makin kuat, jelas harga bahan baku melambung yang membuat mereka kesulitan produksi.

Beruntung, mayoritas pelaku UMKM memang lebih memilih menggunakan bahan baku lokal. Contohnya industri hijab yang memakai kain-kain asli Indonesia, lalu pengusaha produk makanan olahan seperti sambal botolan yang memakai cabe hingga aneka rempah Tanah Air.

Jangan diremehkan, kualitas bahan baku lokal semakin bisa diandalkan dan tentu saja membuat pebinis UMKM tak perlu mengimpor. Sehingga mau dolar naik atau tidak, produksi tetap berjalan.

2. Mulai Pertimbangkan Ekspor

Tahukah Anda apa bisnis yang paling diuntungkan saat rupiah melemah? Jawabannya adalah bisnis-bisnis yang sudah melakukan aksi ekspor produk mereka. Nah, hal inilah yang harus menjadi strategi para pelaku UMKM masa kini. Sekalipun mungkin bisnis ini berasal dari kota kecil, Anda harus mulai berpikir global. Salah satu pasar yang sangat menjanjikan bagi UMKM ialah perdagangan bebas MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

Jika Anda cukup jeli memanfaatkan potensi pasar MEA dengan memproduksi barang yang menarik konsumen ASEAN, sudah pasti ketika dolar AS menggila kapan pun produk Anda bakal tetap laku diekspor. Agar bisa mewujudkannya, cobalah kembangkan pikiran bukan hanya di pasar nasional. Mulai bangun jaringan untuk kegiatan ekspor dengan mempelajari perilaku pasar global hingga teknik ekspor produk.

Nanti jika barang-barang bisnis Anda sudah bisa diekspor, jangan lupa untuk meningkatkan volume produksi. Kalau kesempatan ini bisa Anda lakukan dengan maksimal, tentu akan mendatangkan keuntungan lebih besar saat dolar AS makin menguat dalam jangka panjang.

Baca juga: Ingin Bisnis UMKM Sukses? Terapkan 6 Langkah Manajemen SDM Ini!

3. Turunkan Keuntungan

keuntungan penjualan
© Enterpreneur Camp

Yang namanya pelaku bisnis, tentu pasti ingin memperoleh keuntungan alias cuan besar. Semakin besar untung yang diperoleh, omzet bisnis UMKM jelas makin melambung. Hanya saja di saat daya beli masyarakat melemah seiring dengan wabah Covid-19 dan melambungnya harga dolar AS, mau tak mau Anda harus mulai mempertimbangkan untuk menurunkan cuan.

Apalagi kalau bisnis Anda masih menggunakan kombinasi bahan baku impor yang harganya naik, supaya daya beli tetap stabil solusinya adalah menurunkan keuntungan. Contohnya Anda berjualan tas rajut yang biasanya meraup untung Rp50 ribu per item, dalam kondisi perekonomian memburuk ini cobalah kurangi untung hingga jadi Rp30-40 ribu per item.

Dengan harga jual tetap, konsumen tentu tidak akan beralih. Asalkan produksi tetap berjalan dan keuntungan masih diperoleh sekalipun menurun, bisnis UMKM bakal tetap bertahan.

4. Kelola Modal Tanpa Kredit

Modal memang menjadi masalah klasik bagi pelaku UMKM. Tak heran kalau pemerintah memang makin mempermudah akses KUR bagi pelaku bisnis UMKM supaya bisnis mereka bertambah besar. Hanya saja, cobalah untuk menyisihkan penghasilan sendiri sebagai persiapan dana darurat.

Bukan hanya menjadi jaga-jaga saat ada masalah bisnis, dana darurat ini juga bisa dikelola sebagai modal pengembangan bisnis. Dengan begitu Anda tak perlu mengajukan kredit ke pihak bank yang akhirnya malah membebani keuangan bisnis, karena wajib membayar tagihan per bulan. Tanpa adanya beban kredit, bisnis bisa makin sehat.

5. Berpikir Tenang dan Optimis

produk UMKM
© Qazwa

Strategi yang tak kalah penting wajib dilakukan pelaku UMKM saat resesi ekonomi adalah dengan tetap berpikir tenang dan optimis. Tampak mudah diucapkan, perilaku ini justru sulit dilakukan. Apalagi ketika Anda melihat pelaku bisnis lain mulai goyah hingga bangkrut, tentu mau tak mau kepanikan bakal begitu terasa. Apalagi dalam kondisi wabah corona seperti saat ini, tentu rasa was-was akan makin kuat.

Daripada membiarkan rasa panik menjalari dan malah membuat bisnis berantakan, Anda harus tetap tenang dan optimis serta melakukan sesuatu yang nyata. Lakukan berbagai langkah demi menjaga penjualan bisnis seperti menawarkan produk-produk inovatif. Dengan begitu daya beli konsumen tetap stabil dan bisnis UMKM tetap memperoleh penghasilan.

6. Naikkan Harga dengan Efektif

Bagaimana dengan pengrajin batik UMKM yang masih sepenuhnya menggunakan bahan baku impor seperti kain cotton dan bahan perwarna tekstil? Tentu jika harga bahan baku melambung dan keuntungan sudah terbatas, memangkas cuan jadi hal yang tak mungkin. Maka satu-satunya hal yang bisa Anda lakukan adalah dengan meningkatkan harga jual.

Strategi ini memang cukup berisiko, tapi kalau memang kualitas produksi tetap memuaskan diiringi dengan sosialisasi terbuka kepada konsumen, maka bakal bisa dijalankan. Berilah alasan yang logis kepada konsumen dengan baik-baik, pasar pun akan tetap bisa menerima kenaikan harga. Apalagi untuk para pelanggan setia, mereka biasanya tetap akan membeli lantaran memang butuh. Namun ingat, naikkan harga secara efektif dan jangan berlebihan.

Baca juga: Apa Perbedaan UKM dengan UMKM, Berikut Penjelasannya

7. Tekan Biaya Produksi

produk UMKM sambal olahan
© Faktual News

Strategi berikutnya yang bisa diterapkan pelaku UMKM adalah dengan mencoba menekan biaya produksi. Bukan hanya soal bahan baku, biaya produksi ini juga berkaitan dengan proses distribusi sampai pemasaran. Kalau biasanya Anda menggunakan jasa ekspedisi kilat, cobalah memakai jasa ekspedisi tarif normal. Begitu pula jika dulu promo secara berbayar, pertimbangkan promo di media sosial dan online yang lebih murah.

Bahkan soal proses produksi, Anda juga bisa meminta para karyawan untuk menggunakan listrik secara efisien. Untuk itulah, coba rekrut tenaga kerja dengan SDM (Sumber Daya Manusia) berkualitas supaya mereka bisa bekerja jauh lebih efektif dan efisien. Lewat langkah kecil dan sederhana, biaya produksi pun bisa ditekan hingga optimal dan menghemat pengeluaran bisnis.

Kesimpulan

Dengan optimisme bahwa UMKM mampu bertahan di tengah krisis ekonomi dan melambungnya nilai tukar rupiah, maka Anda tentu bisa lebih percaya diri. Asalkan menerapkan strategi-strategi di atas secara tepat, bisnis UMKM pun akan terus berlanjut dan mampu menyelamatkan kondisi ekonomi Indonesia. Semangat pelaku UMKM!

Bagikan ;