Tips Keuangan Saat PHK Karena Dampak Resesi Ekonomi

Setelah Indonesia resmi di tetapkan sedang mengalami resesi ekonomi pada 5 November 2020 yang lalu, ternyata banyak sekali karyawan yang terdampak. Ribuan karyawan dari berbagai industri akhirnya harus mengalami PHK di tengah sulitnya masa pandemik.

Misalnya saja yang terjadi di pabrik sepatu yang berada di Tangerang, ada 1.800 karyawan yang resmi di PHK dan hanya akan bekerja sampai akhir November 2020. Hal yang pasti membuat kita khawatir jika hal ini menimpa kita atau anggota keluarga pastinya adalah tentang keamanan keuangan.

Kekhawatiran ini sangat wajar dan memang di perlukan agar kita tetap bisa survive dan berusaha dengan maksimal. Karena jika terlalu panik, dampaknya bukan hanya pada keuangan yang kacau tapi juga bisa berdampak pada banyak aspek lainnya dalam kehidupan kita. Bisa berdampak pada kesehatan fisik, mental kita ataupun keluarga. Tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi bukan?

Sebenarnya bukan hanya Indonesia saja yang mengalami resesi, negara-negara lain juga kabarnya tengah berjuang menghadapinya termasuk Amerika Serikat. Tidak ada yang bisa memprediksi dengan pasti kapan pandemi ini akan berakhir.

Namun masih ada hal-hal yang bisa kita kendalikan sebaiknya kita siapkan dengan lebih baik, contohnya dalam pengelolaan keuangan. Untuk itu, coba kita pelajari beberapa tips keuangan saat resesi dan PHK berikut ini supaya tidak panik dan keuangan keluarga tetap terkendali.

Tips Keuangan Saat Resesi

tips keuangan saat resesi ekonomi

1. Menjaga Sumber Income

Sumber penghasilan biasanya menjadi masalah yang paling di sorot saat PHK terjadi. Oleh karena itu kita perlu menjaga sumber income. Caranya?

Pertama, kitra harus membuka peluang sumber penghasilan lainnya. Maksudnya, pada umumnya dalam sebuah keluarga ada orang yang bertanggung jawab dalam menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Jika sumber pengahasilan berasal dari satu sumber saja misalnya dari suami yang bekerja maka pada saat seperti ini sangat penting untuk Anda membuka berbagai peluang sumber penghasilan baru. Contohnya, kalau sebelumnya hanya suami saja yang bekerja, sekarang istri juga bisa mulai produktif menghasilkan uang.

Kedua, jika Anda sudah memiliki aset ini lah saatnya Anda mulai mengaktifkan berbagai aset yang sudah dimiliki supaya tidak hanya bergantung pada gaji semata.

Mengaktifkan aset disini maksudnya adalah memberdayakan dan menggunakan aset agar bisa menambah penghasilan ketika penghasilan dari gaji berkurang atau hilang.

Misalnya deposito atau di reksadana pasar uang, Anda bisa menambah dana pada aset tersebut supaya returnnya bisa menambah income untuk kebutuhan rutin Anda sehari-hari. Atau misalnya Anda sudah punya dana darurat, namun jika memang terpaksa menggunakannya sebaiknya gunakan dana darurat Anda dengan bijak.

2. Menjaga Cashflow

Dalam keadaan seperti ini penting sekali untuk menjaga cashflow tetap lancar. Misalnya saja kita bertahan dengan hanya mengandalkan dana darurat saja, suatu hari nanti dana darurat kita akan habis bukan?

Oleh karena itu mau tidak mau kita tetap harus mengisi kembali dana darurat tersebut. Ini lah yang menjadi salah satu trigger bagi seseorang untuk berhutang untuk kebutuhan konsumtif.

Sebenarnya berhutang itu tidak dilarang apalagi untuk kebutuhan produktif yang telah di kalkulasikan sebelumnya, namun jika Anda masih mampu berkreativitas untuk menghasilkan income lebih baik Anda berusaha sendiri dulu. Anda bisa mencari pekerjaan tambahan/sampingan, membuat bisnis rumahan, atau apapun yang mampu Anda kerjakan.

3. Menambah Cash Liquid Pada Dana Darurat

Cash liquid tambahaan yang di sarankan untuk membangun dana darurat yakni 12 x pengeluaran rutin bulanan dari yang biasanya cukup hanya 3x lipat pengeluaran rutin. Sebab dimasa resesi seperti saat ini dana darurat memang bisa menjadi penyelamat kita dan keluarga saat hal yang tidak di inginkan terjadi.

Misalnya saja pengeluaran rutin bulanan Anda adalah Rp. 4.000.000/bulan x 12, sehingga dana darurat yang perlu Anda siapkan adalah sebesar Rp. 48.000.000. Wow besar sekali! Anda pasti bertanya-tanya, untuk mengumpulkan uang sebesar Rp. 48 juta dari mana sumbernya?

Saat terjadi PHK, biasanya karyawan mendapatkan uang pesangon. Nah Anda bisa menabung sebagian uang tersebut ke dana darurat selain di gunakan untuk kebutuhan yang lain.

Namun sebenarnya Anda juga bisa memulainya dari sekarang, karena bukan hanya perusahaan besar saja yang terpaksa melakukan PHK tapi juga pengusaha-pengusaha kecil. Anda tetap bisa membangun dana darurat tersebut Anda dari sekarang kok, asalkan lebih teliti.

Jika sampai saat ini Anda masih memiliki pekerjaan coba list apa saja tujuan keuangan yang sampai saat ini belum bisa di lakukan?

Misalnya saja ada dana liburan, dana menikah yang tidak jadi terpakai karena pesat pernikahan menjadi lebih sederhana di masa pandemi, atau dana-dana lainnya yang sebelumnya sudah di rencanakan namun terhambat oleh pandemi sehingga tidak jadi dilaksanakan. Nah dana-dana tersebut sebenarnya bisa di alokasikan terlebih dahulu untuk membangun cash liquid dana darurat sebanyak 12 x pengeluaran rutin.

4. Lebih Bijak Saat Belanja Menggunakan Pinjaman

Ada baiknya Anda lebih teliti saat berbelanja rutin, terutama jika menggunakan fasilitas pinjaman seperti paylater atau kartu kredit misalnya. Jangan merasa terlalu di atas angin karena masih memiliki penghasilan dan bekerja di perusahaan besar.

Tapi sebenarnya kita tidak bisa benar-benar memastikan bahwa perusahaan tempat kita bekerja saat ini bisa melewati krisis dengan baik. Karena saat ini, banyak perusahaan besar yang justru gulung tikar karena tidak mampu membayar biaya operasional dan gaji karyawannya.

Kita juga tidak bisa benar-benar memastikan bahwa saat ini kita tetap akan mendapatkan gaji seutuhnya dan juga bonus dan tunjuangan yang biasanya kita dapatkan. Sehingga yang bisa di lakukan saat ini adalah mengendalikan pengeluaran kita sendiri dengan cara bijak berbelanja sesuai dengan kebutuhan saja.

Ada pepatah “If you can’t pay cash, the you can’t afford it”. Jadi jika kita belum bisa membelinya secara cash, maka sebenarnya kita belum mampu membeli suatu barang.

5. Mendorong Perekonomian Dengan Membeli Produk Lokal

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membantu mendorong perekonomian negara saat ini, salah satunya dengan membeli produk lokal atau UMKM kita sendiri.

Jika kita masih memiliki kondisi keuangan yang baik, seperti penghasilan bulanan yang masih utuh atau pun keuangan secara jangka panjang juga masih terjaga ada baiknya kita memenuhi kebutuhan dengan membeli produk-produk lokal. Apalagi jika kita masih punya alokasi untuk kebutuhan lifestyle, usahakan membeli produk-produk yang di hasilkan oleh UKM.

Hal ini mungkin terdengar sepele, namun jika di lakukan secara berjamaah kita bisa bergotong royong dalam memulihkan perekonomian kita kembali. Perlu kita tahu bahwa UKM di Indonesia jumlahnya sangat fantastis, bahkan bisa di bilang UKM itu adalah roda penggerak perekonomian di banyak provinsi di Indonesia.

Baca juga : Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga Setelah Memiliki Anak

Sehingga dengan membeli produk-produk lokal, secara tidak langsung kita membantu pegiat UKM yang saat ini sedang terdampak untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya di rumah.

Namun jika kita sendiri masih kesulitan dengan kondisi keuangan, kita tetap bisa membantu melalui networking. Misalnya membantu memasarkannya lewat whatsapp group keluarga, teman-teman kuliah atau sekolah dll.

Tips Keuangan Saat Mengalami PHK

tips keuangan saat phki

Jika Anda memang telah mengalami PHK (Pemutusan hubungan Kerja), ada beberpa tips yang bisa Anda lakukan :

1. Menenangkan Diri dan Menerima

Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah menenangkan diri agar bisa menerima kenyataan dengan baik. PHK tentunya akan membuat orang yang mengalaminya menjadi down bahkan tertekan.

Apalagi hal ini memang bisa merubah kesejahteraan rumah tangga/keluarga kita. Namun bagaimana pun pada akhirnya kita tetap harus menerima dan melanjutkan hidup.

Jadi, jika Anda sedang kehilangan pekerjaan Anda, cobalah menenangkan diri terlebih dahulu karena PHK bukanlah akhir segalanya. Jika Anda sudah merasa lebih pulih, Anda akan bisa berpikir jernih untuk mencari problem solving.

Inilah bentuk dari sabar dan ihhlas. Sabar dan ikhlas bukan hanya pasrah dan berdiam diri, tapi menerima dan kemudian tetap berusaha sekuat tenaga.

2. Evaluasi Tagihan dan Kewajiban Lainnya

Dalam kondisi seperti ini, mengevaluasi tagihan dan kewajiban lainnya sangat penting sekali. Coba evaluasi tagihan-tagihan seperti tagihan listrik, air, internet, tv kabel dan lain-lain.

Apakah diantara kebutuhan rutin tersebut ada hal yang tidak terlalu di perlukan? Jika ada, maka kita bisa menguranginya. Untuk kewajiban lainnya berupa utang, coba Anda cek apakah masih punya cicilan kendaraan, rumah atau barang lainnya.

Jika kita mendapatkan uang pesangon, sebaiknya kita mengalokasikan uang pesangon untuk melunasi kewajiban utang ini terlebih dahulu sebelum digunakan untuk yang lainnya.

Karenam cicilan biasanya include dengan bunga. Jika kita telat membayar dalam kondisi kita sedangn tidak memiliki penghasilan yang stabil, maka hal ini akan berbahaya.

3. Menghitung Uang Pesangon dan Dana Darurat

Ketika menerima uang pesangon, bukan berarti kita bisa menghaburkan uang karena jumlahnya yang cukup besar. Justru sebaliknya kita berhati-hati saat menggunakannya.

Seperti yang telah di singgung sebelumnya tentang kewajiban jika meningkatkan saldo dana darurat kita 12 x pemasukan dan salah satu sumbernya bisa dari uang pesangon.

Jadi jika saldo dana darurat kita belum memenuhi standart tersebut, coba hitung uang pesangon Anda dan tempatkanlah pada akun dana darurat untuk nenamabah cash liquid nya.

4. Tetap Semangat Mencari Sumber Pemasukan Baru

Memang tidak mudah untuk mencari sumber pamsukan yang baru tapi bagaimanapun hidup tetap berjalan, jadi Anda tetap harus survive dan mnegasah kreativitas.

Baca juga : Baru Buka Usaha? Ini Cara Cermat Atur Keuangan Bagi Entrepreneur Pemula

Banyak hal yang bisa kita lakukan, banyak inspirasi yang bisa kita dapatkan karena akses informasi begitu mudah saat ini. Jadi pilihlah hal apa yang bisa Anda lakukan dan bisa menghasilkan minimal untuk jangka pendek sampai And amendapatkan pekerjaan baru misalnya.

Penutup

Dengan memperhatikan beberapa tips keuangan saat PHK di atas,harapannya Anda yang berprofesi sebagai karyawan yang terkena PHK mungkin bisa mengatasi kepanikan soal pengelolaan keuangan Anda dan keluarga. Karena kenyataannya kondisi PHK tentu berbeda dengan saat Anda bekerja resmi, jadi tetap harus di hadapi sebijak mungkin. Namun untuk Anda yang tidak terkena PHK, bisa memiliki persiapan yang lebih matang jika seandainya PHK terjadi. Tentu saja kita tidak berharap hal itu, namun tidak ada salahnya jika berhati-hati dalam kondisi seperti ini.

Pada tanggal 16 November 2020 kemarin, Gubernur BI Perry Warjiyo memporediksi bahwa ekonomi Indonesia akan kembali pada jalur positif pada kuartal IV atau hingga akhir tahun ini. Namun kita belum benar-benar bisa memastikannya. Kita do’akan saja ya, semoga negeri ini bisa melewati masa-masa sulit dan dapat menghasilkan orang-orang kreatif dan tangguh yang baru.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar