7 Tips Keuangan Untuk Generasi Sandwich

Tips Keuangan Untuk Generasi Sandwich

Generasi Sandwich, itulah perumpamaan yang biasanya dilekatkan pada kondisi dimana seseorang yang di usia produktifnya di himpit oleh 2 generasi yang harus ia tanggung. Berikut tips Tips Keuangan Untuk Generasi Sandwich.

Di satu sisi ia berkewajiban memberi nafkah bagi generasi di bawahnya (anak), tapi di sisi lain ia juga harus membantu generasi di atasnya (orang tua) karena merasa siapa lagi yang menolong selain dirinya sebagai anak. Jadi ia ada di tengah-tengah terhimpit beban tanggungan di atas dan di bawah, seperti sandwich.

Apakah di antara Anda saat ini ada yang merasa, “Kok itu gue banget ya”?

Ternyata fenomena generasi sandwich ini tidak hanya terjadi pada generasi milenial, melainkan sudah terjadi pada generasi sebelum-sebelumnya.

Jika Anda tidak membuat strategi untuk mengatur keuangan dengan tepat, maka sangat mungkin kita akan ‘mewariskan’ generasi sandwich ini kepada generasi-generasi selanjutnya yakni generasi Z dan generasi Alpha.

Baca : Investasi terbaik bagi generasi milenial

Tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi bukan?

Oleh karenanya, jika Anda sudah terlanjur menjadi bagian dari generasi sandwich ini, dari pada hanya terus mengeluh lebih baik kita coba menghadapi keadaan tersebut dengan beberapa tips berikut :

1. Tetap Bersyukur

Tips Keuangan Untuk Generasi Sandwich

Langkah pertama untuk menghadapi kondisi sandwich generation adalah bersyukur dan kurangi mengeluh.

Karena perlu di sadari bahwa setiap hal memiliki sisi negatif dan juga positifnya. Jika kita hanya fokus pada sisi negatifnya saja, maka itu akan membuat kita semakin stress saja dan akhirnya malah hanya memperlambat langkah kita.

Jika Anda termasuk generasi sandwich, maka Anda tetap patut bersyukur karena itu artinya Anda bisa berinvestasi amal kebaikan dengan jalan berbakti kepada orang tua. Selain itu, hal ini juga menunjukan bahwa Anda memang memiliki potensi kemampuan yang lebih, bukan hanya soal materi tapi juga mentalitas, karena tidak setiap orang bisa melakukannya.

Baca : Inilah 7 Tabungan Anak Terbaik yang Bisa Anda Percaya

Jadi mulai hari ini, cobalah untuk mengurangi keluhan. Karena mengeluh itu mengeluarkan energi, lebih baik berusaha secara maksimal, mencari strategi pengolaan keuangan yang tepat dan berbahagialah.

Tapi terkadang masalah lainnya yang membuat mudah galau adalah dana yang pas-pasan. Kita bingung apakah harus memilih antara membiayai anak atau membantu orangtua.

Tunggu dulu! Jangan terlalu cepat mengmbil keputusan untuk memilih salah satunya, karena se-minim apapun dananya ternyata Anda tetap bisa kok memilih keduanya. Bagaimana caranya? Akan di bahas di poin selanjutnya.

2. Mengelola Pengeluaran Dengan Tepat

Mengelola Pengeluaran Dengan Tepat

Untuk mencari solusi atas keadaan sandwich generation seharusnya kita berpijak dari sebab-sebabnya terlebih dahulu. Nah, menurut beberapa praktisi keuangan salah satu sebab kenapa sih fenomena generasi sandwich ini ada adalah karena generasi sebelumnya kurang memiliki persiapan untuk dirinya sendiri di masa pensiun.

Ada yang kelupaan memikirkan masa pensiun karena kurangnya financial literacy, tidak menyangka harapan hidupnya tinggi dengan kondisi kesehatan dan ekonomi seperti saat ini, dan juga pada masa produktifnya terlalu fokus memenuhi kebutuhan anak, yakni kita.

Anaknya di sekolah yang biayanya cukup mahal, di ikutkan kursus, dan lain sebagainya. Niatnya mulia yakni memberikan terbaik untuk anaknya, harapannya agar kelak memiliki kondisi yang lebih baik dari mereka. Tapi pada akhirnya malah kelupaan untuk memikirkan diri sendiri dan anak tetap harus mensupport kehidupan saat mereka pensiun.

Untuk itu kita perlu belajar tentang prioritas dan kadar pengeluaran supaya keuangan keluarga kecil lancar, tapi juga tetap bisa membantu orangtua.

Langkah pertama adalah dengan mengetahui tujuan keuangan kita terlebih dahulu. Sebaiknya kita membuat anggaran untuk kebutuhan bulanan yang sifatnya wajib seperti makan, membayar listrik, air, susu, popok anak (bagi yang memiliki bayi) dll maksimal adalah 50% dari pendapatan. Lalu sisanya adalah untuk pos life style, donation, investment dan tabungan untuk berbagai kebutuhan misalnya untuk dana darurat, dana pensiun, membeli rumah, pendidikan anak, dan lain sebagainya.

Bantuan untuk orang tua bisa masuk pos donation jika sifatnya tidak rutin, tetapi jika dibutuhkan rutin maka bantuan kepada orang tua dimasukan pada kebutuhan pokok yang wajib.

3. Mengatur Jumlah Bantuan yang Realistis Untuk Orangtua

Tidak ada salahnya untuk membuat anggaran yang realistis dalam membantu orangtua kita. Hal ini bukan karena kita terlalu perhitungan dalam arti yang negatif, tapi justru sebaliknya kita mencoba proporsional dalam mengelola keuangan dengan memberikan bantuan sesuai kemampuan yang kita miliki untuk mencegah sandwich generation ini berlanjut pada anak cucu kita nantinya.

Ingat bahwa, salah satu sebab adanya sandwich generation ini adalah pembagian proporsi keuangan yang tidak seimbang dimasa produktif.

Selain itu, kurangnya financial literacy yang akhirnya menyebabkan pengelolaan keuangan generasi sebelumnya di lakukan secara alamiah saja. Mungkin saat itu akses informasi juga tidak semudah saat ini. Berbeda dengan kita sekarang, kita di untungkan dengan kemudahan akses berbagai literasi keuangan untuk mengusahakan pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Keuntungan inilah yang harus bisa Anda manfaatkan.

Mengenai besarannya sendiri, di kembalikan pada masing-masing dari Anda karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda tapi pada prinsipnya jangan sampai mengganggu kebutuhan primer kita, terutama kewajiban kepada anak. Karena saat kita memutuskan untuk memiliki anak, kita bertanggung jawab atas kesehatan jiwa dan raga si anak. Sementara kepada orangtua, sifatnya adalah berbakti dengan membantu semampu kita.

Perlu diketahui bahwa membalas jasa-jasa orang tua kita bukan hanya dengan cara membantu dari sisi materil, tapi juga dukungan psikologis seperti perhatian dan kasih sayang jangan sampai dilupakan.

4. Komunikasikan Kepada Pasangan dan Keluarganya

Tahukah Anda bahwa salah satu penyebab konflik dan perceraian terbanyak dalam keluarga dipicu oleh masalah keuangan?

Biasanya setelah menikah, pendapatan 2 orang yakni kita dan pasangan menjadi satu. Karena kebutuhan men-support orangtua ini berhubungan dengan uang maka hal ini perlu dibicarakan secara mendalam dengan pasangan agar terjadi satu pemahaman yang sama.

Kedua, selain orangtua kita ada juga keluarga dari pasangan yang juga harus di perhatikan. Jika kondisi kita memang perlu mensupport orangtua, supaya saling ada pengertian maka komunikasi tentang ini harus terjalin dengan baik bukan hanyadengan pasangan tapi juga keluarga dari pasangan kita.

Jangan sampai ada saling iri, dan menjadi potensi konflik. Cobalah berbicara dari hati ke hati mengenai kondisi orangtua Anda kepada pasangan dan juga keluarganya. Hal ini tentu membuat semuanya lebih mudah. Anda lebih tenang, karena semua bisa saling memahami satu sama lain.

5. Mendaftarkan Orangtua Dalam Asuransi Kesehatan

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah soal kesehatan orangtua. Karena faktor usia menjadi salah satu aspek yang cukup berpengaruh bagi kesehatan seseorang, cobalah mendaftarkan orangtua Anda dalam asuransi kesehatan.

Pilih asuransi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan dan juga kemampuan Anda dalam membayar premi tiap bulannya. Salah satu asuransi yang bisa Anda manfaatkan adalah BPJS Kesehatan.

Dengan begitu, kekhawatiran Anda bisa sedikit berkurang jika sewaktu-waktu orangtua Anda memerlukan biaya pengobatan yang besar tetapi Anda sedang tidak ada dana, karena masalah biaya kesehatan orangtua sudah tercover asuransi.

6. Mulai Cicil Dana Pensiun

Masih ingat dengan salah satu sebab adanya generasi sandwich ini?

Yakni karena generasi sebelumnya tidak sempat menyiapkan diri untuk masa pensiunnya karena tidak menyangka usia harapan hidupnya lebih tinggi.

Walaupun kita tidak pernah tahu usia setiap orang secara individu, kita patut bersiap untuk tidak mengestafetkan generasi sandwich ini pada generasi berikutnya dengan cara menyiapkan dana pensiun kita sendiri sejak dini.

Dana pensiun itu persiapannya jangka panjang, tujuannya agar bisa di gunakan saat pensiun dimana kita tidak lagi mencari uang untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sehingga mulai siapkan dana pensiun dari sekarang

7. Mengedukasi Anak Tentang Uang Sesuai Usianya

Mengedukasi Anak Tentang Uang Sesuai Usianya

Jika treatment kepada pengelolaan keuangan keluarga dan bantuan kepada orangtua sudah dilakukan, selanjutnya adalah kepada anak.

Hal lainnya yang bisa kita lakukan yakni dengan menyiapkan generasi selanjutnya supaya mereka memiliki literasi keuangan yang lebih baik dan juga memiliki kemampuan mengelola kehidupannya sedari dini. Karena salah satu efek dari kemampuan ini akan berdampak pada kehidupan finansialnya di masa yang akan datang.

Tentu saja untuk mengedukasi anak tentang keungan haruslah sesuai dengan perkembangan psikologisnya. Mengajarkan anak usia anak-anak dengan remaja akan berbeda secara tingkatan wawasan, metode dan tahapan.

Misalnya di usia anak-anak, mereka di berikan uang untuk sehari tetapi untuk anak remaja bisa di berikan uang untuk seminggu. Hal ini karena, di usia remaja mereka sudah punya potensi kemampuan untuk mengelola keuangan jauh lebih kompleks dibanding ketika mereka anak-anak.

Baca : 7 Deposito Syariah Terbaik di Indonesia yang Bisa Anda Coba!

Masih banyak orangtua yang menganggap bahwa remaja ini masih anak kecil yang tidak bisa diberi tanggung jawab mengelola uangnya sendiri. Takut habis ditengah jalan, takut lebih boros dan lain sebagainya. Padahal sebenarnya mereka sudah mulai bisa berpikir secara rasional, memaklumi kemampuan pemberian orangtua dan berkreatifiitas.

Mungkin benar, bahwa diawal mereka akan kesulitan mengatur uang mereka sendiri seperti, kehabisan uang padahal baru 3 hari. Tapi itu adalah proses, mereka sudah bisa dan harus belajar. Diawal mungkin hanya 3 hari, lalu selanjutnya 4 hari, lalu 5 hari dan akhirnya terbiasanya dengan mengatur uangnya sendiri.

Semakin dini anak di ajarkan dalam mengelola keuangan pribadinya, mereka akan semakin terampil mengelola keuangannya di masa usia produktifnya nanti.

Penutup

Generasi sandwich memang hal yang perlu kita hindari, tetapi bagi kita yang sudah terlanjur masuk menjadi bagian darinya kondisi ini tidak boleh membuat kita stagnan dan berputus asa.

Selalu ada jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh mencarinya dan jangan lupa untuk berdo’a agar di berikan rezeki yang melimpah sekaligus berkah bagi Anda dan keluarga.

Baca : 5 Pinjaman Online Cepat Cair, Tanpa Ribet Legal dan Pilihan Terbaik

Ambil lah sisi positifnya tapi jangan lupakan sisi negatif dari generasi sandwich ini. Supaya selain kita bisa menjadi manusia yang lebih kuat secara mental, berkembang secara skill dan berkreatifitas serta bisa menabung amal, kita juga bisa menyiapkan generasi selanjutnya supaya terhindar dari generasi sandwich dan bisa mengelola keuangannya lebih baik lagi.

Apa itua generasi Sandwich?

Generasi Sandwich, itulah perumpamaan yang biasanya dilekatkan pada kondisi dimana seseorang yang di usia produktifnya di himpit oleh 2 generasi yang harus ia tanggung.

Loading...
Scroll to Top