Wajib Tahu, Inilah Faktor-Faktor Penyebab Harga Saham Naik Turun

Salah satu produk investasi yang tengah digandrungi masyarakat dewasa ini adalah saham. Semakin majunya perekonomian Indonesia, saham memang dianggap sebagai bentuk investasi yang cukup menjanjikan. Ada banyak kisah sukses seseorang yang membeli saham sebuah perusahaan kecil, dalam waktu 10 tahun bisa memperoleh keuntungan finansial karena perusahaan itu sukses.

Cerita-cerita menggiurkan seperti itulah yang membuat investasi saham makin diminati. Namun satu hal yang mungkin tidak terlalu dipahami investor muda atau investor pemula adalah harga saham bersifat fluktuatif alias naik turun. Artinya, saham tidaklah bisa selamanya memiliki harga tinggi, tapi ada kalanya malah nilainya turun sehingga memiliki risiko kerugian dalam jumlah besar.

Baca juga: 3 Langkah Mengelompokkan Tujuan Keuangan Agar Lebih Terukur dan Mudah Dicapai

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa sih yang membuat harga saham naik turun seperti komoditi di pasar? Sebetulnya jika melihat dari nilai ekonomi, ini adalah hal lumrah. Bahkan kalau pasar saham bersifat statis, justru tidak akan menarik banyak investor. Naik turunnya harga saham sendiri dipengaruhi oleh kekuatan penawaran dan permintaan masyarakat.

Fluktuasi yang terjadi ini terjadi untuk semua jenis saham mau yang blue chips milik perusahaan besar, atau bahkan saham Lapis Tiga. Bahkan bisa saja saham blue chips mengalami penurunan sementara saham Lapis Tiga jadi meningkat secara dratis. Tantangan naik turunnya harga saham inilah yang justru bikin menarik. Nah, supaya Anda makin paham, yuk pelajari beberapa faktor penyebab nilai saham selalu berubah berikut ini:

8 Faktor Penyebab Nilai Saham Selalu Naik Turun

1. Kebijakan yang Diambil Pemerintah

Permintaan dan penawaran saham

Inilah faktor eksternal yang bisa dibilang paling mempengaruhi nilai saham. Bahkan sekalipun masih dalam tahap wacana yang belum tahu bakal direalisasi kapan atau malah dibatalkan, juga memberikan imbas di lantai bursa saham. Beberapa kebijakan pemerintah yang langsung memberikan dampak ke nilai saham seperti kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA), kebijakan ekspor impor, kebijakan hutang dan kebijakan perseroan.

Jika Anda seorang pemain saham tipe trader, tentu wajib peka dengan isu-isu kebijakan pemerintah. Karena Anda bisa saja mengambil untung lewat spekulasi demi keuntungan trading harian.

2. Manipulasi Pasar Saham

Trading saham online

Tahukah Anda kalau manipulasi pasar saham juga berpengaruh pada fluktuasi saham perusahaan. Kebanyakan investor-investor profesional yang berpengalaman dan punya modal besar-lah yang melakukan aksi ini. Untuk melakukan manipulasi pasar saham, mereka memanfaatkan betul kekuatan media demi menciptakan kondisi tertentu entah membuat saham perusahaan meningkat atau menurun, demi keuntungan mereka. Hanya saja aksi manipulasi pasar saham ini tidak bisa bertahan lama karena perusahaan jelas punya hal-hal fundamental yang bisa membuat harga saham terkoreksi ke posisi semula.

3. Aksi Korporasi Perusahaan

Memantau IHSG

Perusahaan memiliki hak untuk mengeluarkan kebijakan yang diambil oleh jajaran manajemen. Keputusan ini bisa disebut sebagai aksi korporasi perusahaan yang ternyata memiliki imbas pada naik turunnya harga saham perusahaan tersebut di lantai bursa. Beberapa aksi korporasi yang kerap dilakukan adalah akuisisi, merger, right issue, divestasi, dividen sampai stock split. Aksi korporasi ini menjadi salah satu faktor internal fluktuasi saham.

Jika Anda perhatikan, perusahaan-perusahaan besar yang tengah melakukan pembagian dividen emiten (sekitar bulan Maret – Mei), biasanya nilai saham mereka cenderung meningkat. Sama halnya ketika Disney hendak membeli Fox, menimbulkan spekulasi bahwa Disney lebih kuat daripada Fox sehingga harga saham mereka jadi naik.

4. Ekonomi Makro

Kegiatan di bursa saham

Inilah faktor eksternal paling berpengaruh pada perubahan harga saham perusahaan karena langsung berdampak langsung. Beberapa hal fundamental ekonomi makro seperti naik turunnya suku bunga karena kebijakan Bank Sentral Amerika (Federal Reserve), naik turunnya suku bunga acuan BI serta nilai ekspor impor yang mempengaruhi betul nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Lalu ada tingkat inflasi dan pengangguran tinggi di masyarakat sebagai dampak pergolakan politik dan keamanan sebuah negara. Beberapa hal fundamental ekonomi makro itu bisa terjadi ketika suku bunga naik, investor justru memilih melakukan deposito karena dipadang lebih untung. Sementara perusahaan saat suku bunga perbankan meningkat, lebih memilih mengurangi kerugian supaya beban biaya tak meningkat.

5. Faktor Kepanikan

Pada tahun 2006 lalu, terjadi kepanikan di lantai bursa saham saat salah satu pipa milik Perusahaan Gas Negara (PGN) meledak akibat lumpur Lapindo. Hal ini langsung membuat harga saham PGN yang berkode PGAS menurun drastis karena investor beramai-ramai menjual sahamnya lantaran panik bisa merugi layaknya Lapindo. Namun dari hasil analis, ledakan pipa itu tak berpengaruh ke bisnis PGN secara keseluruhan sehingga nilai PGAS bisa normal lagi.

Baca juga: 6 Manfaat dan Keunggulan Tabungan Emas Sebagai Investasi Anak Muda

6. Naik Turunnya Nilai Tukar Mata Uang

Kurs mata uang asing berubah

Jangan diremehkan, karena ternyata nilai tukar mata uang negara terhadap mata uang asing memberi dampak signifikan ke perubahan harga saham. Di Indonesia misalnya, kuat atau lemahnya nilai tukar rupiah bisa membuat nilai saham sebuah perusahaan berubah. Apalagi jika perusahaan tersebut memiliki beban hutang mata uang asing.

Importir jelas bakal merugi saat rupiah melemah karena beban operasional naik. Coba Anda perhatikan saat nilai tukar rupiah menurun terhadap dolar AS, maka saham-saham di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut melemah. Sama seperti kebijakan yang diambil pemerintah, naik turunnya nilai tukar mata uang juga jadi faktor eksternal yang sulit ditebak sehingga harga saham berubah.

7. Kinerja Perusahaan

Memantau pergerakan saham

Termasuk dalam faktor internal, kinerja perusahaan terutama di masa mendatang juga mempengaruhi naik turunnya nilai saham. Bukan tanpa alasan, karena performa sebuah perusahaan menjadi acuan utama investor atau analis fundamental saat hendak membeli saham mereka. Beberapa hal yang mempengaruhi kinerja perusahaan seperti tingkat dividen tunai, tingkat rasio hutang, rasio nilai buku atau Price to Book Value (PBV), Earnings Per Share (EPS) sampai laba perusahaan.

Kebanyakan investor lebih menyukai perusahaan yang menawarkan Divident Payout Ratio (DPR) besar karena berdampak ke keuntungan. Begitu pula dengan perusahaan yang memiliki EPS tinggi, juga membuat banyak investor berniat membeli saham mereka. Namun perusahaan-perusahaan rintisan dengan PBV dan rasio hutang tinggi juga menarik minat investor karena jika memiliki hasil analisis positif, berpeluang memberi high return cukup besar lantaran kapitalisasi pasarnya masih besar.

8. Sentimen Pasar

Pantauan nilai saham

Ketahuilah bahwa pasar saham mudah dipengaruhi berbagai info, rumor hingga berita yang manipulatif sekalipun belum jelas kebenarannya. Misalkan petinggi perusahaan tertentu mengeluarkan pernyataan negatif, bisa langsung membuat nilai saham perusahaan itu terkoreksi drastis. Hal inilah yang menjadi pertimbangan analis ketika hendak membeli saham. Hanya saja informasi internal perusahaan ini kadang tidak diwaspadai oleh investor pemula.

Melihat delapan faktor yang sudah diulas baik faktor eksternal atau internal, tentu Anda sebagai pemain saham harus mempelajarinya dengan baik. Dengan memahami berbagai faktor tersebut, Anda tentu bisa mengurangi risiko merugi di lantai bursa. Dengan selalu memiliki rasa kewaspadaan yang tinggi dan mempertimbangkan seluruh faktor, bukan tak mungkin Anda bisa menjadi seorang investor saham yang sukses. Tetap semangat, ya!

Loading...