Waspadai 7 Ancaman Bagi Bisnis yang Sudah Mapan

Bagi seseorang yang sedang memulai sebuah bisnis, tentu Anda harus terus berfikir setiap hari demi keberlangsungan bisnis. Apalagi jika bisnis ini merupakan sumber pokok pendapatan, tentu Anda harus menjalankannya dengan baik dan sukur bisa lebih mengembangkannya.

Anda bisa belajar dari quote Steve Jobs yakni “stay hungry, stay foolish”. Sebagai seorang pebisnis kita dituntut untuk selalu ingin belajar dan jangan puas untuk mengejar sesuatu.

Keinginan mengejar sesuatu bukan berarti tidak mencerminkan rasa syukur. Rasa ketidakpuasan yang dimaksud agar mampu mencapai target selanjutnya yang lebih besar.

Untuk mencapai target yang lebih besar, seorang pengusaha harus mampu melakukan eksploitasi dan eksplorasi. Ini demi mempertahankan keberlangsungan perusahaan dan mencapai target yang lebih tinggi di masa depan.

Salah satu tahap menuju kemapanan bisnis adalah tahap ekspansi. Jika berhasil, tahap ini akan membuat perusahaan mempunyai pangsa pasar yang jauh lebih besar.

Ekspansi bisnis yang bisa dilakukan adalah mengembangkan kemampuan atau memulai sesuatu yang baru. Kedua pilihan tersebut memiliki keuntungan dan resiko. Oleh karena itu penting bagi pelaku usaha untuk mempertimbangkannya sesuai dengan kemampuan.

Menurut banyak penelitian, 8 sampai 10 tahun untuk membuat bisnis Anda mapan. Jika Anda belajar dari Bill Gates atau Steve Jobs, bahkan lima tahun pertama mereka sangat terjal dan berliku.

Bahkan ketika Anda merasa bahwa bisnis sudah mapan, Anda tidak boleh lengah begitu saja. Karena Anda harus tetap mewaspadai adanya ancaman bagi bisnis yang sudah mapan.

Beberapa ahli memberikan mengenai kriteria bisnis mapan pada umumnya memiliki kriteria sebagai berikut :

  • Karyawan berjumlah puluhan orang
  • Omset minimal Rp 3 milyar setahun
  • Sistem yang berjalan dengan baik
  • Memiliki manajer berkualitas untuk mengontrol bisnis

Sebenarnya setiap orang mempunyai kriteria mapan tersendiri, atau minimal merasa cukup sehingga tidak perlu melakukan perluasan bisnis yang di luar jangkauan orang tersebut. Namun mau seperti apa kriteria mapan bagi setiap orang, mengurus bisnis tidak boleh lengah.

Karena mengurus bisnis itu ibarat menanam pohon. Anda harus rutin menyiram, memupuk, dan memantau perkembangannya. Jangan sampai tiba-tiba ada hama yang menyerang dan Anda lengah.

Begitu pula ketika bisnis Anda sudah mapan, apakah Anda lantas bisa santai dan menikmati hasil kerja keras Anda? Belum tentu.

Karena saat bisnis Anda mapan, ada beberapa hal yang berpotensi menjadi ancaman. Jika hal-hal tersebut tidak Anda sadari sesegera mungkin, maka bisa jadi hal tersebut malah merusak dan menghancurkan bisnis Anda. Apa saja sih ancaman bagi sebuah bisnis yang sudah mapan?

1. Kerja Cerdas, Bukan Kerja Keras.

Apa itu Kerja Cerdas? Kerja cerdas adalah mulai untuk melakukan efisiensi dan efektifitas. Dengan semua sumberdaya yang dimiliki oleh bisnis Anda saat ini, bagaimana caranya agar mampu melipatgandakan pendapatan.

Mungkin Anda berpikir bahwa kerja keras saja sudah cukup. Padahal, untuk mempertahankan level bisnis yang lebih mapan, Anda diwajibkan untuk “bekerja dengan cerdas” supaya Anda bisa bekerja dengan lebih efisien. Jadi tidak sekedar bekerja keras saja, tapi juga harus bekerja dengan cerdas.

2. Mencari Pegawai Yang Satu Karakter

Kami sering menemui banyak entrepreneur sibuk mencari orang yang memiliki karakteristik dan kemampuan yang sama dengan dirinya. Bekerja dengan orang – orang dengan karakter yang sama memang menyenangkan.

Padahal mempunyai pegawai dengan kemampuan dan karakteristik yang berbeda dengan Anda bisa memberikan lebih banyak ide dan gagasan. Meski seringkali akan memperlambat laju bisnis jika terlalu sering berbeda pendapat dan adu gagasan.

Hal negatif lainnya adalah mereka akan menuntut banyak gaji dan fasilitas karena merasa mampu menjadi partner yang bisa diandalkan. Mereka akan merasa bahwa bisnis Anda adalah berkat perjuangan mereka.

Lebih baik Anda menciptakan sebuah sistem manajemen yang rapi dan sistematis. Jika sistem bisnis sudah baik, mau siapapun manajernya pasti bisa memberikan performa yang sama. Ini akan membuat Anda tidak akan bertumpu pada beberapa orang saja.

Dengan sistem yang sudah bagus, Anda bisa melakukan rekruitment pada fresh graduate yang mau belajar. Berikan pendampingan intensif dan sesekali buat sebuah training yang dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan. Dengan sistem yang baik dan orang yang kompeten maka sebuah bisnis bisa berjalan sesuai yang Anda inginkan.

3. Tidak Melakukan Inovasi

Merasa bisnisnya sudah mapan kemudian jadi malas melakukan inovasi. Lalu Anda baru menyadarinya disaat muncul pesaing yang lebih inovatif dan kreatif. Kemudian trend market berubah, tapi Anda masih berkutat dengan cara lama. Jika sebuah bisnis tidak mampu berinovasi, maka bersiaplah untuk mengalami kehancuran.

Segala sesuatu didunia ini tidak ada yang pasti, semuannya pasti berubah kecuali kematian dan pajak. Kalau Anda cermati perusahaan yang ternama seperti Apple, Microsoft, atau Samsung, mereka tidak pernah puas dengan keadaan bagus.

Sering ditemukan bahwa sebuah bisnis terlambat dalam berubah, ketika keadaan bisnis sudah jelek dan biasanya sangat susah untuk merubah situati karena ‘nasi sudah jadi bubur’. Tetapi justru perusahaan terbaik bisa naik ke tingkat selanjutnya adalah dengan mencari cara untuk lebih baik lagi yaitu berinovasi terus menerus.

4. Tidak Fleksibel Dalam Menghadapi Perubahan Trend Bisnis

Michael Porter, seorang ahli manajemen strategis mengatkan bahwa ada lima hal yang bisa mempengaruhi perubahan trend dalam dunia bisnis global, yaitu :

Ancaman pendatang baru ( threat of new entrants ). Pendatang baru bisa membahayakan perusahaan-perusahaan yang telah ada. karena pendatang baru akan menghasilkan kapasitas produksi tambahan, dimana kapasitas tambahan ini akan menekan agar biaya bagi pembeli rendah.

Ini mengakibatkan turunnya penjualan dan laba bagi perusahaan yang ada dalam industri tersebut. Seringkali pendatang baru memiliki sumber daya dalam jumlah besar dan memiliki strategi baru untuk memperoleh pangsa pasar.

Ancaman produk pengganti ( threat of substitute products ). Ancaman biasanya ketika ada barang baru dengan harga yang lebih murah. Dengan mutu serta kemampuan kinerja produk pengganti tersebut sama atau melebihi dari produk sebelumnya.

Kekuatan tawar-menawar dari pemasok bahan baku ( bargaining power of suppliers ). Pemasok bahan baku merupakan ancaman serius bagi perusahaan. Misalnya, produsen pakaian yang memilih untuk membuka toko pakaian sendiri, menjadi ancaman bagi toko pakaian yang lain, terutama bagi toko yang dulu membeli pakaian dari produsen tersebut.

Kekuatan tawar-menawar pembeli ( bargaining power of buyers ), Pembeli lebih suka membeli produk dengan harga serendah mungkin. Hal ini mengakibatkan industri dapat memperoleh laba yang rendah. Pembeli akan menuntut kualitas yang lebih tinggi danpelayanan yang lebih baik serta harga yang murah. Ini tentu mendorong persaingan antar perusahaan dalam suatu industri.

Persaingan kompetitif di antara industri sejenis ( rivalry among competitive firms ), perusahaan bersaing secara aktif satu dengan lainnya untuk mencapai daya saing strategis dan laba yang tinggi. Pencapaian tersebut, menuntut keberhasilan yang lebih tinggi dari para pesaing. Dengan demikian perusahaan lain akan merasakan tekanan persaingan dengan perusahaan Anda.

5. Mencoba Meninggalkan Bisnis Padahal Sistem Belum Teruji

Bisnis yang sudah mapan biasanya sudah memiliki sistem yang membuat bisnis tersebut berjalan. Tapi bukan mentang-mentang sudah ada sistemnya, Anda lantas bisa meninggalkan bisnis Anda dan mempercayakan pada manager.

Anda tetap harus berada di dalam bisnis Anda, untuk menguji apakah sistem yang Anda bangun benar-benar berjalan atau tidak. Jika sudah terbukti dan teruji, barulah Anda bisa meninggalkan bisnis Anda untuk kepentingan lainnya.

6. Macetnya Perputaran Uang

Kemacetan perputaran uang dapat menyebabkan bisnis gulung tikar. Beroperasi di luar kemampuan bukanlah cara menjalankan bisnis dengan benar. Operasi bisnis dapat terhenti tanpa dana yang memadai.

Jika Anda terus melakukan produksi tanpa proses distribusi dan penjualan yang lancar, tentu ini akan membuat macet perputaran uang perusahaan. Karena seharusnya hasil produksi segera untuk dipasarkan dan kemudian mendapatkan keuntungan.

Keuntungan inilah yang kemudian akan Anda gunakan untuk menggaji karyawan dan juga sebagai pendapatan Anda. Jika tidak ada keuntungan, mau bagaimana Anda menggaji karyawan?

7. Pengelolaan Dana Yang Salah

Beberapa bisnis menghabiskan lebih banyak pengeluaran daripada yang mereka hasilkan. Pengeluaran yang tidak direncanakan dan salah urus dana dapat menyebabkan bisnis Anda tenggelam.

Mempunyai seorang akuntan yang handal pun tidak menjamin kesehatan alur cashflow

perusahaan. Biasanya ini dipengaruhi oleh kebijakan Anda dalam mengatur aset perusahaan.

Ada beberapa contoh kesalahan dalam mengelola aset sehingga memiliko resiko tinggi untuk kebangkrutan usaha Anda.

Refinance aset untuk dibelikan aset lagi, berbasis pinjaman. Model ini adalah memanfaatkan aset yang ada untuk menjadi agunan di bank. Dan hasilnya digunakan untuk membeli aset baru. Parahnya aset baru ini dibeli dengan berbasis pinjaman lagi.

Refinance aset untuk modal bisnis yang belum pasti atau mapan. Sama dengan pola kedua tapi penggunaan sama dengan pola pertama yakni hasil pinjaman digunakan untuk bisnis yang belum pasti.

Ambil profit di depan untuk dibelikan aset berbasis utang. Profit yang diambil di depan sebenarnya masih dalam berupa proyeksi yang diuangkan, artinya angka profit belum pasti sebenarnya. Namun diambil dan digunakan untuk membeli aset, dan aset yang dibeli juga menggunakan instrumen utang.1.

Alfian Ihsan: